
Devina di sembunyikan oleh Mbah Gus di gudang belakang, mengantisipasi jika anak buah Cameron sampai lolos ke dalam rumah itu. Devina membawa perlengkapan tidurnya, sebelum itu, ia pamit dari patung Robby yang berdiri tegak tanpa ekspresi.
"Devina, apapun yang terjadi, kamu makang keluar dari gudang itu."
"Iya, Mbah Gus. Jaga diri Mbah Gus.."
Devina menujubke gudang belakang yang tersembunyi di rumah itu. Selain ketakutan karena para penjahat memantau rumahnya, ia juga kepikiran dengan kisah yang ada di dalam buku cerita negeri Vampir itu.
"Benarkah Robby akan meninggalkanku? membawa anak ini bersamanya," gumam Devina.
Devina sudah berpikir berlebihan, jika Robby ingin kembali ke Negeri Vampir, dia juga ingin ikut bersama anak dan suaminya, Devina tak memiliki tujuan lagi hidup seorang diri tanpa keluarga.
Sementara di luar rumah, anak buah Cameron dan Sisil menunggu perintah dari bosnya untuk melakukan tindakan. Namun sampai saat itu, Cameron tak memberikan perintah apapun.
"Aku harus pelan-pelan, tidak boleh gegabah, pemimpin akan membunuhku jika sampai melakukan hal kelewat batas," gumam Cameron. Dia dilema jika harus bertindak secepatnya, sementara pemimpin Vampir sudah memperingatinya.
Sisil yang bosan menunggu menelepon Cameron, suara bawel gadis itu meledak dibalik telepon.
"Kau kenapa sih? katanya mau mulai aksi kita," tanya Sisil kebingungan.
Cameron tidak ingin diatur oleh Sisil, "Diam! Aku memiliki segudang cara untuk membuat mereka ketakutan, tapi tunggu dulu.."
"Bukankah kau sudah bilang, saat ini Robby tidak ada dirumah, memangnya dia kemana? kau bilang dia bukan manusia 'kan?" tanya Sisil menyerang Cameron dengan deretan pertanyaan.
"Berisik! Diam saja, aku akan menemuimu malam ini!"
Cameron menutup telepon dengan perasaan kesal, saat ini dia kalut tetapi Sisil malah membuatnya semakin khawatir. Cameron merasa Sisil malah menjadi beban karena gadis itu tak memiliki cara yang cukup pandai mengatasi masalah mereka.
"**** banget nih Cowok!" Umpat Sisil.
Sisil menemui anak buah Cameron, dia meminta anak buah Cameron untuk mengantarkannya ke rumah Cameron.
"Antarkan aku sekarang juga," pintar Sisil.
"Ta-tapi bso kami nanti marah," sahut mereka ragu.
__ADS_1
"Antarkan aku sekarang juga," Sisil tetap bersikukuh ingin bertemu Cameron.
Sejenak salah satu anak buah Cameron menepi untuk menelpon bosnya, setelah mendapatkan jawaban, dia kembali lagi menemui Sisil.
"Baiklah, kami akan mengantarkan mu, tapi kau hanya seorang diri saja, jangan bawa anak buah mu," ujarnya sesuai dengan arahan Cameron.
Sisil menyetujui itu, anak buahnya malah khawatir jika Sisil tetap nekat ke rumah Cameron, berkali-kali anak buahnya memperingatkannya, namun Sisil tak menggubris itu. Dia tetap ingin bertemu dengan sosokpria misterius yang mengajaknya bersekutu.
Sepanjang perjalanan, Sisil terheran karena mereka melewati hutan lebat, dia tahu hutan itulah tempat sebagian anak buahnya tersesat sewaktu mengikuti Robby.
"Setiba disana, Nona Sisil masuk saja sendiri," kata ansk buah Cameron.
Sisil mengangkat alisnya, dia meyakini Cameron tidak akan berbuat aneh terhadapnya. Sisil memiliki ku cinta kuat untuk membuat Devina mengungkapkan segala rahasianya.
"Keluarlah, itu rumah bos kami," ucap anak buah Cameron.
Sisil melihat rumah megah yang ada di tengah hutan, dia menelisik bahwa Cameron sosok mafia di negeri itu. Dengan langkah pasti, Sisil masuk sembari melihat disekitarnya, tak ada satupun manusia yang menjaga di ruang megah itu.
Pintu rumah Cameron terbuka otomatis, Sisil terhenyak karena kecanggihan itu. Dia menjalarkan pandangannya ke setiap arah di rumah Cameron.
"Hei, aku sudah datang..." Sisil menyeru sembari mencari-cari keberadaan Cameron.
'Sial! Kemana pria itu!' gerutunya dalam hati.
Beberapa menit kemudian, Sisil yang merasa dibohongi berteriak protes kepada Cameron.
"Hei! Kau membuang-buang waktu ku!"
Terdengar dari lantai atas, ada suara langkah kaki yang menuruni tangga, Cameron memunculkan dirinya dengan setelan kemeja putih. Sorot matanya tajam memandangi Sisil dari atas tangga. Tak ada senyuman yang menyambut kehadiran Sisil di rumahnya.
'Astaga.. dia capek juga,' ucap Sisil dalam hati.
Cameron melangkah ke arah Sisil dengan milik datar.
"Kau wanita yang keras kepala," ucap Cameron kesal.
__ADS_1
"Bagaimana bisa aku mempercayaimu? Aku belum pernah melihat sosokmu, darimana kau tahu aku sedang mengintai Robby?" tanya Sisil kembali.
Cameron tertawa, ternyata Sisil begitu polos karena pertanyaannya tidak amat penting untuk mereka.
"Setiao kucing tidak akan memberitahu caranya dia menyelidiki tikus-tikus di lubang," tuturnya.
Sisil menggigit bibirnya sendiri, dia kesal karena diumpamakan sebagai tikus liar.
"Kau jangan berkata sembarangan, aku putri terpandang di negara ini," ujat Sisil mengutarakan kasta keluarganya.
Cameron hanya tertawa kecil, dia mantan pangeran di negeri Vampir, baginya kekuasaan orangtua Sisil tak sebanding dengan Kebangsawanannya dulu.
"Apa maksudmu ingin menemuiku?" tanya Cameron.
Sisil yang memiliki jiwa hyper, menarik kerah kemeja Cameron, dia menarik wajah Cameron untuk lebih dekat dengan wajahnya. Mata keduanya saling bertatapan dengan aura jahat mewakili masing-masing.
"Apa kau bisa dipercaya?" tanya Sisil seraya memainkan jarinya di pipi Cameron.
Pria nakal itu tersenyum miring, ia menangkap ******* nafas Sisil yang sedang diselimuti nafsu. Cameron akan melayani aksi nakal Sisil itu. Dia mulai meraba punggung Sisil ceraa perlahan.
"Bagaimana jika menjadi patner dari berbagai kerjasama?"
Sisil mengangguk, dia ingin merasakan di cicipi oleh pria tampan yang berkharisma mirip dengan Robby itu. Cameron tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia membawa Sisil ke kamar tamunya untuk bersenang-senang.
'Kau datang sendiri menyerahkan diri, jangan ada penyesalan annti,' ucap Cameron dalam hati.
Sisil ia baringkan di atas ranjang, perempuan itu pasrah menunggu Cameron untuk menjelajahi tubuhnya. Sesekali suara ******* itu lolos dari bibirnya. Cameron hanya menikmati itu seperti biasanya, ada banyak gadis yang sudah ia kencani. Semua sama dimatanya, tak ada penolakan sedikitpun.
"Kau ingin menjadi kekasihku?" tanya Cameron sebelum membuka pakaian Sisil.
Itu cara Cameron menghanyutkan wanita yang ia kencani nya, dia ingin membuat wanita itu tergila-gila kepadanya lalu Cameron bisa benruat sewenang-wenang, itulah cara Cameron bertindak jahat untuk membalaskan dendam kematian Ayahnya.
"Lakukan saja dulu, nanti kita bicarakan itu," sahit Sisil. Ia tak dapat menahan diri lagi, Sisil ingin mendapatkan sentuhan lembut Cameron.
Adegan percintaan itu berlansung dengna memuaskan, tubuh Sisil bahkan melemag, sukmanya serasa disersp oleh Cameron, begitulah cara pria itu menambah imunitas tubuhnya, menyerap sukma para gadis.
__ADS_1
Cameron turun dari ranjang, dia melirik ke Sisil yang sudah tertidur pulas, gadis itu akan menjadi korbannya jika banyak menuntut, terlebih lagi Cameron mengeluarkan benihnya di dalam rahim Sisil.
"Tidurlah, mulai saat ini kau menjadi bonekaku," ucap Cameron kepada Sisil yang tertidur.