
didalam restaurant itu Senopati menunggu renata yang sedang ada di Kamar kecil. Makanan sudah datang dan tak lama renata muncul dari lorong.
"Renata ! "
Seseorang menarik tangannya, dan langsung memeluk pinggangnya.
"Mengapa kau tidak datang saat aku memintamu !"Tekan Mario, Senopati mendelik tajam ketika melihat renata disentuh oleh Pria lain.
"Aku tidak punya alasan untuk datang." jawab renata.
bugh
Mario tersungkur lalu semua orang berdiri dan menatap mereka.
"Jangan berani-berani menyentuh wanitaku!" Kata senopati, Mario bangkit dan menyentuh bibirnya yang mengeluarkan darah.
"Siapa kau ? Renata jelaskan Siapa dia ! " pinta Mario menatap renata tajam.
"Jangan menatapnya begitu ! bugh ! " sekali lagi dia memukul Mario tepat di perutnya.
"Pak senopati cukup ! " ujar renata yang sudah membuka mulutnya.
dia malu dilihat semua orang, dia ingin membawa senopati keluar dari restaurant itu. Mario lagi-lagi bangkit dia tidak melakukan apapun tapi dari sorot wajahnya terlihat jelas dia marah.
"Katakan siapa dia ?" tanya Senopati.
Renata tak mau menjawabnya, dia terus menuntun senopati sampai kedalam mobil.
"Jawab renata ! " bentak senopati didalam mobil itu.
"Dia .. dia itu ... dia pria yang dipilihkan papaku." jawabnya.
"Kau menolaknya ?"
"Entahlah aku tidak tau."
"Dengar ya ! jangan pernah sekalipun berpikir tentang orang lain didalam pikiranmu. Kita sudah menikah dan ingat perjanjianmu."
Renata malas membahas hal ini lagi ujung-ujungnya mereka saling adu mulut.
***
malam harinya kedua sampai di jakarta, mereka sama-sama masuk kedalam tapi sebelum itu renata masuk kekamar Keira dulu. dia melihat keira sudah tertidur pulas.
dia merindukan keira dan menciuminya "sayang kau tidur ?" tanyanya.
"mama " gumam keira yang membuka matanya perlahan
Renata ikut menidurkan diri diranjang dan mendekap tubuh Keira dalam pelukannya.
"mama dari mana saja ? kenapa pulang larut ? keira takut "
"Maaf ya mama ada pekerjaan banyak sekali. mama janji tidak akan melakukan ini lagi "
"Ma tidur disini saja."
Renata mengangukkan kepalanya, dia mengelus rambut panjang keira itu. bahkan lama kelamaan dia ikut terpejam.
📱selamat ulang tahun ! selamat ulang tahun ! selamat u...lang tahun renata ! selamat ulang tahuunn !!!
"kakak ! aku senang " ucap Renata remaja yang menerima ucapan dari kakak dan kakak iparnya dari video call.
__ADS_1
📱 Selamat ulang tahun renata adik iparku sudah dewasa, mau minta apa ?
"kak kevin aku tidak mau apapun sekarang."
📱" jangan begitu, mintalah sesuatu, iyakan sayang ?" kakak iparnya bertanya kepada renita.
📱benar! besok kami akan kejakarka, tapi sebelum itu kakak mau imunisasi keira dulu mau ikut ?
renata mengangukkan kepalanya, dia senang mendengar kakaknya akan merayakan hari ulang tahunnya.
namun siapa sangka besoknya kakaknya meninggal dalam perjalanan untuk merayakan hari ulang tahunnya.
renata terbangun dari tidur itu, kenapa dia mengingat masa lalu yang begitu sakit ini. apalagi memandang keira rasanya dia sangat bersalah padanya.
Renata tak kuat jika harus menatapnya begini, sambil menyeka air mata dia keluar dari kamar renata tapi dia bertemu dengan senopati yang baru saja keluar dari pintu kamar.
"Kau menangis ?"
Renata menggeleng tapi matanya tak bisa berbohong.
Senopati menghela nafas lalu melangkahkan kakinya ke arah renata "Kau mau makan ?"
renata mengangguk.
***
didapur itu karena Senopati hanya bisa memasak nasi goreng jadi dia hanya membuatkan nasi goreg sederhana buatannya untuk renata. dia kali ini membuatnya khusus agar renata merasa tenang.
"Makanlah, aku hanya bisa membuat ini."
"Terima kasih " ucap Renata dan dimakannya nasi goreng yang cukup enak itu.
"Aku tidak tau sebenarnya apa yang terjadi pada masa lalumu, sampai kau mati-matian mengurus keira yang merupakan anak kakakmu tapi jika kau tidak sanggup kau bisa meminta bantuan orang lain."
"siapa ? orang tuaku ?" tanya renata.
"mungkin saja." jawab Senopati.
"Tidak akan mungkin keluargaku menerima keira, bagi keluargaku darah dan keturunan sangat penting. dan keira tidak akan pernah bisa diterima masuk kedalam keluargaku."
"mengapa ? "
"Karena keira bukan anak dari pria yang papa inginkan, kakakku memilih menikahi teman SMA nya yang hanya seorang Pekerja biasa dirumah sakit."
"hanya karena itu ? "
renata mengangguk dia mencoba untuk mengatur nafas dan kesedihannya.
"Kakak adalah kebanggaan papa, dia anak yang pintar, baik hati dan tidak pernah membedakan status sosial. banyak pria yang jatuh hati padanya, papa ingin kakak menikahi pria pilihannya aku tidak tau siapa itu tapi kakak menolak dan memilih menikah diam-diam dengan temannya itu."
"papa sangat marah waktu itu, dia menyuruh kakak memilih cinta atau papa tapi kakak memilih cinta dia dibuang dari keluarga sashenka ."
"Aku tau kakak bisa memilih sesuatu yang sangat baik untuknya, aku tidak bisa mengatakan kakak salah atau papa yang salah hanya saja waktu yang tidak tepat. Dan keira ? kakak menitipkannya kepadaku dia selalu bilang orang tua keira setelah dia adalah aku dan aku harus menepati keinginan kakak."
Senopati berdiri dan memeluk Renata yang duduk itu, ternyata kehidupan mereka tak seindah yang dia bayangkan.
Renata harus menderita dan Renita harus menerima kenyataan pahit dari pilihannya sendiri.
"Apakah papamu ingin melakukan hal yang sama terhadapmu dengan kakakmu ?"
"Papa tidak ingin pernah kami menikah dengan pria sembarangan. dia selalu mengatur hidup kami sesuka hatinya."
__ADS_1
"Jika papa tau aku menikah begini maka dia akan membuangku sama seperti yang dia lakukan pada kakak "
"jangan menangis, aku tidak akan membiarkanmu mengikuti keinginan ayahhmu. "
***
Dimalam hari yang telah larut itu, Renata sudah tertidur membelakangi Senopati. berbeda dengan senopati yang tampaknya tak tenang dengan apa yang diungkapkan renata.
bagaimana bisa dia tenang, mereka tidak bisa bersama jika dia tidak bermain licik seperti sekarang. Tantangan dari Keluarga Renata memang tidak berat baginya namun cukup menantangnya.
***
Karena ini hari minggu semuanya libur dan hanya dirumah saja. Saat renata turun dari tangga dia melihat Senopati dan Keira bermain bersama, namun itu tidak membuat hatinya luluh.
dia selalu menganggap Senopati adalah pria licik,egois dan pemarah hal apapun yang dilakukan Senopati tidak ada artinya dimatanya
"Keira ? ayo kita pergi sekarang." ajaknya, sehingga membuat keduanya yang sedang bermain jadi berhenti.
"Kita mau kemana ma ?" tanya Keira.
"Iya kau mau kemana ? ini hari minggu." tanya senopati juga.
"mama akan menemui seseorang, ayo. mama tidak akan keluar sebentar." jawabnya kepada keira.
Senopati berdiri dan menatapnya tajam "jawab pertanyaanku "
"bertemu temanku."
"Mama keira mau bermain dengan papa, mama sendirian saja. " tolak keira yang menyukai senopati itu.
"ayo sayang." ajaknya lagi.
"Baguslah keira tidak mau, jadi dia tidak bisa lama-lama." batin Senopati.
"keira benar! kami mau bermain kau pergi saja sendiri." celah senopati
Renata menghela nafasnya, dia melirik di jam dinding lalu kembali naik keatas. entah siapa yang ingin dia temui tapi dia terlihat rapi.
"keira biasanya mama pergi kemana ?" tanya Senopati.
"hmm kerumah tante wanda " jawab keira sedikit berpikir.
senopati mengangguk, dia tenang mengetahuinya. tapi dia tidak tau kemana sebenarnya Renata akan pergi saat ini.
***
Arkan tersenyum menatap renata yang sudah ada didepannya itu, berbeda dengan renata yang hanya bersikap biasa saja.
keduanya telah berjanji untuk bertemu disalah satu Danau yang terkenal. disana tampak sepi sekali hanya ada mereka berdua saja.
"keira tidak ikut ?" tanya Arkan.
"tidak, dia ingin bermain saja." jawab nya.
"mana fotonya ? dia pasti mirip denganmu sedikit karena wajah kakakmu sama denganmu."
diberikannya ponselnya ke Arkan, lalu Arkan menggeser dan men-zoom foto Keira yang dulu pernah dia urus. dia suka anak kecil tapi sampai saat ini dia belum juga punya anak.
"benar kan bibirnya agak mirip denganmu, lalu bentuk mukanya."
renata tersenyum kecil mendengarnya, diangkatnya wajahnya dan dia tatap sepenuh hati wajah Arkan yang masih sama saat dulu dia mengenalnya.
__ADS_1
perasaannya tidak bisa dia bohongi, dia masih mencintai Arkan tapi Arkan tidak pernah peka terhadapnya. Cinta sepihak ini hanya memberikannya rasa sakit yang berlipat.
Dia tidak ingin harta, status dan pandangan orang tapi dia hanya ingin perasaannya terbalas dan entah kapan itu.