
Anak buah Sisil mengerumuni rumah Devina, Sisil menunggu di dalam mobil. Dia menyelipkan benda pendeteksi suara dan pelacak di hadiah yang diberikan kepada Devina, diam-diam anak buah Sisil menyiramkan bensin di setiap pagar rumah Devina. hati itu Sisil bertekad untuk membakar rumah Devina. itu saran dari Cameron, dia benar-benar memanfaatkan Sisil untuk meraih ambisinya, dia berencana ingin memiliki Devina setelah kepergian Robby.
"Mampus kalian, tentu Devina akan meminta bantuan kepadaku saat ini.." gumam Sisil.
Para anak buah Sisil menjauh dari pagar Devina, mereka bersiap menyalakan korek api, mereka akan membakar rumah Devina saat itu juga, tetap dari dalam ada suara Robby meneriaki mereka.
"Jika kalian sampai melakukan itu! Kupastikan kalian akan kucari hingga dititik bumi, ku penggal kalian beserta keluarga kalian!"
Para anak buah Sisil gemetaran, mereka tahu itu bukan hanya sebuah ancaman melainkan tindakan Robby yang akan terjadi.
"Bagaimana ini? kita sudah diberikan ultimatum." Mereka bertanya satu sama lain.
Robby dan Mbah Gus berjalan menuju pagar. Mereka berdua sudah diam-diam mengamati gerak-gerik kelima pria itu. Robby menyalakan mata merahnya, aura Vampir terlihat jelas di wajahnya.
"Anjjn! gue takut..." keluh salah satu dari anak buah Sisil.
Mereka tidak sempat membakar rumah Devina, mereka berlari menjauh meninggalkan Sisil di dalam mobil seorang diri. Sisil yang tidak ingin ketahuan menundukkan kepalanya agar Robby dan Mbah Gus tidak melihatnya.
"Sial! Mereka tahu rencana kami!"
Robby dan Mbah Gus menyiapkan selang air untuk menyirami bekas bensin itu dengan air, mereka akan terus memantau pergerakan orang-orang yang ingin menjahati Devina juga putranya.
"Sepertinya sudah selesai, kita istirahat dulu Mbah Gus.."
Mbah Gua enggan untuk beristirahat, dia menyuruh Robby untuk masuk saja ke dalam rumah, dia akan menjaga rumah Devina dari teras, mengawasi berbagai kejahatan yang memantau mereka.
Robby masuk ke dalam rumah, dia melihat Devina sedang menyusui bayinya, pria tampan itu tidak akan menceritakan hal-hal yang telah terjadi di luar sana, tetapi diam-diam dia akan membawa Devina pindah rumah. Kebahagiaan dia dan Devina harus di rangkai selama sebulan ini sebelum ia kembali ke negeri Vampir.
"Kau melihatku seperti melihat seorang yang baru saja bertemu," ketus Devina.
"Aku akan selalu melihat mu dengan tatapan seperti ini, karena kau wanita yang sangat menganggumkan."
__ADS_1
Devina menghentikan menyusui anaknya, dia kemanusiaan mengemas barang-barangnya. Malam ini mereka memutuskan untuk pindah ke rumah yang disarankan Mbah Gus, walaupun di luar kota, Devina dan Robby tetap ingin pergi ke sana agar mereka mendapatkan ketenangan. Mereka melawan perjalanan keuar kota, menuju ke rumah mewah yang ada ditujukan oleh Mbah Gus.
Menempuh perjalanan seratus kilometer, mereka tiba di kompleks perumahan elit. Robby dan Mbah Gus lebih dulu masuk ke dalam rumah itu untuk mengecek kondisi. Setelah cukup bersih, barulah Robby menjemput Devina dan bayinya di mobil.
"Keluarlah sayang.." Robby membuka pintu untuk istrinya.
Devina masuk ke rumah itu dengan hati yang lega, berharap rumah itu awal babak baru di kehidupan mereka.
"Kamu akan nyaman disini," ucap Robby.
"Semoga," sahut Devina.
Mbah Gus akan kembali ke rumah Devina yang lama. Dia akan menjaga rumah Devina untuk sementara waktu hingga dia benar-benar melindungi Devina dan Robby.
"Terimakasih Mbah Gus.. sudah sangat baik. "
"Sudahlah.. kalian berdua sudah aku anggap adik sendiri.. lagipula aku tidak memiliki pekerjaan, anggap ini pekerjaan Robby," serah Mbah Gus.
***
Cameron mendapatkan berita bahwa rencana Sisil gagal, dia berdecak kesal. Sisil berkali-kali meneleponnya namun Cameron tak menjawab telepon Sisil. Pria itu kesal karena gadis itu ceroboh mengatasi rencana mereka. Cameron enggan menggubris permintaan maaf Sisil. Dia juga tak memiliki perasaan apapun terhadap gadis itu, karena awalnya Cameron memang hanya memanfaatkannya.
"Aku tidak butuh saat ini wanita itu, dia bidoh dan ceroboh!" Cameron mengumpat.
Cameron enggan bertemu lagi dengan Sisil, ia juga sedang menahan diri untuk tidak membalas Robby, pemimpin Vampir telah memberikan ultimatum kepadanya agar ia tidak bertindak jahat terhadap Robby dan keluarganya.
"Kalian hanya pantau saja sesekali, kita tidak boleh terlalu terlihat, dan jika Sisil datang kemari, usir dia!" Cameron lagi-lagi memberikan peringatan kepada anak buahnya.
Karena tidak ingin sakit hati oleh kebahagiaan Robby, Cameron memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Dia melakukan aktivitasnya sebagai dokter. Cameron ke rumah sakit untuk melakukan kegiatannya, ada banyak pasien wanita yang menunggunya.
"Ada banyak pasien wanita, Dokter.. Rata-rata ingin aborsi, tapi yang satu ingin melahirkan, tapi ada yang aneh.." ucap perawatnya.
__ADS_1
"Oh ya? Aneh bagaimana?"
"Dokter harus liat saja secara langsung, kami juga sulit menyimpulkan."
Cameron bergegas ke ruang observasinya, dia mendapati seorang wanita paruh baya yang sudah siap melahirkan. Karena melihat aura perempuan itu aneh, Cameron bergegas membantunya melahirkan. Proses setengah jam berlalu, wanita itu berhasil melahirkan anak perempuan.
"Astaga..." gumam Cameron, dia terheran tapi sambil tertawa.
Tetapi timnya saat itu terkejut karena Ibu yang lahiran itu sudah tidak bernafas lagi, pendarahan yang terjadi merenggut nyawanya. Cameron tidak peduli dengan wanita itu, yang ia ingin fokuskan ialah bayi yang baru saja lahir.
"Ini keberuntungan luar biasa... " Ujar Cameron dengan senyuman bahagia.
Dia tak melepaskan pandangan dari bayi perempuan itu. Bayi itu akan membawa keberuntungan baginya, sebab memiliki selatan darah serigala. Cameron tmuakin, wanita latihan baya itu usai melakukan hubungan dengan siluman serigala.
"Ada apa, Dok?" kenapa mata bayi ini merah?" tanya perawat itu.
"Bawa bayi ini ke ruangan ku, mulai sekarang anak ini menjadi anak angkat ku."
Cameron memutuskan untuk mengadopsi bayi perempuan itu. Dia yakin, batu itu sudah tak memiliki orang tau lagi, Cameron tahu, serigala mesum hanya ingin mengembang
biakkan anak-anaknya di keturunan manusia, begitulah cara jahat mereka.
"Kemarilah bayi cantik... kau telah menemukan ayahmu..." Ucap Cameron.
Cameron menggendong bayi perempuan itu dengan tersenyum miring. Dia melihat akan ada masa depan luar biasa bersama bayi itu, dia akan menjadi anak yang luar biasa untuk Cameron, membantunya dalam segala hal.
"Aku akan menamaimu Axela."
Cameron ingin memberikan tanda untuk putri angkatnya itu. Dengan tekad yang kuat, Cameron memberikan tanda dari goresan jarum di kulit bayi itu. Tanda lambang Vampir dan serigala menyatu di punggung bayi perempuan itu.
"Ini akan jadi tanda pengenalmu bahwa kau akan berkuasa di negeri Vampir juga di dunia serigala. Aku ayahmu akan menjadi orang yang disegani.."
__ADS_1