
Sisil tiba di rumah sakit, dia membawa rombongan wartawan yang akan mewawancarai dirinya juga memaksa Cameron untuk menampakkan dirinya dihadapan wartawan. Ada pula beberapa masyarakat setempat yang dibayar Sisil untuk menyuarakan aksi protesnya terhadap pihak rumah sakit yang meresahkan mereka.
"Apakah salah satu dokter di dalam telah menyakiti anda? Apakah itu termasuk pemerkosaan?" tanya wartawan kepada Sisil.
Perempuan berambut pirang itu meluapkan semua tangisnya, dia memposisikan dirinya menjadi pihak yang tersakiti.
"Benar, awalnya aku tidak ingin, tetapi dokter itu memaksaku, setelah aku hamil, dia tidak ingin bertanggungjawab dengan anak di dalam kandunganku ini," Jelas Sisil seraya mengusap perutnya yang masih rata.
Para wartawan dan masyarakat mengecam perbuatan Cameron, Sisil yang menjadi sorotan saat itu kerasa menang karena sebentar lagi Cameron pasti risih dengan pemberitaan yang ia buat.
"Aku tidak bisa bertemu dengannya," Lanjut Sisil lalu menangis tersedu-sedu, dia berusaha membuat orang-orang disekitarnya makin simpati.
"Kalau begitu kita harus dobrak pintu pagar rumah sakit ini, dokter iti harus tanggungjawab!" Kata salah satu dari masayarakat itu.
Mereka mulai anarkis, merusak pagar rumah sakit, anak buah Cameron yang berjaga saat itu kewalahan mencegat masyarakat dan wartawan yang juga ikut membantu.
"Sialan! Kita kalah," Kata anak buah Cameron, salah satu dari mereka bergegas masuk memberitahu keadaan kepada Cameron.
Dari atas lantai lima, Cameron dan beberapa pengelola rumah sakit menonton aksi anarkis itu, pria bertubuh tegap itu mengepalkan tangan menahan emosinya. Cameron berpikir keras mencari solusi agar namanya tidak menjadi buruk di mata masyarakat.
"Bagaimana ini, dok? Mereka meminta bos untuk turun menjelaskan perihal ini," Ucap salah satu dokter junior.
"Berikan infromasi kepada mereka, saya akan segera turun, buat keadaan lebih tenang terlebih dulu, aku tidak ingin terluka karena ulah kebodohan mereka," Sahutnya.
Dokter dan anak buah Cameron turun menyampaikan pesan dari Cameron, mereka sedikit ketakutan karena massa bak singa kelaparan yang menerobos pintu pagar.
__ADS_1
"Stop! Stop! Kalian jangan salah paham, kami dari pihak dokter Cameron akan menjelaskan, tunggu!"
Sisil unjuk diri di hadapan pihak Cameron, dia menghentikan massanya agar mendengar penjelasan mereka. Pihak Cameron tidak menyukai Sisil yang membawa citra rumah sakit mereka kian memburuk, namun karena tidak ingin masalah lebih besar lagi menimpa bosnya, mereka pun memanggil Sisil untuk menyampaikan pesan Cameron.
"Dokter Cameron akan bertemu kamu, tapi bubarkan dulu massa mu," Pinta mereka.
Sisil tersenyum miring, dia tahu kelicikan Cameron dengan anak buahnya, Sisil tidak ingin dikelabui lagi, ia pun mengajukan permintaan juga, rencananya kali ini harus berhasil.
"Dokter Cameron harus turun dan menampakkan barang hidungnya, dia tidak boleh menjadi pria pengecut yang lari dari tanggungjawab! Aku sedang mengandung anaknya, apakah dia bisa disebut sebagai pahlawan masayarakat? Sedangkan dia menelantarkan calon bayinya," Ujar Sisil yang sengaja mengeraskan suaranya.
Masyarakat saat itu kian geram, diatas Cameron tidak tahan melihat aksi gila Sisil, bersama anak buahnya lagi, Cameron turun menemui Sisil. Matanya memerah namun dia berusaha menetralisir, Cameron tidak ingin jati dirinya diketahui publik jika dia seorang Vampir.
"Itu dia dokter biadap!" Seru salah satu masyarakat.
Sisil mencegah masyarakat untuk menyerang Cameron, dia sangat mencintai Cameron meskipun pria itu sudah mencampakkannya namun tetap saja rasa cintanya tidak berkurang. Cameron berdiri tepat dihadapan Sisil, raut wajah wanita itu menyendu selalu meminta belas kasihan dari Cameron.
Mendapat pertanyaan demikian, Sisil malah tertampar lagi oleh harapannya yang tidak sesuai ekspetasi, ternyata Cameron tidak menyesali perbuatannya, kini pria yang ia cintai itu justru mempermalukannya. Jati Sisil semakin sakit, tidak terima dengan penyerangan Cameron, Sisil bertekad membongkar jati diri Cameron.
"Aku sudah berada disini berjuang untuk anak kita, tapi kamu malah berkata seperti itu! Kamu memang bukan manusia!" Sisil membentak dengan memberikan peringatan kepada Cameron.
Deg!
Bak bom yang meledak di telinganya, Cameron terkaget mendengar Sisil ingin mengungkapkan jati dirinya, tangannya mengepal menahan amarah.
"Masuk, kita bicara," Pinta Cameron.
__ADS_1
Sisil menolak, "Aku tidak ingin, aku ingin kau berjanji disini, dan berkata akan menikahiku, aku tidak ingin masuk kedalam kamu bisa melakukan sesuatu hal buruk."
Cameron kian geram, dia melirik ke anak buahnya, karena sudah terpojok, terpaksa Cameron mengalah kali ini. Dia akan menikahi Sisil tetapi seketika akan menceraikannya setelah pernikahan itu. Cameron tidak sudi menikahi Sisil karena dia hanya menginginkan Devina menjadi istri satu-satunya.
"Kita akan menikah malam ini, lakukan segera pemberkatan," Pintanya kepada anak buahnya.
Mendengar itu Sisil malah was-was, ia takut jika Cameron malah merencanakan hal buruk kepada dirinya juga bayi di dalam kandungannya, dia meminta para wartawan tetap mengawal pergerakan setiap rumah sakit, bersama bodyguard pribadinya, Sisil juga akan mempersiapkan pernikahan dadakan nya malam ini.
"Aku takut jika Cameron berbuat sesuatu buruk kepada kita, kalian tetap berjaga-jaga, setidaknya aku memperjuangkan anak didalam kandungan ku," Kata Sisil.
Cameron masuk kembali ke rumah sakit, dia mengecam dan melampiaskan amarahnya ke barang-barang yang ada di ruangannya.
"Sialan! Kita benar-benar terperangkap dalam mainan wanita ****** itu! Kenapa aku tidak menghabisinya sekalian, aku salah langkah," Ucapnya dengan nada geram.
Anak buahnya hanya tertunduk, begitu pula dengan para dokter-dokter di rumah sakit itu. Jika Cameron sudah marah besar, tidak ada yang berani mengeluarkan sepatah katapun. Mereka sudah memahami jiwa psikopat Cameron yang bisa membunuh kapan saja.
"Berarti wanita itu minta dihabisi! Baiklah, akan ku nikahi dia tapi akan menjadikan dia menyesali pernikahan itu, aku akan membuat hidupnya seperti neraka!"
Cameron akan tetap menikahi Sisil, namun bukan menjadikan Sisil sebagai istri sungguhan, melainkan sebagai pembantu dan budaknya.
"Apakah Bos yakin akan menikahi wanita itu?" tanya asistennya.
"Apakah ada jalan lain lagi? setidaknya aku memiliki wanita yang bisa ku jadikan budak, ini nasib sial tapi memiliki keberuntungan juga di dalamnya, urus pernikahan ku segera," titahnya.
Sementara Sisil kembali ke rumahnya, berkali-kali ia menelpon kedua orang tuanya yang berada di lat negeri, tetapi nomor kedua orangtuanya sedang tidak aktif, bahkan manager Papinya pun enggan menjawab telepon.
__ADS_1
"Sepertinya Papi dan Mami sudah melihat berita tadi, pasti mereka kecewa dengan ku, maafkan aku Papi, Mami," lirihnya sembari memandangi foto keluarganya yang terpajang di dinding.
Sisil mengusap perutnya, termenung di tepi jendela, kilas balik perbuatan jahatnya yang tiada henti ke Devina, bukannya menyesal malah kian memendam amarah, baginya yang menyebar Cameron berpaling darinya ialah kehadiran Devina.