
Mbah Gus masih memantau dari dalam rumah, rak ada pergerakan yang dilakukan oleh anak buah Cameron, mereka hanya berdiam diri di dalam mobil, Mbah Gus bingung dengan sikap mereka, padahal saat itu mereka memiliki kesempatan untuk menyerang sebab Robby sedang menjadi patung.
"Mereka lelah atau kenapa ya, atau mereka hanya ingin memantau saja?" Mbah Gus bertanya-tanya dalam hati.
Dia melirik ke jam, masih ada lima jam lagi Robby untuk berubah menjadi Vampir, cukup waktu yang lama dan tegang bagi dirinya yang hanya pria bkasa, hanya memiliki indera ke-enam untuk melihat tak kasat mata.
Sementara di gudang, Devina mulai keringat dingin, dia duduk beralaskan karpet sembari mengelus-ngelus perutnya. Devina mulai merasakan mules, bagian belakangnya nyeri di waktu tertentu.
"Anakku, kamu sehat -sehat ya, Ayahmu akan melindungi kita," ucap Devina mengelus-ngelus perutnya.
Namun semakin lama perutnya semakin nyeri, punggungnya serasa ingin terbelah, dibawah sana air merembes, Devina meyakini saat itu ia sudah berada di fase akan melahirkan. Devina sekuat tenaga menggenggam banyak sofa, ia menutupi mulutnya agar tak bersuara, ia takut jika anak buah Cameron sampai tahu dengan kondisinya.
"Sayang... kita kerjasama ya, keluarlah dengan mudah.. bantu kedua orangtuamu.." ucap Devina lagi mengajak bicara bayinya.
Pembukaan demi pembukaan Devina lalui, seluruh tubuhnya bercucuran keringat, suara rintihannya tertahankan, beberapa menita kemudian, Devina merasakan ada yang mendorong ingin keluar dari bawah sananya, hanya sekali mengejan, sosom bayi keluar dari pintu rahimnya.
Bayinya menangis tersendat-sendat, seolah takut memperdengarkan suaranya kepada orang-orang di sekitar, Devjan menangis sejadi-jadinya, menyaksikan anak pertamanya akhir dengan kondisi seperti itu. Ia mengatur nafas, mengumpulkan tenaga untuk menghampiri anaknya di bawah sana.
Suara sesenggukan mengawali saat ia pertama kali menggendong anaknya, batu yang berjenis kelamin laki-laki itu memiliki tubuh yang pucat layaknya anak Vampir lainnya.
"Anakku.." lirih Devina. Dia menyelimuti anaknya dengan selimut.
Di kamar mendiang Ayahnya, patung Robby itu retak berkeping-keping, suara metmtaung Robby terdengar jelas oleh Mbah Gus yang ada di ruang tamu. Bergegas paranormal itu mengecek kondisi Robby.
"Robby, ka-kau sudah jadi vampir lagi?" tanyanya. Ia terkejut karena masih butuh lima jam lagi waktu Robby menjadi Vampir.
Robby tak menjawab itu, dia malah jelurkamar mencari keberadaan Devina.
"Dimana Devina?" tanya Robby.
"Dia baik-bain saja, tenang Robby.."
"Devina sudah melahirkan, kau sudah terbebs sjadi patung, dia sudah melahirkan, dimana dia Mbah Gus?" jelas Robby.
__ADS_1
Mbah Gus ternganga, tanpa menjawab, dia menarik tangan Robby menuju ke gudang belakang. Dari luar gudang, nampak. terdengar suara bayi menangis. Nafas Robby sudah gak beraturan lagi, ia meyakini bayi itu adalah anaknya yang telah dilahirkan Devina.
"Devina.. " Robby memanggil Devina seraya membuka pintu.
Terlihat di dalam Devina telah menggendong bayi, ada banyak darah merembes di karpet, Robby meminta Mbah Gus untuk menelpon bidan langganan Devina. Bergegas Robby membersihkan tubuh Devina, meletakkan bayinya untuk sementara waktu.
"Anak kita sudah lahir.." Ucap Devian dibarengi rasa haru.
"Iya, kita akan membawanya ke kamar," Robby
menggendong Deviva sekaligus bayinya masuk ke dalam rumah.
Sebelumnya dia membuat Devina bersih, memberikan Devina minum, lalu mengueus bayinya. Tali pusar bayinya ia putuskan, tapi pusar itu akan ia simpan, akan ada Vampir jahat yang menginginkan tali pusar anaknya untuk menambah kekuatan.
"Lebih itu di kubur," ucap Devina.
"Jika di kubur disini, akan tercium Vampir lain, aku tidak tahu siapa saja Vampir yang sudah lolos bersama Cameron," sahut Robby.
Devina tertunduk lesuh, ia mengira setelah anak. mereka lahir, setelah kutukan Robby juga berakhir, hidup mereka akan tenang dan bahagia, ternyata dugaannya salah.
Devina menatap sendu Robby, gelisah dan memiliki pemikiran negatif untuk masa depan mereka berdua.
"Kenapa hidup kita tidak dapat tenang? aku ingin kamu menjelaskan semuanya," ucao Devina.
Robby hanya mengusap kepala Devina, dia memilih menimang bayinya ketimbang menjelaskan, Robby pikir ini belum saat yang tepat untuk menjelaskan kehidupan selanjutnya kepada Devina.
"Istirahatlah, anak kita butuh air susumu, aku akan menyelesaikan mereka satu-persatu," sahut Robby.
Karena tubuh yang slmat, Devina tak mendesak lagi, di luar ada Manh Gus yang mengetuk pintu, dia membawa bidan langganan Devina. Sebelumnya Mbah Gus sudah bernegosiasi dengan Bidan itu.
"Aku sudah membawanya Robby."
"Masuklah dengan keadaan buta, dan keluarlah dengan keadaan bisu," pinta Robby kepada bidan itu.
__ADS_1
Walaupun sedang terbata-bataterbata-bata, Bidan utu berjanji akan merahasiakan apa yang ia ketahui tentang Devina dan keadaan anak Devina. Bidan itu mulai mengecek kondisi Devina dan bayinya, sementara Mbah Gus menarik Robby untuk keluar di teras.
"Lihatlah Robby, mereka sepertinya sedang melaporkan hal ini kepada Cameron," kata Mbah Gus.
"Tkdak apa-apa, Mbah Gus. Cameron tidak dapat berbuat apa-apa, dia sedang memutar balik rencananya, aku sudah terlepas dari kutukan," jelas Robby.
Anak buah Cameron ketakutan melihat Robby dari kejauhan, mereka semua masuk ke dalam mobil bersembunyi. Sementara yang lainnya menelpon Cameron.
"Apa? seorang bidan?!" Tanya Cameron. Dia baru saja usai membersihkan diri bersama Sisil.
"Iya, Bos. Kayaknya Devina mau lahiran, ada Robby yang berdiri di teras, sudah tidak menjadi patung lagi."
"Bodoh! Dia tidak akan lahiran lagi, tapi sudah melahirkan."
Cameron kesal menutup telepon itu, dia meninju tembok dengan keras, ia kalah cepat dadi Robby.
"Kenapa?" tanya Sisil mendekatinya.
Cameron menatap Sisil, dia tersenyum miring karena dikepalanya tercetus ide. Dia akan memanfaatkan Sisil untuk menjadi boneka suruhannya.
"Apakah kau menyukaiku?"
"Hmm.. setelah yang kita lakukan, aku mulai menyukaimu.." Sisil menjawab itu tanpa keraguan.
"Bagus, kalau begitu kau siap membantu ku 'kan? bantu aku meraih agar misi kita berhasil," pinta Cameron.
Sisil mengiyakan, dia akan senang hati membantu Cameron dalam hal apapun itu.
"Kamu dekati kehidupan Devina, kamu datang ke rumahnya ajari ini seolah-olah kau tidak tahu menahu apapun, dekati dia dan lihat bayinya," kata Cameron.
Cameron menjelaskan keadaan Devina yang telah melahirkan anak Vampir penerus tahta yang sebelumnya dikuasai oleh Ayahnya. Cameron tidak ingin bayi itu kembali ke Negeri Vampir, membawa keabadian dengan menjadi Raja di negerinya.
"Aku tidak ingin bayi itu meneruskan gelar kami, yang berhak itu adalah aku." Kata Cameron dengan suara bergetar menahan amarah.
__ADS_1
Sisil hanya mengangguk-angguk, dia terkejut karena mengetahui pria yang baru saja tidur dengannya adalah sosok Vampir. Sisil bahkan batu saja memperhatikan setiap ciri-ciri fisik Cameron yang memang terlihat seperti Vampir.
'Gila, Vampir tenyata nyata..' Ucap Sisil dalam hati.