KEAJAIBAN PATUNG

KEAJAIBAN PATUNG
Perjanjian


__ADS_3

"Setelah aku menandatangani, lepaskan suamiku, lalu rahasiakan ini darinya, aku ingin suamiku tidak terbebani jika harus kembali ke dunianya," Ucap Devina yang pasrah dengan pilihannya.


"Tentu sayang, kamu istri yang baik, aku tidak sabar menjadi suamimu selanjutnya, pergilah ke ruang tamu lagi, tanda tangan perjanjian kita lalu setelah suamimu kembali ke negeri Vampir, kota akan menikah," Jelas Cameron. Rencana itu telah ia susun sedemikian apik untuk mendapatkan keturunan Vampir juga dari Devina.


Namun tiba-tiba Jacob menangis dengan keras, Devina bergegas menghampirinya, menggendong sembari menenangkan putranya itu. Semakin Devina tenangkan, semakin pula bayi bayi berambut pirang itu menangis, seolah dia tidak menyukai sesuatu yang ada disekitarnya. Menyadari itu, Devina melirik ke Cameron.


"Dia takut padamu, keluarlah dari kamarku," kata Devina.


"Karena dia tahu bagaimana kedepannya, anakmu sudah bisa melihat takdirnya sendiri," sahut Cameron.


"Maksud kamu apa? jangan berbual!"


Hanya senyuman licik yang diberikan kepada Devina, Cameron memutuskan untuk keluar dari kamar itu. Devina menutup pintu dengan rapat, dia menyusui Jacob dengan hati yang berkecamuk.


'Takdir apa yang dimaksud oleh Cameron?' Devina bertanya-tanya dalam hati.


Jacob yang sedang menyusu memandangi Ibunya tanpa berkedip, mata dengan bila mata hijau itu menatap Ibunya dengan tatapan serius, seperti sedang mengutarakan isi hatinya.


"Kenapa sayang? Perasaan Ibu masih baik-baik saja, Ibu yakin Ayah kamu sedang berjuang, dia akan baik-baik saja dan kembali kepada kita, menyelamatkan kita, tapi saat i i kota berdua harus kooperatif ya.. Ikuti alur om jahat itu," Ucap Devina kepada Jacob.


Di luar Cameron bosan menunggu, dia kembali beranjak ke kamar Devina dan menggedor pintu dengan keras. Suara dari anak buahnya menyeru agar Devina segera keluar dari kamar.


"Keluar! Kau jangan membuat kami marah besar!!"


Devina keluar membawa Jacob, bayi itu sudah anteng dalam gendongan Ibunya. Cameron menujuk ke arah kertas kontrak antara dirinya dan Devina, mengisyaratkan agar Devina segera menandatanganinya.


"Berjanjilah setelah ini, pergilah dari rumah kami, kehadiranmu membuat anakku takut," Pinta Devina.


"Aku sudah bilang berulang kali sayang, aku disini menunggu tandatangan kamu saja, setelah ini kami akan pergi," Sahut Cameron.

__ADS_1


Dia juga ingin segera ke rumah sakit karena saat itu pengelola rumah sakit menelponnya, ada keadaan genting yang harus Cameron tindaklanjuti.


Tangan yang gemetaran menyertai Devina menandatangani surat perjanjian antara dirinya dengan Cameron. Seketika matanya berkaca-kaca usai menandatanganinya, dia menatap Jacob dengan mengucapkan kata maaf dalam hati.


Rona bahagia terpancar di wajah pria bergaris wajah tegas itu, dia berdiri dari tempat duduknya lalu menghampiri Devina. Cameron menundukkan tubuhnya lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Devina.


"Terimakasih calon istriku, kau telah memberikan kesempatan itu, sampai jumpa di pernikahan kita," Bisiknya.


***


Keesokan harinya, Robby terbangun dari tidur, kepalanya masih terasa nyeri, sisa darah di rambutnya mengering, Robby melihat pintu ruangan tempat disekap nya telah terbuka lebar, dia kebingungan, apakah itu memang disengaja ataukah anak buah Cameron telah lalai. Mengumpulkan seluruh tenaganya Robby keluar dari ruangan itu, menelisik ke sekitar, tak ada satupun anak buah Cameron.


"Ada apa ini..?" Dia bertanya-tanya dalam hati.


Rumah Cameron tampak sepi, tak ada satupun orang yang ia temui, namun tetap saja Robby tidak ingin lengah, setiap langkahkahnya dibarengi kehati-hatian lalu melihat sisi kanan kiri juga belakang.


Kali ini Robby tidak ingin memperpanjang masalah karena penyekapan dilakukan oleh Cameron, bergegas ia keluar rumah itu lalu menuju ke mobilnya, kunci mobilnya masih menempel. Robby sudah menarih curiga bahwa telah terjadi sesuatu yang selama dia disekap.


Dari jauh ada juga mobil yang memantau, didalamnya ada Sisil yang terheran melihat Robby sempoyongan keluar dari rumah Cameron. Sisil yang memantau rumah Cameron, dia sedang berjuang untuk menemui Cameron untuk meminta pertanggungjawabannya atas kehamilannya, namun ia tidak menyangka melihat Robby yang terluka parah.


"Robby..." Teriak Sisil memanggil Robby, tetapi suami Devina itu tidak mendengarnya, mobil Robby melakukan kencang keluar dari halaman rumah Cameron.


Sisil menyusul Robby, berkali-kali ia membunyikan klakson tetapi Robby yang kurang fokus tidak mendengar peringatan Sisil, dipikirannya hanya memikirkan keadaan Devina dan Jacob. Berani mengambil resiko, Sisil menyalib mobil Robby hingga kedua mobil mereka nyaris bertabrakan.


"Sisil.." Lirih Robby yang melihat Sisil keluar dari mobil.


Sisil mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil Robby, "Buka Robby, aku ingin bicara," seru Sisil.


Wajah yang membalas mengekspresikan ketidaksukaan Robby ketika membuka kaca jendelanya.

__ADS_1


"Ada apa? Kau di urus kekasih mu untuk membuntuti mu?" tanyanya.


"Tidak ada, aku sudah tidak bersama dia lagi, tapi.."


Robby menyelidik dari mimik wajah Sisil, nampak ada penyesalan, amarah yang terpendam.


"Lalu apa yang kau inginkan? aku tidak punya waktu untuk," tanyanya.


"Aku tahu yang direncanakan Cameron, aku bisa bekerjasama denganmu."


Mendengar itu Robby tidak tertarik, waktunya untuk kembali ke negeri Vampir kian menipis, dia tidak ingin meladeni Sisil yang ingin bersekutu.


"Pergilah, aku juga akan pergi, bukankah kalian sudah saling mencintai?" tanya Robby.


"Dia menginginkan istrimu, Lagi-lagi dia menginginkan Devina!"


Robby menangkap kebencian lagi dari nada bentakan Sisil, ia merasa sampai kapanpun Sisil akan selalu membenci Devina, walaupun hidupnya juga memiliki porsi bahagia sendiri.


"Lebih baik selesaikan urusan mu sendiri, aku sudah tidak percaya lagi dengan ular betina," ketus Robby lalu memilih entah dari hadapan Sisil.


Robby kembali masuk ke mobilnya, meninggalkan Sisil yang sudah menampung kekesalan.


"Robby... Tunggu! Kita harus bekerjasama, hei!" Sisil mengejarnya namun laju mobil Robby terlampau kencang.


"Brengsek!" Sisil mengumpat karena Robby juga mengabaikannya.


Tak memiliki jalan lain lagi selain menemui Cameron, Sisil melancong ke rumah sakit untuk membuat onar, dia ingin meminta pertanggungjawaban Cameron atas kehamilannya. Sisil sudah tidak tahan lagi jika harus memantau dan mengejar secara diam-diam.


"Aku sudah terlalu jauh berjalan, aku sudah dibodohi oleh Cameron, anakku harus mendapatkan haknya, Cameron harus mempertanggung jawabkan anaknya, dia tidak boleh lari begitu saja, jika harus menjadi istri kesekian aku rela demi anakku.."

__ADS_1


Di dalam mobil Robby hanya menggelengkan kepala, dia merasa beruntung bisa dipilihkan menjadi suami dari sosok Devina, wanita yang sangat berbeda jauh tabiatnya dengan dari Sisil. Robby teringat dengan perkataan Sisil bahwa Cameron sangat menginginkan Devina.


"Cameron juga akan mengejar istriku, jika aku sudah tidak disini lagi, apakah yang terjadi pada Devina ku, ck.." Robby kian gusar menjelang kembalinya ia ke negeri Vampir.


__ADS_2