KEAJAIBAN PATUNG

KEAJAIBAN PATUNG
Psikopat


__ADS_3

Sisil di bawah ke ruangan Cameron, anak buah Cameron saat itu saling melirik satu sama lain, mereka juga menerka-nerka hal apa yang bosnya lakukan kepada Sisil.


"Ini ruangan Cameron?" tahya Sisil jetika anka buahn Cameron berhenti di depan pintu ruangan observasi dokter.


"Iya, Nona. Silahkan masuk.."


Sisil meninggalkan senyuman, dia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Anak buah Cameron menggelengkan kepala melihat etika Sisil yang tidak sopan. Setelah Sisil masuk ke ruangan itu. Pintu itu di kunci rapat oleh mereka dari luar.


"Hai.. Sayang.." Sapa Sisil pada Cameron yang sedang berdiri di depan ranjang periksa.


Melihat kedatangan Sisil, Cameron bergegas menutupi sesuatu dibalik selimut. Ia terkejut karena tidak ingin yang dikerjakan diketahui oleh Sisil.


"Kamu sudah datang," sapanya. Cameron memaksakan dirinya tersenyum menyambut kedatangan Sisil.


"Aku bawakan kamu kue, kamu pasti suka.."


Cameron hanya tersenyum, dia mengajak Sisil duduk dikursi pasien. Sisil yang merindukan Cameron enggan duduk, dia malah berdiri di belakang Cameron, meraba mesra punggung Cameron dengan lembut, bulu kuduk Cameron merinding, dia berharap perhatian Sisil tidak tertuju dengan sesuatu yang ia sembunyikan dibalik selimut.


"Aku merindukanmu.." Bisik Sisil.


"Aku juga sayang.." Sahut Cameron seolah-olah mencintai Sisil. Sesekali matanya melirik keranjang pasien yang tertutupi oleh selimut.


Sisil melangkah sedikit menjauh dari Cameron, dia mendekat ke ranjang pasin itu sembari berjalan mundur. Tak ada kecurigaan apapun di benaknya mengenai sesuatu yang Cameron sembunyikan. Sisil malah membuka satu persatu kancing bajunya untuk menggoda Cameron.


'Sial! Sisil malah brutal disini,' umpat Cameron dalam hati.


Sisil bergoyang dengan seksi menggoda Cameron, tetapi Cameron saat itu malah panik jika Sisil sampai tahu isi dari selimut itu.


"Kau tidak merindukan tubuhku?" tanya Sisil.


"Bukan seperti itu, tapi disini bukan tempat yang cocok untuk kita berdua,"


Sisil menarik paksa wajah Cameron untuk berciuman, sesaat Cameron menikmati pelayanan Sisil, tetapi dia teringat bahwa ia tidak boleh berlebihan terhadap Sisil kala itu karena ia sedang menyembunyikan sesuatu. Disaat Cameron melepas paksa dirinya dari pelukan Sisil, ia tak sengaja mendorong tubuh Sisil hingga terpental di ranjang pasien.

__ADS_1


"Ahkk.." Sisil kesakitan, disaat ia terjatuh ke lantai tangannya taj sengaja menarik selimut yang ada diranjang pasien. Alhasil, sesuatu yang disembunyikan Cameron terpampang nyata, mengejutkan dirinya.


Mata Sisil terbelalak, dia menutupi mulutnya sendiri karena terkesiap. Sisil membangunkan diri menatap jelas sesosok hang tergeletak di atas ranjang. Melihat itu, Cameron mengepalkan tangannya, ia kesal karena kecerobohan Sisil.


"I-ini siapa? Dia kenapa?" tanya Sisil. Tangannya gemetaran menujukan ke sosok wanita yang terbaring bersimbah darah itu.


Cemeron beranjak menarik tangan Sisil, dia memegangi tangan Sisil dengan erat.


"Kau lancang! Aku tidak suka jika pekerjaanku di usik, siapapun itu! Apalagi hanya kau!"


Sisil melihat mata Cameron telah memerah, tetapi Sisil tetap saja penasaran dengan sosok wanita yang terbujur kaku itu. Dibagian perutnya sudah terbelah, nampaknya Cameron sedang melakukan praktek percobaan kepada jenazah perempuan itu.


"Gila! Kamu menjadikan dia uji coba?" tabya Sisil spontan. Ia tak ha is pikir dengan tingkah Cameron yang menjadikan jenazah wanita itu percobaan.


"Diam kamu! Aku bilang jaga mulutmu sata kau disini! Atau tidak.." Cameron mengancam Sisil dengan gunting.


Sisil kian ketakutan, dia mencoba melepaskan diri dari Cameron, tapi Cameron menggenggam lengannya begitu kuat. Sisil yang hanya memakai bra saja saat itu tetap ingin melarikan diri keluar.


"Lepaskan aku, kau kenapa seperti monster?" hanya Sisil karena Cameron saat itu menatapnya penuh kebencian.


Sisil tetap memberontak, ia takut karena Cameron terlihat berbeda dari Cameron yang ia kenal. Cameron yang kesal menusuk pajak Sisil dengan jarum suntik.


"Ahk! Sakit!" keluh Sisil.


Cameron menjambak rambut Sisil lalu memandanginya dengan tawa yang cukup puas.


"Kamu tahu aku bisa membuat nasibmu sama seperti perempuan itu! Jadilah patuh denganku!"


Cameron mengikat tangan Sisil, setelah itu pergi ke ranjang pasien, dia kembali melakukan aktivitasnya mengacak-acak jenazah tubuh wanita itu. Sisil sesekali memejamkan matanya, kini dia menyadari bahwa yang dicurigai oleh orang-orang luar tentang rumah sakit itu benar adanya.


'Ternyata benar.. rumah sakit ini semuanya psikopat.'


Cameron mengeluarkan jantung wanita itu, dia memperlihatkan ke Sisil sembari tersenyum miring. Sisil membuang pandangannya, dia mual-mual, dia jijik dengan pemandangan yang disuguhkan Cameron.

__ADS_1


"Kamu ingin makan ini?" tanya Cameron mendekatkan jantung itu ke wajah Sisil.


"Jauhkan itu dariku! Jauhkan!"


Cameron menempelkan jantung itu ke wajah Siisl. Dia membuat Sisil semakin mual dan gemetaran. Sisil memejamkan mata dan menahan nafas dari bau amis itu.


"Kau tahu, aku kemarin berencana ingin memegang jantungmu juga, tapi setelah aku pikir, kamu memiliki aset besar, berpengaruh, kau akan membantu ku dalam segala hal."


Setelah puas bermain-main dengan adrenalin Sisil, Cameron meletakkan jantung itu di atas nampan besi. Dia ke toilet untuk buang air kecil, Sisil memanfaatkan itu untuk kabur dari Cameron. Sisil menggeser kursi dengan gesit untuk meraih gunting yang ada di atas meja.


"Harus bisa," gumamnya.


Dengan sakit nyeri yang tertahankan, Sisil berhasil meraih gunting itu dengan cepat. Walaupun tangannya terluka karena goresan gunting, tetapi ia berhasil memutuskan ikatan tali yang mengikat kedua tangannya.


Setelah lepas, Sisil berlari ke pintu, berkali-kali ia memutar gagangan pnitu itu, terapi dari luar telah di kunci rapat anak buah Cameron.


"Brengsek! Mereka telah merencanakan ini." Sisil teringat bahwa dia membawa telepon genggam di tasnya.


Ketika ia hendak ingin mengambil ponselnya, suara krusuk Cameron terdengar dari dalam kamar mandi. Sisil bergegas kembali ke kursinya lalu berpura-pura mengikat dirinya sendiri. Sisil berusaha menghilangka jejak agar Cameron tidak curiga.


Cameron keluar dari toilet, dia memandangi Sisil cukup lama. Mencari kesalahan yang telah diperbuat Sisil ketika ia meninggalkannya sejenak.


"Akau harap kau tidak melakukan hal bodoh," ucap Cameron.


Cameron kembali duduk di dekat Sisil, dia menarik dagu Sisil dengan kasar. Matanya melototi Sisil dengan wajah bringas nya. Sisil menatap Cameron dengan ketakutan bercampur jijik. Dia takut jika menjadi korban Cameron selanjutnya.


"Kau akan menantuku sekali lagi?"


"Tidak.. aku ingin bebas, aku ingin hidup normal, aku ingin keluar negeri melupakan ini semua."


Cameron tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Sisil. Dia menganggap keinginan Sisil itu mimpi belaka, karena dia tidak akan melepas Sisil setelah gadis itu tahu rahasianya. Cameron tetap akan menjadikan Sisil bonekanya sampai ia puas lalu menghabisinya.


"Bermimpilah, jangan bangun sebelum tugasmu usai.. hahahah"

__ADS_1


Sisil berderai air mata mendengar itu. Dia memberontak meminta di bebaskan tetapi Cameron malah memukuli kepalanya hingga ia tak sadarkan diri.


__ADS_2