
"Renata Shashenka kau dipecat! "
***
"Bapak bisa mencari wanita lain kenapa harus aku ! aku tidak mau " tolaknya yang penuh penekanan.
"Aku hanya ingin dirimu."
***
Lantunan musik yang lembut menggema diruangan Itu, Ruangan khusus yang dipesan Senopati untuk makan malam bersama investor barunya.
Disebelahnya Renata tetap dia dia terpaksa mengikutinya agar tidak jadi dipecat. Kerena sekarang Keira juga sedang berkemah jadi tidak ada yang harus dia pikirkan dirumah.
"Minumlah jangan diam saja."
Renata mengambil segelas air putih lalu meminumnya, Tak lama dua orang datang keruangan itu. dia segera berdiri menunduk disebelah Senopati.
"Halo tuan Senopati, senang berjumpa dengan anda malam ini."
"Terima kasih Pak James Attathur Sashenka " Senopati seakan sengaja mempertemukan Renata dengan orang tuanya.
Renata tak menyangka Yang menjadi tamu malam ini adalah ayahnya sendiri.
"Dia sekretarismu ?" tanya Pak James.
"Benar"
Renata terus menunduk dan mengalihkan pandangannya, dia tak ingin dilihat Papanya disaat seperti ini.
"Silahkan duduk." Ujar senopati mempersihlahkan.
"Pak , saya ketoilet dulu." bisik nya agak jauh lalu segera keluar dari ruangan itu walau James terlihst curiga dengan pergerakan Dirinya.
Renata terus mencuci wajahnya di toilet itu, dia tidak pernah ingin bertemu papanya lagi tapi Senopati membuatnya bertemu.
dia bukannya benci atau marah tapi ini pilihannya, dia tidak bisa menemui papanya saat ini.
Setengah jam kemudian Renata belum kembali sampai makanan sudah habis hanya tersisa makanannya.
"Kerja sama kita deal sekarang, saya harus pergi karena istri saya menunggu. oh itu sekretarismu apa dia baik-baik saja ? " tanya James.
"Dia sepertinya sedang ada urusan dia sangat sibuk." jawabnya hingga james mengangguk mengerti bersama pria disebelahnya dia keluar dari ruangan itu.
sementara itu Renata berjalan lesu menuju keluar hotel, Wajahnya pucat dan tak bersemangat.
"Kerjasamanya bagus saya pikir itu akan menguntungkan untuk usaha kita."
Renata mendengar suara papanya, lalu dia menghindar dengan memalingkan wajahnya kesamping kiri.
"Saya pikir juga begitu pak."
Setelah dirasa mobil berjalan dia menghela nafas pelan tapi tiba-tiba dari belakang seseorang membalikkan tubuhnya.
"Darimana kamu ? bukankah hanya ke toilet ?"
Renata menatap benci Senopati "Apa yang bapak inginkan dariku ? Bapak sengaja melakukannya kan ! sengaja kan ! "
ditariknya tubuh Renata lalu dihimpitkannya ke mobil, hingga mereka saling menatap.
"saya tidak tau apa maksud kamu. tapi ini soal pekerjaan dan jangan sangkut pautkan masalah keluargamu denganku!"
"Benar Bapak tidak tau apapun. Aku salah Maafkan aku." Dia mendorong perlahan tubuh Bos nya itu, Senopati melihat begitu banyak kesedihan di mata Renata saat ini.
Renata mulai berjalan sendiri, lama-lama berada didekat bosnya bisa membuat dirinya mati perlahan.
"Mau kemana kamu ! berhenti! Berhenti Renata ! " Teriak Senopati yang masih berdiri belum mengejar Renata.
Tapi sama sekali Renata tak mendengarkannya, lebih baik pulang dan mengurus dirinya sendiri.
__ADS_1
shittt
mobil hitam itu berdiri disampingnya, Senopati keluar lalu memasukkan Renata kedalam Mobilnya.
"Keluarkan aku, Anakku menungguku."
"Dimana alamatmu?" tanyanya.
"Aku bisa pulang sendiri, bapak tidak perlu repot." ujarnya yang menggelengkan kepalanyanya.
"Saya bisa memecatmu langsung malam ini."
Renata menatap dalam namun penuh kebencian kepada bosnya "Logo Apartemen."
jleb
Logo Apartemen adalah Bangunan miliknya yang selama ini memang dia sewakan, mengapa dia tidak pernah tau jika ada sosok Renata disana.
"baik."
saat dalam perjalanan pulang Renata hanya menatap kesebelah kirinya, jalanan tampak sepi karena sudah larut.
Dirinya terus memikirkan bagaimana dia tadi hampir bertemu papanya.
Syukurlah Papaku baik-baik saja.
setengah jam kemudian keduannya sampai dibawah depan gedung Logo Apartemen, Renata langsung turun tanpa banyak bicara.
"Terima kasih." ucapnya pelan dan berjalan begitu saja meninggalkan Senopati.
Senopati bingung jika Renata bisa keluar sampai selarut ini apa anak usia 8 tahun berani tinggal sendirian di apartemen sebesar ini.
seorang pria tampak mengawasi Keduanya dari tadi, dari kejauhan tapi dia memakai masker hingga tak bisa dikenali.
***
beberapa hari kemudian setelah Drama Makan malam itu, Renata tak mau dekat atau bahkan bicara pun tidak jika tidak penting.
Begitu sulit mendekati Renata dia selalu mencari ulah padanya agar diperhatikan Renata tapi semua caranya Nihil.
pikirannya buyar ketika renata bangkit dari tempat duduknya dan membawa tasnya mau kemana dia pikirnya.
dia sok sibuk ketika Renata akan lewat di depan ruangannya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk."
Siapa sangka yang masuk adalah Renata, dia masih menunduk menatap laptopnya.
"Maaf pak saya ingin Izin hari ini." Katanya.
"Alasannya ?"
"Saya harus menjemput anak saya, beberapa hari ini dia ikut kemah jadi saya harus menjemputnya."Jelasnya agar bosnya mengerti.
"Baiklah besok kau harus masuk sampai sore."
"Baik pak, terima kasih."
setelah mengucapkan itu dia segera keluar, dia tidak sabar ingin bertemu Keira hanya dengan Keiralah dia bisa melupakan masalahnya.
"Renata mau kemana kamu ?" tanya Wanda saat baru keluar dari lift.
"Kak Aku Izin jemput Renata, dah ! "
"Oh iya hati-hati."
__ADS_1
***
Ternyata Renata lebih dahulu sampai dibanding bus yang ditumpangi Keira, dia menunggu sendirian diantara banyaknya orang tua yang menunggu anaknya.
tak lama mobil bus besar berwarna kuning datang hingga Renata mulai mendekati tempat dimana mobil parkir.
"Mama !!! " Teriak Keira dari dalam mobil.
"Keira itu mamamu ya ? papamu mana ?" saut temannya.
"Hahahah diakan tidak punya papa." jawab yang lainnya hingga semuanya menertawakanya.
"Mau aku pukul ! " ancamnya.
"Hiks hiks hiks " anak itu menangis, Keira sangat tidak suka dengan temannya yang satu ini.
"Loh Dira kenapa menangis ? ada apa ?" tanya Gurunya yang baru datang.
"Keira memukulnya bu " saut yang lainnya.
"Keira kau melakukannya ?" tanya gurunya.
Keira menggeleng "Aku tidak melakukannya bu guru." Jawabnya.
"Bohong kau melakukannya, lihat tanganku merah bu hiks hiks hiks."
Keira benar-benar disudutkan Hanya karena dia tidak punya papa dia selalu dibenci apakah salah tidak punya orang tua lengkap.
Renata terkejut melihat Keira turun dengan wajah yang sedih selama ini dia tak pernah berwajah begitu.
"Bu ada apa? keira apa yang terjadi sayang ?" tanya Renata yang mendekatinya.
"Maaf bu, keira memukul temannya sampai menangis." jelas Gurunya, Tapi renata tak mempercayainya Keira tak pernah melakukan kekerasan begitu. bahkan berteman saja jarang.
Diruangan Guru itu Renata berhadapan dengan orang tuanya anak tadi, dia duduk disebelah Keira dan selalu memeluknya.
"Maafkan Keira ya, Keira tidak nakal sayang Keira hanya kesal padaku karena Tidak membawa hadiah untuknya, Maafkan ya." Bujuk Renata dengan halus dia memang menyukai anak-anak dan selalu berkata lembut pada mereka.
"Kesal padamu boleh tapi kenapa anaku jadi sasaran, Jika ayahnya tau bisa marah dia ! " saut ibunya yang ketus.
"iya bu maaf, saya bisa janji anak saya tidak akan mengulanginya lagi."
"He anak Nakal begitu."
Renata memeluk keira dan menutup telinga Keira agar tak mendengarkannya, anak kecil tidak seharusnya dikatakan nakal karena nakal untuk seorang anak itu wajar suatu saat nanti dia tau mana yang baik dan yang tidak.
Akhirnya setelah sulit mendapatkan maaf dari Ibunya Dira, keduanya boleh pulang. Renata berusaha membuat keira tersenyum disepanjang jalan dia hanya diam memeluk bonekanya.
"Sayang " panggilnya.
"Jangan dipikirkan, Mama tau keira tidak salah tapi mengalah sekali bukan masalah besar. yang meminta maaf duluan dia yang paling berani dan yang menerima Maaf dia yang paling Tulus."
"Keira tidak bohong mama." air matanya sudah jatuh tanpa disuruh, dan mobil Renata berhenti didepan mall.
"Nangisnya ditunda dulu ya, kita makan ayam goreng seperti kartun kesukaanmu ayo ! "
"Tidak mau."
"Yakin ? besok mama lembur kapan ya bisa makan diluar begini." ujarnya dia hanya menakuti keira saja padahal dia punya banyak waktu.
"Ayo." gumamnya pelan.
mereka pun turun, Keira berubah menjadi sangat aktif sekarang Renata dan Keira sangat cocok kalau masuk dalam mall pasti apapun dibeli tentunya dengan uang yang tidak terlalu banyak itu mereka harus menghematnya.
"disana ma aku beli topi ya "
"boleh."
Dia mengajaknya ke tempat Aksesoris dan mencari berbagai topi yang cocok untuk Keira. setelah menemukannya mereka kembali melanjutkan perjalanannya.
"Sayang makan dulu ya, keira belum makan nanti sakit perutnya."
__ADS_1
mereka memesan paket ayam lengkap, keira sangat pintar dan selalu memakannya sendiri jika diluar dia tidak pernah manja dengan Renata tapi dirumah apapun harus renata.