
Suasana rumah Devina telah terdengar bayi yang menangis, sangat membahagiakan bagi Robby dan Devina, sebab putranya memiliki tenaga ekstra untuk melupakan emosinya, bayinya rewel karena dimandi oleh bidan saat itu. Bidan itu gemetaran memandikan bayi Devina, karena dia tahu bayi itu anak Vampir.
"Jangan takut Bu.. dia bayi manusia juga, dia belum memiliki kekuatan untuk mengigit."
"Iya, Pak. Tapi vitamin saya apakah mempan di tubuh bayinya?" tanya Bidan itu ragu.
"Akan mempan, dia masih memiliki darah manusia," sahut Robby.
Devina tersenyum, sesaat dia saling melempar senyuman dengan Robby, senyuman yang mengisyaratkan kebahagiaan. Sementara Mbah Gus sibuk membeli makanan, dia akan merayakan hari kelahiran anak Robby dan Devina bertiga saja.
Ketika ia hendak masuk ke dalam rumah, ia melihat ada perempuan mhca berdiri di pintu pagar. Itu adalah Sisil, yang dagangnawa biah dan berbagai kudapan lainnya, ia sedang berpura-pura mengunjungi Devina ynag sedang hamil, semua itu ka lakukan karena permaintaan Cameron.
"Kamu siapa?" tanya Mbah Gus.
"Hm, saya temannya Devina, saya ingin bertemu dia, apa dia sehat-sehat saja?" tanya Sisil dengan kepiawaiannya bersandiwara.
Mbah Gus tergugu, dia tak dalat menjawab, sejenak ia melirik ke dakam rumah Devina, berharap ada Robby keluar untuk meminta Sisil untuk kembali saja, Mbah Gus tidak tega bila harus menolak kedatangan Sisil.
"Kalau begitu, masuklah duduk di teras, akua akan menemui Devina terlebih dulu."
Mbah Gus menenteng makanan yang ia beli, menutup pintu rumah agar tak ada akses Sisil melihat keadaan di dalamnya. Sisil tersenyum miring menampakkan kekesalan, dia akan melakukan apapun demi membuktikan keinginan bersama dengan Cameron.
Mbah Gus meminta Robby keluar dari kamar, ia tidak ingin secara langsung memberitahu Devina tentang kunjungan Sisil.
"Teman Devina ada di luar?" tanya Robby terkejut.
"Iya, dia ingin bertemu Devina."
Robby menarik nafas, dia memutuskan untuk menemui perempuan yang dimaksud oleh Mbah Gus. Setelah mengintip dibalik gorden, Robby membelalakkan matanya, dia lebih terkejut lagi ketika ia tahu wanita itu adalah Sisil.
"Gadis itu memang tidak jera," gumamnya.
"Bagaimana? haruskah kita tolak kedatangannya?" tanya Mbah Gus.
Robby tidak setuju dengan cara Mbah Gus, ia akan meminta Devina untuk menemui Sisil di teras, itu cara terbaik agar Sisil segera pergi dari rumah Devina. Robby kembali masuk ke kamar, ia menjelaskan kedatangan Sisil kepada Devina, istrinya itu menghela nafas, ia meyakini Sisil telah berubah, tetapi Sisil tidak boleh mengetahui apalun tentang yang terjadi terhadap dirinya.
__ADS_1
"Baiklah, akan kutemrui dia.."
Devina keluar menemui Sisil, dia nentapa Sisil dibalik pintu, senyuman ramahnya ia layangkan ke gadis berambut coklat itu.
"Aku dari tadi menunggumu, kau sedang apa?" tanya Sisil.
"Aku tadi luamyan sibuk, ada apa?"
Sisil menyerahkan bingkisan hadiah untuk Devina, "Aku datang membawakan ini untukmu."
Devina terhenyak, dia takut jika Sisil sampai mengetahui dia telah melahirkan. Namun dia juga tak ingin terlihat mencurigakan karena menolak pemberian Sisil.
"Aku ambil, terimakasih Sisil.."
Sisil melirik ke perut Devina yang sudah rata, dia akan memanfaatkan momen itu menarik simPATI Devina. Sisil sengaja melayangkan usapan ke perut Devina.
"Janinmu sehat-sehat 'kan? eh kok rata, kamu udah lahiran?"
Devina gelagapan, dia menepis tangan Sisil dari perutnya. Menujukkan wajah ketidaknyamanan kepada Sisil. Mendapat respon demikian, Sisil meminta maaf namun dihatinya kesal karena Devina menyingkirkan tangannya seolah tangannya kotor.
"Aku sudah lahiran, tapi kamu tidak usah banyak tanya, kamu tahu 'kan? aku orangnya tertutup. Lebih baik kamu pergi sekarang, aku sangat sibuk Sisil.."
"Tetap saja, Sil. Kamu temanku, tapi aku juga ada privasi, lebih baik kamu pulang," sergah Devina.
Mendengar kericuhan itu, Mbah Gus keluar membantu Devina. Sebagai paman, Ia meminta agar Sisil pergi dari rumah keponakannya. Sisil. menyerah, ia pergi dengan membawa senyuman dipaksakan. Tetapi ia tidak akan berhenti disitu, dia dan Cameron.
Sisil menjauh dari rumah Devina, ia kembali masuk ke dalam mobil yang diisi oleh anak buah Cameron.
"Bagaimana bos?"
"Cukup berjalan lancar, tapi mereka membuatku jengkel.."
"Kenapa? bos kami bisa bertindak. jika bos mau," ucap anak buah Cameron.
"Sudahlah, kita akan balas dendam setelah tahu semuanya, bawa aku kembali ke rumah Cameron."
__ADS_1
Sisil dan Cameron menyusun rencana mereka begitu apik, sehingga pihak Robby tidak akan menyangka yang telah mereka lakukan secara diam-diam. Cameron akan tetap memantau pergerakan Robby sebelum kembali ke negeri Vampir.
"Kau berhasil?" tanya Cameron ke Sisil.
"Tentu, aku cerdik untuk itu.."
Cameron melayangkan kecupan di kening Sisil, walaupun tak ada perasaan cinta untuk perempuan itu, tetapi Cameron akan bersikap seolah mencintai Sisil.
"Aku bisa melakukan apapun untuk membantumu, tenang saja."
Cameron mengajak Sisil lagi ke. tempat tidur, dia akan memanfatkan Sisil dadi pikiran, tenaga, dan tubuhnya. Gadis itu akan dijadikan boneka.
"Mari kita lakukan lagi, aku ketagihan denganmu.."
Mereka berdua melakukan adegan ranjang lagi. Melupakan beberapa langkah untuk menghancurkan Robby dan Devina. Sementara di rumah seniman itu, Devina berbaring sembari menatap bayinya, ada Robby yang memeluknya dari belakang.
"Aku bahagia bisa melihat kedua orang yang Kucintai ada disamping ku.." Ucap Robby berbisik.
Devina memandangi wajah Robby, ia ingin menanyakan perihal yang akan terjadi usai hukuman Robby selesai, tetapi Devina tidak kuat jika yang ia dengar adalah kenyataan pahit.
"Ada yang ingin kau tanyakan? kata hatimu bisa aku dengar," tanya Robby menebak.
Devina memukul pelan lengan suaminya, dia menangis tanpa mengeluarkan suara. Ia meluapkan ketakutan dan amarahnya.
"Kau menyembunyikan rahasia besar dariku," protes Devina.
Robby tahu, Devina telah mengetahui isi cerita di dalam buku Vampir. Namun dia tidak ingin membahas itu, kondisi mental Devina sedang tidak baik-baik saja pasca melahirkan.
"Jangan pikirkan itu, masih lama akan terjadi.. kita akan mencari rumah aman untuk hidup bersama bayi kita."
Robby berusaha menenangkan Devina, dia memeluk erat, mengecup bibir ranum istrinya, aroma Devina membangkitkan naluriah prianya. Robby tahu Devina tak boleh melakukan hal itu pasca melahirkan. Namun Devina merasakan hembusan nafas Robby yang bersedia dari normal.
"Kau menginginkannya?"
Robby tersenyum kecil, dia mengangguk. Devina terdiam sejenak, dia membangunkan diri dari perbaringannya.
__ADS_1
"Aku akan bantu, aku akan.." belum usai kalimat Devina, Robby meraih bibir Devina untuk dikecup nya.
Di depan anak merey yang tertidur, Devina memainkan perannya sebagai istri. Dia membantu Robby untuk sampai di puncak dengan bermain dibawah sana.