
Renata duduk dimeja riasnya memakai lipstik merah, dan bulu mata melentik. yang terkakhir dia memakai kalung di lehernya.
dia begitu cantik saat ini dan siapapun yang melihat pasti akan tergoda.
karena sudah siap dia pun keluar tangannya membuka knop pintu. ketika senopati sibuk dengan Ponselnya sekarang berubah menatap renata tak berkedip.
bagaimana tidak pakaiannya sangat sexy dan siapapun akan menatapnya.
Jika begini senopati tersadar siapa Renata sebenarnya, dia anak konglomerat yang hartanya tak akan habis untuk tujuh keturunan.
dia bisa saja lepas dari dirinya hanya dengan uang yang bagi keluarga shashenka tidak ada artinya.
"Cepatlah pulang jangan terlalu lama, aku harus pulang mempersiapkan pernikahan besok."
Renata pergi tanpa berkata. entah kenapa renata memiliki firasat aneh dalam permintaan mamanya malam ini.
dia terus kepikiran sejak masuk kedalam mobil, dia hanya diberitahu restoran yang harus dia datangi
shitt
45 menit dia sampai di Restoran itu, dia turun dari mobil. Dia masuk kedalam restoran dan mencari-cari keluarganya.
"Renata Lidya Sashenka ?"
seseorang memanggilnya, dia meneoleh dan mendapati seorang pria bertubuh tinggi, kulit sawo matang sedang tersenyum kepadanya.
"siapa ?"
"Mario Lauren Rekan bisnis tuan james sashenka, ayo." ajaknya yang langsung menggandeng tangan renata.
dia tak banyak bicara hanya saja wajahnya bertaut aneh. Mario mempersilahkan renata untuk duduk dan dia duduk dihadapan renata.
"dimana, mama dan papa ?" tanyanya.
"ini makan malam kita, makan malam calon Pengantin."
"Pengantin ?" alis renata menaik dia tidak tau apakah senopati menceritakanya pada keluarganya.
"benar kita calon pengantinnya."
"apa maksudmu ? " tanya renata lagi.
"Kita dijodohkan "
"Aku menolaknya ! dan katakan pada papaku jangan berharap aku akan menurutinya ! " Renata berdiri marah-marah hingga semua orang menatapnya.
Renata segera pergi dari Meja itu, Mario tampak kecewa dengannya tapi wajahnya tidak menunjukkan keputusasaan.
***
Renata tersenyum hambar dan lesu dari restoran itu, dia tidak menyangka papanya menjodohkannya hanya untuk dia kembali.
beginikah caranya, cara yang sama yang digunakan oleh papanya untuk menolak cinta renita dengan yang lain.
"nona anda mau kemana ? tuan james melarang anda pergi sebelum makan malam selesai " dia dicegat saat akan pulang menggunakan mobil seponati
dia menatap nanar pengawal itu "katakan pada tuan james mu, aku bukan anaknya lagi." ujarnya yang mendorong pria itu dan masuk kedalam mobil.
ceklek
renata masuk kedalam apartemen yang tidak ada siapapun itu, dia duduk di meja makan dan meminum air di gelas.
matanya tak berkedip menatap kedepan. mengapa nasib nya sama seperti kakaknya. apa orang tuanya hanya cinta pada citra dan harta saja.
__ADS_1
"Paman terima kasih ya ini enak sekali. "
"iya."
Keira mendapati mamanya yang diam saja itu, dia tau jika begitu mamanya pasti punya masalah. dia tidak berani mendekatinya dulu dan lebih memilih masuk.
"kamu kenapa ? cepat sekali pulang ?" tanya Senopati yang duduk di bangku sebelahnya.
"Pulang lah aku tidak akan kemana-mana kita tetap menikah " jawab renata dengan nada malas dan tak melirik Senopati sama sekali.
"Sebelum kau menceritakannya aku tidak mau pulang. ceritakan."
"aku mengantuk pak." Renata berdiri namun dia ditahan Senopati dan dipojokkannya ke dinding dapur.
Wajah mereka saling menatap rasanya tak tahan ingin ******* bibir sexy dan menggoda itu.
"Kau menggodaku, Renata " ucapnya sensual.
Renata langsung menoleh kearah lain, tapi dengan begitu malah leher jenjangnya terlihat. tangan Senopati tak segan bermain di leher nya.
"mama ! " renata mendorong tubuh Senopati dan dia muncul dari tembok dapur.
"iya sayang ? ada apa ?"
"Keira ngantuk ma, ayo tidur."
"oh iya ayo, silahkan keluar pak." usirnya yang membawa keira masuk kedalam kamar. Senopati tak marah hanya saja dia harus menahannya lagi.
***
keesokan harinya Renata dan Senopati sama-sama tidak masuk ke kantor karena hari ini adalah hari pernikahan mereka.
Pernikahan akan diadakan dirumah Senopati dan saat ini dia dan keira sedang berada didalam mobil jemputan senopati yang disopirkan orang.
"mama kita mau kemana ma ?" tanya keira dengab polosnnya.
keira tak lagi bertanya dia sibuk bermain dengan boneka hello kitty nya. Dimatikannya ponsel itu karena sedari tadi mamanya terus menelponnya meminta untuk bertemu.
dia telah memutuskan untuk tidak menghubungi keluarganya lagi, mengharapkan keluarga adalah kesalahan terbesarnya. lebih baik mengorbankan dirinya dan ini tidaklah berat hanya menikah dan melunasi hutang agar dia bebas dari pernikahan.
daripada dia harus kembali kerumah berlutut meminta maaf dan menerima perjodohan yang dilakukan kedua orang tuanya.
shitt
mobil yang membawanya berhenti didepan sebuah rumah mewah, dia untuk pertama kalinya melihat kemegahan rumah senopati yang memang masih tak seberapa dengan luas rumah orang tuanya. namun ini adalah pencapain terbaik untuk seseorang seperti senopati.
Senopati berdiri didepan tangga itu, dia menunggu kehadiran renata sedari tadi. setelah berhadapan langsung dia menatapnya dalam
"mama kita dimana ? rumahnya besar sekali." ujar keira.
Senopati tersenyum miring mendengarnya, dia tau semua orang akan kagum dengan rumahnya.
"kita disini dulu sayang." jawabnya.
"Masuk semua sudah siap "
Kedua orang itu mengikuti senopati yang berjalan didepan mereka, Mata renata melirik kesegala arah untuk melihat rumah ini.
"Apa sudah siap pak ?" tanya seseorang yang ternyata meja pernikahan telah siap.
"Siap." jawab senopati.
Renata menggenggam tangan keira dengan erat antara siap dan tidak siap untuk pernikahan ini bahkan dia ingin kabur rasanya.
__ADS_1
"duduk! " perintah senopati.
"Sayang ayo." Renata tak bisa jauh dari nya. kemana pun dia pergi selalu harus ada keira. senopati tak melarangnya dia tau bagaimana perasaan renata sekarang.
"Mama kenapa duduk disini bersama paman? ma ayo pulang." ajak keira yang takut melihat orang-orang baginya orang-orang ini akan mengintimidasi mamanya.
"tidak sayang mama tidak apa diam ya."
"mulai pak." ujar senopati.
keduanya mulai berjabat tangan, Sedangkan dirumah mewah itu James kepusingan mengetahui jika Renata sudah memutuskan hubungannya, tidak ada harapannya untuk menjadikan renata sebagai penerus kekayaannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Renata Lidya Sashenka dengan mas kawin uang tunai sebesar 50 juta dibayar tunai."
"sah "
james merasakan sesak di dadanya tiba-tiba, dia tak kuat menggapai obat yang ada dimejanya sendiri. tangannya menyentuh dadanya yang sakit itu.
Renata hanya bisa meneguk salivanya, tidak menyangka bahwa dia akan menikah dengan cara seperti ini.
Senopati memasangkan cincin dijari manisnya, begitupun sebaliknya. kini pernikahan telah sah dan hanya perjanjian itu yang harus mereka turuti sekarang.
setelah semua orang pergi, bahkan Keira asik bermain sendiri disebuah ruangan Renata merasakan sesuatu yang membuat perasannya tidak nyaman.
hari semakin malam semakin membuatnya gelisah, naluri anak dan orang tua memang selalu menyatu. dia tidak tau mengkhawatirkan siapa dan kenapa tapi nyatanya papanya dirawat dirumah sakit.
Senopati mendapati renata yang melamun menatap keluar, sedari tadi dia hanya diam saja tak bicara.
"kau tidak ingin membersihkan dirimu ?" tanya senopati yang ikut berdiri disebelahnya.
"Aku harus kembali sekarang, Besok aku akan kesini."
"Tidak usah beberapa orang sudah menyiapkan keperluanmu dan keira dirumah ini. tolong beri pengertian pada anakmu bahwa kita sudah menikah "
"Menikah Kontrak." celah Renata.
"Anak kecil tidak akan mengerti."
"Dimana kamarku ?" tanya renata.
"Dikamarku, jangan lupa perjanjian.".peringat Senopati yang membuat renata berhenti berjalan.
"bapak mengharapkan apa dari pernikahan ini ? sebaiknya kita jaga jarak saja, saya akan melakukan semuanya, memasak, membereskan rumah seperti istri pada umumnya. "
"Bagaimana dengan *** ku kau mau memenuhinya ?" Saut senopati.
"Kecuali itu. saya akan tidur denganmu tapi kita masih dalam batasan. tolong beritahu dimana kamar anakku ?" tanyanya.
"Disebelah kamar ku." jawab senopati. Renata pun pergi, dia menghampiri keira yang sedang bermain dan akhirnya membawanya masuk kedalam kamar tepat disebelah kamarnya.
"Ma kita pulang yuk, keira mengantuk ma."
Renata memangku keira dan mengelus wajahnya.
"Sayang kita tinggal disini ya, Apartemen kita sedang diperbaiki." jelasnya yang berbohong karena jika tidak keira tidak mau menginap dirumah orang.
"Mama tidur disini juga kan ? dengan keira kan ?"
"eh sayang, mama tidur disebelah bersama paman itu. keira sendiri ya kan sudah besar sayang."
"huft iya deh, mama ! mama ! besok keira mau les melukis lagi "
"oh ya ? kalau begitu keira mau kan sekolah lagi. nanti mama belikan topi beruang itu "
"iya mau ma."
__ADS_1
"anak pintar " puji renata lalu mencium pipi keira, melihat wajah keira yang benar-benar mirip dengan kakaknya seolah mengobati rasa rindunya yang selama ini dia pendam.