KAULAH IMAMKU

KAULAH IMAMKU
KAULAH IMAMKU 15


__ADS_3

Udara dingin menusuk jantung, tangannya masih meraba-raba keberadaan suaminya. Matanya masih mengatup, tapi tangannya masih bergerak mencari. Wanita itu tidak berhasil menemukan sesuatu, matanya terbuka perlahan. Kosong. Itu yang dilihatnya, kini badannya beralih menghadap pintu. Di sana ia menemukannya.


"Mas, itu kamu?" Suara serak milik Hanum menerjang keheningan malam itu.


Tampak samar-samar seorang menggendong anak berumur 1 tahun. Orang itu semakin dekat, hingga cahaya menembus wajahnya yang semula tidak terlihat.


"Kamu bangun?" Suara besar dan lembut, membuat Hanum tersenyum lega mendengarnya.


"Iya."


"Aku masih menidurkan, Ryan," jawab laki-laki itu.


Putranya yang terbangun malam hari membuat Firman harus menidurkan kembali. Melihat istrinya terlalu lelah, membuatnya semakin tidak tega untuk membangunkannya.


"Oh, iya. Setelah ini kita shalat subuh, ya."


Hanum mengangguk mengerti, tanpa basa-basi Firman melangkah pergi ke kamar anak semata wayangnya. Hanum memutuskan untuk bangun dari kasurnya, meskipun matanya belum terbuka ini sudah kebiasaan didalam keluarganya. Jadi, tidak merasa keberatan karena ini suatu kewajibannya.


Aliran air melalui keran, Hanum mensucikan diri untuk beribadah. Baginya Firman pria yang bertanggungjawab, ia tidak tanggung-tanggung menjadi seorang ayah dan kepala keluarga.


Seusai ritual berwudhu. Hanum keluar dari ruangan itu, matanya menatap seorang pria yang sudah menunggunya sedari tadi. Senyum itu terbit begitu saja di bibir Hanum, setiap kali ia diajak beribadah bersama wanita itu selalu berbinar-binar.


Hanum segera mengambil mukenah yang sudah disiapkan Firman saat istrinya mensucikan diri. Bukan hanya bertanggungjawab, ia juga seorang laki-laki yang romantis di mata istrinya.


Seusai shalat, seperti biasa Hanum bersalaman dengan seorang imamnya. Kecupan hangat di keningnya selalu didapat setiap harinya lebih tepatnya seusai beribadah. Senyumnya kembali terbit.


"Hanum," panggil Firman, matanya melirik kebelakang.


"Iya, Mas."


"Kali ini berdoalah, agar kita diberikan keselamatan untuk melakukan perjalanan ke rumah orangtuamu."


Bukan main lagi. Hati Hanum seakan teriris mendengar kalimat itu, wanita itu hanya mengangguk. Ia mengambil posisi memanjatkan doa, berharap sama seperti suaminya.

__ADS_1


Kami benar-benar sudah selesai beribadah, Hanum melepas mukenah yang dipakainya. Wajahnya masih bersinar, berapa hari lagi ia akan bertemu ibunya.


"Sayang." Panggilan sungguh manis ditelinga Hanum.


Hanum menoleh, menatap lembut suaminya. Begitu juga sebaliknya.


"Bisakah, kita terbebas oleh Bagas? Sedangkan, dia masih menunggumu disekitar rumah orangtuamu."


Pertanyaan yang mencekik Hanum secara perlahan, ia teringat jelas kejadian dua tahun yang lalu. Hatinya seakan teriris, hanya mendengar nama laki-laki yang telah meninggalkannya sewaktu pernikahan.


Senyum tenang milik Firman terbit disudut bibirnya, "Sudahlah. Aku tau apa yang kamu pikirkan. Hanya saja aku ingin tau, apakah dia masih mengikuti kita sampai sekarang?" Firman menghela nafasnya, "Sedangkan, anak kita belum bisa mengenal banyak hal."


Hanum tersenyum, bukan berarti dia tenang, "Mas, sebaiknya ibuku dipindahkan ke rumah ini saja?"


Firman berputar menghadap Hanum, "Mas, setuju saja. Jika ibumu dipindahkan ke sini. Bukankah setiap gerak-gerik ibumu akan diawasi?"


Mata Hanum bergeser dibawah, ia benar-benar tidak tau apa yang harus diperbuatnya. Firman keluar dari kamarnya, ia juga tidak tau harus berbuat apalagi. Hanum masih terbujur kaku, memory ingatannya berputar di masa pernikahannya dulu.


***


"Sayur." Teriakan khas dari pedagang sayur yang ditunggu-tunggu ibu-ibu disini.


"Bang, sayur," teriak Hanum,  tangannya melambai-lambai mengisyaratkan untuk datang kemari.


"Oke, Neng," jawab Abang tukang sayur sambil menunjukkan satu jempol ke udara.


Sayur yang dinanti-nanti sudah tiba, tangan Hanum masih berkerja memilih sayuran untuk dimasaknya, "Ini sawi berapa, bang?"


"Oh, itu. Cuman dua ribu aja, neng." Abang-abang tukang sayur memang genit kepada Hanum. Tapi, Hanum ibu-ibu yang beruntung karena ia mendapatkan harga murah dari tukang sayur.


"Iya, Bang. Sawi nya satu, itu cabe satu bungkus, sama tempe dua, sama apalagi ya." Tangan Hanum masih mengotak-atik barang yang ada di gerobak Bang Ali.


"Sebenarnya, eneng mau masak apa?" tanya Bang Ali, ia juga seolah-olah membantu mencari apa yang ingin Hanum cari.

__ADS_1


"Mau masak oseng-oseng sawi sih, Bang. Tapi lauknya pakai apa? Masa tempe doang," ujar Hanum dengan kebingungan, dengan sigap Bang Ali mencari ide untuk membantu Hanum.


"Abang ambilkan ya, Neng." Tawarannya langsung mendapat anggukan dari Hanum. Berbeda dengan ibu-ibu lainnya, ia selalu mendapat penolakan setiap memberikan solusi.


"Totalnya empat puluh tiga," jelas Bang Ali, tanpa basa-basi Hanum langsung mengeluarkan selembar uang berwarna biru.


"Ini, Bang. Kembaliannya diambil aja, untung-untung udah bantu eneng mikir sayuran," ujar Hanum dengan tersenyum Pepsodent nya.


Astaghfirullah, ayune mbake iki¹. Batin Bang Ali, ia begitu fasih berbahasa Jawa. Karena ia berasal dari orang Jawa yang merantau jauh ke sini.


Hanum segera masuk kerumahnya, berjalan menuju ruang perangnya. Sebagai ibu rumahtangga, Hanum harus menyelesaikan masaknya sebelum suaminya keluar dari kamarnya. Tangannya meracik dengan cepat, memasak memang bukan keahliannya tapi memang dia sudah terbiasa dengan dapur ia begitu mahir dengan segala aktivitas dapur.


Bang Ali memudahkannya, apa yang diambil Bang Ali pasti berguna baginya. Tidak sia-sia dia mempercayai Bang Ali menjadi tangan kanan Hanum saat berbelanja. Sekarang tangannya harus berperang dengan minyak goreng, ia memang tidak terlalu suka dengan hal menggoreng. Karena Firman harus makan dengan lauk ia harus bisa membuat suaminya betah makan di rumah.


Ini tinggal terakhir, menunggu matang sayur kesukaan anak semata wayangnya. Tangannya mematikan kompor, sayur dan lauknya sudah siap di atas piring. Ia segera menyiapkan secepat mungkin di atas meja makan.


Semua sudah siap, Firman belum kunjung turun. Matanya menatap gelas cantik di depannya, ia ingat betul siapa pemberinya. Orang tua Bagas memberikannya kepada Hanum saat pernikahannya, hatinya terasa teriris menatap gelas itu semakin dalam.


Mau tidak mau. Hanum segera menepis bayangan di otaknya, ia begitu sakit mengenang apa yang tidak pantas dikenangnya. Apalagi, tentang laki-laki pengkhianat itu.


"Kamu kenapa?" Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Hanum.


"Ah. Tidak. Sekarang ayo makan," ajak Hanum, ia menyiapkan piring untuk suaminya yang sudah duduk bersama anaknya.


Firman menatap Hanum dengan ragu, feeling-nya tidak meleset tentang istrinya, "Kamu tidak memikirkan tentang dulu 'kan?" Lirih tapi begitu menyakitkan di hati Hanum.


Hanum berusaha kembali menutup kenyataannya, "Apakah wajahku belum membuatmu puas, Sayang? Aku hanya rindu ibuku saja," jawabnya dengan penekanan di suaranya.


"Baiklah, dari dulu kamu memang setia."


Hanum tersenyum manis mendengar pernyataan dari Firman. Wajahnya berbinar-binar, ia senang menatap suaminya begitu bahagia.


Catatan Kaki

__ADS_1


¹ \= Cantiknya mbaknya ini.


__ADS_2