
Devina menyiapkan makan malam, mimik wajahnya dipaksa tersenyum. Ketakutan yang ia pendam tak akan ia tampakkan ke Robby. Dia ingin suaminya kembali ke negerinya tanpa. terbebani apapun. Membawa Jacob dengan aman tanpa ada gangguan Cameron.
Suara deru mobil Robby terdengar terhenti, Devina mengintip dibalik gorden, suaminya sudah pulang, terlihat Robby keluar dari mobil membawa beberapa bingkisan oleh-oleh yang ia beli di jalan tadi.
"Aku mengejutkanmu," kata Devina menampakkan diri dibalik pintu.
"Aku tidak terkejut, tapi aku jatuh cinta lagi," ujar Robby.
Pria itu menelisik ke setiap sudut rumah mereka, menciuma aroma bekas Vampir-vampir yang tersisa di rumahnya. Robby menarik tangan Devina, dia menatap istrinya dengan seksama.
"Mereka tadi datang kesini?"
Devina terhenyak, tajam da pilihan lain selain mengiyakan.
"Mereka mencarimu saja, setelah itu pergi," Jawabnya.
Robby menatap menyelidik, "Mereka tidak melakukan apapun? Pengancaman atau apapun?"
Devina terdiam sesaat, dia sudah berjanji agar menjaga kerahasiaan perjanjiannya dengan Cameron. Semua ia lakukan demi keselamatan Robby dan Jacob.
"Tidak ada sayang, sepertinya mereka hanya mencarimu saja, lagipula anak buah Cameron tidak menyakitiku," Ujarnya.
Robby terheran, bagaimana bisa seorang Cameron tidak melakukan tindakan licik di situasi menguntungkannya? Sangat janggal, batinnya.
"Jangan dipikirkan lagi, ayo kita makan, kita harus menikmati kebersamaan ini," Kata Devina.
Dia menarik pelan Robby ke ruang makan. Devina menujukkan sikap ikhlasnya terhadap perpisahan yang akan terjadi diantara mereka kelak. Ditengah Devina menikmati makanannya, Robby tak melepaskan pandangan dari istrinya itu.
"Kenapa? Kamu merasa berat meninggalkanku?" Tanya Devina.
"Aku minta maaf, ini semua kesalahanku, kau harus mengorbankan masa mudamu untuk menikah denganku, melahirkan Jacob, maafkan aku Devina.."
Robby merasa sangat bersalah, karena kehadirannya di kehidupan Devina, istrinya itu mendapatkan masalah.
"Jangan berkata seperti itu, kita saling mencintai, dan itu kesepakatan bersama, lahirnya Jacob bukan masalah, kalian berdua hadir justru membuat hidupku lebih berarti, walaupun perpisahan itu akan nyata adanya," Ucap Devina.
__ADS_1
Robby memeluk istrinya, segala yang terjadi kepada mereka memang sudah seharusnya dilalui, sebab Devina telah digariskan semenjak pertemuan Robby dengan mendiang Kakek Devina.
Usai makan malam itu, mereka berdua ke kamar, di dalam kamar Jacob nampak gelisah. Devina mencoba menyusuinya namun bayi tampan itu tetap saja menolak.
"Ini ada apa? Dia kenapa sayang?" Tanya Devina.
"Itu cara alam memisahkan kalian secara perlahan, Jacob menolak lagi meminum air susumu."
Devina tertegun, secepat itukah lakonnya sebagai Ibu dihentikan? Jacob masih sangat bayu untuk merasakan perpisahan ASI sejak dini.
"Bisakah aku mengubah hukum alam itu sesaat? Ini kesempatan aku menyusul dia sebanyak-banyaknya, ku mohon.." Pinta Devina dengan wajah yang menyendu.
Robby menggelengkan kepala, hukum alam adak kodrat yang sulit di uang atau ditolerir. Semua di laut kendali Robby. Mendapatkan jawabn demikian dari suaminya, Devina berdecak kesal.
"Siapa yang rambut peraturan seperti itu?! Aku seorang Ibu yanga ka dipisahkan dari anakku selamanya, apa tidak ada rasa kasihan kepadaku?"
Robby mencoba menenangkan Devina, ia meraih tangan istrinya lalu mengusapnya dengan lembut.
"Ini sudah peraturan dunia kami, maafkan aku Devina.."
"Apa aku bisa ikut dengan kalian? Aku ingin ikut, apakah aku boleh ikut dengan kalian?"
Lagi-lagi itu diluar kendali Robby. Devjna berbeda jenin dengannya, dunia mereka berbeda, jika Devina ingin berpindah ke negeri Vampir, ada banyak proses kesakitan yang harus ia lalui, hidup di dunia Vampir tidak serta merta masuk menjadi penghuninya, namun melewati proses puluhan tahun.
"Lupakan keinginanmu itu, kita berbeda jenis, semua tidak mydah Devina, aku juga sudah melewati proses ratusan tahun, itu sulit Devina, tenangkan dirimu, mari kita bicara hal-hal baik saja," Kata Robby.
Robby beranjak keluar kamar, jauh sebelum penolakan Jacob menyusu di Devina, Robby telah menyiapkan susu formula untuk putranya itu. Setelah membuatkan susu Formula untuk Jacob, Robby hendak kembali ke kamarnya, namun cahaya kliat menyusup lewat jendela, ternyata yang hadir pemimpin Vampir. Pria berkepala plontos itu datang memberikan peringatan lagi kepada Robby.
"Sisa waktumu tiga minggu lagi, kau harus lebih cepat menyelesaikan masalahmu, tak ada waktu yang bisa diundur, lakukan perpisahan terbaik dengan istrimu," Ucap pemimpin Vampir.
Robby tersenyum masam, "Tak ada perpisahan terbaik, semua perpisahan itu menyedihkan, memilukan, musibah. Apalagi kami yang akan terpisah selamanya."
Pemimpin Vampir memahami perasaan Robby dan Devina, sesulit itu memang menjalani kisah cinta berbeda spesies.
"Berulang kali ku katakan, itu garis takdir kalian, kau dan Devina memang jodoh sesaat, itulah yang harus kalian lalui, menghadapi perpisahan yang menyedihkan."
__ADS_1
Pemimpin Vampir berbalik kerahasiaan jendela, dia keluar menyusup bak angin yang diselimuti cahaya. Meninggalkan Robby yang termangu sambil memegang botol susu Jacob.
"Tuhan minggu lagi, ini tidak akan lama, aku harus menyenangkan istriku lebih, lebih, dan lebih lagi," Gumamnya.
***
Sisil berkali-kali menelpon ke anak buah Cameron, namun pria bertubuh kekar itu malah mengabaikannya sesuai dengan perintah Cameron.
"Dia memang sangat seenaknya denganku, bagai bisa pernikahan itu di undur hingga bialn depan?" Protes Sisil mengirimkan pesan audio ke anak buah Cameron.
Sisil melemparkan ponselnya ke kasur, segala perlengkapan pernikahan yang telah siapkan harus ditunda untuk sementara waktu. Mengikuti kemauan Cameron sungguh menguras tenaga dan pikirannya, namun Sisil tidak akan menyerah, dia akan berusaha mengimbangi sikap dari calon suaminya itu.
"Demi kamu sayang, mari kita kuat untuk kamu," ucapnya sambil mengusap perutnya.
Sisil memilih untuk mengunjungi Cameron ke rumah sakit, beralibi ingin memeriksa kandungannya, semua lakukan demi bertemu dengan pujaan hatinya itu. Sisil tidak ingin melepaskan Cameron sehingga kembali berulah lagi dengan perempuan lain.
Dia mengendarai mobilnya dengan santai, sesekali menelpon Cameron namun tetap respon yang sama, Cameron mengabaikan panggilannya.
"Dasar laki-laki! Di awal saja ngejar-ngejar aku, udah dapat manisnya malah cuek dan acuh!" Kesalnya.
Setiba di rumah sakit, Sisil membunyikan klakson mobilnya. Berkali-kali hingga anak buah Cameron jenuh, mereka menghampiri Sisil dengan wajah yang tertekuk.
"Kalian buka pintu itu, aku mau masuk," kata Sisil setengah membentak.
Tak ada pilihan lain lagi, mereka membuka pintu dengan mengecam Sisil dalam hati. Sisil memarkirkan mobilnya, seneng ia berkaca lalu mengolesi wajahnya sedikit bedak agar terlihat pucat. Dengan akting lemas dan kesakitan , dia akan menarik perhatian Cameron.
"Dia pasti khawatir, karena bagaimanapun ada anaknya aku kandung," Gumamnya.
Sisil keluar dari mobil serays memegang perutnya. Berjalan perlahan agar anak buah Cameron juga yakin dengan kesakitannya.
"Cameron dimana? Aku ingin mengecek kondisi kandunganku," Tanyanya.
Anak buah Cameron mengantar Sisil ke ruangan dokter. Di ruangan pribadinya Cameron sedang mengecek pembagunan rumah sakit yang ingin ia ubah menjadi lebih modern lagi. Dia akan menghentikan transaksi penjualan organ itu untuk menjalani kehidupan aman untuk sementara waktu.
"Jika bukan untuk meraih hati Devina, aku tidak mungkin merubah rencannku," Lirihnya.
__ADS_1