KEAJAIBAN PATUNG

KEAJAIBAN PATUNG
Mengetahui Rahasia


__ADS_3

Mbah Gus dibawa ke rumah Devina, sementara Devina telah dibawa Syafa. Sisa waktu Robby menjadi patung satu jam lagi, namun dia harus menyelesaikan masalahnya, Mbah Gus mengerti kegelisahan Robby.


"Serahkan semua kepadaku, ada rumah mewah di pinggiran kota, kau dan Devina bisa hidup disana, kita kontrak selama yang kau mau, biarkan aku yang disini menjaga rumah Devina," saran Mbah Gus.


Devina dibantu oleh Syafa untuk menyusun barang-barang ke dalam koper. Robby hanya diam memandangi Devina, perut istrinya kian membesar, dua bulan lagi Devina akan melahirkan. Namun sampai saat itu Robby mampu jujur menceritakan keadaan selanjutnya sesudah Devina melahirkan.


Devina menghampiri Robby, dia dapat membaca kegelisahan hatiku suaminya.


"Kau memikirkan keselamatan ku dan anak kita? aku akan berusaha menjaga diri, tenanglah.."


Robby menarik nafas panjang, "Sebelum itu, kita akan kesana bersama-sama, tapi esok hari. Waktuku sisa sedikit."


Devina mengerti itu, dia mengajak Robby masuk ke dalam kamar mendiang Ayahnya. Sementara Syafa pamit dari Mbah Gus, sahabat Devina itu pulang bersama kedua bodyguard Ayahnya.


"Aku bingung kenapa Vampir itu menginginkan anak kita?"


"Anak ini akan membawa perubahan besar dalam negeri Vampir, dia akan memanfaatkan itu," jawab Robby.


Devina tak menyangka bayi yang dikandungnya memiliki tujuan besar untuk dilahirkan. Ia baru menyadari peringatan Robby bahwa dia harus menjaga baik bayi itu sampai lahir.


"Esok kita akan sembunyi dari mereka, untuk sementara waktu biarkan rumah ini dijaga Mbah Gus.


Devina berat meninggalkan rumah peninggalan orangtuanya, walaupun itu hanya sementara, namun tetap saja Devina dihinggapi rasa sedih. Robby mengerti itu, sebelum Devian lahir, Robby sudah lamadi pajang oleh Ayahnya Devina dirumah itu.


"Aku juga sedih, tapi ini demi keselamatan anak kita, dan kamu.." Robby menenangkannya.


"Kenapa mereka sejahat itu, ternyata di Vampir dan manusia memiliki sifat yang sama," tutur Devina.


"Dirumah itu kita akan tenang, walaupun tidak senyaman rumah ini, tapi setidaknya kita tidak selalu was-was karena ulah Cameron. "


Devina menyetujui itu, dia mengirs jika Robby memintanya membungkus pakaian karena untuk tinggal di rumah Syafa. Robby kembali keluar menemukan Mbah Gus.


" Saya sudah memberikan penjelasan kepada Devina," ujar Robby.

__ADS_1


"Baguslah, itu lebih baik, jika kita pindah esok dia tidak akan banyak bertanya lagi, kasihan dia.."


Robby melirik ke dalam kamar, Devina sibuk beberes, Robby membawa Mbah Gus menepi.Dia ingin jujur kepada Mbah Gus tentang hukumannya, dan segala aturan yang tidak boleh dilanggar.


"Aku akan tidak bisa melindungi Devina setiap saat Mbah Gus, saya mohon, tolong bantu saya menjaganya selama beberapa bulan ini," ucapnya.


Mbah Gus tidak mengerti itu, dia terlihat kebingungan dengan ucapan Robby.


"Memangnya kamu mau kemana? kamu selalu bilamg waktuku hampir habis, memangnya mau kemana?"


Dengan berarti hati Robby menceritakan kutukannya, walaupun aturan kutukan melarang Robby secara langsung menjelaskan perihal itu. Namun demi keselamatan Devina, ia akan melakukan apapun. Robby menceritakan secara detail kutukannya, dan cara ia harus menghadapi semua aturan. Mbah Gus mendelik, dia tidak menyangka seberat itu ujian pernikahan Robby dan Devina.


"Kenapa kau tak jujur saja? aku akan mengerahkan tenaga membantu kalian," kata Mbah Gus.


Robby berkaca-kaca mendengar itu, dibalik badan kekarnya ada kerapuhan bila melihat seseorang yang sangat tulus seperti Mbah Gus.


"Aku tidak tahu harus berkata apalagi kepada Mbah Gus, anda terlalu baik," kata Robby.


Mereka kembali ke ruang tamu, namun dibelahan tempat lainnya ada Cameron sedang mendengarkan percakapan antara Robby dan Mbah Gus, mereka mengecek juga lokasi rumah Devina.


"Hahaha ini luar biasa, ternyata Robby dikutuk menjadi patung, kita memiliki banyak peluang untuk itu," ujar Cameron.


Cameron berencana tidak menyerangnya malam itu, ia akan mencari waktu yang tepat agar dapat membalaskan dendam terhadap Robby.


"Kalian simak terus, saya akan melanjutkan pekerjaan, jangan sampai ada informasi yang lolos tanpa kalian ketahui," ucap Cameron berpesan kepada anak buahnya.


Cameron kembali ke ruangan prakteknya, ia memeriksa puluhan organ yang siap ia jual ke luar negeri. Beberapa dari organ itu terdapat milik wanita yang pernah ia manfaatkan. Cameron memanfaatkan ketampanannya untuk menggaet wanita.


'Untung saja Devina tidak jatuh ke tanganku sebelum bertemu Robby, jika tidak, dia akan bernasob sama dengan ciwi-ciwi murahan ini," gumam Cameron.


Telinganya tiba-tiba berdenging, suara angin menyelinap masuk lewat jendela. Cameron terperanjat, ia tahu dia sedang dikunjungi oleh pemimpin Vampir. Tidak lama berselang, asap yang mengepul itu menampilkan Vampir dengan rambut gondrongnya. Cameron menundukkan kepala memberi hormat.


"Kau mengusik Robby, kau tidak boleh menyakiti istri dan anaknya," kata pemimpin Vampir.

__ADS_1


Cameron berusaha mengontrol diri agar tidak membantah penuturan pemimpin Vampir, ia tidak ingin kesempatannya melenggang di dunia manusia malah berakhir.


"Kau tidak boleh melukainya, kau boleh bermusuhan Robby, itu urusan kalian, tapi jangan libatkan anak penerus Vampir, kau akan berhadapan dengan ku," ujar pemimpin Vampir. Dia tidak ingin Cameron berlebihan bertindak.


"Baik, Kepala. Saya akan ingat itu selalu," sahut Cameron.


Setelah memegang ucapan Cameron, Pemimpin Vampir kembali menghilang tanpa pamit. Cameron komat-kamit seorang diri, rencananya menculik Devina gagal, tapi bukan Cameron namanya jika tak mencari cara lain untuk menghancurkan impian Robby lepas dari kutukan.


"Tidak, aku tidak ingin kalah oleh Robby," gumamnya.


Salah satu anak buahnya mengetul pintu, dia meminta untuk masuk menemui Cameron. Ada yang ingin ia sampaikan.


"Bos dokter, ada informasi penting," ucapnya.


"Hem? informasi apa?"


"Kami mendengar dari pendeteksi suara, ada seseorang yang juga sedang memantau rumah Devina," katanya.


Cameron menghentikan aktivitas menulisnya, "Benarkah? kalian yakin?"


"Iya, Bos. Kami mendengar pria tua itu dan Robby sedang mencurigai seseorang di luar rumah."


Cameron yakin, tidak hanya dia yang bermasalah dengan Robby, sebagai Vampir yang sudah lama melanglang buana di dunia manusia, Cameron yakin ada banyak masalah yang Robby lakukan.


Cameron memerintahkan anak buahnya mengintai juga ruang Devina, mereka diperintahkan untuk bertemu dengan orang-orang suruhan Sisil. Cameron ingin membuat sekutu untuk melemahkan posisi Robby.


"Sangat mudah, hanya kau yang akan merubah dirimu menjadi patung, itu jika kau memiliki kesempatan."


Ponsel Cameron berdering, ada panggilan masuk dari seorang wanita, Cameron lagi-lagi membuat wanita terbuai dengan rayuannya. Ia ingin mengencani beberapa wanita manusia sebelum kembali ke Negeri Vampir.


"Kita akan ketemu esok, kamu berpakaian seksi ya," pinta Cameron.


Gadis itu mengiyakan, siapapun yang mendekati. Cameron akan merasa di sayang. Padahal Cameron memiliki niat buruk terhadap gadis-gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2