KEAJAIBAN PATUNG

KEAJAIBAN PATUNG
Melumpuhkan


__ADS_3

Robby mengumpulkan kekuatannya yang tidak pernah ia gunakan lagi, matanya menatap tajam ke Cameron, memerah, gigi taringnya kembali nampak mencuat di sela bibirnya. Robby menunjukkan dirinya sebagai Vampir terkuat di Negeri Vampir.


Demi melindungi bosnya, anak buah Cameron rela di hajar oleh Robby. Bahkan diantara mereka ada yang patah tulang. Cameron masih berdiam di tempat, memperhatikan kekurangan Robby, ia mencari kutukan yang diberikan pemimpin Vampir terhadap Robby.


'Kutukan apa yang sebenarnya yang diberikan pemimpin kepadanya? mengapa ia masih memiliki kekuatan?" ucapan Robby dalam hati.


Robby sudah menghajar habis-habisan anak buah Cameron. Ingin juga menghajar Cameron, namun aturan kutukan, Robby tidak boleh menyakiti sesama kaum Vampir, sebelum kutukan menjadi patung itu berakhir.


"Kau ingin menghajar ku? baiklah ambil sendiri teman tua mu itu, dia ada dirumahku, alamatnya ini," kata Cameron melemparkan secara kertas kepada Robby.


Robby menarik nafas dalam-dalam, ia mengatur emosinya agar tidak marah kepada Cameron.


"Aku tidak suka dipermainkan Cameron, kau tidak segan memusnahkan mu dari dunia manusia jika kau sampai menganggu istriku lagi," ucap Robby memberikan ultimatum.


Cameron hanay tersenyum miring, ia entah dari hadapan Robby. Cameron masuk ke dalam rumah sakit meminta para perawat untuk menangani anak buahnya yang terluka parah. Robby meremas kertas alamat Cameron, ia tahu r ia sudah menelisik rumah Cameron yang tertera di kertas. Rupanya Cameron sengaja membawa Mbah Gus ke pinggiran hutan.


Di luar ada mata-mata Sisil yang sedang menonton aksi permusuhan Robby dan Cameron, mereka gemetaran karena melihat Robby yang berubah jadi aneh, tidak seperti manusia pada umumnya. Sembari merunduk ke pintu pagar, mereka meyakinkan diri dengan apa yang dilihatnya.


"Kalian lihat apa yang terjadi?" tanya salah satu dari mereka.


"I-iya, ini beneran gak sih? kita gak salah lihat 'kan? "


'' Masa kita mau salah lihat berjamaah, kayaknya mereka memiliki kekuatan supranatural, parah kalau kita sampai ketahuan, bisa-bisa kita yang dicincang,'' ujar salah satu mereka.


Mereka mundur perlahan menjauh dari rumah sakit, setelah masuk ke mobil, mereka menelpon Sisil. menceritakan segala apa yang mereka lihat, Sisil tentu terkejut mendengar nya, Ia tak percaya, namun bila mengingat kehidupan Robby yang misterius, tentu itu jadi acuan untuk mempercayai anak buahnya.


" Anggap saja aku percaya dengan kalian, tapi jangan berhenti mengikuti pria itu, Aku ingin tahu apa kesehariannya,'' titah Sisil.


tentu anak buahnya berat melakukan karena mereka curiga, Robby bukanlah manusia, namun perintah Sisil bergantung dengan kehidupan nya, Suka tidak suka mereka harus patuh.


"Udahlah, jalanin aja, toh cuma mengintai 'kan?"

__ADS_1


Robby terlihat memasuki taksi lagi, terburu-buru mereka mengikutinya. Robby menuju ke rumah Cameron berliku-liku yang berada di pinggiran hutan. Dengan perjalanan hingga pada akhirnya Robby sampai di rumah Cameron yang cukup mewah. Beberapa penjagaan yang menyambut kedatangan Robby, tampaknya mereka sudah diarahkan oleh Cameron.


"Serahkan Mbah Gus, aku sedang tidak ingin menguji otot," ucap Robby.


"Kalau kami tidak mau, kau bisa apa?" tanya mereka memandang enteng Robby.


Robby memerahkan matanya, gigi taringnya kembali mencuat. Anah buah Cameron itu mendelik, mereka mundur secara perlahan karena mengetahui yang dihadapannya bukan manusia.


"Ada di dalam, di gudang," ucap mereka.


"Bawa kemari, kalian yang telah menculiknya, kembalikan secara baik-baik."


Mereka malah berlari terpontang-panting, meninggal Robby berdiri di depan pintu. Robby memutuskan untuk masuk sendiri mengecek Mbah Gus. Rumah Cameron lumayan besar, Robby mengitarinya sembari memanggil nama Mbah Gus.


Terdengar suara bergumam dari kamar, Robby mendobrak pintu itu, ternyata Mbah Gus disekap, mulutnya di sumpah kain.


"Mbah Gus, tidak apa-apa 'kan? mereka tidak meluaki Mbah Gus 'kan?" tanya Robby.


Dengan nafas yang terengah-engah, Mbah Gus mengiyakan, ia trauma karena sempat mendengar Cameron ingin mengambil organnya untuk di jual.


"Itu tidak akan terjadi, aku akan melindungi Mbah Gus."


Saat mereka hendak keluar dari kamar itu, Pintu rumah itu terkunci rapat dengan penutup besi. Robby dan Mbah Gus terkejut, ternyata Robby dijebak oleh Cameron.


"Cameron!" Robby mengepal tangannya.


" kita harus bagaimana Robby?''


'' Cameron juga takut melawanku makanya dia sengaja menjebakku di sini.''


Robby berbisik ke Mbah Gus, mereka sepakat untuk memulai menghancurkan kaca jendela itu, ternyata kaca jendela Cameron setebal lima sentimeter, cukup sulit dipecahkan.

__ADS_1


"Kayaknya gak bakalan tembus," keluh Mbah Gus.


Robby diam sejenak, ia mengingat berbagai aturan kutukannya, namun dengan situasi seperti itu, Robby rela menerima segala resiko demi menyelamatkan Mbah Gus.


"Mundur selangkah, Mbah Gus. Akan aku hancurkan kaca ini," ucap Robby.


Kekuatan di masa lampaunya kembali ia gunakan, Robby meninju kaca jendela itu hingga retak berkeping-keping. Mbah Gus telah terkesiap seraya geleng-geleng kepala, ternyata tembak barunya itu memiliki kekuatan setara dengan sepuluh pria manusia.


"Kau hebat!" Mbah Gus memuji sambil mengangkat jempolnya.


Tak ada waktu Robby untuk bercanda, ia menarik tangan Mbah Gus segera keluar dari rimah Cameron, para anak buah Cameron yang mengintai ketakutan. Robby mengajak Mbah Gus ke taksi yang menunggunya, mereka kembali ke kota. Dari belakang mobil anak buah Sisil tetap saja mengikuti. Sopir taksi itu mulai curiga lalu memberitahu kepada Robby.


"Sedari tadi ada yang mengikuti perjalanan kita, Pak."


Robby dan Mbah Gus menoleh kebelakang


belakang, benar mobil itu mengikuti setiap pembelokan.


"Itu pasti anak buah Cameron yang ingin tahu tempat tinggal kamu," ujar Mbah Gus.


Di tengah hutan seperti itu, Robby berusaha untuk mencari cara agar mobil yang mengikutinya terjebak.


"Ada paku disini, saya sempat beli paku untuk keperluan bangunan rumah, Bapak mau?" tanya sopir itu.


Robby melemparkan paku itu ke jalan, sementara sopir taksi menambah kecepatan lajunya. Ban mobil anak buah Sisil semuanya kempes, mereka terhenti di tengah hitam sementara taksi Robby telah jauh meningalkan mereka.


"Sial! Kita dikerjain oleh mereka," umpat ketua mereka.


Mbah Gus tertawa kegirangan di sama mobil, seolah yang terjadi kepadanya belakangan ini adalah hiburan. Robby hanya tersenyum, ia tahu akan ada hukuman yang akan menantinya, pemimpin Vampir akan mendatanginya lagi, memberikannya hukuman karena melanggar aturan kutukan.


Cameron yang ada di rumah sakit telah mengetahui Robby dan Mbau Gus berhasil kabur, dia merasa dikalahkan terus-menerus oleh Robby. Tapi tidak cukup samapi disitu saja, setidaknya mencari Robby di dunia manusia tekah tercapai, kini ia mencari jalan agar menemukan Devina. Membuat gadis itu bertekuk lutut dihadapannya, itu cara efektif menghancurkan Robby daripada memukulinya.

__ADS_1


"Kalian sudah memasang alat pendeteksi di baju pria tua itu?" tanya Cameron pada anak buahnya di telepon.


"Shdah, Dok. Pria tua itu tidak menyadarinya," sahut anak buahnya. Ketika Mbah Gus di sekap, mereka diam-diam memasang alat pendeteksi suara dan lokasi keberadaan Mbah Gus.


__ADS_2