Kebahagiaan Kita

Kebahagiaan Kita
EPS 15 : Mencintai Suami Orang


__ADS_3

Senopati benar-benar menepati janjinya, hari ini dia mengajak Keira pergi berbelanja. di tangan sekretaris Helmi ada begitu banyak paper bag dan tentunya bukan dengan harga murah.


senopati berjalan beriringan bersama Keira, apapun yang keira minta dia beli tanpa satupun yang dia tolak.


"Paman ini bagus kan ? akupunya teman aku mau memberikan ini." dia menyentuh sepatu dan Senopati mengangukkan kepalanya.


"Belilah semua kebutuhan temanmu." jawabnya.


Dibantu sekreteris helmi, keira mencarikan peralatan sekolah untuk temannya itu. Senopati senang untuk pertama kalinya dia bicara dan pergi dengan seorang anak begini.


berjam-jam mereka habiskan didalam mall. Renata pikir Keira sedang berada di tempat kursus tapi nyatanya dia keluar bersenang-senang.


setelah belanja Senopati mengajak keira makan, dia memperhatikan keira yang sangat lahap makan.


"Kau punya teman sekarang ?" tanya senopati


"Iya paman." jawabnya sambil mengunyah fried chicken itu.


"Bagaimana dengan sekolah barumu, ? "


"Keira suka ! disana tidak ada yang bertanya tentang papa, semuanya mengajak keira bermain dan kata mereka mama sangat cantik ! " jawabnya dengan bangga namun terbesit sedikit ketidakpercayaan dalam senopati bahwa anak sekecil ini tak terluka.


"Apa kau ingin punya papa ?" tanya senopati.


"Keira punya papa tapi keira tidak tau dimana."


jawaban anak sekecil itu mampu membuat hatinya lunak, Senopati sejenak diam dan memperhatikanya.


"Mulai saat ini aku papamu,panggil aku papa karena aku sudah menikah dengan mamamu."


"Papa ? ".


"iya "


"Mama tidak akan suka paman." jawabnya.


"Aku sudah menikahi mamamu jadi aku papamu, temanmu apa mereka punya adik ?"


Keira mengangguk "iya paman kemarin adiknya ikut lucu sekali."


"Kau ingin punya adik ?" tanya senopati.


"Iya paman." jawabnya cepat.


"Papa bukan paman.".


"iya papa ! "


senopati sangat senang bisa mempengaruhi anak sekecil Keira yang tak tau apapun. setelah dia mengambil hati keira pasti renata bisa luluh.


helmi yang memandanginya dari kejauhan hanya bisa menggelengkan kepalanya, semenjak dia bertemu renata dia berubah seperti ini.


***


Hari mulai malam renata sengaja lembur agar mendapatkan gaji lebih, dia tidak menjemput keira karena senopati bilang sopir akan menjemputnya itulah dia tenang.


Melihat restaurant steak dihadapannya dia teringat akan keira, dia begitu menyukai daging namun sayangnya dia tidak bisa membelinya sekarang ada hal yang harus dia selesaikan dulu.


Namun tiba-tiba seseorang menyentuh tanganya dan membalikkannya, dia terkejut apalagi pria itu memeluknya.


"Kau kemana saja ? aku mencarimu di apartemen?"

__ADS_1


suara yang dia kenali, sungguh hatinya bahagia mendengar suara pria yang sangat dia cintai itu.


"Mas Arkan." gumamnya.


Arkan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Renata, Dia tersenyum singkat dan memeluknya lagi.


"Kemana saja kau seharian ini ? aku menunggumu renata."


Renata ingat bahwa Arkan sudah menikah, dia lepaskan pelukan itu dan memundurkan sedikit tubuhnya.


"Aku tidak tinggal disana lagi. kenapa Mas Arkan kembali ?"


"Aku ingin menemuimu dan Anakku."


"Dia bukan Anakmu." jawab pelan renata.


"tapi bagiku dia putriku, kita sama-sama mengasuh dan memberinya kasih sayang."


Renata hampir menangis dibuatnya, ingin rasanya memeluk lagi dan mengatakan bawalah dia dan nikahi dia.


"Mengapa kau kembali ? Istrimu ... akan salah paham lagi padaku."


Arkan menggeleng "kami akan bercerai." jawabnya.


"Maksudnya ?"


"Dia berselingkuh dibelakangku, Renata ... dimana anakku ?" tanyanya lagi dan mendekat, dan kebetulan saat itu Sekretaris Helmi lewat dijalan raya dan menoleh kearah mereka.


keduanya berpegangan tangan terlihat romantis, dia menelpon bossnya itu langsung.


"Keira baik-baik saja, Arkan aku pulang dulu keira pasti menungguku."


Tanpa pamit lagi dia pergi memanggil taksi, kebetulan taksi lewat dan akhirnya dia pulang. Arkan hanya menerima Ketidakpastian dia ingin menemui keira, rasa sayangnya terhadap keira tak akan pernah putus.


***


untuk meredakan emosinya dia harua menguras keringatnya, Keira takut melihatnya yang agak marah padahal sore tadi mereka sangat dekat.


"keira sayang ? bagaimana apa sopir menjemputmu tadi ?" tanya Renata yang langsung memeluk keira.


"Mama papa disana, dia terlihat marah" tunjuk keira dilantai atas.


"papa ?" renata terkejut mendengarnya, siapa yang dimaksud keira.


"mama keira masuk dulu." Keira segera berlari membawa bonekakanya, renata kebingungan dan akhirnya dia menuju kearah yang ditunjuk oleh keira.


suara besi yang beradu dari sebuah Ruangan terdengar sangat kencang, dia berjalan perlahan diantara lelorongan yang gelap.


seketika langkahnya berhenti melihat senopati yang berolahara didalam sana, tubuhnya sedikit atletis mungkin dia hanya berlatih saat sedang i



senopati melihat bayangan perempuan yang masuk kedalam ruangan itu, yang dia yakini sebagai renata.


"Masuk! "


renata perlahan masuk kedalam lalu pintu itu tertutup dengan sendirinya.


Senopati berbalik tubuhnya berkeringat lalu meminum air di botol.


"Jam berapa ini ?" tanya Senopati.

__ADS_1


"sembilan lewat 20." jawab renata.


"Kau tidak tau suamimu dan anakmu kelaparan dirumah ? Apakah berpacaran lebih penting daripada rumah ini ?"


Renata memundurkan tubuhnya ketika senopati terus mendekatinya.


"A-aku lembur kau lah yang bilang memotong gajiku." jawabnya sok berani padahal dia takut melihat wajah senopati sekarang.


"Darimana hmm ? kau pulang pukul 7 saat lembur." tanya senopati yang berhasil mengunci tubuh renata, Dia semakin mendekatkan wajahnya dan bisa renata lihat jakun yang naik turun itu.


"Be-berjalan mencari taksi."


diliriknya tubuh Renata dan kembali menatap wajah renata, ingin rasanya memberikan pelajaran lebih pada renata yang sudah berani dipeluk pria lain itu tapi takutnya Renata akan semakin benci nantinya.


disentuhnya dagu itu dan ditatapnya bibir berwarna pink itu.


"ini rumahku, apapun yang kau lakukan dan yang ingin kau lakukan harus izinku dan jangan pernah melewati batasanmu dengan melanggar perintahku dan aturanku dirumah ini.


harus aku perjelas padamu, jangan keluar dari rumah tanpa izinku, pulang sebelum jam 8 kalau lembur dan pulang jam 5 jika tidak ada pekerjaan penting. Dan sepertinya kau juga harus tau apa yang dilakukan anakmu hari ini."


"Katakan apa yang dia lakukan ? kau melukainya ?" sorot mata renata berubah menjadi tajam, dia bahkan seperti menantang Senopati.


"untuk apa aku melukainya, sayang ! dia anakku juga bukan, dia menghabiskan uangku sebanyak 150 juta hari ini, itu termasuk dihutangmu."


Renata mengepalkan tangannya, dia mendorong tubuh Senopati dan ingin melihat keira. Senopati membiarkannya itu memang rencana.


mungkin keira akan kena omelan renata tapi dia yakin renata tak akan semarah yang diluar batas.


"Keira ! apa yang.... " perkataannya berhenti saat melihat begitu banyak mainan, pakaian, peralatan sekolah baru, sepatu, tas dan lain-lain.


"kembalikan ini bukan punyamu!" dia merebut semua yang dipegang keira.


"mama ini punya keira ma!" keira tidak mau melepaskannya.


"jangan menerima apapun dari pria itu, lepaskan nak ! kau tidak tau apa yang akan dia lakukan pada kita ! "


"tidak mau ! keira suka ini ! mama tidak pernah membelikan ini ! mama pelit ! " katanya yang membuat hati renata tergores mendengarnya, atas apa yang telah dia korbankan untuk keira malah dia mengatakan hal itu.


Renata menatap nanar keira yang mampu mengatakan itu. "baiklah bermainlah." jawab renata yang tidak ingin semakin memarahi Keira, karena dia pikir keira benar selama ini dia tidak bisa memenuhi keinginan keira.


***


Didepan halaman yang luas milik senopati dia duduk di ayunan itu, matanya menatap kosong kedepan. haruskah dia menyerah dan menerima saja permintaan kedua orang tuanya agar dia bisa membahagiakan keira.


dia yakin jika dia kembali maka kehidupannya tidak serumit ini, yang menjadi miliknya pasti kembali apapun itu bisa dia gapai dengan mudah.


"Hanya 650 juta, belum 1 Milyar mau pinjam lagi juga tidak apa "


Kini senopati tampak sudah mandi dan lebih segar, dia berdiri di tiang ayunan.


"sebenarnya saya tidak tau maksud bapak melakukan ini terhadap saya itu apa. saya pikir hidup saya baik-baik saja sebelum bertemu tapi setelah itu kehidupan saya tidak tertata, bagaimana mungkin saya terus punya masalah seperti ini."


"jangan menyalahkan takdir, kita bisa mencegahnya itu tergantung orangnya."


"Aku beri tawaran khusus padamu, ini untung untuk kita berdua."


"Sudahlah saya tidak ingin bertransaksi apapun lagi."


" Jadi istriku sepenuhnya, jalani kewajibanmu, mengandung anakku dan hidupmu akan aman."


Renata menggeleng "Saya tidak bisa, saya tidak mencintai orang seperti bapak" Jawab renata yang menusuk hati senopati.

__ADS_1


"Yang seperti apa kau cintai ? suami orang ?" ujar Senopati dengan raut meremehkan Nya.


__ADS_2