
...Surat Pernyataan...
Dibawah ini ada pihak 1 dan pihak 2 yang akan melakukan Perjanjian untuk pernikahan Kontrak yang akan dilaksanakan 5 Mei Menjelang.
adapun peraturan yang harus dipatuhi untuk pihak 1 dan pihak 2 yaitu.
1. Pihak 1 sebagai suami dan pihak 2 sebagai istri.
2. pihak 1 dan pihak 2 akan tetap terikat pernikahan sampai semua hutang lunas ( Dengan persetujuan pihak 1)
2. Dalam pernikahan tidak ada kesenjangan, melakukan hak dan kewajiban masing-masing.
3. Pihak 1 akan memberikan peraturan yang tidak memberatkan pihak 2 dalam hubungan pernikahan.
4. Pihak 2 harus menghormati dan tidak membuat pihak 1 marah.
5. Tidur dikamar yang sama
TTD TTD
pihak 1 Pihak 2
"Saya rasa ini sangat menguntungkan Bapak." Kata renata sehabis membaca surat kontrak itu.
"benar."
"Kita akan tinggal ditempat yang sama tapi tidak perlu dikamar yang sama, lalu pihak 1 dan 2 tidak akan pernah mencampuri urusan masing-masing." Itulah keingannya yang baru saja dia sebutkan.
'"ini pernikahan bukan mainan"
"hanya pernikahan kontrak bukan sungguhan." jawab Renata yang sangat menentangannya.
"okey "
Senopati tak ingin berbicara lagi, jika dia membuka mulutnya lagi Keduanya hanya akan bertengkar dan tak baik untuk Keira yang sedang sakit.
***
Dimeja makan rumahnya James dia menyendokkan nasi kedalam mulutnya, istrinya menjelaskan bahwa Renata tak mau dengan persyaratan yang telah diaberikan.
dia sedang memikirkan cara apa yang harus dia gunakan agar anaknya mau menurutinya.
"Lebih baik jangan memaksanya, kita tahu selama ini kehidupannya tidaklah baik tidak pernah sedikitpun kita membantunya, Maka jangan bebankan dia dengan persyaratan pernikahan itu.".
James menatap istrinya, dia tau Lidya sangat menyangi Renata hanya karena dengki hatinya terpaksa dia mengikutinya.
"Kita semakin tua, tidak ada anak yang lain untuk diharapkan kecuali Renata. Perusahaan harus ada yang meneruskannya, hidupku tidak tau sampai kapan diaharus mulai belajar dan dengan Mario dia pasti bisa dibimbing pernikahan ini sangat cocok untuk mereka berdua."
"Boleh aku mengatakan sesuatu ? tapi mungkin agak menyinggungmu." ujar Lidya
James sedikit penasaran lalu dia mengangukkan kepalanya.
"Jangan ulangi kesalahan yang sama, jangan samakan Renata dengan Renita. "
James menjatuhkan sendok dan garpunya. Matanya tak bisa bohong jika dia pun mengingat putri sulungnya itu.
Lidya mulai menangis mengingat nasib anak sulung itu.
"Aku tidak kehilangan satu putri lagi suamiku." lirihnya.
"Maafkanlah Renata dan bawa dia kembali kerumah nya sendiri, juga terimalah Anak Renita." ujarnya lagi yang sangat ingin berkumpul dengan putri dan cucunya.
"anak itu bukan cucuku."
"Sampai kapan kau akan mengelaknya ? putrimu kesayanganmu sudah tiada,hanya anaknya yang tersisa sekarang." isaknya menangis tak tertahan.
"Sampai Renata menyetujui permintaanku, maka aku akan menerimanya." jawab James.
Lidya terperanjat, dia sangat terkejut bukan main selama ini tidak ada yang bisa menghancurkan hati sekeras batu ini.
__ADS_1
"Kau berkata serius ?"
"Benar. berusahalah membujuk Renata." jawab James yang meninggalkan Meja makan itu. Lidya senang mendengarnya, dengan begini dia akan dekat dengan renata dan cucunya.
***
Keira pagi ini sudah sadar dari tidurnya, dokter sedang memeriksa keadannya dan beruntungnya semuanya baik-baik saja.
"Terima kasih dokter" ucapnya.
"Sama-sama, berikan saja bubur nya tapi jangan makan yang berat-berat dulu." jawab dokter.
"baik dokter."
Dokter dan perawat itu langsung pergi, Renata mendekati keira dan tersenyum kepadanya.
"Apakah kepalanya masih sakit sayang ?" tanyanya lembut.
"Masih." jawab keira pelan.
"Maafkan mama sayang, mama tidak bisa menjagamu. ini salah mama." ucapnya yang mengelus-ngelus rambut keira pelan.
"Mama keira pikir keira tidak akan bisa bertemu mama lagi, keira takut mama sendirian nanti. keira nakal ya maaf mama. " mukanya penuh penyesalan , walaupun masih terbilang belum remaja tapi dia punya rasa bersalah tinggi.
"Jangan bicara begitu, mama tidak mau kehilangan keira ... sayang ... mama mau mengatakan sesuatu."
"Apa itu ?"
"Jika kita pindah apa keira mau ? kita akan cari rumah baru dan tinggal berdua saja maukan ?"
Apa yang sebenarnya dia pikirkan itu, jika saja Senopati mengetahui maksud terselubungnya itu maka dia tidak akan bisa hidup dengan tenang untuk selamanya.
"Kita mau kemana ma ?"
"Kemana saja,itu tempat yang indah. tapi setelah keira sembuh. cepat sembuh ya."
keira mengangukkan kepalanya, Renata tersenyum.
Dia baru ingat jika Kakaknya renita mempunyai tabungan Untuk masa depan Keira, walau uang itu tidak cukup tapi setidaknya dia bisa membayar setengah uang Senopati dan yang lainnya dia bisa membayar nya mencicil.
dia tidak mau menikah dengan senopati, dia membencinya. karena senopati selalu menyusahkannya setiap saat.
***
Sore harinya Senopati mengunjungi rumah sakit bersama Sekretaris Helmi, dia membawa buah-buahan dan banyak mainan untuk keira.
Ceklek
Keira menoleh kearah pintu, Senopati mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangannya.
"Halo anak kecil, dimana ibumu ?" tanya sektretaris helmi.
"mama. Mama pulang sebentar mengambil baju keira."
Helmi mengangukkan kepalanya "Lihat ini untuk Keira dari Calon papanya keira." tunjuknya kepada mainan-mainan yang dia bawa.
senopati hanya diam memasukkan tangannya ke saku celananya.
"ini calon papa keira " jelas pada keira.
"Papa ? Mama tidak pernah bilang, mama hanya bilang kalau mama akan membawa keira pergi."
" Pergi ?" saut senopati.
"Pergi kemana anak cantik ?" tanya Helmi.
"katanya mama mau pindah kemana saja asal sama keira." jelas keira dengan Polosnya.
sekretaris helmi menoleh kearah bossnya, Mata Senopati tak bisa bohong dia mengeram marah mendengar Renata akan menghianati perjanjiannya.
__ADS_1
"Pak saya ..."
"Pulanglah " usir Senopati.
"Baik pak."
Senopati ingin sekali menikah Renata saat ini juga, Keira takut melihat senopati karena matanya memerah.
"Pa-man ? mama bilang tidak boleh ada yang masuk kesini." ujar keira hati-hati.
"Aku calon suami mama kamu, jangan takut aku tidak marah padamu."
"jadi paman mau menikahi mama ?"
"ten.."
"sayang ? sayang jangan bicara ayo tidur kau belum tidur siang jika terus bicara maka akan lama sembuh."
Tatapan Senopati sangat tajam dan menusuk dimata renata, renata pun agak takut melihatnya dia menutupi tubuh Senopati agar tak terlihat Keira.
"mama mau menikah ? dia papaku ? ma kenapa kita pergi ? kan sekarang ada papa."
"hust tidurlah, nanti mama marah."
"Aku tunggu di bawah " ujar Senopati yang tak ingin lama-lama disini, atau dia akan semakin emosi.
"mama itu papa keira ?" tanya keira.
"sayang tidur." ujar Renata.
keira melenguh kecil dia pun menutup matanya. Renata tak ingin bicara begini tapi jika dijawab keira akan semakin menanyainya.
***
"Penipu kamu ! "
Renata menangis karena dimarahi senopati habis-habisan, mulut senopati sangat tajam saat msngatainya membuat renata sakit hati.
"Pergi sana kemanapun aku akan cari! tapi kau harus tau, hidupmu tidak akan tenang untuk selamanya." ancam senopati.
"mengapa bapak melakukan ini padaku ? apa salahku ? saya sudah mengirimkan kembali uang itu hanya tersisa 100 juta saya akan mengembalikannya."
"Kapan aku menerima kembalian uangmu ? utangmu tetap lima ratus juta, kau pengecut! penakut! dan penipu ulung ! ingkar janji ! mana yang katanya mau membayar dengan tubuhmu ? baru dicium dan disentuh saja takut."
renata mengernyitkan dahinya dia sudah mengirimkan tiga ratus juta yang tidak dia pakai.
"saya .... tidak mungkin, saya sudah mentransfernya."
Senopati tersenyum devil "Mangkanya jadi perempuan jangan sombong, secepat ini tuhan membalasnya nya. aku tidak tau menau uangku kau pinjam lima ratus juta."
"Tapi saya sudah mengembalikannya direkening yang bapak kirim itu."
"heh mangkanya ngomong dulu, Kartu itu hilang tidak tau kemana saat saya disurabaya. uangnya juga sudah kosong."
"Tidak bisa ! saya sudah bayar ! saya tidak mau membayarnya lagi ! "
"Kau lupa perjanjian yang tidak kita bahas selain kontrak pernikahan ?"
"kau harus membayarnya langsung kepadaku, tanpa perantara atau transfer jika tidak padaku maka aku tidak akan menerimanya sebagai pembayaran."
renata mengingatnya, senopati tersenyum puas. dia memajukan tubuhnya dengan mudahnya dia membalikkan renata dan dipojokkanya ke dinding.
"Anggap saja kau sudah menjual dirimu padaku, maka ... kau harus menurut padaku. Tetaplah diam di Apartemen sebelum pernikahan, karena jika tidak ... mungkin, aku akan memperkosamu."
"Penjahat ! "
"Sayangnya aku tidak peduli."
__ADS_1
"sampai kapanpun kau tidak akan pernah merasakan tubuhku! camkan itu ! " telak Renata yang sekarang sudah semakin berani mengancam Senopati.
"Oh ya ? aku tidak yakin, bagaimana nanti kita coba dulu ? permainanku lembut dan kasar kau pasti akan mendesah hebat dibawahku, menyebut namaku dan memohon untuk memasuki dirimu." ujar senopati yang bicara sensual ditelinga Renata.