Kebahagiaan Kita

Kebahagiaan Kita
EPS 1 : Posisi


__ADS_3

8 Tahun sebelumnya


Rumah Sakit Jakarta


"Dokter Pasien mengalami kekurangan darah "


disebuah ruang operasi itu, seorang Wanita lanjut usia sedang berperang dengan nyawannya sendiri. Dokter sedang berusaha untuk menyelamatkannya akan tetapi stock darah yang dibutuhkan sudah habis.


Perawat segera keluar, Seorang pria yang duduk menunggu Langsung berdiri.


"Suster ibu saya."


"Pasien harus segera mendapat donor darah, kebetulan stock darah habis."


Senopati sangat pusing memikirkanya, bagaimana lagi dia mencari Stock darah kali ini. sebelumnya saja dia kesulitan mencari darah yang dibutuhkan.


Perawat itu langsung pergi entah dengan cara apa dia harus mendapatkannya. Senopati sudah sangat pasrah jika hari ini dia mungkin akan benar-benar kehilangan ibunya.


sementara itu seorang gadis remaja berusia 18 tahun sedang menunggu seseorang, tampaknya dia baru saja habis bersekolah


"Apa stock darah AB masih ada ?" tanya perawat kesekumpulan suster.


"Seseorang baru saja memakainya, tadi ada 1 tapi sudah diambil." jawab perawat lainnya.


"Bagaimana ini pasien kami sedang dioperasi, dia butuh 1 kantong darah lagi dia bisa meningal." perawat itu ketakutan dia sangat baik sekali memikirkan hidup orang lain.


Anak gadis itu mendekatinya "Apa aku bisa mendonorkan darahku ? usiaku sudah 18 tahun Golongan darahku AB." ujarnya yang menawarkan dirinya.


"Sungguh ? Ayo ikut denganku " ajak perawat itu, dia hanya menurut saja diajak kesebuah ruangan lalu dipasangan jarum suntik hingga dia mengeluarkan darah.


"Kau menyelamatkan pasienku, semoga tuhan membalasmu anak cantik." puji perawat itu, Gadis itu tersenyum hingga lesung pipinya terbentuk indah sekali.


"Ngomong-ngomong sedang apa kau disini ? apa ada keluargamu yang sakit ?" tanya perawat itu.


"Tidak, aku hanya menunggu kakakku disini, katanya sekalian ingin mengecek kesehatannya." jawabnya.


"oh begitu, apa sudah mengambil antrian ?"


"sudah ini nomor 13" jawabnya yang menunjukkan Antrian.


berapa lama kemudian proses transplantasi darah selesai, Gadis itu merasa sedikit pusing lalu perawat memberikannya obat-obatan.


"ini diminum ya, pereda sakit kepala dan ada vitamin juga. terima kasih banyak ya, sembari menunggu kakakmu kau boleh tidur disini sebentar. "


"Terima kasih." ucap gadis itu.


perawat itu langsung membawa sekantung darah yang sudah didonorkan ke ruang operasi, Seno meliriknya dan menghentikannya.


"darimana kau mendapatkan darah itu ?" tanya Senopati.


"Diruangan paling ujung ada seorang gadis yang menyumbangkanya. maaf aku harus cepat. "


Senopati sangat ingin tau siapa gadis itu, gadis yang telah menyelamatkan nyawa ibunya. dia tinggalkan sebentar tempat nya sekarang dan mencari sosok gadis itu.


Langkahnya menelusuri lorong rumah sakit, Gadis itu tampak keluar dari pintu dan berjalan lurus tanpa menoleh, Seno memperhatikannya dan melihat ruangan itu kosong. dia ingin mengejar gadis itu tapi gadis itu tampak berlarian.


"Ada apa dengannya." gumamnya.


***


1 jam kemudian


operasi selesai semua alat dimatikan, Ibu Senopati dikeluarkan dari Ruang operasi.


"Dokter ibu saya baik-baik saja ?" tanya Senopati.


"iya, jika saja darah nya tidak tepat waktu maka ibu Asa akan meninggal." jawab dokter itu.


"Gadis itu sangat baik" gumam perawat yang sebelumnya mengambil darah gadis tadi, Senopati bisa mendengarnya.


dia pun ikut mendorong Brankar ibunya dengan kebahagiaan, dia bisa melihat ibunya tersenyum kembali nantinya.


"Tolong minggir ! pasien darurat ! "


"minggir!minggi ! "


dua brankar lewat disamping brankar ibunya, mereka dipenuhi darah hingga wajahnya tak bisa dilihat lagi.


"Hiks hiks kakak !!!! bangun kak! "

__ADS_1


gadis tadi menangis terisak menuntun dua brankar itu, Senopati hanya memandang sekilas brankar yang lewat dan gadis yang terus menunduk tadi.


"Kakakkkkk !!! "


"Kami akan mengurusnya, tunggu diluar. " perintah Dokter yang membawa dua brankar masuk kedalam ruang operasi.


brak


pintu tertutup, dia menangis tersedu-sedu dilantai dan menyenderkan kepalanya didepan pintu.


dua kondisi yang sangat berbeda jauh dengan sebelumnya, jika sebelumnya dia senang menolong seseorang tapi sekarang justru dialah yang harus mendapatkan pertolongan.


***


8 Tahun Setelahnya


Langkah kaki seorang wanita yang berjalan diantara meja-meja kantor, langkahnya begitu cepat sepertinya dia sedang banyak pekerjaan.


"Bu Renata ini berkas yang ibu minta "


"oke"


"bu jam dua siang laporan akan dikirim"


"baiklah "


segerombolan wanita dan pria yang sedang mengobrol itu terlihat sangat asik sekali, itu sudah biasa baginya melihat pekerja yang culas dan memakan waktu begitu.


"Kira-kira siapa ya bos baru kita. dulu sih pak Parman Suka bagi bonus sekarang ah jangan diharap." ujar wanita yang menyesap kopinya.


"besok kita akan tau."


"Aku dengar boss kita belum menikah."


"Farhan ! "


para pria dan wanita yang bergerombol itu menoleh kearahnya, wanita tadi berhenti disamping mereka.


"Dimana Laporan pembelian Barang kemarin ?" tanyanya.


"Oh ada bu sebentar."


Renata tau jika semua orang banyak tidak suka kepadanya, karena dia sangat serius bekerja. apalagi semua orang banyak yang melirik Renata karena tubuhnya yang proporsional dan tinggi semampai itu.


tapi dia hanya tersenyum membalasnya, dia tidak suka mencari keributan dengan orang-orang diperusahan.


"ini Bu " kata Farhan yang memberikan beberapa lembar berkas


"Terima kasih." Ucapnya yang langsung segera meninggalkan Orang-orang itu.


mereka semua langsung menelan senyuman itu, dan saling menatap.


"Kau tau suaminya kemana? sampai sekarang tidak ada yang tau kenapa suaminya pergi darinya." bisik mereka.


"Mungkin ada yang salah padanya."


Renata terkenal diperusahaan karena dia membawa seorang anak, tapi tidak ada yang tau kenapa dia berpisah.


tapi dia juga tidak pernah memerdulikan oceha semua orang padanya. dia hanya ingin bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri dan anaknya itu.


didalam ruangannya Renata sibuk mengurutkan berkas-berkas sesuai nomor dan kodenya. ruangannya dia punya sendiri tidak bercampur tapi sayangnya hanya dibatasi dinding kaca sehingga apapun aktivitas nya maka semua orang bisa melihatnya.


***


Sekolah Dasar Negeri Harapan Bangsa


"hiks hiks hiks kalian jahat ! aku akan beritahu mamaku ! "


"Keira tidak punya ayah ! keira tidak punya ayah ! " semua teman-temanya mengolok seorang gadis kecil yang menangis ditengah-tengah taman.


sepertinya mereka sangat senang melakukan hal itu, dan tak berkasihan sedikitpun.


"keira kau anak siapa ? huuu tidak punya ayah seperti kami ! "


"Keira punya ! keira punya ayah ! " jawabnya sambil terus menangis.


***


Hari sudah mulai sore Renata keluar dari perusahaan, mobilnya terparkir rapi diparkiran. sudah jam 4 dia harus menjemput anaknya Les di kursus melukis.

__ADS_1


"Renata ! "


dia tidak jadi membuka mobil ketika seseorang memanggilnya


" Kak wanda sudah pulang ? bagaimana workshop nya ? berjalan lancar ?"


"Iya, mangkanya pulang. tadi pakai taksi jadi mau ambil mobil." Jawabnya.


"Kak aku pulang dulu, Keira akan menungguku nanti "


"Oh iya pulanglah anak cantik itu pasti akan sedih."


Renata tersenyum lalu masuk kedalam mobil, Wanda meminggirkan tubuhnya agar mobil Renata bisa melaju.


Tin


"hati-hati." teriak Wanda


dia adalah satu-satunya orang yang dekat dan sangat tahu tentang Renata. dan tidak pernah sekalipun menjudge kehidupan Renata.


sebelum dia menjemput Keira renata pergi membeli kue kesukaan anaknya, dia telah berhenti didepan toko kue dan segera masuk kedalam sana.


"satu kue coklat " pesan Renata yang sangat senang melihat Kue coklat bergambar beruang, dia tersenyum melihat etalase itu pikirnya anaknya pasti senang.


"150 ribu."


dia memberikan uang pas kepada kasir, lalu menerima kue itu. dan pergi setelah menerimnya.


tak terasa dia telah sampai di Tempat Kursus melukis, dia turun karena keira telah menunggunya didepan sekolah.


"Halo anak mama ! " sapanya yang berjongkok dihadapan anaknya.


"Halo mama ! mama beli kue coklatnya ?"


"Tentu saja, ayo pulang kita makan bersama. tapi ingat ya setelah makan harus gosok gigi."


"Baik mama ! "


Renata senang sekali melihat senyuman anaknya, senyuman yang tidak bisa dibeli dengan apapun. setelah memastikan keira memakai sabuk pengaman dia menutup pintu dan masuk kedalam mobil.


***


drttt...drrttt


ponsel yang ada di ranjang king size itu bergetar


📱 Helmi Calling


drtt...rrttt


📱 Helmi Calling


ceklek


Senopati keluar dari kamar mandi, dia hanya mengenakan handuk sepinggang. tubuhnya macho dengan bulu-bulu halus di dadanya. dia pun mengangkat telponnya


"halo"


📱 Pak Apartemen di Logo sudah ada yang menempatinya, apa semua barang bapak ingin dipindahkan atau dibiarkan disana ?"


"Biarkan saja nanti aku cek, suruh pindah 2-3 hari kedepan saja. "


📱 Baik pak, kalau begitu saya tutup dulu.


tut..tut...tut


dia melemparkan ponselnya keatas ranjang, Senopati membawa dirinya ke lemari dan membuka semua pintu dia memilih baju kaos putih dan akhirnya memakai celananya.


diliriknya jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam, dia belum makan sampai sekarang tapi tidak lapar juga.


besok dia akan pindah kantor dan menempati anak cabang dari perusahannya, dia akan segera memindah namanya perusahaan yang sudah dibelinya menjadi Nama perusahannya sendiri.


"ahh" rasanya segar menyesap air dingin dari kulkas mini di kamarnya, dia menghidupkan televisi dan memilih menonton Acara sepak bola.


**Breaking News


James athatur Sashenka Membeli club sepak bola Yang terkenal sangat jarang mencetak prestasi, apa alasannya** ?


Senopati terkekeh melihat Berita itu, dia tersenyum miring mendapatinya.

__ADS_1


__ADS_2