
"Itu benar renata. sudah tau suami orang tapi kau masih mencintainya." sambung senopati lagi.
"Aku mencintainya sejak 7 tahun yang lalu." ungkap renata yang membuat senopati tak habis pikir dengannya.
"Dan sampai sekarang kau masih mencintainya ?" tanya senopati yang menahan rasa sakit hati dan marahnya itu.
"Iya."
Senopati memutarkan tubuhnya membelakangi renata, rasanya benar-benar sakit sekali. bahkan air matanya pun hampir keluar.
"Aku bisa mencintainya saat dia memilih menikahi wanita itu maka sekarang aku harus menunggunya sedikit lagi, setelah dia bercerai dan hutangku lunas padamu. maka aku pikir aku bisa bersama dengannya."
"Hutangmu padaku tidak akan pernah lunas renata ! "bentak Senopati yang melotot marah sekarang.
"Kau sengaja menghasut Anakku agar kau bisa menahanku pak senopati ! " jawab Renata yang tak kalah tegasnya.
"ya itu benar ! aku melakukannya hanya untuk menahannmu ! Aku mencintaimu renata lihat aku dan pandang aku ! "
renata tersenyum smirk, dan tangannya bersedekap.
"aku tidak akan pernah mencintaimu, karena dalam hidupku aku tidak akan pernah memandang pria seegois, pemarah dan hanya bermain licik sepertimu "
seno mengepalkan kedua tangannya jika saja renata bukan wanita dia bisa memulnya. perkataan renata benar-benar menggores hatinya. bahkan setelah melukainya dia pergi melenggang masuk kedalam rumah.
namun Renata tak suka mengatakan hal itu, hatinya juga terluka. bagaimana pun dia berterima kasih kepada senopati yang telah membantunya hingga saat ini keira masih bersamanya.
keira mungkin masih marah padanya, dia ingin sekali tidur memeluk keira tapi keira pasti tidak mau dan dia hanya bisa mengintip keira dari balik pintu.
Tiada perkataan yang halus sehari saja dalam kehidupan pernikahan mereka, lebih tepatnya pernikahan kontrak. renata dan senopati sama-sama lelah jika terus bertengkar begini.
***
Pagi harinya
dimeja makan mereka makan bersama, Renata mengupaskan apel untuk keira tapi keira menolak dan menaruhnya lagi di piring.
Renata menundukkan kepalanya, senopati yang melihat itu dia kasihan pada renata, tapi dia tidak ingin bicara dulu.
"Papa keira diantar sopir kan ?" tanya keira kepada senopati.
"iya" jawab seno.
"Sejak kapan kau memanggilnya, papa ?" tanya renata.
Keira diam tak menjawabnya, dia langsung turun dari meja makan dan keluar seorang diri. Renata ingin menyusulnya tapi tangannya di cegah Senopati.
"lepaskan aku."
Senopati mengabulkannya, dia mengejar keira tapi sayangya keira sudah pergi.
drtt...drrtt
"halo " dia mengangkat telponnya yang bergetar tanpa melihat nama.
📱 Dimana kamu ? aku mario
"Kau tidak perlu tau"
📱 Jangan dimatikan ! " sergah Mario dari balik telpon itu dan renata menurutinya.
"Mari bertemu di cafe Tian nanti sore jam 6 aku tunggu."
Tut..tut tut..
***
Renata lesu masuk kekantor, bisa dilihat dari raut wajahnya. lembaran kertas dimejanya hanya dia bolak-balik saja.
keira sangat susah dibujuk jika sudah merajuk. Harus dengan cara apa dia meluluhkannya.
drtt...drtttt
__ADS_1
📱 Pak Senopati
dengan malas dia mengangkat telpon itu
📱"Datanglah ke taman Pelangi sekarang."
" Untuk apa ?" tanya balik renata
📱" 20 menit harus sampai."
tut..tut..tut
mau tidak mau renata menurutinya, sebenarnya dia malas untuk keluar namun jika senopati yang menyuruh dia harus datang.
***
Taman Pelangi Anak-anak
baru saja dia datang dia disuguhkan dengan pemandangan yang sangat langkah. Keira digendongnya oleh senopati dan dinaikkannnya ke atas perosotan hingga Tubuh keira terperosot ke bawah.
berulang kali dia melakukan itu hingga persis seperti papa dan anak, Renata tersenyum melihat keakraban mereka.
baru kali ini dia melihat Senopati sedekat ini dengan anak kecil dan Keira sesenang ini.
"papa lagi pa ! "
"lagi ? ayo naik ! " Keira naik ke leger Senopati disunggingkannya, mereka sangat lucu sekali Renata hampir tertawa membuatnya.
"Pak senopati." panggil Renata yang membuat aktvitas keduanya berhenti.
"Turun dulu." ujar Senopati.
keira turun dan menghampiri renata "mama maafin keira ya, keira pasti membuat hati mama sakit keira minta maaf. " dia memeluk renata seperti senopati yang membuat keira begini, karena sebelumnya keira tidak akan meminta maaf padanya begini.
"Iya sayang mama tidak apa, apa yang kau lakukan hari ini ? kau sudah merepotkan paman.".
keira menggeleng "dia papaku ma bukan paman lagi, mama aku boleh kan memanggilnya papa." izinnya yang berharap penuh.
"Tanyakan padanya." jawab renata yang bermaksud membolehkan keira tapi seizin senopati.
"Hore!! keira punya papa sekarang ! " teriaknya dengan senang, membuat Renata tersenyum kecil dia menatap wajah Senopati seolah ingin mengatakan terima kasih kepadanya.
*Walau begitu banyak alasan aku membencimu, tapi di satu titik aku benar-benar berterima kasih padamu. ~Renata
Bencilah aku sesuka hatimu, tapi aku selalu punya alasan untuk tetap mencintaimu ~ Senopati*.
***
Malam hari nya Mario menunggu kedatangan renata, namun setelah 2 jam dia menunggunya tak ada tanda-tanda renata akan datang.
dalam hidupnya tak pernah dia sekalipun menunggu seseorang, tapi renata berhasil menguji kesabarannya itu.
tingkah renata ini dia anggap sebagai perlawanan renata dan tidak bisa menerima ini.
***
Di dalam kamar renata tampak memasukkan baju-baju senopati kedalam lemari yang sudah rapi. mulai malam ini sepertinya kedua orang itu mencoba untuk menahan emosi dan berkata baik.
1 bulan sudah sudah pernikahan kontrak itu dan selama itu tidak ada perkembangan lain selain hanya bicara seperlunya.
"Mengapa Seprei nya diganti ? bukankah dua hari lalu baru diganti ? kau melelahkan dirimu sendiri." ujar Senopati yang baru keluar dari kamar mandi.
"ada noda sedikit." jawab renata.
"Noda apa ? tidak ada yang makan diatas ranjang."
"Nodaku." jawab brisia dan menutup lemari baju senopati.
"Nodamu ? kau mengeluarkan apa ?"
"Aku .. aku Sedang mens." Jawab renata malu , senopati baru ingat bahwa ada perempuan dan mengalami itu tidak seperti dirinya.
__ADS_1
"Bisa bawakan makanan ku kesini ? aku masih banyak pekerjaan untuk kutinggalkan."
"Iya."
Senopati duduk di sofa dan membuka laptop miliknya, dia ingat ini tanggal 1 gajian kantor sudah beberapa hari yang lalu tapi dia belum memberikan uang untuk renata.
dia tidak tau nomor rekening renata, tunggu saja pikirnya
ceklek
"Keira sudah tidur ?" tanya senopati yang tau pasti istrinya yang membuka pintu.
"iya " jawabnya sambil menaruh makanan yang ada di nampan.
"Bisa lihat nomor rekeningmu ?" tanya senopati.
Renata membuka tas yang ada di meja rias dan memberikan buku tabungannya.
"untuk apa pak ?"
drtt...drttt
💬 Ada Dana Masuk sebesar Rp. 20.000.000 dari No. Rek 09******
"Ini apa ?" tanya renata.
"untukmu, Uang bulanan dariku. itu simpan untuk jajan keira dan kau sendiri. yang lain biar aku dan kalau kurang minta padaku."
"Tidak usah ini bukan pernikahan sungguhan, kau tidak harus melakukan ini." tolak renata yang merasa tidak enak menerima uang yang tidak seharusnya itu.
"Aku masih sadar posisi dan kewajibanku, walau menurut mu kontrak tapi bagiku menikah adalah menikah harus bertanggung jawab. tidurlah besok kau harus keluar kota bersamaku."
Memang besok renata akan menemani Senopati ke Yogyakarta untuk mengecek perusahaan yang akan dibeli senopati tentang kondisi keuanganya dia harus memahami itu
"Hmm."
***
didalam pesawat keduanya duduk bersama, Sekretaris Helmi duduk dibelakang mereka. Renata sibuk menatap hamparan awan-awan dia suka memandangi awan.
"Renata " panggil senopati.
Renata berbalik hingga wajah mereka bertemu dan bibir mereka hampir bersatu. untuk sesaat keduanya tetap dalam posisi yang sama.
"Ada .. apa pak ?" tanya nya.
"Hmm itu ..."
mengapa keduanya jadi salah tingkah begini pikir sekretaris Helmi, hanya dia yang jomblo disini
"Eh itu perusahaan ... perusahaan yang akan ku beli tergantung pada pandanganmu, jika menurutmu bagus maka aku akan membeli nya tapi jika tidak aku akan membatalkannya."
Renata mengangguk mengerti "baiklah." jawabnya.
Senopati mengangkat tanganya dan diletakkannya diatas tangan Renata, membuat renata terkejut. tapi senopati tak menggubrisnya dia terus melakukan hal itu.
sesampainya di kota jogyakarta keduanya mendatangi perusahaan itu. Renata berhadapan dengan senopati setelah melakukan pengecakan laporan keuangan.
"Bagaimana?" tanya senopati.
"Bapak bisa membelinya, setiap tahun ada peningkatan walau tidak terlalu signifikan akan tetapi dengan harga 50 Milyar itu terlalu mahal untuk Perusahaan yang tidak terlalu besar. " Jelasnya.
"Kalau 45 ?"
" itu terlalu merendahkannya 47 adalah angka yang tepat." jawab Renata.
"Baiklah, Helmi urus pembeliannya " perintah senopati.
"Baik pak ! " helmi langsung pergi untuk mengurus beberapa berkas jual beli.
__ADS_1
kini hanya tinggal mereka berdua saja, kebetulan ini sudah jam 2 tapi mereka belum makan sama sekali. pukul 5 mereka harus ke bandara untuk kembali pulang.
"Kita makan dulu, wajahmu agat pucat." ajak senopati.