KEAJAIBAN PATUNG

KEAJAIBAN PATUNG
Siluet Masa Depan


__ADS_3

Sebulan Kemudian..


Devina menyiapkan sarapan, di pagi hari Robby bermain dengan bayinya di balkon rumah. Menikmati udara di pagi hari, Robby merasa lebih hidup sebagai Vampir normal. Ratusan tahun di kutuk, Robby tidak pernah menikmati pemandangan pagi hari yang hijau dan segar.


"Kalian sepertinya enjoy pagi ini," ujar Devina yang datang membawa sebuah nampan sarapan untuk Robby.


"Hari-hari ini akan kita lihat, terutama perkembangan bayi kita yang kian pesat."


Devina menghela nafas, "Aku pikir anak kita akan menjalani hari-hari yang cukup sulit, menjalani dua peran sebagai Vampir juga manusia."


"Jangan terlalu dipikirkan sayang.. kita akan menjadikannya putra hebat."


Devina melihat putranya yang bernama Jacob itu, bayi tampan itu tiba-tiba menangis, Devina mengambil anaknya untuk di gendong, tangan mungil Jacob menyentuh kepala Ibunya dengan cukup lama. Devina terkejut melihat siluet perjalanan Jacob dari anak-anak hungga dewasa, Jacob berjalan dengan Robby di negeri tang asing baginya.


Di siluet dewasa, Jacob terlihat sedang bersama seorang wanita, tetapi mereka juga sedang berperang dengan dua kubuh, wanita yang sedang bersamanya sosok wanita yang cantik, tetapi memiliki rasa dendam kepada Jacob. Hingga di siluet terakhir ada bayangan pria yang tersungkur di tanah dengan pedang yang terhunus di dadanya.


"Ahhh..." Devina tersentak. Karena tak sanggup melihat siluet menyedihkan itu, ia melepaskan tangan Jacob dari kepalanya.


"Kamu kenapa?" tanya Robby.


Devina mendudukkan diri di sofa, kepalanya pusing karena siluet itu membuatnya bingung. Robby gahu Devina telah mengetahui masa depan yang akan terjadi kepada dirinya dan Jacob.


"Apa yang kau lihat?" tanya Robby yang ingin tahu itu. Dia ingin mengetahui yang terjadi terhadap anaknya di masa depan.


"Aku melihat kamu dan Jacob sedang berada di negeri ynag berbeda dari duniaku, Jacob terlihat dewasa, dan dia berperamg dengan seorang wanita..tapi ada pria yang terbunuh.. " jelas Devina.


Robby terhenyak, "Terbunuh? Siapa? Jacob?"


Devina memijit-mijit kepalanya, dia berusaha mengingat wajah pria itu di dalam bayangan warna hitam. Tetapi tetap saja Devina tak menemukan sosok wajah yang bisa ia simpulkan.


"Aku tidak tahu," Jawabnya dengan mimik wajah kebingungan.


Robby menghela nafas, dia sangat penasaran dengan siluet-siluet yang diperlihatkan Jacob kepada Devina. Robby beranjak ke Jacob, dia menatap anaknya dari mata ke mata, menaruh tangan mungil Jacob di kepalanya.

__ADS_1


"Jacob... Perlihatkan juga kepada Ayah," pinta Robby.


Tangan Jackb ia paksakan menempel di kepalanya, namun hingga beberapa menit berselang, tetap saja tak ada siluet yang hadir di kepala Robby. Harapan itu sia-sia karena Jacob tetap tidak memperlihatkan siluet yang Robby minta.


"Mungkin hanya aku yang bisa ia perlihatkan, itu hanya pertanda untuk aku," Ujar Devina.


"Iya, mungkin saja. Tetapi setidaknya aku bisa waspada menjaga anakkku kelak," timpal Robby.


"Itu gambaran masa depan, kita tidak akan bisa merubahnya, tetap saja semua yang kita halangi akan terjadi dengan caranya sendiri," sergah Devina. Dia khawatir dengan masa depan anaknya, tetapi dia memiliki kepercayaan bahwa sulit mengubah takdir.


Devina terdiam di sudut sofa, dia mencurigai bahwa Robby akan membawa Jacob ke negeri Vampir, kecurigaannya kian kuat setelah melihat siluet itu.


"Jika suatu saat kalian pergi tanpaku, aku harap kalian sesekali mengunjungi ku," ucap Devina.


Robby bergegas menghampiri istrinya, dia bertekuk lutut agar Devina tidak bersedih dengan hal itu.


"Jangan bersedih sayang... Itu diluar kendaliku."


"Aku akan berusaha untuk membuatnya lebih baik.." Bisik Robby.


Hanya anggukan lewat pelukan yang menjadi jawaban Devina. Ia ingin prores tapi kepada siapa, ia pikir, Robby tidak pantas mendapatkan protes dengan jalan hidup mereka berdua. Jacob melihat kedua orangtuanya ikut berkaca-kaca, bayi penguasa negeri Vampir itu memiliki intuisi akan kebahagiaan yang akan diberikan kepada Ibunya kelak.


***


Sisil semakin gelisah sebab Cameron memblokir nomor ponselnya, berkali-kali Sisil menyuruh anak buahnya ek rumah Cameron, tetap saja anak buah kekasihnya itu tak membeimri kesempatan untuk menyampaikan pesan dari Sisil.


"Ck, dia kenapa sih? Apakah dia marah sama aku?" Gumam Sisil.


Karena tak ingin penasaran dengan lasan dari sikap Cameron saat itu, Sisil memutuskan untuk menyambangi Cameron di rumah sakit.


"Kalian ikut saya, kita harus ke rumah sakit Cameron," kata Sisil mengajak anak buahnya.


Anak buahnya turut saja, walaupun mereka sudah tahu kedatangan Sisil tidak akan disambut baik oleh Cameron. Sisil masih belum paham tindakan Cameron mengabaikannya karena sudah tidak membutuhkannya lagi dalam rencananya menghancurkan Robby.

__ADS_1


"Tapi bos, apa tidak berbahaya jika kita kesana tanpa izin dari bos Cameron?" tanya salah satu dari anak buahnya yang seringkali tidak terkontrol.


"Maksud kamu?" Sisil balik bertanya dengan alis yang mengerut.


Ketiga anak buah lainnya menepuk kepala temannya agar menutup mulut, mereka tifak ingin mendapatkan imbas dari kejujuran temannya. Sisil saat itu acuh dengan sikap anak buahnya. Di pikirannya hanya Cameron seorang, tidak ingin terganggu hal apapun.


Setiba di rumah sakit, Sisil di sambut oleh anak buah Cameron di pintu rumah sakit. Mereka menghadang Sisil juga keempat anak buahnya agar tidak memasuki rumah sakit itu.


"Jangan masuk," kata salah satu dari mereka.


Sisil mengangkat alis sebelah, "Beraninya kau! Lupa dengan aku? Aku ini pacar bos kalian!"


Anka buah Cameron tidak membalas itu, salah satu dari mereka menelpein Cameron memberitahukan kedatangan Sisil. Di balik telepon, Cameron mengumpat, dia kesal terhadap Sisil yang lancang datang kerumah sakit.


"Biarkan dia bertemu denganku, wanita itu memang harus aku beri pelajaran."


Karena mendapatkan izin dari pihak bosnya, anak buah Cameron pun mengizinkan Sisil menemui bosnya.


"Tapi hanya Nona Sisil yang bisa masuk, kalian tunggu disini," Ujarnya.


"Kami anak buah bos kami, itu tidak akan dipisahkan." Anak buah Sisil bersikeras untuk mendampingi Sisil masuk.


Karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Sisil pun menerima persyaratan anak buah Cameron.


"Baik, aku akan masuk tanpa anak buahku," sahutnya.


"Tapi bos," anak buahnya khawatir.


"Tenang saja, aku hanya menemui pacarku, bukan penjahat." Sisil tetap saja berpikir positif, padahal anak buahnya sudah khawatir setengah mati dengan tindakan Cameron itu.


Sisil masuk tanpa didampingi keempat anak buahnya, dia masuk ke lift dengan senyum yang merekah, berharap Cameron merindukannya pula. Sisil juga membawa sebuah paket hadiah kue untuk dimakan bersama Cameron siang itu.


"Kalian akan ku bagikan kue ini juga, tenang saja.." Ujar Sisil kepada anak buah Cameron di dalam lift.

__ADS_1


__ADS_2