
Robby telah menjadi patung kembali, Devina mengurung diri bersama patung Robby di dalam kamar, sementara Mbah Gus di kamar tamu, sesekali memabtau keadaan luar, memastikan rumah Devina aman dari pantauan. Suasana di luar rumah Devina terlihat aman, karena lelah, Mbah Gus ingin tidur sejenak.
"Mereka juga tidak tahu rumah ini, aku terlalu lelah.." gumamnya. Mbah Gus mengira orang-orang suruhan yang ianlihat bersma Robby telah pulang.
Mbah Gus tertidur, padahal dari jarak 200 meter, ada anak buah Sisil yang lain sedang memantau, mereka di utus Sisil untuk menelusuri kebenaran laporan tentang Robby bukanlah manusia.
"Bagaimana nih, kita tunggu terus 'kan?" tanyanya pada temannya.
Ada dua anak buah yang di utus Sisil lagi, sebab ke lima anak buah lainnya masih terjebak di hutan.
"Kita tunggulah, bos kita itu agak psikopat," sahut temannya.
Mereka memilih menunggu di dalam mobil sembari mendengar musik. Tidak lama berselang ada yang mengetuk kaca pintu mobil mereka, salah satu anak buah Sisil mengamati dari luar, karena penasaran, dia keluar dari mobil menemui ketiga pria itu.
"Ada apa?" tanyanya.
"Siapa bosmu? kami ingin bertemu," tanya anak buah Cameron.
anak buah Kamerun, tidak ingin mengakui Sisil. Dia malah membangunkan temannya yang tertidur pulas. Kedua anak buah Sisil itu mengambil ancang-ancang jika sewaktu-waktu anak buah Cameron menyerang.
"Kalian mau apa? hei, kami kesini untuk mengajak bos kalian kerjasama, kami juga musuh orang di dalam rumah sana, sampaikan kepada bos kalian," ujar salah satu anak buah Cameron.
Kedua anak buah Sisil itu saling bertatapan, mereka mempercayai perkataan anak buah Cameron. Salah satunya bergegas menelpon Sisil untuk memberitahu perihal ajakan kerjasama Cameron. Sisil malah senang mendengar kabar dari anak buahnya, ia mengiyakan tawaran itu lalu bersedia bertemu dengan Cameron.
Sisil diam-diam datang di komplek rumah Devina, dia tetap berada di dalam mobil agar anak buah Cameron menghampirinya. Salah satu dari mereka menyerahkan ponsel kepada Sisil.
"Bos kami mau bicara dengan anda," ujarnya.
__ADS_1
Sisil mengambil alih ponsel itu, terdengar sapaan Cameron.
"Senang bisa bekerjasama denganmu, kau ingin tahu siapa Robby 'kan? dan ingin mengetahui kisah hidup Devina?" tanya Cameron hanya asal menebak, namun itulah faktanya. Sisil menang sangat penasaran dengan sosok Robby yang tampan dan berkharisma.
"Kau kenapa bisa tahu?" tanya Sisil yang masih bernada sombong dengan sejutun itu.
"Itu tidak penting, kita hanya perlu membuat rencana agar kita bisa mendapatkan apa kita inginkan masing-masing," kata Cameron.
Sisil mengiyakan, cukup lama ia berdiskusi dengan Cameron lewat telepon, anak pengusaha terkenal di kota itu banyak mendapatkan ide dari Cameron. Namun ada satu yang mengusik Sisil, sosok Cameron belum ia kegahui tetapi pria itu banyak mengarahkannya melakukan berbagai hal untuk mengelabui Devina.
"Aku akan melakukan itu setelah kau tunjukkan dirimu nanti malam," ujar Sisil.
Cameron hanya tersenyum miring, perempuan acapkali memulai mengajaknya bertemu, itu karena mendengar suaranya yang seksi. Sebelum memulai mereka mengadakan perjanjian agar tak saling menikung di kemudian hari.
Sisil memanggil anak buahnya, "Kalian akan memantau Devina bersama mereka, kita sudah deal dengan bos nya."
"Baik bos, kami akan berkerjasama dengan baik," sahut kedua anak buahnya.
"Mungkinkah mereka itu yang akan mengusik kami?" Devina bertanya-tanya dalam hati.
Devina juga tak tega bila harus membangunkan Mbah Gus, pria paruh baya itu sangat kelelahan. Devina tidak ingin membangunkannya, ia berusaha memastikan semua pintu dan jendela terkunuci rapat. Devina juga menyediakan benda tajam untuk senjata perlawanannya. Ia kembali masuk ke kamar lalu mengunci rapat pintu kamarnya.
"Sayang, di luar ada orang lagi," ucap Devina kepada patung Robby, tetapi suaminya itu tetap membeku, waktu untuk menjadi Vampir masih panjang.
Devina mencari-cari barang-barang yang dapat melindunginya, dia mengingat Ayahnya memiliki raket nyamuk yang tegangan listriknya kuat.
"Pasti raket serangga itu ada di lemari Ayah."
__ADS_1
Devianbuak. lemari, mencari-cari raket itu, namun pandangannya lagi-lagi tertuju ke arah brankas. Devina seringkali melihat brankas itu bamun tak ada niatan mengambil barang-barang Ayahnya. Karena penasaran juga, ia membuka stau persatu plastik hitam itu.
"Apa ini?"
Ada buku usang di dalam brankas, buku itu sudah berabad-abad lamanya, Devina penasaran karena buku itu membuat gambar-ganbar Vampir. Devina terkejut melihat ada nama Robby menjadi tokoh di dalam buku itu.
"Robby Vampir, apakah Robby suamiku.." gumamnya.
Devina membaca dari bab pertama, ia dibawa mengawali kisah pria yang sejak kecil menderita, Vampir yang yatim piatu karena ulah dari Rajanya. Anak kecil laki-laki itu hidup seorang diri dirumah peninggalan orangtuanya, sesekali pemimpin Vampir yang disegani mendatanginya untuk melanjutkan hidup di sekolah yayasan kerajaan.
"Aku tidak ingin, Paman.. Aku tidak ingin meningalkan ruang orangtuaku," ucapnya.
"Kau harus memiliki masa muda yang bagus, bergabunglah di sekolah kerajaan, aku bertanggungjawab atasmu."
Robby kecil tetap tidak ingin mengindahkan permintaan pemimpin Vampir. Dia tetap jgn berada di rumah mendian orangtuanya, ada dendam yang ia tanamkan kepada Raja negeri Vampir, Robby tidak ingin bersekolah di kerajaan itu.
"Minggu depan paman akan datang lagi, semoag kau berubah pikiran ya," ucap pemimpin Vampir. Pemimpin Vampir itu memiliki kekuatan di atas rata-rata, bahkan kekuatannya lebih tinggi dari seorang Raja, hanya berbeda kasta kebangsawanan saja.
Robby muali latihan bela diri, setiap hari ia berlari di hutan, sekrang diri, hanya ada binatang buas yang ia jinakkan untuk menjadi kawan. Robby kecil sm tumbuh dewasa, kekuatannya bakal sepuluh kuda, namun ia belum berniat melakukan apapun.
Siang itu ia ke pasar untuk menjual hasil Kebunnya. Robby memllohat suasana pasar sangat mencekam, para wanita dikumpulkan lalu disuruh berpenampilan bugil, dari gadis remaja hingga wanita yang sudah memiliki suami. Prajurit kerajaan itu diperintahkan oleh Sang Raja untuk memilihkna perempuan untuk menemaninya nanti malam.
"Ayo cepat buka baju kalian, kami ingin lihat kualitas tubuh kalian!" Kata kepala prajurit itu.
Hati yang terpaksa, para wanita itu membuka pakaiannya, mereka menunduk malu hingga tak memiliki daya lagi untuk menangis, mereka takut jika keluarganya menjadi sasaran kerajaan. Sementara ligai suaminya menyaksikan itu juga hanya bisa pasrah.
"Biadap mereka!" Umpat Robby melihat kejahatan para pihak kerajaan. Bukannya mengayomi tetapi malah memanfaatkan kekuasaannya.
__ADS_1
Robby tidak mau tinggal diam melihat penindasan itu, dia menghampiri kerumunan prajurit dan para wanita malang itu.
"Berhenti!" Teriak Robby mengejutkan mereka.