KEAJAIBAN PATUNG

KEAJAIBAN PATUNG
Peringatan


__ADS_3

Robby berasa di kamar mandi membersihkan badannya, namun ketika ia hendak ingin keluar dari kamar mandi, suara angin bertiupan menuju ke cermin. Itu adalah pertanda kehadiran pemimpin Vampir. Robby menundukkan kepala menyambut sesosok yang sangat disegani dan dihormati di Negeri Vampir itu.


"Kau bahagia dengan kelahiran anakmu?" tanya Pemimpin Vampir.


Robby bahagia, tetapi disisi lain dia juga kehilangan semangat karena akan berpisah dengan Devina.


"Aku mengerti perasaanmuperasaanmu, tapi kau harus kembali membawa anakmu, itu sudah aturan Negeri kita."


Robby melepas, dia memasang wajah sedih, namun dia takut mengungkapkan itu kepada Pemimpin Vampir.


"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan," kata pemimpin Vampir.


Sebelum Robby mengungkapkan kegelisahan hatinya, ia memberikan penghormatan kepada pemimpin Vampir.


"Aku memohon berikan kami kesempatan bahagia bersama selama beberapa bulan, aku ingin anakku merasakan kasih sayang Ibunya sebelum ia berpisah untuk selama-lamanya."


Pemimpin menarik nafas, ia sebenarnya iba dengan keadaan pernikahan Robby, tetapi aturan yang telah ditetapkan adalah mutlak bagi seluruh Vampir, termasuk Robby. Anak Robby sangat dibutuhkan di Negeri vampir, anak Robby akan melanjutkan tahta Ayah dari Cameron.


"Kau akan ku berikan kesempatan dalam dua bulan ini, kau harus merasakan kebahagiaan itu bersama istrimu, akan ku jamin tak ada seorang Vampir pun mengganggumu, termasuk Cameron."


Robby tetap saja gelisah, setelah dua bulan perpisahan yang menyakitkan itu nyata. Akankah ia dan Devina sanggup menghadapi itu? Robby juga tidak yakin.


"Kau merasa itu tidak cukup?" tanya Pemimpin Vampir.


"Tapi bagaimana dengan istriku jika kami berpisah? Dia sudah banyak mengalami kesulitan dalam hidupnya," ucap Robby.


Pemimpin Vampir itu menggelengkan kepalanya, dia tidak menyukai kekhawatiran Robby itu, tetapi karena ia memiliki sikap bijaksana, ia memaklumi sikap Robby.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu secara berlebihan, setiap makhluk hidup memiliki garis hidupnya masing-masing, istrimu akan menjalani kehidupannya sebagai manusia, dan kau bersama anakmu menjalani kehidupan yang juga semestinya," jelas pemimpin Vampir.


Tetap saja rasa gelisah dan khawatir itu melekat didalam hatinya, Robby memikirkan kehidupan Devina yang akan kesepian, hampa, dan merasa kehilangan lagi. Ini kesekian kalinya Devina akan kehilangan orang-orang yang dicintainya, dari Kakek, orangtua, hingga suami dan anaknya. Robby tidak dapat membayangkan hancurnya Devina saat itu terjadi.

__ADS_1


"Jangan pikirkan sesuatu yang tidak akan menjadi urusanmu, saya akan pergi..kamu harus ingat waktu itu."


Pemimpin Vampir pamit dari Robby, ia menghilang lagi dari pantulan cermin, meningalkan Robby yang tertunduk dengan hati yang tetap gusar. Robby tidak menyalahkan pemimpin Vampir, dia hanya takut jika Devina teramat trauma dengan kepergian dirinya juga anaknya.


Robby keluar dari kamar mandi, sebisa mungkin ia mengukir senyum di wajahnya, tak ingin menampakkan kesedihan apapun di hadapan Devina.


"Kenapa lama di kamar mandi?" tanya Devina.


"Aku membersihkan diri agar terlihat tampan didepan istriku," sahut Robby menggoda Devina.


Devina tersipu malu, walaupun mereka telah menjadi suami-istri, tetap saja mereka berdua memiliki rasa canggung jika sudah saling menggoda satu sama lain.


"Kau bahagia dengan hadirnya kami?" Robby bertanya sembari meraih tubuh Devina untuk dipeluk dari belakang.


"Aku sangat bahagia, kau dan anak kita adalah musim hujan di tengah kemarau panjang.."


Robby menggigit bahu Devina dengan pelan, melayangkan ciuman tanpa henti di leher jenjang istrinya.


"Kau selalu membuatku ingin menciummu," puji Robby.


"Aku akan selalu membuatmu tergoda, sampai kita tua nanti," ujar Devina.


Robby seketika terdiam, dia melepaskan tangannya yang melingkar di tubuh Devina. Sebagai istri, Devina merasakan ada gelagat abeh yang diperlihatkan oleh suaminya.


"Apa ada sesuatu yang mengusik jiwamu?"


Robby terhenyak, dia berusah mengalihkan pembahasan, bahkan meminta makanan kepada Devina padahal ia telah makan tadi bersama Mbah Gus.


"Hei, apa yang kamu sembunyikan? aku ingin tahu, kita suami-istri, kamu tidak boleh menyembunyikan sesuatu apapun dariku," ucap Devina bernada protes.


Robby tetap bersikukuh dengan pendiriannya, biarlah derita memikirkan itu ia tanggung sendiri, jika Devina tahu, tentu dia tidak akan menikmati setiap waktu kebersamaan mereka.

__ADS_1


"Sayang... kamu sudah janji sama aku, jangan pernah menanyakan hal yang sulit aku jawab, kamu ingat 'kan sayang?"


Devina kembali terdiam, sungguh sulit menjadi istri dari seorang Vampir, Robby memiliki kehidupan privasi yang tidak boleh diberitahukan ke orang lain.


"Maaf, aku tidak ingat itu, aku tidak akan menanyakan lagi."


Devina lebih legowo, dia berdamai dengan rasa penasarannya, melihat istrinya yang penurut, Robby semakin cinta, ia bahkan semakin tidak tega meninggalkan Devina.


"Besok aku akan mengajakmu makan malam, biarkan Mbah Gus menjaga anak kita," kata Robby. Dia ingin lebih banyak mengukir kenangan bersama Devina.


Ketika hendak jngin tidur, suara lemparan batu terdengar keras di memecahkan kaca jendela rumah Devina. Mbah Gus yang saat itu duduk di ruang tamu hampir terkena lemparan.


"Mereka mulai main teka-teki lagi," gumam Mbah Gus mengambil batu yang berlapsi kertas tulis itu.


Robby keluar menemui Mbah Gus, "Ada apa, Mbah Gus?"


Mbah Gus memperlihatkan pesan dari orang yang melemparkan batu, ternyata memang untuk ditujukan ke Robby.


"Biarkan saja Mbah Gus, yang tahu hanyalah Cameron, tapi dia tidak akan berani melakukan kejahatan terhadap kita, dia sudah diperingatkan oleh pemimpin kami."


Pesan itu berisikan peringatan bahwa akan ada seseorang yang akan menghancurkan Robby dan Devina, sepasang suami-istri itu akan merasakan pedihnya kehilangan anak.


"Tapi Robby, bukankah ini peringatan, aku takut jika anakmu di bahayakan oleh mereka."


Robby tetap berpegang teguh dengan jaminan Pemimpin Vampir, perlindungan akan dilakukan untuk keluarganya. Mbah Gus percaya itu, tetapi diam-diam akan tetap waspada melindungi keluarga Robby.


Di luar sana, anak. buah Cameron diminta untuk pulang oleh bosnya, hanya tersisa anak buah Sisil. Kali ini pihak Sisil yang akan andil untuk membantu Cameron secara diam-diam, tanpa sepengetahuan oleh Pemimpin Vampir. Sisil tidak akan membiarkan Cameron dan anak buahnya bergerak sedikitpun, itu cara dia membuktikan. cintanya terhadap Cameron.


"Kalian tahu 'kan apa saja yang harus kalian lakukan?" tanya Sisil kepada anak buahnya.


"Tentu bos, semua rekaman mereka telah kami. dengar, ini kesempatan yang tidak boleh kota lewatkan," sahut anak buahnya.

__ADS_1


Sisil memberikan sejumlah uang untuk mengakses anak buahnya mengikuti segala pergerakan Robby dan Devina. Bahkan nama hotel yang sudah Robby pesan untuk bersama Devina esok hari telah juga mereka pesan. Sisil sangat ingin mencelakai satu dari mereka, entah itu anaknya.


"Kalian tidak boleh menyebutkan nama bos pertama, anggap saja kita lupa dengannya," ujar Sisil agar anak buahnya tidak mengangkut pautkan nama Cameron, itu cara agar Cameron tidak di daftar hitam oleh pemimpin Vampir.


__ADS_2