KEAJAIBAN PATUNG

KEAJAIBAN PATUNG
Bab 28


__ADS_3

Robby melangkah ke arah prajurit itu, dia melihat sejenak ke perempuan yang seusia Ibunya.


"Kalian bejat seperti Raja kalian!" Ungkap Robby tanpa takut sedikitpun.


Semua pasang telinga yang mendengar biru terkejut. Para prajurit itu telah menodongkan senjatanya ke arah Robby. Namun tiba-tiba ada suara laki-laki yang mencegahnya.


"Hentikan itu!" Dia adalah pemimpin Vampir yang teramat di segani.


Pemimpin Vampir melindungi Robby dengan berdiri tepat di depan Robby. Dia memberikan tatapan tajam kepada prajurit itu. Karena takut membuat pelanggaran, mereka menurunkan senjatanya. Robby tersenyum miring, dia bersyukur dengan kehadiran pemimpin Vampir saat itu, dia belum cukup memiliki kekuatan untuk melawan Raja dan prajuritnya.


"Kalian tidak boleh melakukan aksi apapun kepada anak ini, dia anak angkat ku!"


Prajurit itu terdiam, mereka ingin komplain dengan perkataan Robby mengatai Raja, tapi tak ada satupun dari mereka yang berani mengangkat suara.


"Pakai baju kalian kembali, jangan dengarkan mereka." Robby meminta para perempuan itu untuk memakai bajunya lalu bergegas entah dari. tempat itu.


Pemimpin Vampir hanya menghela nafas, dia tahu Robby memiliki jiwa kepemimpinan, rasa empati, namun sayang Robby tak memiliki garis kebangsawanan yang menjadi alasan penghargaan. Robby pamit dari pemimpin Vampir, dia kembali masuk ke hutan membawa hasil belanjaannya. Para prajurit itu akan diam-diam menelusuri keberadaan Robby. Robby berlari dengan cepat, tiba ia di rumahnya. Para binatang yang ia anggap teman itu berkumpul menyambutnya.


"Kalian menungguku? aku baru saja menyelesaikan masalah, maaf kalian menungu lama," ucapnya. Dia menaruh daging di piring binatang itulah satuper satu.


Singkat cerita, pada suatu malam, Robby merasakan hal aneh di sekitar rumahnya. Robby merasa ada yang memantaunya, ketika ia keluar mengecek kondisi luar rumahnya, ia menemukan para binatangnya tergeletak bersimbah darah. Di perut binatangnya tertancap anak panah.


"Siapa yang melakukan ini?! Hei kalian!" Teriak Robby kepada hamparan hutan yang gelap, dia yakin ada orang-orang yang sengaja membunuh binatangnya.


Robby menyelidiki sekitar hutan itu, dia menemukan sebuah busur yang ia yakini itu milik prajurit kerajaan. Robby menggenggam busur itu dengan erat.


"Kalian! Tunggu pembalasanku!" Robby bertekad untuk melawan pihak kerajaan.


Sejak malam itu, Robby berlatih terus-menerus, ilmu belah dirinya benar-benar setara sepuluh pria. Keahlian dalam berpedang pun telah ia kuasai. Robby ingin melawan sendiri Raja yang ia anggap tak pantas menjadi Raja itu.

__ADS_1


Robby diam-diam memantau keadaan istana, dia menyebarkan racun dari tumbuhan yang mematikan, racun itu ia sebarkan di udara untuk membuat para penjaga istana sesak nafas. Robby mengambil kesempatan itu untuk membantai satu per satu prajurit kerajaan. Mereka kewalahan melawan Robby dengan nafas yang sesak.


"Mati kalian! Semua ini pasta kalian rasakan karena kejahatan itu!


Robby masuk ke Istana, hanya beberapa datang yang ia temui, dia tak menyakiti perempuan, saat itu ia hanya mencari Raja. Menelusuri ruangan bawah, namun tak ada tanda-tanda kehadiran Raja.


" Dimana Raja kalian?" tanyanya.


Tak ada satupun dari mereka menyahut, para pelayan itu ketakutan. Karena tak mendapatkan jawaban, Robby menelusuri tangga untuk naik ke lantai dua. Dia mendapati Raja sedang bersantai dikelilingi gadis-gadis cantik. Raja itu terjadi terhenyak lalu menjatuhkan gelasnya ke lantai.


"Kau siapa?" tanya Raja.


"Malaikat mautmu!" Robby menghunuskna pedangmya ke leher Raja. Sementara para gadis itu berlari turun karena ketakutan.


Raja berusaha melawan namun ia takut pedang itu tertancap di lehernya. Dia memamggil-manggil para pengawalnya namun tak ada satupun yang naik ke atas.


"Mereka semua sudah mati, sebentar lagi kau akan menyusul mereka."


"Kau apakan Ayahku?" tanya Cameron kepada Robby.


"Dia telah banyak melakukan kesalahan," ucap Robby. Setelah itu dia berlari turun ke bawah. Meninggalkan Cameron yang tak henti menangis.


Robby berlari kembali masuk ke hutan, ia tahu akan ada hal buruk yang menimpanya, pemimpin Vampir tidak akan memberikannya toleransi. Robby bersembunyi di rumah pohonnya. Dia tak henti memantau keadaan di luar sana. Para Rakyat yang mendengar kematian Raja berbahagia, mereka seolah bangkit dari penjajahan selama ini dilakukan oleh Raja mereka.


"Robby! Turun!" suara dari bawah pohon terdengar menyerunya.


Robby menarik nafas dalam-dalam, ia mengumpulkan keberaniannya menemui pemimpin Vampir yang sudah datang bersama anak buahnya.


"Kau puas telah melakukan pembalasan dendam?" tanya pemimpin Vampir.

__ADS_1


"Tidak, Tuan. Saya hanya bahagia karena menyelamatkan Rakyat dari kejahatan Raja."


Pemimpin Vampir itu tetap saja tidak menyukai cara Robby. Dia tidak ingin Vampir lain mencontohi sikap Robby yang gampang membunuh sesama Vampir.


"Kau telah membunuh banyak kua bangsa kita, ratusan prajurit dan seorang Raja. Kau telah melanggar aturan kehidupan Vampir."


Robby menyadari itu, dia sudah tahu konsekuensi yang akan ia lalui.


"Kau akan ku asingkan di dunia manusia, kau tidak boleh kembali sebelum membawa anakmu dari manusia, ini hukuman untuk kau karena telah lancang bertindak seorang diri."


Robby memohon agar hukuman itu tidak diindahkan oleh pemimpin Vampir. Namun bukannya meringankan, pemimpin Vampir bahkan memeberikannya lagi hukuman yang membuat Robby terkejut.


"Kau akan menjadi parung selama anak itu belum lahir, kau akan menjadi vampir selama lima jaman sehari saja."


Robby memohon, tetapi pusaran angin hitam itu menarik tubuh Robby sedikit demi sedikit. Robby tenggelam ke dalam pusaran angin hitam itu. Melihat hujuamn Robby, pemimpin Vampir bersedih, tapi itulah yang harus ia lakukan agar adil dalam memimpin kaumnya.


Deg!


Tak terasa air mata Devina menetes membaca kisah Robby. Ternyata suaminya teramat berat menjalani hukuman itu hingga beratus-ratus tahun lamanya. Devina berlari memeluk suaminya yangam masih menjadi patung. Dia menumpahkan tangisnya seperti seorang anak menangisi Ayahnya.


"Aku minta maaf hanya selalu menyusahkanmu, aku tidak pernah mengerti kesulitanmu."


Namun tiba-tiba suara kaca pecah terdengar dari luar, ada yang melemparkan baru ke kaca jendela rumah Devina. Mbah Gus terbangun lalu mengecek kondisi ruang tamu.


"Pasti mereka yang melemparkan ini," gumam Mbah Gus. Dia melirik ke jam dinding, masih butuh 15 jam lagi Robby kembali menjadi Vampir.


Mbah Gus mengitintip dibalik gorden, mengecek kondisi luar rumah, benar saja, para rombongan yang sudah bersekutu itu menunggu di depan rumah Devina.


"Mereka banyak sekali. Tapi.. kata Robby mereka tidak akan berani masuk."

__ADS_1


Robby menanamkan sebuah mantra agar rumah Devina tak di masuk peluk sembarang Vampir. Jika ada sampai melwatinnya, maka mereka akan terbakar.


__ADS_2