
Cameron memanggil anak buahnya, ke empat pria bertubuh kekar memasuki ruangan observasi Cameron. Di dalam Sisil sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Rambutnya telah berserakan karena Cameron menggunting rambut Sisil. Rambut Sisil pendek sebahu, Cameron melakukan itu agar Sisil lebih menurut terhadapnya, ada banyak kelakuan Sisil yang telah ia ketahui, itu akan menjadi alibi Cameron untuk menguasai Sisil agar menurut.
"Serahkan dia ke anak buahnya, dia tidak akan bisa pergi darimu jika rambutnya ada di genggaman ku," ucapnya.
Anak buah Cameron membawa Sisil keluar, gadis itu digotong, mengejutkan anak buahnya. Mereka ingin marah tetapi tatapan anak buah Cameron seolah memberikan isyarat bahwa mereka harus tutup mulut.
"Bos kalian baik-baik saja, hanya sedikit diberikan pelajaran agar tidak melewati batas."
Setelah menyerahkan Sisil, anak buah Cameron mengusir mereka. Sisil di bawah kembali ke rumah keduanya, anak buahnya khawatir dengan tingkah laku Cameron yang berperilaku sesuka hatinya.
"Setan mereka, kasihan bos," ujar salah satu dari mereka.
Di belahan kota lainnya, ada Robby yang merasakan ada akan bahaya yang mengintai keluarganya, instingnya sebagai Vampir semakin kuat karena kehadiran putranya, Jacob.
"Kau mengkhawatirkan sesuatu lagi?" tanya Devina.
Robby seketika menyunggingkan senyuman, tidak memperlihatkan Devina raut wajah khawatir. Robby melihat tanggal, hari berlalu begitu cepat, dua minggu lagi dia dan Jacobakan meninggalkan Devina, tetapi Robby belum juga bertemu dengan Cameron. Ingin rasanya Robby menemui Cameron untuk memberikan peringatan agar dia tidak lagi mengganggu Devina.
"Bisakah kau bersama Jacob dan Mbah Gus di rumah ini? aku akan ke suatu tempat untuk sementara waktu," tanya Robby.
"Kamu mau kemana? ada urusan apa?"
"Ada banyak yang harus aku selesaikan, kamu sudah janji untuk tidak bertanya, lagipula ini kebaikan kita bersama.."
Robby berulang kali menyakinkan Devina, setelah lebih mengerti, akhirnya Devina meluaskan Robby pergi ke tempat yang ia maksud.
Setelah meminta Mbah Gus untuk menemani Devina dan Jacob, Robby berangkat dengan mengemudi seorang diri ke kota kelahiran Devina. Pria itu melakukan mobil dengan kecepatan tinggi, sesekali bayangan wajah Devina dan Jacob nampak di pelupuk matanya.
"Baru beberapa jam aku meninggalkan mereka, tetapi kerinduanku sudah sebanyak ini."
Setiba di kota kelahiran Devina, Robby menuju ke rumah lama Devina. Ia melihat rumah istrinya itu malah tetap sama seperti terakhir saat mereka tinggalkan. Hanya dedaunan kering berserakan di taman juga dk teras rumah.
__ADS_1
"Aku akan meninggalkan kenangan infahku selama berpuluh tahun disini, disini aku melihat Devina dari bayi hingga aku menikah dengannya lalu memiliki Jacob.." Gumam Robby mengenang masa-masa indah bersama keluarga Devina.
Ketika Robby hendak keluar lagi dari pintu pagar, ada beberapa pria yang tidak. siang wajahnya keluar dari mobil Jeep hijau. Robby tahu keempat pria itu ingin menghampirinya.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Robby.
"Kami ingin minta maaf.." Ucap mereka.
Robby mengangkat alis sebelah, mencari rasa penyesalan di raut wajah keempat anak buah Sisil.
"Bos kami meminta kami untuk menemui anda dan Devina, kami ingin meminta maaf..maafkan kami," ucap salah atau dari mereka yang mewakili Sisil.
Robby hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, namun tidak percaya sepenuhnya dengan permintaan Sisil.
"Baiklah, kalian pergi dari sini, aku tidak ingin berurusan lagi dengan kalian," ujar Robby.
"Tapi anda dan keluarga akan tetap berurusan dengan kami, tetapi itu karena terpaksa," sahut mereka.
Robby mengerutkan alisnya, dia mengerti makna dibalik ucapan anak buah Sisil itu.
Keempat anak buah Sisil itu tersenyum, mereka pamit undur diri, tetapi mereka melempar sebuah remukan kertas kepada Robby, seolah-olah mereka musuh bebuyutan, setelah itu mereka masuk kedalam mobil meninggalkan Robby seoarang diri.
Wajah yang tampan itu terdiam sejenak, dia memandangi laju mobil anak buah Sisil hingga kenapa ditelan tikungan. Robby barulah mengambil rekmjkan kertas itu lalu di bawa masuk ke dalam mobilnya.
"Cameron... kau benar-benar iblis!" Robby mengecam setelah membaca isi tulisan dari kertas itu.
Tanpa mengulur waktu lagi, Robby tancap gas ke tempat Cameron sering berada yaitu rumah sakit. Robby mempersiapkan tenaga untuk membuat Cameron jera. Setiba dirumah sakit, pintu gerbang rumah sakit itu dijaga ketat oleh anak buah Cameron, Robby keluar dari mobil, menampakkan dirinya dihadapan para anak Cameron.
"Kau brengsek berani menujukkan dirimu!" ketua anak buah Cameron menghardiknya.
Robby hanya duduk bersandar di mobilnya sembari menyilangkan kedua tangan. Sementara anak buah Cameron mengambil ancang-ancang untuk menyerang Robby.
__ADS_1
"Aku tidak ingin mematahkan kalian harus inj, panggilkan bos kalian," ujar Robby dengan santai. Ia tahu kekuatannya tidak sebanding dengan anak buah Robby.
Ketua anak buah Cameron mengerti peringatan itu, dia menghentikan anak buahnya menyerang Robby karena ia pikir itu tidak berguna, penyerangan itu hanya berujung luka dan cacat seumur hidup, Robby tidak dapat mereka kalahkan.
Salah satu anak buah Cameron mengetuk pintu ruangan Cameron. Saat itu ada seorang perawat yang sedang melayani nafsu bejat Cameron. Musuh bebuyutan Robby itu kesal karena ketukan pintu oleh anak buahnya tidak menyelesaikan permainannya saat itu.
"Sial, kenapa lagi sih mereka?!" Gerutu Cameron.
Perawat itu segera berlari ke toilet dengan tubuh tanpa sehelai kain. Cameron memakai kembali kemejanya lalu bergegas menemui anak buahnya.
"Ada apa?" tanya Cameron setengah membentak di balik pintu.
"Ada Robby di luar, Bos."
Mendengar itu Cameron tersenyum miring, akhirnya sosok yang ditunggu-tunggu menampakkan diri juga. Cameron keluar menemui Cameron, di selipan ikat pinggangnya ada pistol yang ia sembunyikan. .
Dari jauh Robby telah melihat Cameron menampakkan dirinya, Robby menyambut itu dengan ikut berjalan menghampiri Robby. Dengan jaket hitamnya, Robby mendekat dengan tangan kosong.
"Hmm.. akhirnya kau datang juga," ucap Cameron.
"Aku datang berkat undangan mu, kau menyukainya atau .." Robby pun tidak ingin kalah.
"Kapan kau akan meninggalkan istri mu? aku tidak sabar untuk mencobanya," kata Cameron yang sengaja memanas-manasi Robby.
Robby mengepalkan tangannya, dia tidak menyukai kalimat itu, tetapi ia tetap bersikap tenang agar ia mengendalikan kekuatannya.
"Kenapa diam? kau ingin itu terjadi?"
"Tentu saja itu tidak mungkin, karena kau tidak akan memiliki peluang untuk itu, jangankan menyentuh istriku, melihatnya saja kau tidak memiliki kesempatan untuk itu."
Cameron tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh anak buahnya, seolah perkataan Robby lelucon, Cameron tetap pada keyakinannya, dia akan menikahi Devina secara resmi untuk mendapatkan keturunan yang lebih kuat dari Jacob.
__ADS_1
"Dengar.. aku akan menikahi istrimu, menikmati tubuhnya, menjadikan dia juga Ibu dari anakku.. membuatnya lelah setiap malam, sunggu indah pasti.."
Robby tetap tenang, ia tahu itu cara Cameron melengahkan dirinya, Robby malah melemparkan senyuman, seakan tidak mendengar hal itu.