
"jangan bermimpi! " Renata mendorong Tubuh Senopati.
"Kita lihat saja."
***
Setelah pertengkaran malam itu, Renata tak mau bertemu dengannya. walaupun bertemu dia hanya akan diam, apalagi Senopati selalu mengawasinya lewat penjaga yang ada didepan Apartemen.
dia sengaja menaha Renata agar tak pergi sebelum pernikahan itu, Kini renata dan keira terjebak didalam Apartemen.
Perlahan-lahan keira pulih dan bisa ceria lagi. walau kadang Renata harus mengajaknya untuk check up.
"Sayang sedang apa ?" tanya Renata yang habis masak karena Keira terlihat mengintip dari lubang kecil di knop pintu.
"mama kenapa kita tidak keluar ? keira mau bermain di taman."
"Nanti sayang, nanti sore mama temani. " jawabnya.
"Iya tapi kenapa paman itu selalu didepan ? Apa tetangga baru kita ?"
"mungkin, sudah lah ayo duduk kita menonton saja." ajak Renata lagi yang langsung dituruti Renata.
Ting
Tong
baru saja dia akan duduk bel pintu pun berbunyi.
"Duduklah dulu saya mama buka pintu."
Ting
Tong
Ceklek
"Sia...pa ?"
Lidya tersenyum menatap renata, tanpa dia duga Renata hanya memandang datar dirinya tanpa menyuruhnya masuk.
"Kau tidak menginginkan mama masuk ?"
"oh ya, masuk ma."
"kau sakit ? wajahmu pucat ? sudah kedokter ?"
Renata menggeleng, dia mengantar mamanya ke ruang tamu. Sedangkan Keira dia bersembunyi dikamar dan mengintip dari balik pintu.
Lidya mengedarkan seluruh pandanganya ke apartemen itu, Renata menyiapkan jus dan kue untuk mamanya.
yang selama ini dia pikir renata hidup dengan tak teratur itu salah besar, pikirannya sangat jauh berbeda dengan apa yang dia lihat sekarang.
"Aku baik-baik saja jangan terlalu dipikirkan." ujar renata sambil menaruh nampan di meja.
"pulang nak, ikut mama."
Renata menghela nafasnya, dia menoleh ke kamar Keira dan bisa dia lihat keira mengintipnya.
"Jangan katakan disini, keira mendengarnya." ucapnya pelan.
"Papa sudah memaafkanmu."
"Jika mama ingin bicara itu maka lebih baik mama pulang saja."
"Apartemen ini kecil, rumahmu seratus kali lipat lebih besar dari ini. apa kau ingin terus hidup sulit, apa-apa tidak punya. mama tidak suka melihatmu seperti ini."
"Ma aku ingin mandiri."
"Mandiri apanya, jika kau ingin membahagiakan anak kakakmu maka kau harus memberikan yang terbaik."
"Ma renata mohon jangan bahas tentang kakak disini, dia anakku ! "
Lidya membuka tasnya, dia hiraukan perkataan Renata dan memberikan kartu nama pada Renata.
"datanglah ke Restoran Wigern Besok malam."
__ADS_1
"masuk ! "
perintah Lidya, beberapa orang pun masuk dan membawakan beberapa baju juga perlengkapan wanita lainnya.
"mama ingin kau datang kesana."
Lidya pergi meninggalkannya, sejujurnya dia tidak ingin melakukan hal ini. tapi rasa rindu dan sayangnya dia kepada Renata, dia ingin anaknya tetap deket dengannya.
renata terduduk melihat gaun yang mahal itu dan yang lainnya. tak lama keira keluar dari kamarnya dan memeluk mamanya.
"Mama kenapa sedih ? orang itu menyakiti mama kan."
Renata menggeleng "Mama baik-baik saja sayang, Hmm kita keluar yuk cari ice cream." Ajaknya Keira agar dia tidak berlarut-larut dalam kesedihannya.
"ayo ma " balasnya dengan senang.
"Pakai sepatunya." ujar Renata, Keira langsung mengambil sepatunya dan memakainya sendiri.
baru saja mereka keluar pintu dua pria bertubuh tinggi itu menatapnya, Renata tak memperdulikannya karena didepan juga masih ada penjaganya.
"mama kenapasih paman itu melihatbegitu?" tanyanya dengan wajah tidak suka.
"Biarkan saja sayang, oh ya keira mau ice cream apa ? mama mau rasa vanila."
"Coklat ! "
"okey ice cream coklat dengan toping lengkap ! " saut Renata.
"Horeee !!! "
Renata begitu bahagia melihat keira yang kembali ceria, sepertinya dia sudah melupakan kesedihannya. jika begini maka dia bisa kembali bekerja dan menyekolahkannya lagi ditempat baru nantinya.
"Mau kemana bu ?" cegat penjaga itu.
"Itu ma paman ice creamnya ! " tunjuk keira.
"kau dengar bukan." ujar Renata dengan tajam, hingga pria itu tak berani lagi mencegatnya.
keira berlarian menuju kepenjualan ice cream, dan saat itu juga mobil Mewah milik Senopati berhenti didepan wajah Renata yang akan menyusul keira.
"Mau coba kabur dari sini ! "
"memang sudah tidak waras" gumam renata.
Senopati menoleh kebelakang dia melihat keira yang membeli ice cream.
"kau punya untuk membayar jajan anakmu ?"
"Ada." jawabnya malas.
"Aku hanya bertanya tidak juga berniat memberikannya."
Renata menatapnya benci, dia menyingkir dari hadapan senopati dan mendekati penjual ice cream. dia membayar pesanan keira dan dirinya.
"Terima kasih pak" ucapnya.
"Mama ayo makan disana " tunjuk keira ke bangku taman Apartemen.
"ayo ! "
Senopati mengulaskan senyuman di bibirnya melihat bagaimana kedua orang itu bercerita dan mengobrol dengan senangnya, sepertinya cerita itu sangatlah asik.
Malam harinya
senopati mengajak Renata berbincang di bangku taman, ada hal penting yang harus dia bicarakan sekarang. Keira juga sudah tidur jadi tidak ada yang dikhawatirkan lagi sekarang.
"Lusa adalah pernikahannya." Ungkap Senopati.
Renata tak menggubrisnya dia dengar hanya tak ingin membalas perkataannya.
"Siapkan dirimu dengan baik."
Renata tersenyum miring "Bagaimana jika aku bisa membayar hutangku besok, dan aku menikah dengan yang lain ?" Renata meliriknya, wajah senopati berubah menjadi datar dan dingin.
"Maka aku akan membunuhmu."
__ADS_1
Kembali renata tersenyum "Akan lebih baik begitu."
"Renata, kau pikir aku bodoh dan mudah kau tipu ? aku akan berada 5 langkah didepanmu."
"Besok malam kita bertemu.".
"Tidak bisa."
"Mau pergi kemana kau ? jangan macam-macam renata aku bisa lebih kejam dari ini." Tekannya menatap dalam renata seolah tak ingin melepaskannya.
"Entahlah, mamaku menyuruhnya. jangan melakukan hal aneh padaku saat aku keluar, katakan itu pada Penjaga yang kau utus. "
"Keluarlah tapi Keira akan bersamaku di Apartemen."
"Aku akan membawanya ! "
"maka kau tidak akan pergi." jawab Senopati dengan entengnya.
"Licik"
"Aku suka licik daripada pintar."
Renata mengepalkan tangannya dibawah sana, senopati melirik tangan itu dan tersenyum miring.
Hari semakin malam, Renata hanya memakai baju pendek tanpa lengan. Senopati bisa merasakan jika Renata sedang tidak baik-baik saja dia pun melepaskan Jasnya dan memasangkanya di tubuh renata.
"Lepas! "
"Jangan membantah! aku tidak suka dibantah! " dia tetap memasangkannya dan memeluk renata dari samping.
"Apa yang kau lakukan, lepaskan ! "
"Diam atau aku ingin menciummu." ancam nya.
"Renata " panggil senopati lembut dan menatap dalam wajah renata, renatapun sama dia menatapnya dalam.
Senopati menggelengkan kepalanya, dia tidak boleh melakukan hal ini sekarang. akan ada waktunya dan tidak lama lagi dia harus tahan.
"Masuk ! " perintah senopati.
"aku tidak mau."
"Masuk Renata !" teriak Nya yang membuat renata agak kesal dengannya.
Renata terpaksa menurutinya, dia melangkah dengan kesal sementara Senopati dia tak merasa bersalah karena memang sudah sifatnya begitu.
***
keesokan sorenya
Senopati sudah ada didepan apartemen miliknya, karena Malam ini Renata akan makan malam dengan keluarganya dia akan menjaga Keira. lebih tepat nya menahanya keira agar renata tidak kabur.
karena renata tidak mungkin membawa keira keacara makan malam itu. sebagai penenang untuk keira dia membawakan banyak makanan di dalam paper bag.
Ting
Tong
Renata yang baru selesai memasak membuka pintu, dia menatap datar bos nya yang masuk tanpa izinnya.
"jam berapa kau pergi ?" tanya Senopati seraya melepaskan jasnya.
"tujuh." jawab renata dengan malas dan kembali kedapur. dia merapikan bekas masak dan makan malam untuk keira.
"Orang ku akan mengantarmu. bersiaplah."
"jangan menyakiti keira atau mengatakan hal kasar padanya ! jika aku tau kau melakukannya maka perjanjian batal !." ancam renata yang tak main-main sekarang.
"nghh" ditariknya tangan renata dengan kuat hingga dia meringis dan mata senopati hampir saja keluar.
"kau pikir aku tidak punya otak memarahi anak kecil ? asal kau tau, tingkahku padamu tergantung bagaimana caramu bersikap padaku. semakin baik kau bersikap maka semakin lembut caraku memperlakukanmu."
"lepas! "
dilepaskannya tangan renata dan alhasil tangan itu memerah "keira sedang tidur " ujar renata dan berlalu masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1