
Pihak rumah sakit masih mencari keberadaan Devian dan Mbah Gus. Dokter Vampir itu bahkan mengerahkan keamanan untuk menjaga setiap sudut rumah sakit. Sementara Mbah Gua bersembunyi dibalik tembok yang sudah terpecah-belah bekas renovasi, berharap ada keajaiban yang menolongnya bersama Devina.
"Devina, bangun Devina," Mbah Gus tak henti membangunkan Devina, setidaknya dia memastikan Devina sadar dari obat-obatan dokter itu.
Sesaat Mbah Gus mengintip, ada beberapa perawat yang berdiri di pintu belakang, benar-benar tak ada celah untuk kabur. Terdengar suara Devina terbatuk, Mbah Gus bergegas menutupi mukt Devina agar suaranya tak terdengar oleh pihak rumah sakit.
"Syukurlah, kau bangun, jangan berisik," ucap Mbah Gus dengan suara pelan.
"Robby dimana?" tanya Devian.
"Dia sudah pulang, aku berharap dia segera datang, tapi.. menunggu 19 jam lagi itu terlalu lama, kita ketahuan nantinya," keluh Mbah Gus yang sudah buntu berpikir.
Devina memahami maksud Mbah Gus setelah melihat pihak rumah sakit berjaga-jaga di pintu belakang.
"Kita harus cari cara untuk keluar dari sini," kata Mbah Gus.
Devina malah pucat, badannya lemas, namun dia memaksakan otaknya untuk berpikir. Mbah Gus tak henti berdecak kesal, dia sangat menyesal membawa Devina ke rumah sakit yang tidak beres itu.
"Hanya ada satu cara Mbah Gus, liat harus berpencar, salah satu dari kita harus ada yang keluar dengan selamat untuk membuka kedok rumah sakit ini," ujar Devina.
Mbah Gus tertegun, dia seorang pria tentu harus melindungi perempuan, ditambah lagi janjinya kepada Robby akan menjaga Devina bila menemukannya.
"Kira-kira pintu itu terkunci tidak ya," gumam Mbah Gus.
"Kau tidak tahu, Mbah Gus. Biar aku saja yang memancing mereka, Mbah Gus harau keluar," kata Devina. Dia sudah menarik Mbah Gus masuk ke ddalam masalahnya.
"Tidak, namun yang harus keluar, aku tidak diinginkan oleh mereka, kamu yang diinginkan Devina, bayi di dalam kandungan mu, Robby sudah cerita kepada ku, kekuatan Robby yang terhapuskan diambil alih oleh bayi mu," jelas Mbah Gus. Dia sama sekali tidak merasa keberatan membantu Devina dan Robby.
Mbah Gus meyakinkan Devina, akhirnya Devina mengerti itu. Devina di suruh menganggu pakaian, saat itu Mabu Gus memantau pergerakan pihak eunag sakit, menahami jalur-jalur keluar.
"Devina mereka tidak melihat ku saat membawa mu, jadi manfaatkan itu, kau harus gerak cepat," Mbah Gus mengingatkan sekali lagi.
Devina mengangguk, seluruh tenaganya ia kerahkan kali ini, bukan lagi perempuan yang hanya dibalik patung Robby.
__ADS_1
"Ok, kita laksanakan sekarang, Devina.." Mbah Gus keluar membawa tempat sampahnya. Mendorongnya dengan serius. Menundukkan kepala namun sesekali melirik ke arah perawat pria yang menjaga pintu belakang.
"Hei... Kalian buat disitu," teriak Mbah Gus kepada mereka. Dia berlari masuk ke dalam rumah sakit.
"Hei, kau mau kemana?" tanya perawat itu, mereka mengejar Mbah Gus ke dalam rumah sakit.
Devina mengambil kesempatan itu dengan memakai baju clening servis, dengan langkah kaki yang gontai, Devina membuka pintu besi itu. Devina berlari keluar mencari seseorang yang dapat menolongnya. Nasib baik ada tukang ojek yang saat itu melintas.
"Kenapa Mbak?" tanya tukang ojek.
"Antarkan saya ke jalan Jambu Pak, tolong.." Sebelum ke kantor polisi, dia akan meminta perlindungan kepada keluarga sahabatnya, Syafa. Devina meminta pihak Syafa melindungi Mbah Gus.
Devina naik di motor seraya memegang perutnya, terdengar suara kericuhan dari dalam rumah sakit, tak tega meninggalkan Mbah Gus, namun harus bertindak melaporkan pihak rumah sakit itu. Ojek yang ditumpangi Dehjna melaju ke jalan rumah Syafa.
Mbah Gus berlari ke lorong rumah sakit, dia masih mendorong tempat sampah yang berisikan selimut rumah sakit bekas Devina. Para perawat pria tak henti mengejarnya, berpencar mencarinya.
"Ini rumah sakit penuh psikopat," keluh Mbah Gus.
Dia memilih bersembunyi di salah satu ruangan, tenryat, Mbah Gus tidak sengaja memasuki ruang jenazah. Kedua matanya mendelik, ingin keluar namun hanya ruangan itu tempat yang aman pikirnya.
Di luar ada yang keluarga pasien yang hendak masuk, Mbah Gus mencari akal agar dia tidak ketahun berada di kamar jenazah.
"Oh disana," Mbah Gus memilih masuk ke lemari selimut jenazah.
Ada satu perawat yang membawa keluarga jenazah masuk, suara tangis pecah menggema di ruangan itu. Mbah Gus dapat melihat keadaan keluarga pasien dari lubang kecil.
"Apa kami boleh bawa pulang jenazah anak kami?" tanya Ibunitu.
"Belum bsia, Bu. Kami harus menyelidiki dulu penyebab kematian anak Ibu," jawab Perawat wanita itu. Dia diperintahkan oleh pemilik rumah sakit untuk menahan jenazah.
"Kami ingin memakamkannya segera, kami tidak perlu penyelidikan," kata Ibu dari jenazah.
"Tidak bisa, Bu. Ini prosedur rumah sakit, mohon kerjasamanya," ucap perawat itu.
__ADS_1
Dia memaksa keluarga jenazah keluar, mereka akan mengidentifikasi korban kecelakaan itu. Ada paksaan yang mereka lakukan terhadap keluarga jenazah. Setelah keluarga jenazah itu di bawa keluar, ada sosok pria tampan pucat memasuki ruangan jenazah lagi.
"Itu dokter Vampir," gumam Mbah Gus yang mengintip dibalik lubang kecil.
Dokter Vampir itu mengeluarkan pisau, sebagai dokter andalan rumah sakit, ia ditugaskan untuk mengambil organ penting dari jenazah yang sempat di rawat di rumah sakit itu.
"Dokter, semua telah selesai, apa yang harus kami kerjakan?" tanya asistennya.
"Cari Devina lagi, dan cari pria tua yang membawanya pergi, aku ingin mendapatkan Devina," ujar Dokter itu.
Dokter Vampir itu terdiam sesaat, dia mengendus keadaan disekitarnya, cukup lama ia terdiam, asistennya bahkan terheran.
"Dokter, ada apa?"
"Kita pergi dari sini," ujar Dokter itu.
Mereka berdua keluar dari ruang jenazah, setelah merasa lebih aman, Mbah Gus keluar dari lemari kayu itu. Menghirup nafas banyak-banyak karena di dalam lemari udaranya terbatas.
"Akhirnya lara psikopat itu pergi juga," ucap Mbah Gus.
Namun tiba-tiba suara pintu menutup rapat, ada yang mencucinya dari luar, Mbah Gis bergegas mengecek, ternyata benar, pintu itu telah di kunci seseorang. Mbah Gus menggedor-gedor tapi tak ada jawaban dari luar.
"Buka! Hei Buka pintunya!"
Karena tak henti menggedor-gedor pintu, para perawat sejumlah sepuluh orang itu membuka pintu, salah satu menendang Mbah Gus hingga terjatuh di lantai. Dibalik rombongan, ada dokter Vampir yang muncul dengan tatapan menyimpan amarah.
"Kau terjebak juga," katanya.
Mbah Gus berusaha berdiri seraya menahan sakit di dadanya, dia sungguh terkepung, sulit melarikan diri lagi. Para perawat itu memegang bwsi yang akan memukuli Mbah Gus bila melakukan perlawanan.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Mbah Gus.
"Perempuan itu, di mana perempuan itu? siapa yang telah menghamili nya?"
__ADS_1
Mbah Gus tak bergeming, tak ada sedikitpun niat untuk membocorkan rahasia Robby kepada siapapun, termasuk dokter Vampir itu.