
Tak ada jawaban dari pertanyaannya, Dokter Vampir itu memukuli kaki Mbah Gus.
"Ahhhk.. itu sakit Vampir!" Mbah Gus mengumpat dengan sopan.
"Kau mengolok ku?! Katakan siapa nama Vampir yang menghamili perempuan itu?"
Mbah Gus malah memberikan senyum sinis, dia rela tersakiti demi menyelamatkan Devina dan Robby, baginya dokter Vampir itu harus menjadi lawan Robby yang seimbang, sudah terlalu banyak manusia yang menjadi korban dokter Vampri itu.
"Kau berkawan dengannya? Baiklah aku akan lihat apakah dia akan menolong mu, bawa pria tua ini ke rumah ku!"
Dokter itu sengaja membawa Mbah Gus ke rumahnya agar Robby datang menolong. Dia yakin Devina dan Robby akan menyelamatkan Mbah Gus dari cengkeramannya.
Mbah Gus dimasukkan ke dalam mobil jeep, mata Mbah Gus ditutupi kain hitam agar dia tak mengenali arah jalan ruang dokter Vampir. Namun Mbah Gus cerdik, ia menghitung kecepatan laju mobil perdetiknya, memfokuskan diri menghitung kilometer setelah mobil itu melaju.
'Robby akan datang menyelamatkan ku, Robby lebih hebat darimu,' ucap Mbah Gus dalam hati.
Jalan bebatuan mereka lewati, Mbah Gus dapat merasakan jenis jalanan yang anak buah dokter itu tempuh.
Sementara Devina turun dari ojek, ia tak memiliki uang untuk membayarnya, nasib ada pembantu Syafa saat itu, dia memberikan Devian uang lima puluh ribu untuk membayar ongkos ojeknya.
"Ada apa Non Devina?" tanya Mbok.
"Syafa mana Mbok? Saya butuh bantuannya," tanya Devina dengan nafas yang terengah-engah.
"Non Syafa kada di dalam, masuk," Mbok Siti membohongi Devina masuk ke dalam rumah Syafa.
Devina didudukkan di sofa, Mbok Siti ke kamar Syafa memberitahu majikannya, Syafa keluar dengan wajah yang diselimuti kekhawatiran.
"Devina, ada apa?"
Decina menceritakan segalanya tentang kejahatan pihak rumah sakit itu kepada Syafa. Sahabatnya itu tidak menyangka berita simpang siur tentang rumah sakit malah terjadi dengan sahabatnya.
"Tapi apa yang perlu aku bantukan? aku tahu tidak mudah melaporkan hal ini ke pihak kepolisian," ujar Syafa. Dia mahasiswi fakultas hukum, jadi dia tahu bagaimana permainan oknum nakal dibelakang layar.
Syafa membawa masuk lebih dulu ke kamarnya, menggantikan pakaian lalu kakan, sesekali Devina meraba perutnya, bayinya masih bergerak.
__ADS_1
"Suami kamu di mana Dev?"
"Besok dia akan datang lagi, dia akan membantu kita, kamu sediakan sopir ya, bawa aku kerumah malam ini," pinta Devina.
"Jangan dulu, aku takut kamu sampai diambil alih oleh orang-orang itu, takut aku Dev, dari cerita kamu, mereka itu predator," imbuh Sisil.
"Kamu benar, mungkin mereka ada hubungannya dengan suamiku, mungkin mereka berdua bermasalah dengan suamiku, atau ada hal lain," Devina meraba ada kejanggalan dengan dokter yang menginginkan janinnya.
Syafa menelpon Papanya yang sedang di Singapura, dia meminta dua bodyguard ke rumah untuk mengawalnya dengan Devina.
"Aku yakin, Suami kamu itu punya power, hanya saja mungkin ada kendala, iya 'kan?" Sisil salat menebak kendala suami sahabatnya itu.
Devina hanya menjawabnya lewat anggukan, suatu saat ia akan menceritakan semuanya kepada Sisil, itu sederhana kutukan Robby telah berakhir, sehingga Robby tak mendapatkan hukuman bila ada orang lain mengetahui jati dirinya.
Sejam berlalu, Devina berkali-kali menelpon ke rumahnya, berharap Robby telah menjadi Vampir lagi. Namun berulangkali, telepon itu tak ada yang mengangkat.
"Mungkin dia masih jadi patung," gumamnya.
Syafa memperhatikan Sahabatnya itu, ada banyak yang ingin ia tanyakan, namun ia tak ingin tidak nyaman hanya karena keingintahuannya.
"Kamu tinggal disini aja, sama aku," kata Syafa.
"Gak syaf, aku harus sembunyi dulu sama suamiku sampai anak ini lahir, mungkin sangat jauh dari kehidupan kota."
***
Suara retak patung kembali memenuhi rmkanta mendiang Ayaha Devina, Robby kembali menjelma sebagai Vampir. Dia mengganti pakaian terlebih dulu, Robby memilih memakau hoodie agar tak mudah di kenali oleh teman-teman Devina yang sudah terlanjur pernah melihat dirinya.
Suara telepon rumah kembali berdering, Robby hanya mengangkatnya tapi tidak bersuara, terdengar suara Devina menyebut namanya.
. "Kamu Robby 'kan?"
"Kau Devina? benar? Sayang kamu dimana? Mbah Gus berhasil membebaskan mu?"
"Aku bebas, tapi Mbah Gus di tangkap oleh mereka, itu demi membebaskan aku," ujar Devina.
__ADS_1
Devina menjelaskan yang terjadi kepada Mbah Gus, Robby mengerti dokter Vampir menangkap Mbah Gus karena ingin menemuinya. Semenjak musibah yang menimpa Devina, taka da kemunculan pemimpin Vampir, berarti Robby tak melanggar aturan apapun jika mengenai donter Vampir itu.
"Kamu berlindung di rumah sahabat mu untuk sementara waktu, kita harus menyelamatkan Mbah Gus, dia sudah sangat baik kepada kita," tutur Robby.
Robby menutup telepon, dia membuka brankas milik mendiang Ayah Devina, buku dongeng itu masih tersimpan rapi di bungkusan plastik.
"Adakah yang terjadi ini berhubungan dengan mereka yang ada di dalam cerita ini?" Robby bertanya-tanya seorang diri.
Sampai saat ini dia hanya mengetahui hanya dirilah yang dikeluarkan dari buku dongeng untuk menjalankan hukuman, Robby tidak pernah mendengar ada Vampir lain yang di keluarkan dari dongeng untuk menjalani hukuman di dunia manusia.
Robby membuka bab demi bab di buku dongeng usang itu, bab yang teramat mengerikan ketika Robby telah mengunuh Raja Henry yang Jahannam, para Rakyatnya menderita, kaum perempuan di negeru Vampir tak berharga di masa kepemimpinan Raja Henry.
"Aku tidak salah membunuhnya lalu kenapa aku di hukum?" ingin rasanya mengucapkan kalimat keberatan itu kepada pemimpin Vampir.
Robby melirik ke gambar keluarga Raja Henry, dihanabr itu keluarganya terisak tangis, termasuk kedua anaknya, Violet dan Cameron.
"Ihs.. ini hanya membuang waktu, aku harus menyusuri keberadaan mereka," gumam Robby.
Robby keluadaruang Devina dengan menutupi kepalanya dengan topi hoodie, di luar Robby rak menyadari sadari kemarin ada anak buah Sisil yang memantaunya, para anak buah Sisil memotret Robby.
"Bos, pria itu sudah keluar," ucapnya menelpon Sisil.
"Ikuti dia, jangan sampai kehilangan jejak," tutah Sisil.
Anak buahnya itu mengaktifkan kamera pengintai. Robby menunggu taksi lewat, setelah mendapatkannya, ia melancong ke rumah sakit yang dipenuhi predator itu. Anak buah Sisil tetap mengikuti dari arah belakang.
"Kayaknya pria itu kehidupannya gak normal deh," ujar anak buah Sisil yang mengobrol dalam mobil.
"24 jam berada di rumah yang gelap, tak ada lampu yang menyala sama sekali, gila 'kan.." timpa salah satu dari mereka.
Mereka mencurigai bahwa Robby memiliki kelainan jiwa, bagaimana bisa manusia hidup di sama ruang mewah tanpa menyalakan lampu ataupun sekedar bergerak untuk melakukan aktivitas, anak buah Sisil sampai memantau setiap menit untuk memastikan ada Robby di dalam rumah Devina.
"Taulah bos kita, suka gak yang unik, pria itu ganteng tapi aneh," ketua mereka.
Taksi yang ditumpangi Robby berhenti di rumah sakit, anak buah Sisil juga ikut berhenti, mengamati pergerakan Robby dari jauh.
__ADS_1