Kebahagiaan Kita

Kebahagiaan Kita
Eps 6 : Malu


__ADS_3

Bagaimana bisa Renata kembali mengingat itu sekarang, sebesar apapun usahanya untuk melupakan Arkan dia tak akan pernah bisa.


sebenarnya apa yang diperbuat Arkan hingga dia sulit melupakanya. Bukan salah dia jika dirinya mencintai Arkan.


Atas segala kebaikan dan pertolongan Arkan dia selalu berdiri bersama Arkan, dia pikir Arkan juga mencintainya akan tetapi itu hanya fiktif belaka.


karena merasa sesak dia memilih untuk keluar apartemen, dibawah apartemen ada taman yang sangat bagus disana selalu sepi tidak ada yang akan mengunjungi taman ini karena semua pemilik apartemen sibuk bekerja sampai lupa ada tempat untuk merefresh diri.


"Mengapa kau duduk sendirian disini, Renata ?"


dia menoleh kearah sebelahnya, seorang pria memakai topi dan masker duduk dijarak 1 meter.


"Dan kenapa kau datang ?"


pria itu membuka Masker dan Topinya, dia menatap renata dengan sendu.


"Putriku sudah tidur ?"


Renata mengangukkan kepalanya, dia ingin menangis sekarang, lalu benar saja air mata nya menetes ke pipinya.


"kau tidak menjawab telponku, aku khawatir kau baik-baik saja ?"


"Bagamana bisa, aku baik-baik saja tanpamu, Arkan." jawabnya sendu dan penuh penghayatan.


Arkan mendekatkan dirinya namun masih ada jarak diantara keduanya.


"Maafkan aku, aku sudah mengabaikan dirimu."


"kau tidak salah itu pilihanmu."


"Apa aku boleh bertanya ?"


Arkan mengangukkan kepalanya, dia menatap wajah sendu Renata itu.


"Mengapa kau sangat peduli padaku jika kau tidak pernah mencintaiku ?"


"Karena aku menyayangimu." jawabnya langsung


"Rasa sayangmu padaku membuatku salah paham. seharusnya kau tidak pernah menolongku waktu itu, agar aku tau diri."


"Bagaimana bisa aku membiarkanmu mengurus Keira sendirian, sedangkan aku temanmu bisa menolongmu."


Arkan bukanlah orang tua kandung keira, dia hanya teman diwatu sma bahkan sampai kuliah dialah yang menolong Renata sampai dia terjebak dihubungan yang tidak pernah terikat itu.


"Pergilah Arkan, istrimu akan mencarimu."


"Kau yakin kau baik-baik saja ?"


"Selama masih ada Keira aku masih bisa bertahan untuk hidup."


"Aku pamit."


Renata melepaskan kepergian Arkan lagi, Arkan tidak tinggal dijakarta selama yang dia tahu. karena setelah pernikahan Renata tak pernah berhubungan lagi dengannya.


"hiks hiks hiks kenapa ! kenapa aku tidak bisa mendapatkan cinta nya, apa aku memang tidak pantas untuk dia cintai."


"kenapa sakit sekali hiks hiks"


***


Tok


Tok


Tok


Renata membuka ruangan Senopati yang ternyata tidak ada orang sama sekali, dia pun menaruh Map nya di Meja Kerja senopati, setelah itu dia lanjut keluar tapi baru saja ingin membuka pintu dia dikejutkan dengan kedatangan Seno.


"apa yang kau lakukan diruanganku ?"


"Laporan keuangan bulan Maret pak."

__ADS_1


"hmm." Seno mengangukkan kepalanya, Renata segera permisi dari hadapan seno tapi senopati tak membiarkannya pergi begitu saja ketika keira akan meninggalkannya.


"Jaga Anakmu dengan baik."


Renata mengernyitkan Dahinya "Maksud bapak aku tidak menjaganya dengan baik ?"


Seno menghiraukanya dia memilih masuk kedalam Kantornya, tapi Renata sangat penasaran tentang yang dikatakan Seno.


"Katakan pak" pintanya


"Sepertinya kau memang tidak tau masalah anakmu sendiri, kau sibuk pekerjaanmu ? atau dengan kekasihmu ?"


Senopati berbicara seolah dia memergoki Renata dengan pria lain saja.


"Asal bapak tau saya selalu menjaga anak saya dengan baik ! saya tau apa yang dia inginkan dan apa yang tidak dia inginkan." tegasnya.


Senopati menyungginkan senyumannya "kau yakin sudah menjadi ibu yang baik ? apa kau tau anakmu terluka karena teman-teman nya ?"


"apa ?"


"Sudah kuduga, kau memang tidak tahu."


drtt...drrtt...drrrt


dia sedih mendengar semua yang dikatakan Seno itu, tanpa melihat siapa yang menelpon dia mengangkat ponselnya.


"Apa ? apa dia baik-baik saja ?"


dia terlihat khawatir sekarang, Senopati pun nampak penasaran siapa yang menelpon nya hingga membuatnya hampir menangis begini.


Tanpa berpikir panjang Renata mematikan ponsel dan segera pergi tanpa berpamitan, senopati langsung mengejarnya.


***


Sesampainya di sekolah Keira dia berlarian mencari ruang wali kelas Keira, dia menemukannya lalu melihat Keira yang diam saja disana.


"Sayang "Panggilnya.


Wali kelas nya langsung memberikan tas milik keira "Sebaiknya keira dibawa pulang saja dulu bu. teman-temannya sangat shock sekarang."


"Terima kasih bu, Maafkan saya."


"Tidak apa bu ini sudah biasa untuk anak-anak."


Renata membawa Keira keluar, keira tak banyak bicara dia terus menunduk semua teman-temannya melihatnya dari kaca jendela. Renata pun tidak mengerti kenapa Keira bisa nakal begini.


"Keira "


"Mama mau marahin keira kan, marah saja keira memang nakal! "


Renata tersentak mendengarnya untuk pertama kalinya keira berteriak kepadanya.


"Sayang tunggu ! " Dia mengejar Keira yang berlarian lalu menangis sambil berlarian itu.


"Hiks hiks hiks "


Keira terjatuh dan Renata langsung menangkapnya.


"Sayang Kau baik-baik saja ? apa berdarah ?"


"Hiks hiks hiks " Keira menangis sejadi-jadinya dia bahkan tak memperdulikan lebam di dengkulnya.


"ada apa sayang ? katakan ? mama tidak akan marah."


Senopati datang dan segera turun, dia memperhatikan Keira yang menangis di tanah dan Renata yang berusaha menenangkannya.


"hiks hiks hiks mama hiks hiks."


"jangan menangis sayang atau mama akan menangis juga." lirihnya.


"Keira malu ma hiks hiks."

__ADS_1


"Malu kenapa sayang ? keira mau sepatu baru ? tas baru ? atau buku baru ? mama belikan ya kita beli ya sekarang."


keira menggelengkan kepalanya "Keira malu tidak punya papa hiks hiks semua teman-teman keira jahat mereka bilang keira tidak punya papa, karena itulah keira tidak punya teman hiks hiks hiks."


"Keira memukul anak itu dia mengatakan Papa pergi dengan istri barunya mama hiks hiks keira malu "


Renata hanya bisa diam mendengarnya, selama ini dia tak pernah berpikir bahwa keira memendam semua hinaan itu, hati siapa yang tidak sakit mendengarnya.


" Orang-orang punya papa tapi keira tidak punya, keira malu hiks hiks."


"Maafkan mama sayang." lirihnya yang tak kuasa menahan tangis


tidak ada kata lain selain kata itu yang bisa dia ucapkan saat ini, dia hanya memeluk keira agar keira merasa sedikit tenang.


Senopun bisa merasakan kesedihan Keira, dia hanya anak kecil yang tak berdosa kesahalan apa yang dia buat hingga menjadikannya begitu sedih saat ini.


"Keira ingin bertemu papa dimana papa ?"


"Maaf sayang kita tidak bisa menemui papa sekarang."


"Keira mau pindah sekolah ? mama carikan sekolah lain ya, Nanti keira punya banyak teman disana bagaimana? mama janji." dia menghapus kan air matanya sendiri bukankah dia bilang bahwa dia kuat karena keira jadi dia harus menguatkan dirinya sendiri.


"Keira tidak mau sekolah lagi, keira mau dirumah dengan mama. mama jangan bekerja temani keira saja."


Renata langsung menggeleng "tidak sayang, mama harus bekerja. bagaimana kita bisa tinggal disana jika mama tidak bekerja, dan bagaimana mama membelika mainan baru untuk keira."


"Kau mau berhenti sekolah ? "


Suara Senopati yang mulai mendekat hingga keduanya menatap senopati.


"Obati dulu dengkulnya." Ujar Senopati menatap Renata.


Dan Akhirnya senopati membawa Renata dan keira ke dalam mobilnya lalu mencari Apotik untuk membeli obat.


sedangkan ibu dan anak itu duduk di halaman depan Apotik itu. keduanya masih diam tak ada yang saling bicara.


"Ini obati luka anakmu."


Senopati membawa bungkusan obat-obatan dan dengan cepat Renata membersihkan luka Keira.


"Tahan ya, mama akan memberikannya obat. "


Huuu


huuuu


huuu


Sambil membersihkan lukanya sambil renata meniupnya agar tidak terlalu sakit, keira mendesis pelan karena kesakitan.


"Maaf sayang sebentar lagi." setelah mengolesinya dengan betadine dia pun memberikannya plaster.


"selesai, anak pintar "


diamencium puncak rambut keira, lalu dia menatap senopati yang dari tadi memperhatikannya.


"Terima kasih pak, saya akan membayarnya katakan berapa ?"


"kau suka berhutang ya, antarkan dulu pulang anakmu biarkan dia beristirahat."


"saya akan pulang pak, izinkan saya untuk libur beberapa hari nanti saya akan mengirimkan surat nya."


"Ayo cepat, kau bisa jalan ?" tanya Senopati kepada keira.


"Bisa paman."


"Jangan." senopati melarangnya dia pun menggendong Keira, membuat Renata terkejut bukan main bosnya malah mau menggendong anaknya.


"kau mau tetap disana atau aku antar pulang ?"


"i-ya."

__ADS_1


__ADS_2