KEAJAIBAN PATUNG

KEAJAIBAN PATUNG
Menyerang


__ADS_3

Robby menyerang Cameron hingga terpental, dia mencekram kerah baju Cameron dengan tatapan ganasnya. Robby meluapkan amarahnya, meninju Cameron berkali-kali, dokter psikopat itu tiada henti memancing amarah Robby, sementara anak buahnya enggan menyerang Robby karena takut.


"Kau ingin membunuh ku?" tanyanya.


"Jika itu jalan terbaik, akan kulakukan sekarang, tapi kau harus menikmati kegagalan-kegagalanmu," Sahut Robby lalu memukul wajah Cameron lagi.


Cameron malah tertawa mendengar itu, dia sangat yakin Robby tidak berani membunuhnya karena sanksi dan hukuman Raja Vampir akan berlaku. Cameron yang berpikir licik sengaja memancing amarah Robby.


"Ketika kau telah kembali ke negeri Vampir, aku akan menikahi istrimu, menggerayangi tubuhnya setiap malam hahah,"


Dug! Dug!


"Brengsek! Itu tidak akan terjadi, kau juga akan ikut bersama kaki, akan ke perbudak kau di negeri ku," ujar Robby.


Ketika Robby lengah, anak buah Cameron memukuln kepalanya dengan tongkat besi, Robby merasakan teramat sakit di kepalanya, meringis kesakitan seraya memegang kepalanya yang sudah mengeluarkan darah.


Cameron berdiri sambil tersenyum miring, dia tidak ingin menyiksa Robby berlebihan, karena Robby telah masuk perangkapnya, Cameron dan anak buahnya bergegas menarik Robby masuk ke ruangan yang telah ia sediakan.


"Lepaskan!" Robby tetap melawan, walaupun saat itu kepalanya banyak mengeluarkan darah biru.


Robby dilemparkan ke dalam ruangan yang dilapisi baja berlapis-lapis, anak buah Cameron menguncikan Robby di dalam ruangan sempit itu.


"Tetaplah di dalam, kau akan kembali ke negeri Vampir dari tempat ini, kau tidak akan sempat mengucapkan selamat tinggal kepada istrimu," ucap Cameron.


Robby didalam hanya bisa menendang-nendang, tidak adaot berbuat apa-apa karena kondisi kepalanya sedang sakit. Cameron melancarkan aksinya, dia dan sebagian anak buahnya ke kota tempat Devina disembunyikan oleh Robby.


"Bos, apakah pemimpin Vampir tidak akan menghukum bos juga karena ini?"


Cameron tersenyum, "Kau pikir pemimpin Vampir memiliki andil banyak di dunia manusia? Kalian bukan Vampir, jadi lebih berhak memukuli Robby, lagipula dia yang datang ke markas kita tanpa di undang," sahutnya.


Sementara Robby sedang menahan sakit, dia merobek baju kaosnya lalu mengikatnya di bagian kepala yang mengeluarkan darah.


"Apa yang akan Cameron lakukan? Pemimpin Taun Lex?!" Robby meminta pemimpinnya hadir diruangan itu, namun pria berkepala plontos itu tak kunjung hadir.


Robby menilik dengan yang terjadi, pertanyaannya mencari jawaban atas ketidakhadiran pemimipin Vampir.


"Apakah karena sudah dekat aku kembali ke negeri Vampir, aku semakin di jauhkan oleh dunia ini?" Robby menerka-nerka.

__ADS_1


Robby menyadari kesalahannya bahwa tidak seharusnya dia menyelesaikan segala urusan dunia istrinya sebelum ke negeri Vampir, berulang kali pemimpin memperingatinya agar dia tetap berfokus menghabiskan masa hukumannya dengan baik, menjaga putranya agar menjadi Raja masa depan di negeri Vampir.


"Bagaimana keadaan Devina dana anakku, Tuan Lex jangan biarkan Cameron menyentuh atau menyakiti mereka, ku mohon.." Teriak Robby, berharap suaranya dapat didengar oleh pemimpin Vampir.


***


Perjalanan Cameron dan anak buahnya tiba diruamh tempat persembunyian Devina. Malam yang sunyi di kompleks rumah itu, tetapi lampu rumah Devian berderang, menandakan Ibu satu anak itu ada di dalam.


"Kamu yakin ini rumahnya?" tanya Cameron.


"Yakin Bos, sesuai GPS mobil Robby, dia memulai berangkat dari sini," sahut anak buahnya yang memang ahli IT.


Anak buah Cameron mulai mengetuk pintupintu rumah Devina, berkali-kali mereka ketuk, hingga suara kecrekan kunci terdengar dari dalam, nampak dibalik pintu ada Devina yang sedang mengembangkan senyuman, mengira yang datang itu suaminya.


"Hahhh!" Devina terkesiap ketika melihat Cameron dan anak buahnya sudah di depan pintu.


Begitu sigap anak buah Cameron membungkam mulut Devina, mereka menutup pintu dari dalam lalu mendudukkan Devina di sofa.


"Jangan membuat kekacauan yang merugikan dirimu dan bayimu," kata Cameron.


"Kau bahagia disembunyikan?" tanya Cameron. Dia duduk dibangku kayu sembari menggoyangkan sebelah kakinya.


Devina hanya menjawab dengan tersenyum, di dalam hatinya sedang mengontrol agar tidak mengumpat kepada Cameron.


"Tapi wajahmu terlihat tertekan," kata Cameron.


"Itu karena kau ada disini, aku tidak mengharapkan kedatangan mu!" Spontan Devina menyahut.


Cameron tertawa, dia menepuk-nepuk tangan karena keberanian Devina. Cameron menyeret bangku kayunya agar lebih mendekati istri Robby itu. Menatap nakal Devina yang memalingkan wajah darinya.


"Kau tidak bertanya bagaimana keadaan suamimu?"


Devina terhenyak, dia sempat melupakan bahwa kedatangan Cameron tentu telah berpengaruh buruk terhadap Robby.


"Silahkan bertanya, kau memiliki akses untuk bertanya," lanjut Robby.


"Apa sebenarnya ayng kau inginkan?"

__ADS_1


Cameron lagi-lagi tertawa, dia sangat senang dengan spontanitas Devina, membuatnya semakin tertarik.


"Aku suka kamu yang begini, baiklah sayang.. Suamimu itu akan tertolong jika kamu mau menandatangani surat ini," uacp Cameron menyodorkan selembaran kertas.


Devina membacanya dengan seksama, matanay terbelalak menyimak setiap kalimat demi kalimat yang tertulis di kertas itu.


"Kau! Apa-apaan ini?!"


"Kau ingin suamimu selamat? Kau ingin dia kembali ke negeri Vampir dengan nyaman?"


Devina tidak mengerti maksud pertanyaan Cameron, "Apa maksud kamu kembali ke negeri Vampir?"


Cameron melirik sejenak ke asisten kepercayaannya, mereka saling tersenyum karena ketidaktahuan Devina.


"Rupanya suamimu belum mengatakan sejujurnya, tidak lama lagi dia akan kembali ek negeri Vampir membawa anakmu, dia akan hidup disana dan meninggalkan mu," jelas Cameron.


Devina teringat dengan gelagat Robby belakangan ini, suaminya menujukkan kegelisahan, Devina menyadari jika perkataan Cameron benar, itulah penyebab Robby gelisah karena akan meninggalkan Devina seorang diri.


"Menikahlah denganku jika kau ingin Robby selamat, lagipula kalian juga akan berpisah, tanda tanganlah..."


Devina menggelengkan kepala, dia berdiri dari tempat duduknya, ingin mengecek kondisi Jacob dikamar.


"Tetaplah kalian disini, aku akan menyusul Devina," Kata Cameron.


Devina masuk ke kamarnya, belum sempat ia mengunci pintu dari dalam, Cameron dengan sigap menendang pintu hingga terbuka lebar.


"Jangan lancang masuk ke kamar orang lain, aku akan kembali ke ruang tamu, aku mengecek anakku sebentar," Devina berusaha bersikap sopan agar menjaga keamanan Jacob. Dia tahu Cameron psikopat yang dapat melakukan aksi nekat bila sudah marah.


"Aku tidak akan pergi dari kamar ini sebelum kau menandatanganinya, aku ingin suamimu selamat 'kan?"


"Tentu, aku sangat mencintainya, tapi bagaimana bisa aku mempercayai pria brengsek seperti mu? Apakah kau akan menepati janji mu? Kau akan melepaskan suamiku dengan keadaan baik-baik?"


Cameron menyilangkan kedua tangannya, "Aku tidak pernah menepati janjiku kepada siapapun, tapi jika itu kau, aku akan menepatinya, aku sudah bilang, kalian juga akan berpisah, Robby akan kembali memimpin negeri Vampir, dan kau manusia mustahil hidup disana, itu tidak mungkin."


Devina melirik ke Jacob yang tertidur pulas, dia gemetaran saat itu menentukan pilihannya, keselamatan Robby ada ditangannya, tetapi menikah dengan Cameron juga menjadi neraka baginya dan keluarganya.


"Aku tidak suka menunggu, jawab sekarang!" Cameron berkata setengah membentak.

__ADS_1


__ADS_2