
Apartemen yang ditempati Renata dan Juga Keira malam ini didatangi oleh Senopati. tapi masih sepi tidak ada siapapun, dia mendapatkan kunci cadangan dari Helmi.
dia melihat-lihat sisi Apartemen yang sangat cantik dan rapi itu, Memang Apartemen yang dipilih Bukan ukuran yang besar hanya saja ini cukup untuk kehidupannya.
"Siapa ini ? Renata, Renita dan Kavin, Pria ini seharusnya bukan saudaranya."
Ada sebuah foto kecil di sisi nakas dekat meja tamu, Foto mereka bertiga wajah Renata memang tak banyak berubah bermuka masam tapi dari sisi kanan dia terlihat imut.
Ceklek
"Mama kapan-kapan kita ke Mall lagi ya,nanti beli baju renang itu ma."
"Iya sayang ".
Keira berhenti ketika melihat Senopati didalam sana. Renata pun terkejut saat berbalik malah melihat Senopati bos nya.
"Sayang masuk dulu ya, ini bawa tas nya."
"Ma siapa " tunjuknya pada senopati.
"Bukan siapa-siapa sayang, masuklah kekamar nanti mama menyusul."
Keira mengangukkan kepalanya dia langsung masuk dan menutup pintu. Renata mendekat ke arah senopati.
"Bagaimana bisa bapak masuk ke sini ?" tanyanya sinis.
"Ini Apartemenku" jawabnya santai.
"Apa "
"aku selalu mengecek Apartemen jika ada waktu luang "
"Tidak ada apapun disini, silahkan keluar pak ini sudah malam."
"Berani sekali kau mengusirku, aku yang seharusnya mengusirmu. "
Renata berjalan mundur ketika Senopati semakin mengedepankan tubuhnya.
"kamu baru pulang jam seperti ini ? bukankah izin jam 12 siang." cercahnya.
"Mengajak anak saya jalan-jalan."
tubuhnya berhenti tak kala menyentuh sofa itu tapi senopati semakin mendekatinya, Renata waspada kepadanya.
"Renata "
Renata hanya menatapnya saja, dia berusaha menyingkirkan senopati dengan gerakannya sendiri yang menyamping.
"Mama ! "
Ceklek
senopati menoleh, Anak itu mendekat ke arah renata dan memeluknya.
"S-sayang." gumamnya.
"sayang apa ini ? tanganmu ? kakimu ? " Renata tak sengaja melihat lebam ditubuh Keira, dia mendudukan keira di sofa dan melihat lebam-lebam itu.
"Katakan ?" Tanya renata.
Senopati mendapati renata yang sangat takut melihat anaknya terluka.
"Mama hanya terjatuh tidak apa kok."
"Jangan bohong, mama tidak suka."
"Jangan menangis ( Keira mengusap wajah Renata ) Keira hanya jatuh ma tidak sakit lagi kok."
"Mau kerumah sakit ?" tawar senopati.
"Mama peluk keira saja besok sembuh kok."
Renata pun memeluknya, dia sangat takut terjadi sesuatu kepadanya bahkan jika dia punya banyak uang dia tidak akan membiarkan keira sendiri diluar.
demi dirinya bekerja dia membuat keira kursus segala macam walaupun bayarannya mahal agar dia bisa tetap memenuhi kebutuhan keira karena tidak mungkin keira diajak bekerja.
"Apa bapak bisa pulang ?" tanya renata.
"Saya pulang."
Ini bukan waktu yang pas untuk bicara dengan renata dia paham kesedihan seorang ibu. jadi akhirnya dia memutuskan pulang.
***
"Ada apa ? "
Senopati mulai bertanya kepada renata yang ada didepan nya sekarang, dia terlihat ragu mengajak bicara bosnya.
__ADS_1
"Tolong tanda tangani ini pak."
"Apa ini ?" dia menerima surat itu yang ternyata surat pernyataan meminjam uang perusahaan sebesar lima juta.
"Anakmu baik-baik saja ?" tanya Senopati disela-sela menandatangan itu.
"Iya"
"Terima kasih pak."
Renata mengambil surat itu dan langsung membawanya pergi, dia bisa membayar uang sekolah Keira dan tak menunggak lagi akhirnya.
Karena merasa tak ada pekerjaan penting Senopati keluar dari ruangannya dia ingin pergi kemana entahlah tapi ini sudah jam 2 sebentar lagi saja karyawan pulang.
dia membawa mobilnya membelah jalanan, tapi arah jalan ini sangat dekat dengan Sekolah kursus Melukis sepupunya.
shitt
mobilnya berhenti di depan pagar sekolah, Dia melihat anak-anak melukis di taman ditemani Lani.
"Anak-anak karena hari ini ibu ada pekerjaan jadi kita sudah dulu ya, besok kita sambung lagi semua peralatan dikumpulkan ke tempat nya ya."
"Baik ibu guru !! "
semua anak-anak terlihat berbaris mengumpulkan peralatan melukis, Senopati mendekat ke Lani.
"Mas seno."
"Kau mau pergi ?" tanyanya.
"iya bertemu Putra katanya ada alat baru jadi aku mau lihat "
"Keira bisa kesini sebentar ?" panggil Lani.
Keira mengangguk lalu mengambil tas dan mendekat ke Lani.
"Keira telpon mama dulu ya, bilang ibu guru ada pekerjaan jadi jemput sekarang saja ya."
"Biar denganku saja. mamanya ada pekerjaan di kantor aku rasa lembur." Saut senopati.
"Keira sama paman ini dulu ya, nanti ibu guru telpon mama."
"Baik bu guru."
"Mas aku pergi ya"
Senopati membawa Keira duduk di halaman, Jika dia pandangi Keira memang agak mirip dengan renata tapi Dia juga mirip dengan Pria yang difoto Itu.
"Namamu Keira ?" tanya Senopati.
"Iya paman."
"lukamu baik-baik saja ?" tanya Senopati lagi.
"iya paman."
"Siapa nama papamu ? apa papamu sering kerumah ?" tanya seno yang sangat ingin tahu itu.
"Keira tidak tau siapa nama nya tapi dulu mama selalu membawa pria bertubuh tinggi, tampan dan selalu bermain dengan keira tapi sekarang tidak."
Seno mengubah posisi duduknya dan bertatap mata dengan Keira
"Kamu bohong kan soal luka itu, kau tidak terjatuh sendiri pasti ada yang nakal "
"Ti-dak paman."
"Paman tau kamu bohong,mau paman kasih tau mama." ancamnya kecil dia tidak bermaksud mengatakan itu tapi dia ingin tau saja.
"Jangan paman, mama nanti menangis. "
"Yasudah katakan."
"Teman-teman mendorong keira waktu bermain lompat tali."
Keira tak sedih sama sekali saat menjelaskanya, tapi kenapa senopati kasihan padanya hingga tangannya mengelus kepala Keira.
"Kamu tidak memberitahu pada ibu guru ? "
Dia menggeleng "Nanti mama tau, mama sedih pasti mama akan menjaga keira terus bagaimana nanti mama bekerja kalau keira menggangunya terus."
"Mama sering menangis?" tanya senopati.
"Diam-diam mana mau mama menangis didepan keira. "
Senopati mengangguk mengerti dia kemudian mengambil sesuatu dari saku celananya.
"Permen " dia memberikan permen kepada Keira dan diterimanya.
__ADS_1
"Mama punya pacar ?" tanya senopati.
"Pacar ? apa itu paman ?"
"Yang paling dekat dengan mama."
"Tante Wanda dong."
Rasanya senopati ingin tertawa, Apakah Renata berpacaran dengan wanda maksud anak ini.
"Bukan begitu, sama-sama perempuan tidak boleh."
"Tidak ada paman."
Senopati tersenyum kecil artinya dia punya peluang untuk memilik Renata. tapi apakah dia bisa menerima Kehidupan Renata dan Anak ini ? tidak masalah untuknya Anak ini polos dia bisa mengurusnya hanya satu bukan 100 anak.
"Sayang ! "
"Mama " Keira turun dari bangku itu diikuti oleh Senopati.
"Sayang maaf mama banyak pekerjaan, pulang ya " ajaknya.
"iya mama."
Renata hanya memandang sekilas Senopati, dia bahkan tidak pamit. Senopati merasa Renata masih marah padanya tentang kejadia beberapa waktu yang lalu dimana dia sengaja membawa Dirinya bertemu dengan Orang tuanya.
***
malam harinya
Renata sudah menidurkan Keira, sekarang waktunya dia untuk menyelesaikan pekerjaannya. dia duduk didepan ruang tamu dan menghidupkan lampu kecil agar bisa meneranginya.
drtt..drrtt
📱 Arkan Calling
dia tolak panggilan itu
drtt...drrtt
📱 Arkan Calling
lagi-lagi dia tolak. dia tidak ingin mencari masalah kepada nya. dia pun mematikan ponselnya dan memfokuskan diri untuk bekerja.
tangan menghidupkan laptop nya, sudah lama dia tidak membuka laptop semasa kuliahnya karena selama ini hanya menggunakan laptop perusahaan.
Gambar layar yang menunjukkan dirinya dengan seorang pria yang terlihat romantis.
"Renata ?"
*Renata tampak senang atas kehadiran Arkan di restoran malam itu, dia sangat cantik dan berdandan untuk Arkan. matanya berbunga-bunga ketika arkan datang yang sekarang ada dihadapannya.
"Kau datang ? syukurlah "
"kenapa ? apa kau Ingin mengatakan sesuatu ?
"iya, aku ingin mengatakan hal serius."
mendengar itu Renata jadi tak sabar, dia berharap Arkan akan mengatakan cinta kepadanya. dia sudah lama mencintai Arkan.
"Aku juga ingin bicara padamu." jawab Renata.
"Katakan" ujar Arkan.
"Katakan lebih dahulu." renata ingin sekali mendengarkannya secara langsung sekarang.
"Mas Arkan ?"
tiba-tiba seorang wanita datang merangkul lengan Arkan, Renata terpaku melihatnya sedangkan kedua orang itu tampak saling melemparkan senyuman.
"perkenalkan ini Clarissa calon tunanganku."
deg
apa yang barusan dia dengarkan tadi rasanya seperti mimpi, itu tidak nyata dia tidak ingin ini jadi nyata.
"Kami akan menikah bulan depan.".
Renata mengangukkkan kepalanya, tersenyum menyimpan segala rasa sakit di hatinya. pria yang selama ini dia cintai dan dia pikir cintaya terbalas akan tetapi salah, cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan.
"Selamat Arkan, Aku pergi dulu."
"Bukankah kau mau mengatakan sesuatu ?" tanya Arkan mencegahnya.
"Tidak jadi."
Renata melintasi keduanya, melirik lengan yang selalu dipeluk wanita itu rasanya benar-benar sakit*.
__ADS_1