KAULAH IMAMKU

KAULAH IMAMKU
KAULAH IMAMKU 13


__ADS_3

Waktu berputar begitu cepat, kabar keberadaan Bagas belum terdengar di telinga Hanum. Apalagi perubahan suaminya yang membuat wanita hamil ini memikirkan beban dua kali lipat.


Tatapannya kosong, amarah sudah menggebu di benaknya. Tapi apalah daya, ia tidak bisa memikirkan lagi apa yang di perbuatnya. Ia memijat pelipisnya, secangkir teh hangat di depannya berubah menjadi dingin.


Ia meraih ponsel di sampingnya, ia menekan tombol gambar telepon.


"Hallo, ada tugas untukmu."


" ... "


Ia menaikan kedua alisnya, "Intai orang yang bernama Firman Fimansyah, cari tau semuanya selama satu bulan ini."


"..."


"Baiklah, lakukan. Ingat ini harus bersih," ujar Hanum, lalu mematikan telepon itu secara sepihak.


Entah, apa yang berada di benak suaminya. Sampai ia harus membuat istrinya harus memikirkan berat.


Dreet.. Dreet..


Ia menatap layar ponselnya, Hanum menautkan alisnya. Jempolnya menekan tombol berwarna hijau, nafasnya begitu berat untuk keluar.


"Bagaimana?"


"..."


"Ke cafe biasa."


Tangannya meraih secangkir teh di depannya, lalu meminumnya hingga tetes terakhir. Ini yang membuat wanita hamil itu semakin berdebar, ia tidak bisa menerima kenyataan jika tidak seimbang dengan pemikirannya.


Kakinya melangkah pelan, ia telah memesan taksi sedari tadi. Taksi sudah sampai di depan rumahnya, ia mengambil jaket yang di gantung ruang tengah.


Cafe


Pria memakai jaket tebal itu menunggu majikannya datang, ia sedikit memijat kedua pelipisnya, menatap kertas yang ada di atas meja.


Matanya menatap seorang wanita yang tengah hamil menghampirinya, "Bagaimana?" Pertanyaan itu yang terlontar dari bibir wanita ini.


"Begini," ia membuka kertas di depannya, "Dia berkerja sebagai pegawai di sebuah toko bangunan. Dia tinggal dekat perumahan ibu, bersama dengan istri dan juga anaknya," ia melipat kertas di hadapannya, "Dia melakukan nikah sirih bersama Mella Nasyawa Putri, dan saya dengar anaknya bernama Nana, berusia 1 tahun."


"Hanya itu saja?"


"Hanya itu, bu."


Wanita itu menarik nafasnya dalam-dalam, "Baiklah, upahmu akan aku transfer sekarang."


Pria itu hanya mengangguk, laku meneguk segelas coffe late di depannya. Tanpa basa-basi, wanita itu langsung pergi begitu saja. Menurutnya, ini cukup informasi memuaskan.


Rumah


Kakinya melangkah pelan menuju pintu, ia menatap malas pada mobil suaminya. Baginya, ini hal terburuk.


Pria yang duduk di sofa, menatap sinis kepada istrinya, "Dari mana kamu?."


Hanum tersenyum menatap suaminya, "Bertemu temanku," ia mengintip ruang dapur, namun tidak menemukan sisa-sisa bungkus makanan, "Mau makan?."

__ADS_1


"Sudah di luar," ujarnya, lalu mengangkat satu kakinya dan menyilangkan kakinya.


"Baiklah," Hanum berjalan menuju anak tangga, "Aku ingin keluar."


Wanita ini hanya membutuhkan hiburan, ia juga jarang masak sejak suaminya jarang makan di rumah. Meskipun kehamilannya begitu masih rentan, tapi ia tidak terlalu terfikirkan.


Firman menarik tangan wanita yang hendak memakai sepatu gold miliknya, "Kamu keluar kemana?"


"Apa?" Hanum menaikan satu alisnya, matanya terlalu malas memandang suaminya.


"Keluar kemana?"


Hanum menghadap laki-laki di depannya, "Kamu sudah jarang pulang, pulang pun selalu malam. Hari ini aku hanya butuh hiburan, aku jenuh berada dalam rumah."


"Tidak baik, orang hamil keluar sendirian," teriak Firman, membuat Hanum memperhentikan langkahnya.


"Terserah." Hanum berkekeh keluar.


Cafe


Secangkir cappucino menemani wanita tengah hamil itu, kedua tangannya memegang cangkir itu. Matanya menatap setiap warna di minumannya, udara berdesir menyapu kota malam. Ia melirik jam arloji di tangannya, waktu semakin malam, ia belum juga ingin pulang kerumah. Matanya beralih ke luar jendela, jalan raya mulai sepi, baginya ini tidak membuat wanita itu untuk pergi dari tempat ini. Ia mengangkat cangkirnya, bibirnya menyentuh permukaan atas cangkir itu, meneguk cappucino di dalamnya.


"Lebih baik aku pulang," lirihnya, ia meletakkan secangkir cappucino.


Tangannya meraih tas di atas meja, kakinya beranjak dari kursi yang diduduki. Taksinya sudah menunggu dua jam yang lalu, karena ia harus menunggu wanita tengah hamil itu di cafe.


Tangannya menarik pintu mobil, badannya memasuki dalam mobil, "Kita pulang, Pak."


"Baik, Bu."


Sopir itu menatap wanita di belakangnya, "Iya, Bu."


"Kita ke alamat ini aja ya," pinta Hanum, lalu mengeluarkan ponsel miliknya.


"Oh ya, Bu."


Semakin malam angin semakin menerjang perkotaan, pikiran wanita itu terlalu berat hingga ia sendiri tidak tau harus menyelesaikan semuanya.


Wanita ini pulang menuju rumah mamanya, ia tidak sanggup bila harus berada di rumah memandang suaminya yang semakin kesini ia tidak memiliki selera padanya. Sejak dulu, Firman memutuskan untuk tidak serumah dengan orang tua mereka. Lagian pula, rumah mereka tidak jauh dari orang tua.


Hanum mematikan telefonnya, ia tidak ingin bertemu siapa pun kecuali anak buahnya. Ia akan tetap di rumah mamanya, selama anak buahnya belum mencari informasi tentang suaminya.


"Sudah sampai, Bu."


"Baiklah," ia mendorong pintu mobil itu, badannya keluar dari benda besi persegi panjang itu.


Kakinya berjalan menuju rumah yang dulu Hanum tinggal, matanya terfokus dengan pintu di depannya.


"Assalamualaikum," salam Hanum, tangannya mengetuk pintu milik rumah mamanya.


Selang berapa detik, pintu di ketuknya terbuka, "Waalaikumsalam."


Hanum tersenyum manis, menatap wanita paruh baya di depannya, "Ma."


"Loh, kamu sama siapa disini?" Mata wanita paruh baya ini mengelilingi objek di belakang anaknya.

__ADS_1


"Sendiri, Ma. Firman pulang malam, sibuk di kantor, yaa, jadi Hanum kesini," terangnya dengan nada manja.


Mamanya menarik tangan Hanum masuk kedalam rumah, tidak ada perubahan semenjak dia menikah dengan Firman. Isi rumah itu masih tetap pada tempatnya, matanya menelusuri setiap ruangan itu.


"Ma."


Mama tersenyum, lalu memandang anak semata wayangnya, "Ada apa, Sayang?."


"Ah, tidak ada, Ma," Hanum menatap lembut wanita paruh baya itu, "Aku hanya terlalu capek, Hanum tidur duluan ya, Ma."


Hanum mendekati mamanya, mencium kedua pipi beliau secara bergantian. Senyum hangat yang di dapat wanita Hamil itu, ia menelusuri lantai menuju kamarnya. Masih begitu bagus, dan tidak ada perubahan semenjak ia pergi.


Warna gelap yang terlihat di jendela kamar Hanum, ia memandang dengan antusias dan tangannya mengelus perut buncitnya. Ini malam dimana dia harus mengulang kembali kisah baru, tanpa ada mantannya itu.


Badannya tergeletak di atas kasur empuk kesukaannya, ia mematikan satu lampu utama miliknya. Menutup mata, berharap besok pagi ia menemukan terang di masalahnya.


*****


Hanum terbuka matanya, sinar matahari memancar di bola matanya. Ia mengusap matanya yang sulit untuk terbuka, ketukan pintu terdengar keras di telinga Hanum.


"Iya, ada apa?" lirihnya, dengan suara seraknya.


"Fran datang."


Hanum terbangun dari tidurnya, mengusap wajahnya yang lusuh, "Suruh aja masuk, Ma."


Ia berjalan menuju kamar mandi, membasuh mukanya. Menggosok giginya, dan memberikan sedikit bedak di wajahnya. Ia berjalan menuju kebawah, menatap pria suruhannya sudah menyelesaikan tugasnya.


"Bagaimana?" tanya Hanum tanpa sedikit senyuman di wajahnya.


"Dia selama ini berada di rumah temannya, lalu pergi lagi pukul sembilan malam," terang laki-laki itu, lalu ia membuka lagi kertas dibawanya, "ia hanya melakukan kerja, meeting."


Hanum membuang nafasnya dengan kasar, "Ini upahmu."


Laki-laki itu mengambil amplop berwarna coklat, ia langsung melenggang keluar dari rumah majikannya.


Hanum memijat kedua pelipisnya, ia tidak tau apa yang harus dilakukan. Otaknya berusaha memutar mencari solusi untuk masalahnya, ia tidak ingin salah langkah lagi.


Hanum menarik nafasnya dengan keras, lalu mengeluarkan dengan pelan, "Oke, aku akan pulang hari ini juga."


Ia beranjak dari kursinya, mengambil ponsel dalam kamarnya. Seakan semuanya rumit, entah dibuatnya ataupun memang harus serumit ini.


Ia mengambil ponselnya dekat nakas makannya, menatap layar ponselnya yang sedari tadi menyala, ia menatap satu nama yang membuatnya harus lekas pulang.


Hanum di antar oleh supir pribadi mamanya, ia tidak berkutik dengan kelambataan jalan supir mamanya. Tangannya masih mengotak-atik ponselnya, kembali menelpon seseorang yang di sebrang sana, namun kelihatannya usahanya berbuah kosong.


"Berhenti disini, Pak."


Mobil itu terhenti mendadak, membuat kepala sopir hampir terbentur setir mobil. Hanum langsung mendorong pintu mobil, badannya segera keluar dan menutup pintu dengan keras.


Ia berlari menuju rumahnya, menatap halamannya begitu indah masih seperti semula. Ia melangkah tenang, membuka pintu yang tidak terkunci itu, apa yang dilihatnya tak sama dengan apa yang dia pandang sebelumnya.


"Assalamualaikum," salam Hanum dengan sedikit berteriak, tapi sepertinya rumah itu kosong.


Ia berlari mengelilingi seluruh ruangan rumahnya, ia tidak dapat menemukan apa yang ia inginkan. Rumah itu tampak kosong, apa yang berada di ruangan itu semuanya pecah tak terkecuali.

__ADS_1


Air matanya terjatuh dari bola matanya, ia tidak bisa menyangka akan menjadi lebih besar masalah ini.


__ADS_2