
Robby mengamati penampakan Rumah Sakit dari luar, pintu gerbang telah ditutup, tak ada celah Robby untuk masuk. rumah sakit itu semakin mencekam, tidak menerima pasien lagi. nampaknya pihak rumah sakit sangat serius menanggapi salah yang terjadi dengan Devina. Robby sejenak duduk di dekat warung kopi, ada ibu-ibu yang menyapanya, Robby menutupi wajahnya. wanita paruh baya itu menawari Robby minum kopi di warungnya.
'' Minum kopi dulu, Pak, rumah sakit itu untuk sementara katanya tidak beroperasi lagi, pasien-pasiennya pun dipindahkan Rumah Sakit lain, mungkin ada masalah lagi,'' ujarnya.
Robby masih menutupi wajahnya, dia tak ingin wajah pucatnya dilihat oleh wanita paruh baya itu.
'' Tapi pihak rumah sakit masih ada di dalam kan Bu?'' tanyanya.
" Sepertinya masih ada, sebagiannya lagi sudah keluar, rombongan mobil dari pihak rumah sakit sudah keluar,'' sahut wanita itu.
karena Ibu itu memiliki pengetahuan tentang rumah sakit, Robby mengiyakan untuk minum kopi di warungnya. lebih banyak ingin menggali informasi tentang latar belakang orang-orang yang bekerja di Rumah Sakit itu. setelah disuguhkan kopi, Robby memberanikan diri bertanya.
'' Apakah ibu pernah melihat sosok dokter yang ada di rumah sakit itu?''
Sesaat ibu itu berpikir, ada banyak dokter yang keluar masuk, tapi ada satu dokter yang aneh, wajahnya selalu pucat, dokter muda itu cukup tampan.
" Berapa dokter yang bertugas di rumah sakit itu, selebihnya hanya beberapa perawat yang lalu lalang, Saya tidak mengetahui dengan pasti, tapi ada satu dokter yang tampannya hampir sama seperti kamu, selalu pucat, tampaknya dia sudah lama bertugas di sini, saya sudah 10 tahun lebih menjual di warung kopi ini, Sebelum saya menjual dia sudah bertugas di dalam, Entahlah saya ke rumah memahami, Emangnya ada apa?''
Robby terdiam, Dia mengerti dokter yang dimaksud oleh ibu itu. Namun ada satu hal yang ingin Robby tanyakan lagi, bagaimana pihak pemerintah tidak mampu menangani keadaan rumah sakit yang membahayakan para pasiennya.
" Saya harap kamu berhati-hati di lingkungan rumah sakit ini, kami saja jika ada keluarga yang sakit tidak berani memasukkan keluarga kami di rumah sakit itu.'' Kata Ibu itu lagi.
Robby Robi tidak tahan lagi, Iya pamit dari warung kopi itu, menemui penjaga gerbang rumah sakit. ada lima pria yang berbadan kekar menjaga pintu gerbang. Mereka mengamati Robby dari ujung kaki hingga kepala.
" Saya yang dicari bos kalian, ketemukan saya dengannya,'' ucap Robby.
__ADS_1
Kelima pria berbadan kekar itu tersenyum miring, akhirnya sosok yang mereka nanti telah datang sendirinya. salah satu dari mereka menepi untuk menelepon dokter Vampir itu. Setelah beberapa saat berbicara, ia ke hadapan Robby.
" Tapi bukan di sini kita untuk berunding, ikut dengan kami,'' kata mereka meminta Robby masuk ke dalam mobil.
Tetapi Robi saat itu tidak ingin terkecoh, Ya sudah ratusan tahun hidup, ada banyak kejahatan yang sudah ia temui, para penjahat yang ia hadapi hanyalah segelintir masalah yang harus ia tangani.
" Aku hanya ingin ada di sini, datangkanlah Bos kalian," sahut Robby.
Tak ingin membuat keributan yang memancing masyarakat setempat, kelima pria itu membuka gerbang untuk Robby.
" Dimana kalian menyembunyikan teman saya? dia tidak salah dalam hal apapun, lepaskan dia," pinta Robby.
Kelima pria berbadan kekar itu tak menanggapi, mereka tidak diperkenankan untuk bicara oleh bosnya. mereka hanya memberikan Robby kursi lalu meninggalkan Robby halaman rumah sakit.
Beberapa menit kemudian, ada mobil mewah yang masuk ke halaman rumah sakit. ditumpangi oleh seorang pria berkemeja biru. Robby berdiri dari tempat duduknya, mengamati Wajah pria yang tidak asing bajunya itu. cukup lama mereka saling bertatapan, di antara keduanya muncul bayangan Dejavu, pria itu terkejut dan kehadiran Robby, begitupun juga sebaliknya yang dirasakan oleh Robby.
" Kau?! Ternyata kau ada di sini rupanya," ucap dokter Vampir itu.
Robby terdiam, dia tidak menyangka pria yang mengganggu istrinya adalah sosok musuh di masa lalunya.
" Yang kau ganggu adalah istriku, Bukankah sudah aku peringatkan sejak dulu, Jangan pernah membalaskan sesuatu apapun, karena itu percuma," kata Robby.
Dokter Vampir itu tertawa, dia tidak terima bila Robby bahagia di dunia manusia, Robby telah menghancurkan keluarganya, dia keluar dari dunia manusia untuk mencari keberadaan Robby.
" Kau memiliki kekuatan di negeri vampir, tapi di sini kekuatan kita setara dengan manusia, kau pikir hati seorang anak tidak terluka melihat ayahnya kau bunuh?''
__ADS_1
" aku tidak membunuhnya tanpa alasan, ayahmu telah terlalu jahat, dia bukan pemimpin yang baik, pemimpin yang melukai rakyatnya, aku harus tahu membedakan hukuman atau kejahatan,'' tutur Robby.
Dokter Vampir itu menampakkan wajah murka, tangannya mengepal, seolah ingin memukuli Robby.
" Kau pikir seorang anak akan diam ketika ayahnya kau bunuh? tidak, aku berpuluh-puluh tahun tinggal di dunia manusia, hanya untuk mencarimu, ternyata takdirlah yang mempertemukan kita, istrimu datang ke rumah sakitku, untuk memperlihatkan bayimu yang ada di dalam kandungannya, Bukankah itu sungguh luar biasa?''
Robby menahan diri, dia ingin bernegosiasi dengan dokter muda itu. ada banyak kelemahannya dunia manusia, Iya tak bisa melindungi Devina 24 jam, kutukannya menjadi patung, kelemahannya yang tak mudah diketahui oleh musuhnya.
" Kau harus mengerti Cameron, bahwa Ayahmu telah melakukan kejahata, ada banyak perempuan yang menjadi korbannya, jika kau berada di posisi memiliki saudara perempuan dan ibu, lalu dilecehkan dan diperkosa, Bagaimana tanggapanmu dan perasaanmu?''
Cameron tidak mau mengerti itu, jiwanya telah dipenuhi dendam, di depan matanya, Robby memusnahkan ayahnya, tentu menjadi Rhoma yang mendalam bagi Cameron. Dia adalah seorang pangeran, namun tidak diperlakukan sebagai Pangeran oleh rakyatnya. Cameron dipandang rendah, karena kesalahan ayahnya, namun di sisi lain, dia menyimpan dendam kesumat terhadap Robby.
" Lepaskan temanku Cameron, bagus tidak bersalah dalam hal ini, dia hanya menjalankan tugas sebagai Paman Devina,'' pintar Robby.
Cameron melangkah mendekati Robby, tetapannya mengisyaratkan kebencian yang teramat dalam. Cameron menarik baju Robby, tapi suami Devina itu menepis tangan Cameron.
" Kau tidak boleh menyentuhku, ayahmu saja masih bisa kubinasakan, apalagi kau, jadi Berhentilah menjahatiku dan orang-orang di kota ini, kau tidak ada bedanya dengan ayahmu, kebencianmu setara dengan iblis,'' kata Robby.
Cameron memanggil anak buahnya, karena memiliki kebebasan di dunia manusia, Cameron bisa melakukan apa saja, termasuk memiliki kekuasaan. berbeda dengan Robby, ia dilemparkan ke dunia manusia untuk menjalani hukuman, sehingga dayanya sangat terbatas.
" Kalian jangan membuatku marah, jangan mengerumuniku seperti itu!" Robby memperingatinya.
Anak buah Cameron sejumlah 10 orang, mengelilingi Robby seraya menatap sinis. pria berbadan kekar itu menunggu perintah dari Cameron.
" Ku peringatkan sekali lagi, jangan membuat masalah denganku Cameron!"
__ADS_1