
" Dia anak kakakku hiks hiks. "
Senopati memeluknya renata tak sadar apa yang dilakukan oleh bos nya itu.
"kakakkmu meninggal kecelakaan 8 tahun lalu, apa benar ?"
Renata mengangkat wajahnya, dia menatap sinis Senopati.
"Bagaimana bapak bisa tau ?"
"Saya membaca latar belakangmu, jadi keira anak kakakmu dan suaminya. mengapa kau yang mengurusnya ?"
Renata terdiam dia menatap kearah depan "Tidak ada orang yang menerima Keira, Kakak selalu menitipkan keira padaku ketika bekerja tapi dua bulan usia keira dia malah menitipkan keira selamanya padaku. Jika saja aku yang mati maka keira tidak akan jadi seperti ini, malu diejek teman-teman, hidup susah denganku, selalu kutinggal bekerja. aku memang tidak becus mengurusnya."
"Mari menikah dan urus keira bersama-sama, dia tidak akan diejek teman-temannya, dia punya papa dan hidupmu tidaklah sulit."
"Saya tidak akan pernah menikah."
"Mengapa ? kau trauma ?"
"Aku hanya ingin hidup membesarkan Keira, itu cukup untukku."
"Keira akan mati jika kau tetap seperti ini." ujar Senopati.
"175 juta harus ada besok, kau sudah menemukannya ?"
"Aku bisa bekerja."
"Bekerja apa? menjual dirimu ?"
"Benar."
Senopati tak menyangka Renata benar-benar menantangnya "500 juta tidur bersamaku malam ini dan puaskan aku." Renata menatapnya apakah dia harus menerima semua ini hanya satu malam saja dan bisa menyelematkan keira.
"Kau mau ?" tanya senopati .
"Bapak tidak ingkar bukan "
"Tidak." jawab senopati.
"Baiklah aku mau."
Senopati menganggukkan kepalanya, dia menepati janjinya memberikan uang Lima ratus juta kerekening Renata.
setelah membayar penuh rumah sakit, Senopati membawa Renata ke hotel. dia sudah memegang kunci tapi renata masih diam mematung didepan kamar.
"Kau takut ? berubah pikiran ?"
Renata menggeleng dia masuk kedalam kamar, Senopati pun menutup pintunya dia mulai membuka kancing kemejanya sendiri.
"Mau mandi dulu atau langsung ?" tanya Senopati.
"A-aku tidak bawa baju."
"Baiklah kau juga wangi."
dia mendorong Renata ke ranjang hingga terduduk, Renata terus menunduk sementara dia telah membuka kemejanya.
"Angkat kepalamu."
Renata mengangkat kepalanya, dia langsung menatap arah lain melihat tubuh itu.
"Kita butuh pemanasan agar tidak sakit, mau buka sendiri atau aku bukakan ?"
Renata tak bergemin dia takut melakukan ini tapi dia sudah menerima uangnya.
Tangan Senopati sudah menjalar kemana-mana satu tangannya telah mendarat di gundukan milik Renata.
wajahnya memiring matanya menatap bibir tebal dan sexy itu.
cup
senopati benar-benar bergairah saat ini ciumannya sangat dalam sampai renata tak bisa membalasnya lagi.
tangannya pun meremas dua gundukan milik renata yang harus menahan sedikit nyeri.
tangan Senopati mulai berusaha membuka Blezer Renata " Maaf aku tidak bisa " tolaknya yang berdiri.
"Mau hukuman polisi ? atau hukumanku ?"
"Pak saya mohon berikan waktu untuk membayarnya, saya akan bayar pak."
Senopati merasa menang walaupun dia tidak suka melakukan hal ini, apalagi saat ini renata sedang sedih tapi dia terpaksa.
"Pernikahan kontrak , selama kau masih punya hutang maka kau harus menjadi istriku, tapi jika kau belum melunasinya maka kau tetap jadi istriku."
__ADS_1
"Pak saya..".
"dengan peraruturan tentunya. " saut Seno yang memotong pembicaraann Renata.
"dalam 5 bulan saya janji akan bayar " katanya lgi yang meyakinkan Senopati.
tapi sayangnya senopati tak tergiur sama sekali, ini celah baginya untuk masuk kedalam hidup Renata dan membantunya sama seperti Renata dulu membantu Ibunya Hidup kembali.
"Tidak bisa, Pilihlah Kantor polisi atau Pernikahan Kontrak."
"Tapi dengan persyaratan " ujar Renata.
"Baik saya akan mengaturnya".
"Kita berdua."
"Oke kita berdua."
dan Akhirnya malam itu tak terjadi apapun, Renata kembali kerumah sakit tapi dia harus mencari donor Darah golongan O yang dia pikir masih kosong ternyata Dokter sedang mengoperasi Keira.
dia benar-benar bersyukur Keira bisa kembali dengan selamat setelah ini walaupun mungkin dia harus menerima konsekuensinya.
jam 2 malam operasi itu selesai Keira sudah tertolong dan dimasukkan kedalam ruang ICU. akan tetapi renata belum bisa masuk.
***
keesokan paginya renata kembali dulu kerumah, untuk membawa kebutuhan Keira dan dirinya. dia sibuk memasukkan baju, handuk, dan kebutuhan lainnya.
Ting
Tong
Ting
Tong
dia buka pintu itu ternyata sekretaris Helmi
"Pak senopati meminta saya mengantar ibu, hari ini Bapak ada Kerja di surabaya malam baru kembali. " Jelasnya.
"Masuklah dulu." ujar Renata.
"Baik."
Helmi melihat ruangan itu yang tersusun rapi memang Renata tidak suka yang berantakan dia selalu membereskannya daripada dibiarkannya.
"Boleh."
dibalik sifat cueknya dia baik dan perhatian juga, pantas saja pak senopati tergila-gila.
Renata menuangkan air di gelas,lalu memberikannnya kepada helmi.
"Sudah bu ?" Tanya helmi.
" Iya sudah."
diantarlah Renata oleh Helmi, setibanya di rumah sakit dia membereskan barang-barang tadi di kemar rawat inap Keira.
keira sudah keluar dari kondisi buruknya membuat renata lega. Dia mendekati keira dan mengelus kepalanya.
"Sayang ini mama nak." gumamnya.
"bangun sayang mama mau makan sama keira lagi, mama juga sudah beli topi yang keira mau dan es krim di paman itu, mama menyimpannya di lemari es "
Diam-diam helmi merekam semua itu, dia mengirimkannya ke bosnya.
***
Lidya keluar dari rumah mewah itu, diantar sopir dia meninggalkan rumah.
"Nyonya kemana kita ?"
"Cafe Dahlia."
"Baik nyonya."
Jika saja suaminya tahu tanpa izinnya dia keluar, james akan banyak bertanya dan mencerca nya. dia ingin bertemu Dengan Renata karena 8 tahun ini tak pernah dia mengkhianati perintah suaminya.
tapi kali ini dia tidak tega, nalurinya sebagai seorang ibu tetap ada untuk renata.
drttt...drrttt
dia terkejut karena suaminya menelponnya, dia berusaha untuk tenang.
"Halo."
__ADS_1
"can you lie won't be able to, but your husband won't be angry."
"Maaf "
"Katakan aku akan memaafkannya tapi kembali kerumah dan dia boleh membawa anak itu tapi menikahlah dengan pria pilihanku."
"Dia tidak akan mau."
"Dia akan mau."
"Akan kucoba."
"mengapa semua orang sangat keras kepala." ujarnya yang merasa jika keluarganya selalu mementingkan kebahagiaannya sendiri. dulu ketika Anak pertamanya masih hidup kehidupan mereka baik-baik saja.
Ketika dia diberitahu jika mamanya ingin bertemu, maka terpaksa Dia meninggalkan Keira sendirian tapi sebelum itu dia menitipkannya pada suster.
hari sudah mulai malam jadi dia pakai taksi saja. dan taksi itu membawanya menuju ke Cafe Dahlia.
tak lama dia pergi Senopati keluar dari mobilnya, dia ingin menjenguk renata dan keira tapi tampaknya kamar itu sepi hanya ada suater yang sedang memeriksa infus.
"Suster dimana wanita yang disini ?"
"ibu renata sedang keluar katanya tidak lama."
" oh "
"Saya permisi pak."pamit suster itu.
Senopati duduk si sofa itu dia memandangi keira yang tertidur.
kita sama-sama punya hutang, bagaimana jika kita bahagiakan mamamu bersama. ck pasti itu seru tapi dia agak egois.
***
"Bagaimana kabarmu ? "
Renata terus menunduk tak memandang mamanya, dia terlalu sungkan menatapnya.
"Tubuhmu kurus, apa kau hidup dengan baik ?"
"Aku baik asal ada Keira." jawabnya.
"Berat bukan. " Lidya menatap nanar anaknya yang berusia 25 tahun itu. seharusnya dia menjadi saksi pertumbuhannya menjadi dewasa tapi dia harus terpaksa dewasa sendiri.
"Tidak juga, aku bahagia."
"Mamamu ingin kau bohongi ? Kita tau hubungan kita tidak baik selama ini, tapi itu hanya didepan papamu. Kau tinggal dimana sekarang ?"
"Logo Apartemen."
"Ada pesan dari papamu, kau boleh kembali kerumah dan membawa anak kakakmu silahkan. tapi dengan syarat kau harus menikah dengan pria pilihan papamu."
Renata tidak terkejut lagi hal yang sama yang dilakukan papanya kepada kakaknya dulu.
"Tidak perlu repot, aku bisa mengurus hidupku sendiri. Ma aku pulang dulu "
tanpa makan dia pergi padahal Mamanya sudah memesankan makanan.
"Renata tunggu ! kau tidak sayang mama ! pulanglah dan tinggal bersama kami ! kami sudah tua nak. " lidya pun menangis, usianya sudah tak muda lagi dia butuh anak untuk menamani masa tuanya.
"aku juga mau tapi tidak dengan persyaratan itu. Mama tetap mamaku tidak ada yang berubah tapi maafkan aku, Aku sudah janji pada kak Renita untuk merawat Keira seperti anakku sendiri."
Lidya paham begitu Cintanya Renata pada kakaknya, dia mau meninggalkan rumah dan diusir papanya hanya untuk mengurus anak Renita dan suaminya.
Renata pulang dengan kesedihan, dia ingin sekali pulang dan berkumpul dengan orang tuanya lagi. tapi itu tidak akan pernah terjadi sebelum papanya menerima keira sebagai cucunya.
ceklek
Renata duduk di kursi dekat Ranjang keira dia menidurkan kepalanya disana.
"Sampai kapan Papa bersikap Acuh padamu, bukankah Kau cucu kandungnya sayang. Apa jatuh cinta adalah kesalahan, Kenapa status sosial selalu menjadi penghalang."
"Jangan khawatir sayang, kita berdua akan hidup dengan baik. kita tidak perlu orang lain dihidup kita."
"Jangan sombong semandiri apapun seorang manusia kau akan tetap membutuhkan orang lain terutama pria."
Renata menoleh dan senopati sudah berdiri disamping kursinya itu.
"Anakmu baru saja mengganti infus, kau dari mana ? kenapa tidak memberitahuku atau sekretaris helmi ?"
"Saya sudah mengambalikan sisa uang yang tidak terpakai jadi hutang saya tidak sampai setengah milyar, Bapak bisa mengecaknya."
"Saya tidak ingin bicara itu, tapi habis dari mana kamu malam-malam begini ?"
"Makan."
__ADS_1
"Baguslah setidaknya kau ingat kesehatanmu, lihat Berkas yang aku kirim itu dan bacalah."