
seharian ini renata terus mencari keira, di kursus menggambarnya pun dia tidak ada. pikirannya sudah overthinking kemana-mana.
dia kejalanan saja tidak ada anak-anak yang keluyuran. harus mencarinya kemana lagi dia setelah ini.
drtt...drrtt
📲 Mario Calling
orang ini benar-benar tak ada kapoknya dia terus menelpon renata padahal dia selalu cuek kepadanya.
dia tolak telponnya dan dia ingin pulang siapa tau keira sudah ada dirumah.
setengah jam kemudian dia sampai dirumah, melihat mobil seno yang terparkir dia pikir akan bertanya kepadanya.
langkah nya memasuki rumah dengan cepat, tapi dia hanya melihat senopati yang duduk di sofa seorang diri tanpa keira.
"apa kau melihat anakku ?" tanyanya langsung.
"aku tidak tau, kau darimana tidak bekerja hari ini ?"
renata tak memperdulikan jawaban senopati, dia malah masuk kekamar keira untuk mencarinya.
"sudah aku bilang dia tidak ada." ujar seno lagi.
"biasanya kau yang menjemputnya ? katakan dimana anakku ?"
"anak kakakkmu, renata." telak senopati.
"aku tidak mau bertengkar."
"siapa yang ingin bertengkar, bukannya dirimu aku bertanya malah pergi begitu saja. kau mau menghindariku ?"
renata agak takut menjawabnya memang sesungguhnya dia ingin menghindari senopati. tapi senopati bahkan bisa menebaknya.
"aku yakin kau pasti tau dimana anakku "
"mama !! "
"sayang" gumam nya
keira tampak keluar dari kamarnya dan juga kamar seno dengan membawa perlengkapan menggambarnya.
"sayang kau membuat mama khawatir, kenapa tidak bilang jika pulang cepat." ujarnya sambil memeluk kheira dengan erat.
"papa menjemput keira di sekolah ma."
"kau sudah makan sayang ? "
keira mengangguk "papa membuatkan ayam chicken enak sekali ma."
"masuklah kekamarmu dulu nanti mama kesana"
"iya ma "
keduanya melihat keira yang telah masuk ke dalam kamar. lalu secepatnya seno menarik tangan renata hingga kedalam kamar.
setibanya dikamar seno tersenyum menatap renata, dia ingin memeluk renata tapi renata menjauh.
"renata jujur saja padaku, apa kau ... sudah punya perasaan terhadapku ?" tanyanya yang semakin dekat.
__ADS_1
tubuh mereka telah dekat bahkan tak ada jarak lagi, seno mengunci tubuh renata hingga mepet sekali sehingga renata bisa merasakan sesuatu dibawah sana.
"aku ingin yang seperti semalam, sayang."
seno sudah mulai menciumi wajah renata dengan lembut dan sensual, bahkan ciuman itu turun ke leher renata.
"bolehkan ?"
renata hanya diam saja namun seno menganggap itu sebagai kemauan, tangannya naik menyentuh bibir sexy renata lalu dia mulai mencium dan ******* bibir itu.
"mari kita sudahi pernikahan kontrak ini." gumam renata.
alhasil seno melepaskan ciumannya, dia menatap lembut masih berpikir positif.
"maksudmu sudahi pernikahan kontrak dan melakukannya dengan sesungguhnya ?" dia masih berharap renata bisa mengubah pernikahan kontrak ini menjadi pernikahan sungguhan untuk mereka.
"aku ingin mengakhiri pernikahan ini dengan membayar hutangku sekarang."
senopati terkejut mendengarnya, wajahnya berubah drastis dari sebelumnya dia masih tersenyum.
"tidak bisa."
renata mendorong tubuh seno lalu memberikannya cek di tangannya sebesar 1,2 M itu dan memberikannya kepada seno.
seno membacanya dan yakin renata tidak mungkin mendapatkan uang sebanyak ini dari temannya.
"darimana kau mendapatkan uang sebanyak ini ?"
"itu bukan urusanmu, sekarang aku sudah bebas dari peraturanmu dan hidupku tidak ada kaitannya lagi dengan pernikahan kontrak. "
seno berusaha tenang dan terpancing emosi, dia tidak akan membalas renata dengan emosi sekarang.
"aku tidak bisa memberitahumu."
"setelah apa yang kita lakukan semalam dan kau katakan padaku aapa semudah itu bagimu untuk menghancurkan pernikahan ini, renata ?"
renata menggeleng dengan cepat "kemarin malam hanya kesalahan saja."
mendengar itu seno tersenyum semudah itu menjawab hanya kesalahan padahal dia telah memganggap semua itu tulus dari renata.
"kesalahan ? tapi kau menikmatinya renata, kau mendesah dibawahku kau ingat itu ! " tegas Senopati yang memegang tanga renata dengan kuat.
"jika kau lupa aku beritahu padamu, kau sendiri menyerahkan dirimu padaku dan saat aku bilang jangan menyesal kau bilang iya ! dimana otakmu ! "
"itu tidak ada hubungannya. pokoknya aku tidak harus tinggal disini, sekarang aku akan pergi dari sini "
"berhenti renata ! berhenti ! aku mencintaimu jangan pergi renata ! kau mau apa dariku ambil semuanya, kau takut pada orang tuamu ayo aku akan bicara pada mereka aku berani, tapi jangan pergi renata aku membutuhkanmu. aku mohon!."
sejak pertama kali mereka bertemu baru kali ini renata melihat senopati semenyedihkan ini, dia rela memohon kepadanya.
bahkan dia bisa melihat cinta dimata seno untuknya, sejenak dia menatap wajah seno dia memang cukup nyaman akhir-akhir ini dekat dengannya bahkan saat keira menceritakan semua kebaikan seno kepada keira dia senang mendengarnya tapi hatinya belum bisa dia buka untuk orang lain saat ini.
"maafkan aku, aku benar-benar minta maaf."
renata melepaskan cekalan tangan seno dia keluar dari kamar mereka, kamar yang pernah menjadi saksi penyatuan mereka yang dahsyat.
renata mengetuk kamar keira dan melihat keira duduk di ranjangnya.
'"mama belum tidur ?"
__ADS_1
"mari kita pergi sayang, ini bukan rumah kita lagi." ajaknya, namun wajah keira terlihat sedih.
"papa ikut kan ma ?"
"tidak sayang hanya kita, ayo." ajaknya lagi.
'"tidak mau ! keira mau sama papa ! keira tidak mau pergi dari sini. ! " teriaknya sambil menangis.seno segera menghampiri keira dan memeluknya.
"papa hiks hiks keira tidak mau pisah sama papa, keira mau disini sama papa ! "
"ikutlah mama keira, papa banyak pekerjaan sekarang tidak bisa terus bermain dengan keira " agak sesak memang tapi ini pilihan renata dia harus menerimanya akan tetapi bukan berarti dia harus menyerah.
"papa "
"ikut mama."
renata menarik tangan keira dia takut keira akan semakin menangis nantinya, dia tidak bisa menahan diri lebih lama disini atau nanti akan sangat sulit untuk keluar.
malam ini senopati hanya bisa meratapi kepergian renata, tanpa bisa mencegah dan menahannya terhadap sesuatu.
dia pikir dengan menjerat hutang yang begitu banyak itu sudah cukup untuk membuat renata bertahan disisinya dalam waktu yang cukup lama, tapi tidak semuanya gagal.
apa yang membuatnya gagal dalam menarik perharian dari sosok renata ? dia tidak tau padahal selama ini dia berusaha semaksimal mungkin untuk mendaparkan hati renata.
stempel yang selalu diberikan kepada renata terhadapnya yaitu "pria pemarah, egois, pemaksa dan selalu mengutamakan diri sendiri " dan dia berusaha merubah dirinya tapi tetap saja tidak bisa.
"kita akan bertemu di lain waktu yang berbeda renata." ucap senopati.
***
james dan lidya tampak senang melihat renata kembali kerumah mereka saat ini, namun ketika melihat keira wajah mereka seakan tak suka.
renata sadar dia melakukan kesalahan kali ini. namun dia akan menjaga keira tanpa perlu campur tangan kedua orang tuanya. keira akan tetap mejadi prioritas utama dirinya.
bukan hanya ada james dan Lidya tapi disana ada juga Mario yang tampak bahagia, karena sekarang mereka akan bertunangan dihadapan kedua orang tuanya.
tanpa basa-basi lagi keduanya saling menukar cincin, keira tidak suka melihatnya dia berlari menuju keluar rumah. renata ingin mengejarnya tapi james melarangnya.
"selesaikan dulu."
renata tak bisa lagi bicara, buru-buru dia memasangkan cincin itu dan langsung berlari mencari keira.
"keira ! sayang ! " teriaknya.
keira bermuka sangat sedih duduk di hamparan tangga utama didepan rumah itu. rasanya tak tega melihat kesedihan keira tapi dia terpaksa dia harus menjadi anak untuk orang tuanya dan ini juga untuk kehidupan keira yang lebih baik.
"keira sayang, disni dingin."
"mama kenapa sih kita pindah terus, keira ingin sama papa, ma ! "
"maafkan mama sayang. tapi kita tidak bisa tinggal disana, karena ini adalah rumah mama yang sebenarnya."
"bukan ini bukan rumah kita, mereka tidak suka dengan keira ma."
hati renata benar-benar hancur bahkan anak kecil saja tau bagaimana pandangan orang lain terhadap dirinya sendiri.
"mereka kakek dan nenek keira, tidak boleh begitu sayang. "
"mereka suka sama keira tapi mereka sedang lelah seharian ini banyak bekerja."
__ADS_1
"keira mau papa "