Kebahagiaan Kita

Kebahagiaan Kita
EPS 18 : Menyerahkannya


__ADS_3

"Renata"


"hmm"


keduanya saling pandang dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, Arkan tidak bisa melihat cinta dimata renata untuknya dia hanya menganggap renata hanya teman saja tapi dia juga tidak ingin kehilangan renata.


"Seseorang utusan papamu menemuiku."


deg


renata melototkan matanya, jika sudah begini Artinya ini bukan hal baik untuknya dan juga Arkan. akan ada sesuatu yang terjadi diantara mereka.


"apa katanya ?"


"Dia mencarimu, Renata. "


sejenak renata diam, berpikir apa yang sedang direncanakan papanya untuknya. apa ini semua karena dia bertemu dengan pria yang bernama mario itu lalu papanya mulai mewaspadainya.


"Sebaiknya kita jangan bertemu dulu, Dan jangan mencariku lagi."


renata mulai memutar tubuhnya, tapi dia masih berdiri dihadapan Arkan. dia takut Papanya akan berpikir kalau dia masih dekat dengan Arkan dan apapun yang terjadi dia tidak ingin nasib Arkan sama seperti Kakak Iparnya dulu.


"Jangan kau pendam sendiri semua masalahmu, aku tau papamu seperti apa renata. " ujar Arkan.


"Aku pergi." pamit Renata begitu saja dan Arkan tidak mengejarnya. dia tau Renata pasti akan mengelaknya dan tetap pergi darinya.


***


Malam harinya tanpa ada yang menemaninya Renata duduk di dapur seorang diri, sebelumnya dia tidak pernah menyentuh minuman alkohol itu dia tidak tau apa memang dia sengaja hanya dia yang tau.


matanya seperti menahan tangis saja, begitu sulit untuk lepas dalam kesulitan hidupnya saat ini. dia bingung bagaimana caranya untuk tetap damai seperti dulu, tapi sekarang dirinya bahkan tidak bisa menjaga dirinya dengan baik.


ingin rasanya dia pergi membawa keira dan hanya hidup berdua tanpa ada yang mengenali mereka tapi itu semua tidak mungkin, sebelum hutangnya lunas.


sampai akhirnya air mata itu tak terbendung lagi. tangannya mengangkat gelas itu untuk meminum wine tersebut namun Senopati mengambil gelas itu dan menumpahkannya ke lantai.


Renata menatapnya tajam lalu berdiri seperti menantang senopati.


"kau sudah hebat sekarang ? bisa meminum minuman seperti ini."


"biarkan aku meminumnya." ucap renata dengan sayu.


"cih! baru sedikit saja sudah tidak kuat." kata senopati yang berdecih lalu mendorong renata ke kursi hingga terjatuh.


"Ak..."


cup


renata menarik tengkuk leher senopati dan menciumnya dengan paksa membuat Senopati terpaku tegang.


renata berusaha ******* bibir seno dengan penuh gairah, sepertinya dia sudah mabuk sekarang.


"kau akan menyesal ! " tolak senopati yang melepaskan dirinya sendiri.


renata mencegah senopati untuk pergi, dia memegang tangannya "jangan menyesal renata, bukan ini maksudku kau akan datang sendiri kepadaku." ujar senopati dengan sensual.


***


senopati menciumi bibir renata dengan buas sambil berjalan menuju keranjang, tanganya tak tinggal diam dia meremas bokong dan kadang punggung renata.

__ADS_1


"mhhhh "


dia melepaskan ciuman itu dan mereka saling terjatuh ke kasur dan renata berada diatas tubuh senopati.


"kau yang memberikan dirimu sendiri, maka jadilah miliku malam ini." bisik senopati, walau dia tau renata mabuk dia tidak akan menyia-nyiakan waktu sekarang. inilah momen yang tepat untuk memiliki renata.


tangan senopati beralih keatas kemeja yang dipakai renata untuk membuka kancing baju itu. ada hal yang dia inginkan didalam sana. lantas renata menidurkan dirinya sendiri sehingga posisi mereka terbalik.


sambil membuka pakaian renata sambil senopati menggesekkan milikknya ke milik renata, dia sudah tegang dan rasanya langsung ingin memasuki renata saat ini juga.


setelah baju berhasil dibuka, dia bisa melihat buah dada yang besar dan kencang itu sangat sempurna dan begitu indah.


dia menciumi dan menjilati kedua gundukan itu sehingga sang empu mengerang merasakan hal senikmat itu.


"ahhh" desah renata yang membuat senopati panas mendengarnya.


hingga kemudian senopati menjadi sangat buas dan agresif sekali, dia terus menggempur renata habis-habisan tanpa ampun. bahkan ketika renata memintanya untuk menyudahi tapi dia tetap bermain.


****


keesokan paginya


Senopati baru saja mandi, lilitan handuk di pinggang dengan tetesan air dari rambut yang menjalar ke tubuhnya membuatnya tampak sexy dan tampan, lihatlah keadaan kamar ini seperti kapal pecah.


permainan semalam begitu hebat sepertinya, bahkan dia bisa membuat Renata tidak bangun padahal jam sudah menunjukkan waktu pukul 9 pagi.


"mama ! mama ! "


suara keira yang teriak dari depan pintu membuat senopati terkejut, dia sedang fokus memandangi wajah renata tapi terganggu oleh suara keira.


dia pakai dulu baju kaos dan setelah itu dia bukapintunya.


senopati tersenyum dia mengelus rambut keira.


"sebentar lagi makanan akan datang, papa memesan makanan dari luar. "


"oh ya ? tapi mama dimana pa ?"


"itu " tunjuk nya kearah ranjang, renata tidak mengenakan apapun disana tapi untugnya tubuhnya tertutup selimut.


"kenapa masih tidur, kata mama orang malas baru bangun jam 9. papa semalam mama pulang jam berapa ?"


"agak larut, biarkan mama tidur sebentar lagi, tunggulah didepan sebentar lagi papa turun."


"baik pa "


keira mengangguk patuh, dengan membawa boneka kesayangannya dia turun dari lantai atas ini. kembali senopati masuk kedalam kamar dan mengganti lagi pakaiannya.


***


"tuan saya ingin melaporkan sesuatu."


James terlihat mendengarkan pria itu, pria-pria yang selama ini dia sewa untuk mencari keberadaan renata.


"katakan dimana dia ?"


"ada di jalan Erlangga Nomor 49, dia tinggal bersama se..."


"sayang minum obatmu." istrinya datang dengan membawa obat-obatan memotong pembicaraan dua orang itu.

__ADS_1


"lanjutkan" perintah james kepada orang itu.


"sudahlah, yang penting kita tau dimana keberadaan nya. setidaknya dia baik-baik saja sekarang. " entahlah Lidya terlihat menyembunyikan sesuatu dibelakang suaminya.


***


Renata setelah tau apa yang terjadi padanya dan apa yang dia lakukan, dia hanya diam saja tak mengatakan apapun.


membuat senopati berpikir jika renata sudah menerima pernikahan, dia rasa ini sudah saat nya mengakhiri pernikahan kontrak ini.


renata tampak sudah selesai bersiap-siap untuk kekantor, wajahnya agak pucat dan satu hal yang menonjol cara berjalananya agak berbeda dari sebelumnya.


"mari pergi bersama." ajak senopati yang dari tadi sudah menunggunya.


"hmm tidak usah aku ada keperluan diluar sebentar." tolaknya yang menghindari kontak mata dengam seno.


"kau yakin ? "


renata mengangguk, seno tampak sedikit tersenyum apalagi ketika melihat wajah renata membuat nya sering kali ingat kejadian dahsyat semalam.


"yasudah aku pergi duluan."


"iya"


setelah senopati pergi renata tampak lega, sebenarnya dia merutuki dirinya sendiri namun itu juga salahnya bukan sepenuhnya salah senopati.


setelah sampai di kantor, senopati sepertinya sangat sibuk dengan ponselnya, dia sibuk melihat bunga-bunga yang dijual.


dia ingin memberikannya untuk renata sebagai tanda cinta darinya. namun siapa sangka dibalik kebahagiaannya yang menurut nya akan bertahan lama malah akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.


***


Renata telah memegang cek ditangannya sebesar 1,2 Milyar rupiah, dia memandangi orang itu yang tak lain adalah mamanya sendiri.


"Pulanglah sebelum papamu tau dan menghancurkan segalanya."


sebenarnya diam-diam dia bertemu dengan Lidya dan memberi tahu semuanya, tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan mamanya untuk lepas dari pernikahan dan hidup di tempat seharusnya dia hidup.


"renata, Maaf mama hanya bisa melakukan ini untukmu. tapi mama sangat menyayangimu,mama ingin kau juga pulang. hidup tanpa anak-anak rasanya tidak sebahagia jika punya anak."


"aku akan mengurusnya dalam beberapa hari."


Lidya mengangguk dia senang akhirya renata luluh dan mau kembali kerumah. penantiannya selama delapan tahun ini tak sia-sia rasanya.


***


setelah menemui mamanya, renata berniat menjemput keira. dia sudah ada di depan gerbang sekolah keira menunggunya pulang.


tapi ini sudah lama sekali tapi keira belum juga kembali, dia jadi khawatir kemana sebenarnya keira padahal dia sudah mengingatkannya untuk tidak kemana-mana.


lantas ada seorang penjaga sekolah yang keluar sepertinya akan menutup sekolah. dia berniat bertanya dengannya.


'"maaf pak , apa bapak kenal dengan anak kecil bernama keira ? " tanyanya.


"saya tidak kenal bu, tapi semua anak sudah pulang 1 jam yang lalu." jawabnya.


"mengapa cepat sekali, tidak seperti biasanya ?"


"karena besok anak-anak mulai libur jadi dicepatkan pulangnya" jawab bapak itu.

__ADS_1


"yasudah terima kasih pak."


__ADS_2