
ceklek
Renata masuk kedalam kamar milik Senopati yang ternyata sangat luas, ranjangnya saja bisa ditiduri 5 orang. Senopati memindahkan laptopnya sepertinya dia baru mengerjaka pekerjaannya.
"Apakah keira sudah tidur ?" tanyanya.
renata mengangguk
"Tidurlah diranjang duluan, aku masih ada pekerjaan. aku ingin ada jarak aku membeli ranjang king size."
"Hmm"
Renata sungguh cuek saat menjawabnya dia hanya berdehem lantas segera menaiki ranjang. Senopati pura-pura membuka laptop karena tidak ingin membuat renata sungkan.
lama kelamaan dia tidur dengan nyenyak, karena kasur ini begitu lembut dan empuk hingga membuatnya nyaman.
Senopati pun naik keatas ranjang perlahan-lahan dia mendekati Renata yang memunggunginya. wajah cantiknya ketika tertidur membuatnya sangat natural.
kecantikan khas eropa dan asia menjadi satu, keturunan blesteran memang tidak pernah gagal.
***
keesokan paginya
Renata bangun sangat pagi sekali, dia bergelut di dapur menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah dia tidak mau merasa ini miliknya anggap saja dia bekerja dan menghasilkan uang dari statusnya.
"Mama " panggil keira yang baru bangun tidur.
"Selamat pagi sayang, tidurmu nyenyak ?" tanya renata.
"Hmm mama kasurnya enak sekali. nanti kita beli ya ! "
Renata mengangukkan kepalanya, melihat renata memasak daging dia mendekati.
"mama ini untuk keira ya ? mama keira suka sekali dengan daging terima kasih ma." dia bersemangat sekali saat mengatakannya, membuat renata sedih.
Keira begitu menyukai daging tapi dia hanya akan membelinya jika gajinya bersisa saja.
"Sayang ini bukan untuk kita, ayo kita mandi dan bersiap nanti mama antar kesekolah. kita beli makanan ya diluar."
"Tapi ma ... "
"Ayo sayang." Renata sedikit memaksanya, dia tidak mengizinkan keira menyentuh apapun yang ada dirumah ini.
Saat senopati turun dia dihadapkan dengan hidangan yang begitu banyak dan seperti sangat enak. biasanya hanya akan ada roti isi saja tapi kali ini berbeda.
namun saat melirik kesekitar dia tidak mendapati siapapun. lantas dia duduk dan menunggu renata juga keira.
"Bukunya sudah mama siapkan didalam, nanti bilang pada guru kalau mama akan menemuinya nanti siang ya. "
"iya ma, mama keira laper mau daging itu tadi."
"Sayang tidak boleh itu untuk paman itu, ayo berangkat sekolah."
Senopati menghadang keduanya, membuat renata terkejut. Dia bersedekap tangan lalu menatap tajam renata.
"Mengapa memasak sedikit ? kau pikir dirumah ini hanya ada aku ? anakmu harus makan, Keira kau mau daging ?" tanya Senopati.
"Iya paman." dia mengangguk cepat.
"ayo "
"Maaf pak, saya membuatnya untuk bapak bukan untuk keira. saya akan membelikannya diluar, keira jangan membantah ayo nak."
"Duduk! kau pikir kau pelayan dirumah ini ! Lain kali masak juga untukmu dan keira bukan untukku saja! " tegas Senopati yang marah itu dia merasa seperti memperbudak Renata dirumah ini.
"Paman jangan marahi mama " sautnya dengan lirih dan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Bagaimana aku tidak marah karena mamamu keras kepala, duduk keira " Diajak nya keira duduk di bangku dia memasukkan sup daging ke mangkuk kecil dan memberikan makan keira.
"Makan dan bilang pada mamamu makanlah juga." perintah senopati
"Mama kata paman harus makan, keira tidak mau selolah kalau mama tidak makan." ucapnya sambil merajuk.
"Baik-baik mama akan makan."
Akhirnya renata mau mencicip makanan buatannya itu. lalu barulah senopati duduk dan memakan masakan renata untuk pertama kalinya.
baru sekali mencoba kunyahannya terhenti, Renata tak sengaja melihatnya dia yakin senopati pasti tidak suka masakannya.
"jika tidak sesuai seleramu, makan saja diluar lain kali aku tidak akan masak untukmu."
Dilanjutkannya kunyahan itu bukan tidak enak tapi baginya ini sangat enak "Bagaimana mungkin masakannya sama persis seperti ibu." Batin senopati.
"Masaklah setiap hari untukku, dan lain kali bawakan aku bekal juga. "
"Baik."
Renata melanjutkan makanannya, Mengapa senopati baru menemukan Renata sekarang jika saja dulu dia mengejarnya maka dia akan memiliki renata semenjak lama.
sebuah penyesalan yang sangat tidak pernah dia duga.
"Keira sayang ayo kita pergi nanti telat sekolahnya." Ajak renata.
"Iya ma."
Dia bangkit dari tempat duduk setelah itu Keira mendekati senopati.
"ada apa ?" tanya senopati yang kebingungan.
Keira hanya tersenyum lalu mengambil tangan kanan Senopati dan menciumnya "kata mama harus mencium tangan orang tua sebelum pergi kemanapun."
"Baiklah pergilah hati-hati. jaga mama mu."
"iya paman!" jawabnya bersemangat.
hari ini keira disekolahkan ditempat yang baru kali ini sekolahnya lebih sederhana, renata bukannya tak mau menyekolahkannya ditempat yang bagus selain menghemat uang biasanya Orang-orang yang sederhana lebih bisa menghargai orang lain.
Sekolah Dasar Padmajaya
Keduanya berdiri didepan pagar, sebelum keira masuk kedalam Renata mengajaknya bicara dulu.
"Keira sayang dengarkan mama ya, jika ada yang bicara yang tidak pernah kau sukai maka tutup saja telingamu. kita tidak bisa menutup mulut mereka tapi kita bisa menutup telinga kita."
"iya mama."
diusapnya kepala keira lalu diciumnya kening keira "belajar yang rajin ya, mama kerja dulu."
"iya ma."
"Dah sayang ! "
"dah mama ! "
Renata senang akhirnya keira mau sekolah dan dia akhirnya bisa kembali bekerja. kini tugas dia hanya mencari uang sebanyak-banyak nya agar dia bisa mengumpulkan uang 500 juta itu.
***
disebuah rumah sakit khusus VVIP itu james sashenka tampak sedang dirawat dengan segala peralatan rumah sakit yang ada ditubuhnya.
tubuh segar bugarnya berubah menjadi lemah. Dia sangat menanti putrinya dan berharap Renata akan kembali dengan segala harapannya untuk renata.
Semenjak semalam Lidya berusaha menghubungi renata tapi tidak bisa ponselnya tidak aktif bahkan keapartemen pun tidak ada orang.
kemana lagi dia harus mencarinya, saat ini suaminya hanya butuh anaknya seorang.
__ADS_1
"Renata "
"Renata ... "
james memanggil lirih nama renata anak kesayangannya, Lidya ingin menangis rasanya tidak ada siapapun di sampingnya yang menguatkannya untuk semua kejadian ini.
"Ada aku disini sayang." saut Lidya yang menggenggam tangan terinfus itu.
James membuka matanya menatap langit-langit kamar. lalu menoleh kesebelah kiri mendapati Lidya yang menahan tangis.
"Anakku ... Lidya aku ingin bertemu Renata." lirihnya memohon.
"Iya aku akan memanggil renata." jawabnya.
"Renata ..." Lirih James.
Ceklek
pintu rumah sakit terbuka menunjukkan seorang pria gagah membawa parsel Buah-buahan.
"Paman bagaimana kondisimu ?"
"Mario ... Temui renata." lirihnya lagi yang kini menatap mario.
"Aku akan menemuinya, dan berjanji akan menikahinya apapun yang terjadi." ucapnya penuh keyakinan.
"Terima kasih." ucap James.
Renata kau akan ada digenggamanku !
sorot matanya terlihat sangat tajam seperti kemarahan dan cinta menjadi satu.
***
seteleh selesai rapat bersama semua orang keluar dari ruangan rapat hanya ada senopati, Helmi dan Renata disana.
Renata masih sibuk menyusun berkasnya. setelah dikode senopati pergi helmi pun pergi.
"malam ini buatkan aku ikan bakar gurame " ucap senopati yang membuka suaranya.
"Hmm"
Senopati tidak suka mendengar deheman wanita itu, dia menjatuhkan pena ditangannya.
"Ayo malam pertama." ucap senopati dengan to the point. membuat renata agak tersentak tapi bersikap biasa.
"Disini ?" tanya renata.
senopati menyunggingkan senyumannya, dia bangkit dan memasukkan tanganya kedalam saku celana lalu duduk diatas meja sebelah renata yang sedang menyusun berkas.
"Aku sih tidak masalah dimanapun tempat nya aku tau segala posisi yang cocok untuk bercinta. tapi aku memikirkan dirimu, Bagaimana jika desahanmu keluar sampai ke bawah."
Renata meliriknya dan kini menatap Wajah senopati seraya tersenyum.
"Apa bapak sehebat itu diatas ranjang ?"
bagi senopati renata menantangnya dan untungnya dia masih sabar sekarang.
"Belum dicoba maka belum tau, kau kan masih virgin aku juga perjaka bagaimana jika pesan hotel ? kau bisa mendesah sepuasmu "
"Sayangnya saya tidak ada niat untuk mencobanya,saya tidak tertarik denganmu."
Senopati berdiri dan mengitari tubuh renata perlahan aroma lembut dan wangi dari tubuh renata memancarkan ketenangan.
"Kau sendirilah yang akan datang dan memulainya untuk bercinta denganku, Renata sayang."
diremasnya pundak renata dan terakhir kecupan lembut di leher renata.
__ADS_1
"Leher ini akan penuh tanda dariku, dan Bibirmu akan aku ***** setiap hari."
perkataan Senopati sungguh frontal dia terkejut senopati bisa mengatakan hal seintim itu padanya.