KAULAH IMAMKU

KAULAH IMAMKU
KAULAH IMAMKU 6


__ADS_3

Badannya kini tertumpu oleh kasur kesayangan, bayang-bayang Hanum menghantuinya. Otaknya penuh dengan wajah orang yang sama, wanita yang dilihatnya tadi sore.


"Kenapa ya rasanya pengen deket terus sama hanum?". Batin Bagas


Wanita yang berbeda, itu pikir Bagas saat ini. Dia mampu membuat dirinya cemburu, cemburu yang tak jelas. Jika dibandingan, Hanum tidak sebanding dengan para mantan Bagas yang begitu cantik dan juga seksi. Namun, cinta berpihak lain. Gadis itu tidak memiliki kelebihan, ia hanya senang menatap Hanum karena mata bulat dan bulu mata yang lebat. Namun, badannya yang begitu kecil, dan tak banyak bicara yang membuat gadis itu seperti misterius di depannya.


"Nak, makan malam dulu," teriak suara serak milik ibu Bagas.


"Iya, Ma. Bagas turun." Kakinya beranjak berdiri dari tempat tidurnya, langkahnya lemah. Pikirannya masih terisi penuh gadis misterius itu.


"Tumben nurut, biasanya nanti nanti."


"Ah, aku lapar ma."


Klunting...


"Hpmu ada sms kak!" teriak suara kecil di sampingnya. Suara itu milik adiknya, ia berumur 11 tahun. Tapi, ia tidak bisa bersekolah. Karena, adanya kelainan di tubuhnya. Sebenarnya, itu tidak menganggu pembelajarannya, tapi seiring waktu. Ia merasa malu, dan ia tidak pernah keluar rumah.


"Ya, nanti mas ambil dek," ujar Bagas. Ia terseyum tipis pada adiknya. Bagas sangat mencintai adiknya, bahkan menyayanginya lebih dari segalanya. Namun, seakan rasa itu terganti semenjak gadis misterius itu menghinggapi hatinya.


"Oh ya ma, besokkan rapotan naik kelas 3. Aku kenalkan temenku ya."


"Emang siapa?"


"Besok ajalah, sekarangkan dia gak ada disini."


...*****...


Pagi telah menyambut makhluk bumi. Papar sinar matahari kini berada di atas kepala Hanum, ia tersenyum miris melihat temannya sedang berlari untuk mengecek ruang guru. Ini adalah hal terbahagia, kenaikan kelas akan diterima baik oleh para siswa. Hanum tetap berjalan dengan pelan, menatap setiap pintu kelas yang sudah dipenuhi oleh pemiliknya.


"Firman," panggil Hanum, sambari melambaikan tangannya kepada Firman. Laki-laki itu berjalan menuju Hanum, matanya mulai menyipit, sinar matahari mulai terkena di kepalanya.


"Ngapain di situ? Panas," papar Firman, tangannya masih berada di atas matanya untuk menutupi pancaran sinar matahari.


"Udah nggak kerasa ya, kita udah kelas 3 aja," terang gadis itu. Ia mulai melangkahkan kaki menuju pria yang berdiri di tengah lapangan itu, tangannya juga melebar menutup matanya yag terkena sinar matahari.


"Eh ya, gak nyangka juga, hampir mau lulus aja," tambah pria itu.


"Eh," gadis itu menoleh ke belakang, "Anum sini," ujar pria yang berada di ujung lapangan. Tangannya melambai-lambai, tampak ia bersama wanita dewasa.


"Ya, tunggu." Kini Hanum melaju menuju pria tersebut, sedangkan Firman hanya mengekori gadis yang berada di depannya.


"Gimana?."


"Ma, ini temenku." Senyum indah terlontar dari ibu itu, Hanum hanya tersenyum lembut sambari memandang bola mata ibu itu.


"Oh, namamu siapa?" Beliau mengulurkan tangannya, diiringi senyuman yang tulus.


"Hanum tante."


"Kamu mampu buat anak tante berubah lo," ujar ibu Bagas, kini beliau tertawa kecil kepada Hanum. Hanum tersenyum sekali lagi, mengartikan senang bertemu beliau. Firman hanya tersenyum kecut, memandang saingannya kini telah maju selangkah dari tempatnya. Rasa cemburu telah melumuri dirinya, ia tidak akan kalah langkah setelah ini.


...******...


Kini siswa-siswi telah menggenggam buku besar berwarna merah, berisikan tulisan dan angka selama mereka giat bersekolah. Ini yang dirasakan Hanum, ia begitu bahagia. Meski hanya mendapat rangking yang menurutnya belum memuaskan, namun ia sangat senang jika hasilnya berbuah meski tak seimbang dengan impiannya. Berbeda dengan pria yang memiliki khas orang arab ini, ia harus mengambil raportnya di ruang BK bersama ibunya. Ia sering melakukan pelanggaran di semester ganjilnya, hingga raportnya harus di tahan di ruang khusus.


Hanum berlari kecil menuju Firman, "Kamu rangking berapa?." Ia melirik raport yang dipegang Hanum, selang berapa detik ia menggeleng, "Gatau." "ih, jadi penasaran," terka Hanum, matanya menuju raport yang di pegang pria di depannya. "Num," ia menatap lembut dua bola mata gadis itu, "Nanti ke taman sebentar." Hanum bisa menebak apa yang Firman fikirkan, ia tau betul tentang pria di depannya. "Aku pulang dulu ya," pamit pria yang sudah keluar dari ruang khususnya, ya itu Bagas. Tangannya melambai mereka. Oh tidak! Bukan mereka, lambaian tangannya kepada Hanum gadis yang dicintainya.


Firman memandang dengan sinis, rasa cemburu kini hadir. Firman menggandeng pelan gadis itu, mengajaknya segera menaiki mobil dari ibunya. Tidak ada pembukaan pembicaraan dalam mobil, sunyi yang didapat oleh Hanum. Hingga ia memutuskan untuk menurunkan kaca mobil, lalu memperlihatkan wajah ovalnya keluar. Taman, itu yang ada di otak Firman. Tidak ada pemilihan lain yang begitu nyaman bagi Firman selain tempat ini, meski ini bukan yang mengasyikkan bagi Hanum. Namun, ia begitu lega saat perasaannya terungkap di taman ini.


"Num," panggil Firman, tangannya menggandeng lembut tangan gadis yang berada di sampingnya, "Aku mau ngomong ke kamu." "Cilupba," balasnya, tak ada balasan serius dari tatapan Firman. Firman hanya tersenyum manis, memandang lengkukan bulat pipi gadis itu. "Num, nanti sore jangan kemana mana ya," pinta Firman, gadis itu hanya tersenyum manis lalu mengangguk pelan.


Tekadnya begitu bulat, ia tidak akan main-main dengan apa yang ia katakan. Gadis itu memandangi bunga mawar, Firman tetap mengekori gadis itu hingga ia ingin memetik bunga merah dan mekar itu.

__ADS_1


"Kamu mau aku belikan?."


Hanum menggeleng, "Nggak usah, nggak apa apa kok."


"Ya udah kita pulang ya, nanti kita kesini lagi." Hanum berjalan di depan, sedangkan Firman mengekori gadis itu.


Gadis itu menaiki mobilnya, begitupun Firman. Ia langsung menancapkan gas meninggalkan tempat itu. Hanum tetap berada di posisinya, kepalanya mejulur keluar. Angin menerpa hidung mungilnya, senyum manis terlukis di wajahnya. Mobil itu terhenti, Hanum menatap Firman yang sedang melepas ikat pengamannya. Bibirnya membuka menanyakan kenapa berhenti, namun pria itu sudah keluar begitu saja dalam mobil tanpa basa-basi. Hanum menunggu, dan memandangi punggung pria itu. Firman berada di toko bunga, tangannya sedang memilih bunga yang cocok untuk dibelinya. Setelah transaksi selesai, pria itu kembali kedalam mobil tangannya membawa sebongkah bunga mawar indah.


"Bunga ini buat apa?" Hanum memandangi bunga indah itu, terlihat jelas matanya ingin mengharapkan bunga itu. "Kepo ah kamu," jawab Firman, diiringi ketawa kecil. Firman segera mengambil posisi duduknya, lalu menyetir mobil untuk segera pulang. Sering kali Hanum melirik sebongkah bunga itu, namun Firman hanya tertawa bangga menatap gadis itu. Sudah berapa menit mereka dalam mobil, akhirnya sampai di rumah dengan selamat. Hanum hendak keluar dari mobil, namun tangan Firman mampu menahan badan gadis itu.


"Ini buatmu." Firman memberikan sebongkah bunga mawar yang dibelinya, tampak senyum bahagia terlintas di wajahnya.


"beneran?"


"Kamu suka?"


"Banget, makasih Firman," ujar Hanum, lalu keluar membawa sebongkah bunga itu.


Firman beranjak keluar dari mobilnya, ia segera pulang menemui uminya. Firman melangkah tegas, "Mi," uminya hanya menatap sekilas anak semata wayangnya, "Firman mau ngomong." Ummi tersenyum hangat, lalu mengangguk pelan.


"Aku ingin menghalalkan pandanganku dengan hanum, Mi."


"apa kamu yakin?" tanya umi, beliau menyakinkan ucapan anak laki-lakinya.


"Iya, Umi. Firman yakin. Besok aku akan kerja buat nikahanku sama hanum." Tampak kebahagian menyertai wajah laki-laki itu.


"Nanti, Umi bicarakan dengan Abi ya."


Waktu sudah berselang sore, abi dan umi sudah berpakaian rapi. Kini Firman dan orang tuanya siap datang kerumah Hanum. Rasa bergemetar berada di tubuh Firman, ia tidak bisa menyembunyikan rasa kebahagiannya ini.


"Assalammualaikum," salam Firman, diiringi mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam, eh, Om, Tante, Firman," matanya menatap satu persatu orang di depannya, "Silahkan masuk."


"Tumben orang tuanya kesini?" Pikir Hanum.


Mereka memutuskan untuk duduk di samping pot putih yang baru saja di beli Hanum. Firman menatap pot yang berada di sampingnya, ia mengerutkan dahinya. "Eh," Hanum menoleh kepada Firman "Bukannya, bunga yang tadi ya ini," ujar Firman, sambari telunjuknya menujuk ke arah bunga mawar itu. "Fir," panggil Hanum, Firman menatap manik mata gadis itu. "Orang tuamu kenapa kesini? Tumben," tambahnya. Pria itu hanya tersenyum malu, ia tidak bisa menutupi kabar bahagia ini. Jantung Firman seakan dipompa begitu cepat, "Hm, Num. Sebenarnya, orang tuaku kesini, untuk melamarmu." Matanya seakan tak percaya, "Kamu bohong ya? Mana mungkin."


...*****...


Kedua orang tua Firman tersenyum lega, mereka mengharapkan suatu yang positif bagi anaknya. "Ada apa ya? Tumben mbak kesini," tanya mama Hanum. Laki-laki itu, abi dari Firman menatap manik calon besannya, "Jadi, kedatangan kami kesini. Pertama untuk silahturahmi, yang kedua, untuk meminang Hanum menjadi istri Firman jika mereka sudah matang menikah." Kaget. Itu yang ada di benak wanita anak satu itu. Suatu keputusan yang sulit baginya, putrinya dilamar dengan mendadak.


Wanita tmitu tersenyum manis, "Saya belum bisa memastikannya. Ini semua harus bicara dulu kepada Hanum, semoga jawaban apa yang di berikan harap di terima." Pasangan suami istri itu saling menatap, senyum hangat yang diberikan istrinya membuat laki-laki itu mengiyakan apa yang dikatakan wanita anak satu itu.


...*****...


Firman tampak mendapat berita yang cukup tidak memuaskan, matanya sayu dan seakan tak ada harapan lagi. Abinya menghampiri putra pertamanya, tangannya merangkul erat putranya, "Fir, kamu jangan putus asa. Ini belum suatu jawaban, suatu saat jawaban itu akan datang." Umi hanya menatap raut wajah anaknya, "Sabar ya, Nak." Firman membalas dengan senyuman, ia mengerti apa yang terjadi. Pria itu sangat mengharapkan kata iya dari Hanum


Hari senin di pagi hari. Gadis itu sudah berada dalam kelas, membuka buku kecilnya mengecek tugas yang belum ia kerjakan.


"Eh, neng Anum," sapa seorang laki-laki yang baru saja berangkat sekolah.


"Assalammualaikum, Gas." Laki-laki itu menaruh tasnya di kursi kesayangannya, "Waalaikumsalam."


"Dibiasain salam," jelas Hanum, matanya masih terfokus oleh buku didepannya. "iya."


Langkah kaki terburu-buru itu yang didengar Hanum, ketukan sepatu dan lantai begitu keras hingga gadis itu sedikit menyipitkan matanya. "Hanum," panggil Firman, keringat di pelipisnya menetes begitu saja, "Bagaimana jawabanmu?" Bagas memandang bola mata pria itu dari samping. Pikirannya bekerja, mencerna perkataan yang di ucap pria di depannya. "Hmm," Hanum membuang nafasnya dengan kasar, "Kita masih sekolah, aku belum bisa mikir," matanya menatap Firman dengan pelan. Firman melirik kearah lain, lalu mengangguk, "Ya udah, aku tunggu jawabanmu ya." Rasa penasaran menggerogoti tubuh Bagas.


Kepalanya mendekat kepada Hanum, "Kamu ditembak sama dia?." Hanum memiringkan bibirnya, "Nggak, kemarin kata Mamaku dia melamarku."


"Kamu tau?."


"Apa?."

__ADS_1


Bagas menghempas napasnya, "Aku cemburu."


Laki-laki itu beranjak pergi dari kursi yang di dudukinya. Matanya seakan berkobar rasa amarah, namun ia bisa menahannya didepan gadis itu. Bagas menyenderkan badannya di tiang bendera, kini wajahnya seakan menantang seorang hingga begitu menyebalkan jika memandangnya. "Firman," Teriak Bagas, ia melambai-lambai belagak seperti seorang wanita, "Kemarilah."


Firman hanya menoleh tanpa sepatah katapun di bibirnya, laki-laki yang memiliki tinggi yang sama itu menghampiri laki-laki yang sedari duduk menatap bunga diujung kelas. Mereka kini berhadapan, menatap elang pria yang ingin merebut miliknya. Bagas menaikan kerah baju seragam putih milik Firman, matanya penuh dengan kemarahan dan begitu juga dengan Firman. Tinju kepalan tangan Bagas berhasil mendarat mulus di pipi pria itu, "Apa maksudmu, melamar Hanum?." Firman tersenyum miring, meski pipinya sakit terkena tinju darinya, "Aku mencintainya, kenapa?" Tinju kedua kini berhasil lolos, "Kurang ajar! Hanum hanyalah milikku, dia milikku."


Para siswa-siswi menonton aksi kedua pria itu, mereka mulai memberikan berkali-kali pukulan bahkan tendangan. "Aku juga mencintainya," teriak Bagas, sudah pukulan berapa kali ia berikan pada pria itu. "Jangan coba-coba kau merebut dia dariku." Lemparan pot berhasil terkena pas ubun-ubun kepala Firman. Bagas tersenyum kecut, memandang musuhnya tergelempang di depannya. Tendangan sekali lagi untuk memuaskan hatinya, "Apa yang aku miliki, apa yag aku inginkan. Jangan pernah ada yang mendekat." Tendangan kedua siap untuk meluncur. Namun terhenti, gadis yang diperebutkan berada di depannya.


"Jauh darinya," pinta Bagas dengan lembut. Namun, gadis malah menghadang laki-laki itu untuk tidak meluncurkan niatnya. "kamu apa apaan sih gas! Dia temanku! Kenapa kamu memukulinya! Apa salahnya?." Amarah Bagas menjadi jadi. Matanya tetap memandang gadis yang kini membela pria laknat itu.


...*****...


Kini, gadis itu menemani pria yang kemarin melamarnya. Ia sama sekali tidak mencintainya, namun ini semata-mata untuk hubungan persahabatannya.


"Kamu nggak apa apa?" Hanum kini menatap lengkuk wajah Firman.


"Ha-num," ucap Firman yang masih terbata-bata.


"Aku," Firman menarik nafasnya dalam-dalam, "Men-cintai-mu," ujar pria itu dengan sangat terbata, nafasnya kini tak beraturan.


Hanum menggenggam erat tangan Firman yang kini mulai melemah, pria itu sangat merasakan kepalanya sedang diperban oleh pria berjas putih. Berat untuk terbuka, itu yang dirasakan Firman. Matanya seakan tertumpu berapa ton di selaput matanya. Ia berusaha untuk membuka, dan menatap gadis didepannya. Namun, semua nihil.


...****************...


Wanita cantik terpapang jelas di mata Firman, senyum manis yang sangat ia kenal. Tangannya meraih tangan gadis itu, hatinya berdegup begitu kencang. Rasa bahagia menyelimuti dirinya. "Firman," panggil gadis itu, matanya memandang lembut, "Maafkan aku, aku harus pergi." Air mata pria itu menetes begitu saja, "Jangan tinggalkan aku. Aku benar-benar mencintaimu." Namun semua tlah hilang. Entah, kemana gadis itu pergi. Hilang lenyap bagai angin yang berhembus seketika tanpa jejak.


...****************...


Mata pria itu terbuka, Hanum tersenyum manis. Betapa bahagia gadis itu, memandang sahabatnya sudah sadar dari pingsannya. "Firman, ku bantu untuk mencatat semua pekerjaanmu?" tawar wanita cantik itu sambari membawa 3 buku tulis ditangannya. "Tidak, biar aku saja." "Kamu masih sakit, kalau buat mikir berat nanti sakit lagi." Firman tersenyum manis, sedangkan Hanum manis mencatat tugas-tugas di kelas.


"Hanum," panggil Firman, tangannya kini menyentuh lengan Hanum.


"Iya, ada apa?."


"Bagaimana jawaban lamaranku?." Ia memandang Firman dengan begitu manis, tangannya menempel di salah satu pipi Firman. "Dengar, jika memang kita jodoh. Insyaallah kita ditemukan, saat kamu menyebutkan namaku dan juga ayahku didepan penghulu." Mereka kini saling menatap, menatap dengan penuh arti. Tatapan yang begitu menangkan hati Firman.


...***...


Seorang laki-laki telah menunggu keluarnya gadis tercintanya di luar UKS. Menurutnya ini hal yang paling menyebalkan yang ia temui. Berkali-kali tendangan dihempasnya, "Bangsat firman!" umpat prianitu berkali-kali. Emosinya kini tidak stabil, ia harus rella memandang gadis dicintainya harus merawat pria bangsat itu hingga sembuh. Itu bukan suatu pemandangan yang indah baginya, semakin matanya tertuju semakin ia muak dengan pertunjukan itu.


"Eh, Bagas." Pria itu menoleh, seorang wanita yang ditunggunya telah keluar. Kini senyumnya yang beku telah leleh, emosinya yang sulit terkendali kini menciut.


"Gak, Num. Yuk kekantin, kamu belum makan kan?" Hanum hanya tersenyum malu, "Aku juga mau ngomong sama kamu, Num."


...****...


Tangannya membawa 2 mangkok makanan kesukaan gadis dicintainya, dan babunya membawakan teh hangat untuk gadis itu. Dua mangkok bakso dan dua gelas teh hangat sudah berada di depan mereka. Segera Hanum menyantapnya, ia sangat menyukai bakso. "Ngomong-ngomong, lamaran Firman kamu terima?" Suara pria itu membuka pembicaraan. Namun, mata Bagas tak tertuju pada wajah Hanum. Berbeda dengan gadis itu, menatap pria di depannya dan menyantap makanannya. Hanum meminum teh hangat, "Kenapa tanya gitu?." Bagas menaikan kedua alisnya, "Aku cemburu boleh?." Seketika, gadis itu menunduk lalu mengaduk-aduk makanan di depannya. Ia merasa tenggorokannya semakin mengecil, hingga sulit untuk menelan sesuatu. "Jika aku boleh, untuk mencemburuimu. Mungkin, setiap hari ucapan cemburu, selalu berada ditelingamu."


"Lalu, kenapa kamu mencemburuiku?."


"Aku, mencintaimu." Hanum menatap malu, pernyataan cinta itu terdengar jelas di telinganya. Apa yang ia pendam kini menjadi kenyataan. "Nanti pulang ku antar ya?" tawar Bagas, menatap begitu lembut gadis dicintainya.


"Maaf ya, Gas. Aku bareng sama Firman." Bodoh. Itu yang ada di otak Bagas. Gadis di depannya bukan seperti mantan-mantannya yang langsung cepat mengatakan iya dari semua ucapannya. Dia gadis yang berbeda.


...***...


Kini posisi Firman terganti oleh Hanum. Ia bukan penyetir yang handal, namun ia memiliki bakat yang tersembunyi saat menyetir mobil. Hanya hitungan berapa menit saja, mereka sudah berada di depan rumah. Berbeda dengan pria yang kini duduk disampingnya, ia berhati-hati dalam membawa mobil. Hanum membantu Firman untuk keluar dari mobil, "Gak usah repot-repot."


"Ah, jangan bawel."


"Nanti ada bibi yang bantu, kamu pulang aja."


"Aku akan bantu kamu," bantah gadis itu. Ia segera menarik tangan Firman ke bahunya.

__ADS_1


"Calon istriku. Kamu pulang saja, nanti kamu kecapekan," ujar Firman lalu mengelus jilbab segitiganya. Hanum memandangnya dengan kaget, apa ia tak salah dengar?


__ADS_2