
Waktu berputar dengan cepat, Firman dan Ryan belum lekas pulang. Mataku masih menatap jam dinding di rumah mamaku, perasaan khawatir dan takut campur aduk menjadi satu.
"Assalammualaikum"
Mataku melirik kearah pintu, suara serak berada di belakang pintu. Aku menatap perlahan di setiap pintu masuk rumah mamaku, kakiku tak bisa bergerak serasa kaku.
"Hanum, siapa diluar ?," Teriak mamaku dari dapur, aku tetap mencoba untuk berdiri. Alhasil aku berdiri namun dengan rasa ragu, ketukan pintu berulang kali ku dengar.
Tanganku menggayuh gagang pintu perlahan menekannya ke bawah.
"Hanum," suara indah terdengar di telingaku "Kapan kau kesini ?."
"Kau benar benar Bagas ? Kumohon pergilah dari sini," ujarku dengan Isak tangis, antara percaya dan tidak orang yang dulu berjanji bersamaku kini berada di depanku.
"Ku mohon, temui aku di taman waktu dulu kita SMA. Aku mohon Hanum, aku tidak suka dengan penolakan," ungkapnya dengan menggenggam erat tanganku.
Mataku tak bisa menahan antara kerinduan dan kebencian, aku bahagia bisa bertemu dengannya aku benci jika harus menjerat cinta gila seperti ini.
"Baiklah, aku akan menemui nanti malam pukul 8," ujarku lalu bersenyum tipis padanya.
"Baiklah."
Dia menghela napas, lalu meninggalkanku di ambang pintu. Mataku menatap punggungnya sampai benar benar telah hilang, entah kenapa aku harus terjerat kembali dimasa lalu.
*****
Anakku dan suamiku telah pulang, aku tidak seperti biasanya. Pikiranku memikirkan nanti malam pertemuanku dengan Bagas, aku tidak berfikir untuk mengkhianati. Tapi, aku sudah terjerat rasaku di masa lampau.
"Sayang, kamu pucat ?," Ujar suamiku lalu menyentuh dahi ku "Kamu panas ?," Tangannya kini beralih pada leher ku mengecek suhu badanku.
"Tidak sayang, aku hanya kecapekan saja" ujarku dengan senyum tipis.
"Kita pulang saja ya ? Perasaanku tidak enak," ungkapnya matanya menatapku lekat lekat, mengkhawatirkan keadaanku saat ini.
"Tidak usah, kita pulang besok saja. Oh iya, nanti jam 8 aku harus pergi sebentar ada acara kumpul sama teman disini," ucapku dengan tersenyum tipis, mataku mengharap akan diizinkan Firman untuk keluar.
"Ya sudah, kamu bisa jaga baik baik dirimu ? Kamu taukan kenapa aku bertanya begitu ?," Ujarnya, aku hanya mengangguk arti mengerti.
****
Malam telah tiba, jam menunjukkan pukul setengah 8 malam. Aku tidak harus berdandan cantik, yang terpenting aku menemuinya malam ini.
"Sayang, aku berangkat dulu. Jaga Ryan," ungkapku lalu memeluk suamiku, lalu aku beralih ke anakku yang sedang tertidur lelap, ku cium kedua pipi malaikat ku.
"Hati hati, benar kamu tidak mau di antar ?," Tawarnya padaku, aku hanya menggeleng pelan lalu tersenyum.
"Sayang, aku bisa jaga baik diriku. Jangan khawatir, aku berangkat dulu aku mencintaimu."
****
Sesampainya di taman, kusempatkan memetik bunga kesukaanku, mataku berbinar melihat tanaman ini cerah dan memiliki harum yang alami. Tiba tiba tubuhku di peluk seseorang dari belakang sangat erat, hingga aku tak bisa melepaskan lingkaran tangannya pada perutku.
"Hanum sayang, lama aku tidak memelukmu seperti masa kita dulu."
"Bagas, lepaskan"
"Tidak semudah itu, tutuplah matamu"
"Ada apa ? Apa yang ingin kau lakukan Bagas"
Tangannya kini beralih ke pundakku, memutar tubuhku tepat di depannya. Baju cream, celana hitam tampak cocok di badan Bagas. Matanya menatapku seakan tidak menyangka, dia selalu tersenyum berkali kali membuatnya semakin manis.
"Sudah, hentikan Bagas. Aku harus cepat pulang," bantahku, aku segera berpaling.
"Hanum, pulanglah. Hubungi aku saja, jika kamu ingin bertemu telfonlah aku akan datang menemuimu," ungkapnya, lalu menyerahkan secarik kertas dan bertuliskan nomor handphone nya.
"Akan aku hubungi, disaat ku butuh saja."
Kakiku melangkah pergi, kenapa perasaanku berubah? Disaat disampingnya aku begitu nyaman aku benar benar takut kehilangan, disaat aku berada bersama Firman aku selalu ingin bersyukur dan aku tak mau dia pergi. Sial, aku sudah terperangkap kisahku dulu. Aku hampir tak tau apa yang aku perbuat, aku terlalu bodoh menanggapi ini semua dengan enteng.
****
Kakiku melangkah menuju tangga rumah mamaku, Mas Firman masih menonton tv aku hanya meliriknya tanpa menyambutnya. Langkah kakiku berjalan begitu pelan menaiki setiap tangga, pikiranku tak berada pada tempatnya.
"Aku langsung tidur saja," batinku
****
Cahaya matahari bersinar begitu terang, aku tersenyum melihat anak laki laki ku bisa bahagia dengan ayahnya, aku sedang menyiapkan cemilan untuk mereka.
"Sayang, sudah siap cemilannya," teriakku, kakiku menuju mereka. Senyuman mereka terlepar padaku begitu manis.
__ADS_1
"Mama, papa tadi curang," ujarnya menatapku dengan manis, "papa sih." Gerutnya
"Namanya juga papamu nak, dengar papamu ini jahil." Tambahkan, Ryan tertawa lepas memandang papanya.
"Papa jahil itu apa ?," Tanya Ryan menatap polos, dan aku hanya tersenyum tipis.
"Sukanya main curang nak," jawabku, Firman menatapku kaku padaku, dan aku hanya tersenyum lega.
"Oh ya, aku ada kerjaan disini." Ucap Firman menatapku.
"Lalu ?, Pekerjaan mu yang berada disana gimana ?," Dahi ku mengerut dan tidak mengerti dengan perusahaannya.
"Entah, aku ditelfon untuk siap siap berkemas pergi untuk pindah di daerah sini. Dan, semua berkasku di sana sudah di pindah disini, besok aku sudah mulai bekerja." Jelasnya, aku hanya tersenyum bahagia namun pikiranku tiba tiba teringat Bagas.
"Kita jalan jalan yuk," ajak Firman, aku langsung mengiyakan ajakannya.
*****
Tok... Tok...
Aku langsung membuka pintu dengan cepat, mataku menangkap sosok Fatimah di depanku. Dia tersenyum manis padaku, namun dia hanya sendirian tanpa bersama suip dan anaknya.
"Fatimah, kamu kok kesini ? Cepat masuk," ucapku lalu menggandengnya masuk.
"Boleh aku bicara dengan Firman ?" Tanyanya, spontan aku langsung memanggil Firman.
Firman datang menghampiri kami, aku langsung pergi membuatkan minuman di dapur. Rasa curiga dan cemburu terbesit di pikiranku, bagaimana tidak Fatimah pernah mengambil Bagas dariku, dan membohongiku atas kehamilannya bahwa dia hamil anak Bagas. Tapi, apakah mungkin dia akan mengambil Firman ? Aku lihat dia sangat bahagia dengan Suaminya, meski ia tidak mengharapkan seperti, aku tidak mengharapkan Firman dulu.
Secangkir teh manis, sudah terbuat dengan baik. Aku segera memberikan secangkir teh manis ini untuknya, langkahku terhenti di perbatasan dapur dan ruang tamu.
"Jika memang Bagas kembali, aku harus merellakan Hanum bersamanya. Aku telah menghambil yang bukan hakku, jika dia memintanya aku tidak masalah, semua tergantung Hanum bagaimana."
Mataku terbelalak, kakiku kaku, badanku sangat lemas, bibirku membukam. Kata katanya benar benar menyakitiku, dia berjanji untuk slalu menjagaku. Tapi, kenapa ? Dia berubah sekarang.
"Sayang, Fatimah mau pulang," teriak Firman.
Nafasku besar, aku mencoba tersenyum. Pura pura tidak tau tentang apa apa, kakiku melangkah gemetar, batinku benar benar tersiksa.
"Padahal aku sudah buatkan teh manis untuk temanku," ucapku, mengangkat ujung bibirku dengan pelan. Perasaanku sakit menatap Firman, entah, sejak ucapannya aku merasa dia bukan suamiku yang ku kenal.
"Ya ampun, jangan seperti itu. Aku hanya membicarakan bisnis dengan suamimu, tak perlu kamu repot repot." Jawabnya dengan lembut, tatapannya manis kepadaku.
Apa yang akan di sembunyikan lagi, kalian terlalu hebat menyembunyikannya.- batinku
"Oh iya, aku juga harus menjenguk suip dan anakku. Hahaha, sampai aku lupa kalau dia berada di rumah temanku," ujarnya dengan tertawa kecil, "ya sudah aku balik dulu, kapan kapan kita cerita bareng lagi ya. Maaf banget belum bisa banyak cerita ke kamu Hanum, hehe."
Kaki Fatimah melangkah pergi dari rumah mamaku, dan dibuntuti kaki Firman dan kakiku. Senyumku tak percaya, saat menatap punggung sahabatku.
"Aku nanti akan keluar sebentar ya," ucapku tanpa menatap Firman, dia hanya mengiyakan permintaanku.
Angin menerjang sela sela jendelaku, tatapanku mengahadap langit. Hatiku masih sakit mendengar tadi, perasaanku seakan tak percaya apa yang terjadi.
Aku akan kecewa jika nantinya memang dia merellakanku.- batinku
"Sayang, kamu tidak apa apa ?," Ucap Firman disampingku baru saja.
"Jika nanti aku terjerat masa lalu, apa yang kau perbuat ?," Tanyaku tanpa basa basi, mataku memandang suasana di luar tanpa menatap Firman.
"Maksudmu apa ? Kamu sudah ketemu Bagas," pertanyaan yang di lontarkan padaku, membuatku menatap Firman begitu tajam.
"Kemarin, aku sudah bertemu dia."
Bibirnya tak bisa membuka, tatapannya sayu. Terlihat dia kecewa padaku, namun aku berusaha biasa aja.
"Bukankah, kau merellakanku ?," Pertanyaanku ini membuatnya tak bisa berbuat apa apa, rasa sakitnya terlihat jelas di tatapan bola matanya.
Aku berpaling menghadap pintu kamar, melangkah maju untuk pergi. Aku sudah tak tahan dengan situasi ini, hidupku hanya menjadi separuh sejak kejadian tadi. Melihat sosok pria yang membuatku bersyukur, kini membuatku terpuruk jatuh lebih dalam.
******
Aku duduk di antara bunga ditaman, mataku memejam untuk menghentikan air mataku jatuh. Bukannya aku tega dengannya, selama berjalan aku berkeluarga aku tidak pernah bertengkar sejauh ini, apalagi tentang soal perasaanku dengan Bagas.
"Kalo memang pengen cari udara, ayo ikut aku."
Dahiku berkerut bukannya aku tak mengenal, bahkan aku sangat mengenal dia.
"Bagas, jangan sekarang ! Aku sedang malas," ujarku tanpa membuka mata sama sekali, aku tak bisa dibohongi dengan suara apapun aku hafal suaranya dan cara biacaranya.
"Firman menyakitimu ? Kenapa kau menikah dengannya ?," Tanyanya padaku, aku hanya tersenyum manis saat dia mengatakan itu padaku.
"Dimana kamu dulu ? Berjanji menikahiku ? Dan ternyata pergi begitu saja, hehehe dan saat rumah tanggaku berusia 3 tahun, kamu begitu saja datang tanpa sepatah katapun. Tiba tiba saja kau bilang sedang merindukanku, hahaha."
__ADS_1
"Aku punya alasan tertentu untukmu," ujarnya dengan gugup, aku hanya tersenyum sinis dan semakin memejamkan mataku.
"Tidak ! Kau sudah menikah dengan mella." Tegasku, mataku membuka perlahan menatapnya tajam. Dia hanya kaku memandangku.
"Baiklah, aku sudah beristri. Dan kamu juga bersuami apa salahnya kita meneruskan cinta kita dulu. Mereka akan mengerti kok, tanpa harus dijelaskan." Jelasnya padaku, matanya mengharap kembali diriku.
Entah kenapa aku merasa yakin dan percaya, padahal aku sudah disakiti, apalagi disaat pernikahanku dia tak datang meminangku.
"Kau slalu tepat mendatangkan diri," ujarku lalu tersenyum manis padanya, "ayo jalan."
Dia tersenyum bangga, matanya berbinar binar melihatku. Tangannya menggapai tanganku, "dengar, sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkanmu kedua kalinya," janjinya, dengan senyum manis padaku sangat manis.
*****
Waktu telah berlalu begitu cepat, canda tawa aku lalui dengan dia. Entah, aku seakan terhipnotis dengannya, senyumnya manis slalu terlepar padaku.
"Kau akan pulang langsung ?" Tanya bagas menghadapku.
"Lalu ? Aku harus bersama mu lagi ? Lagian, udah sore pasti anakku mencariku saat ini." Jawabku, mataku memandanginya dengan lembut. Ia mengiyakan semua ucapanku tadi.
"Selamat bertemu besok," aku melambaikan tangan, "jaga selalu kesehatanmu."
*****
Aku kembali kerumah dengan keadaan bahagia, iya, aku berkencan dengan orang lain itu memang dosa. Tapi, bagaimana lagi, aku terlanjur kecewa dengannya.
"Kenapa baru pulang," dia menghampiriku di ambang pintu "Ryan mencarimu dari tadi."
Aku menatapnya tajam, "kenapa ? Bukankah ini yang kamu inginkan, Mas ?," Kakiku melangkah pergi menjauh darinya, aku tak bisa menahan air mata saat didepannya.
"Kenapa berubah ? Ada apa denganmu ? Katakan !" Teriaknya hampir membuatku berhenti bernafas, aku tak pernah di bentak seperti apapun dengannya.
"Tidak, aku sedang lelah," ucapku tanpa memandangnya lalu berjalan kembali, "lebih baik Ryan juga harus tidur."
Langkahnya keras menguntitku, aku tetap berlagak tidak tau, meskipun aku sudah tau apa yang terjadi. Tanganku ditariknya, matanya menatapku begitu tajam, amarahnya tak bisa dikendalikan. Aku hanya tersenyum tipis padanya, tanpa balasan apapun darinya.
"Kau berkencan dengannya ?" Tanyanya, mata elangnya menusuk hatiku, rasa takut terukir dimataku.
"Tidak," mataku berkaca kaca, "jikapun iya, itu tidak urusanmu !"
"Kamu bilang itu bukan urusanku ? Kamu istriku ! Kau memiliki anak dari darah dagingku ! Dan kau bilang aku tidak punya urusan ?" Matanya menatapku dengan tajam, bibirku membukam.
Tatapannya semakin tajam, aku tak bisa bertatapan lama dengannya.
"Lepaskan aku, aku harus tidur, aku sedang lelah." Kataku, aku menatapnya pelan, bibirku melengkung dengan manis.
Dia pergi begitu saja, tanpa balasan apapun dari ucapanku. Menyesal ? Iya aku menyesal, telah membuka hati kepada orang lain. Bodoh ? Memang aku bodoh lebih dari kata bodoh, aku tidak punya otak lagi bahkan.
Tak ada yang aku ucapkan lagi, selimut telah menyilumiti diriku, dari ujung kepala sampai kaki. Tangisan kecilku memenemaniku, menyesal itu selalu teriang di otakku.
Krakkk...
"Sayang, mama kecapekan kamu tidur papa temenin ya ?"
"Mama mana," suaranya serak "aku ingin bertemu mama," seraya menangis.
"Mama sedang capek sayang, besok mama dirumah kok. Tidur sama papa dulu ya ?"
"Ayo sini sama papa sayang, kita tidur dan bertemu superman !! Wusss"
Kecerian mereka tidak hilang, meski aku menyakiti keduanya. Aku semakin melengkukkan tubuhku, aku semakin sakit, benci dengan diriku sendiri.
"Maafkan aku ya sayang, jika tadi aku emosi," ucap seorang pria, dengan mengelus kepalaku di luar selimut. Tangannya lembut, membuatku terlelap tidur dalam tangis.
******
Pagi telah tiba, anakku masih dalam pelukanku. Firman sudah menyiapkan makan pagiku hari ini, aku merasa salah atas kejadian kemarin.
"Umurmu berapa ?" Tanyaku menatap makanan yang ada di atas meja.
"Duapuluh tiga, memang kenapa ? Bukankah kita seumuran sayang ?" Jawabnya dengan menatapku dengan lembut.
"Aku lupa jika umurku sudah dewasa," jelasku, "pakaianku semakin tidak muat."
Dia melangkah menuju, duduk berada di bawahku, "kamu ingin baju seperti apa ? Kulihat bobot mu naik."
"Kemungkinan naik 3kg, tapi tidak ah ! Aku akan merencanakan diet " ungkapku.
"Baiklah, jika itu membuatmu senang. Aku akan segera mandi, kita akan belanja kebutuhanmu sekarang ini."
Dia takkan berubah, aku tersadar dia mungkin hanya emosi mengatakan itu. Tapi kenapa ? Lebih baik kubicarakan tentang ini.- batinku
__ADS_1