
"Rupanya anak bodoh itu ingin melawanku. Hahahaha sangat lucu " Ucap Fu Sha Sha sambil tertawa pelan.
Fu Sha Sha kemudian mengeluarkan sebuah botol dari pakaiannya dan menatapnya sambil tersenyum.
"Sepertinya ini akan cocok dengannya" Ucapnya sambil melihat Fu Jia Lin dengan senyum jahat.
"Tapi sayangnya... Aku telah menargetkan adikmu lebih dulu" Sambungnya sambil memainkan botol itu.
Kemudian dia tertawa kecil, merasa lucu karena sedari tadi dia berbicara sendiri. Fu Sha Sha membuka tutup botol itu dan menuangkan sedikit isinya ke tanaman yang ada di dekatnya. Dia kemudian tersenyum lebar melihat cairan itu bekerja.
"Tunggu 7 hari lagi. Setelah itu kematian akan menghampirimu... Fu Li Guan" Ucapnya dengan senyum jahat terukir di wajahnya yang cantik itu.
Fu Sha Sha tertawa kecil. Dia kembali menatap tanaman itu dengan senyum lebar terukir di wajahnya.
Wajahnya memang sangat cantik, bahkan mengalahkan wajah cantik Fu Hau Jian dulu. Tapi dalam darahnya terdapat darah klan demon, klan yang paling ditakuti di sepanjang sejarah. Klan yang paling kuat dan paling menyeramkan serta paling berkuasa di bandingkan klan yang lain.
Klan demon, klan yang tidak takut terhadap apa pun. Klan dengan sifat liar dan sangat bringas jika bertemu musuhnya. Klan yang selalu indentik dengan warna merah darah. Dan juga klan yang paling kejam di sepanjang sejarah.
Fu Sha Sha kembali melihat kearah kamar Fu Hau Jian dan langsung mengernyit jijik begitu melihat Fu Hau Jian yang baru selesai mandi.
"Memang ramuan yang kubuat tidak pernah mengecewakan diriku" Ucapnya dengan bangga.
"Ewh, wajahnya menjijikkan sekali. Aku sampai ingin muntah melihatnya" Ucapnya sambil mengalihkan pandangannya.
Wajah Fu Hau Jian sangat menjijikkan dan jelek. Banyak jerawat yang kembali pecah dan mengeluarkan nanah yang sangat banyak. Bahkan ada jerawat yang pecah di bibirnya.
"Tunggu... Bukannya akan ada ulat disana? " Tanya Fu Sha Sha kepada dirinya sendiri.
Setelah mendengar teriakan, dia berbalik dan benar saja. Selain ada nanah, ada juga ulat - ulat kecil di dalam jerawat itu. Fu Sha Sha memasang wajah jijik melihat itu. Tapi di satu sisi, dia bangga dengan ramuannya.
"Ewh, itu menjijikkan. Ramuanku memang yang terbaik. Seharusnya aku kasih ke Di Fhu Lin saja waktu itu" Ucapnya yang diakhiri decakan kesal.
Fu Jia Lin dan Fu Hau Jian berteriak begitu melihat ada banyak ulat kecil yang keluar dari jerawat Fu Hau Jian. Bahkan Fu Jia Lin sampai menjauh dari Fu Hau Jian dan muntah saking jijiknya.
__ADS_1
"Jiejie tolong aku" Fu Hau Jian berteriak minta tolong kepada Fu Jia Lin yang malah semakin menjauh darinya.
"Aku tidak bisa menolongmu. Itu terlalu menjijikkan. Sampai jumpa Jian meimei" Ucapnya dengan nada gemetar.
Fu Jia Lin dengan terburu - buru keluar dari kamar Fu Hau Jian dan berlari ke kamarnya setelah memerintah pelayan untuk membantu Fu Hau Jian.
Para pelayan saling berpandangan dengan wajah bingung. Salah satu dari mereka membuka pintu kamar Fu Hau Jian dan berteriak.
"Kalian... tolong aku" Perintah Fu Hau Jian dengan nada gemetar.
Bukannya menuruti perintah Fu Hau Jian, mereka semua malah menjauh dengan wajah jijik. Kemudian berlari meninggalkan Fu Hau Jian yang sudah sangat frustasi.
"Hiks... lebih baik aku mati saja! "
Fu Hau Jian mengambil tali dan mengikatnya di langit - langit kamarnya dengan bantuan kursi.
"Fu Jia Lin, aku akan menghantui dirimu hingga kau mati bunuh diri! " Ucapnya dengan dendam.
Dengan tangan gemetar, Fu Hau Jian memegang tali itu, lehernya dia letakkan diatas tali, kakinya menendang kursi yang dia pakai.
Fu Sha Sha tersenyum lebar melihat Fu Hau Jian yang sudah tidak bernyawa. Dengan sihirnya, dia mengumpulkan darah Fu Hau Jian dan menaruhnya di satu botol yang sebesar jari telunjuk yang sengaja dia bawa, kemudian tersenyum sambil menatap botol yang sudah berisi darah Fu Hau Jian.
"Terima kasih telah memberikan darahmu. Aku akan menggunakannya baik - baik" Ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya ke Fu Hau Jian yang sudah tewas bunuh diri.
Fu Sha Sha kembali tersenyum sambil melihat botol itu.
"Sisa 3 botol lagi yang belum terisi. Ah... aku tidak sabar! "
***
"JIAN JIEJIE!!!! "
Teriakan itu membuat para pelayan, para pengawal, Fu Jia Lin, dan Fu Li Guan berdatangan dengan wajah panik sekaligus bingung.
__ADS_1
Fu Li Guan mengernyit bingung melihat Fu Di Fua yang sedang terduduk dengan wajah ketakutan. Dia menghampiri Fu Di Fua dan tidak sengaja menengok ke dalam kamar Fu Hau Jian yang terbuka sedikit.
"JIAN MEIMEI!!!! " Teriak Fu Li Guan dengan panik dan ketakutan.
Dia membuka pintu kamar Fu Hau Jian dengan lebar dan berlari menghampiri Fu Hau Jian. Dengan perlahan, Fu Li Guan menurunkan Fu Hau Jian dan membaringkannya di lantai kayu. Dia mendongak dan melihat darah yang ada di tali sudah mengering, berarti Fu Hau Jian sudah lama meninggal.
Yang dia bingungkan, mengapa lantai kayu kamar Fu Hau Jian bersih? Bahkan tidak ada satu tetes darah sekali pun.
"Jian jiejie! " Teriak Fu Di Fua sambil mendorong pelan Fu Li Guan.
Fu Jia Lin mendekat dan terduduk setelah sampai di samping mayat Fu Hau Jian. Dia menggenggam tangan Fu Hau Jian yang sudah dingin sambil menangis. Para pelayan serta para pengawal menunduk, mereka ikut sedih atas meninggalnya Nona Ketiga Fu. Meskipun kelakuan Fu Hau Jian buruk kepada mereka.
"Kau... Laporkan ini kepada ayah" Perintah Fu Li Guan.
"Baik Nona Kedua"
Beberapa pengawal yang ditunjuk segera melakukan perintah Fu Li Guan, sedangkan yang lain membantu menguburkan mayat Fu Hau Jian.
Fu Jia Lin menenangkan Fu Di Fua yang masih menangis. Sekarang Fu Di Fua merasa sangat kehilangan karena Fu Hau Jian adalah orang yang paling dekat dengannya. Fu Li Guan bukan menangis, dia malah bingung dengan tali yang dipakai Fu Hau Jian untuk bunuh diri.
Tali itu ada darah yang mengering, jika begitu pasti akan ada banyak darah di lantai kayu. Tapi ini malah tidak ada sama sekali.
"Aku bingung... "
"Bingung kenapa Guan meimei? "
Fu Li Guan menunjuk lantai kayu yang ada di bawah tali. "Harusnya ada darah di lantai, tapi ini malah tidak ada sama sekali. Apakah hanya aku yang tidak melihat adanya darah di lantai? "
Fu Jia Lin juga sama bingungnya dengan Fu Li Guan. Dia baru sadar jika tidak ada darah di lantai kayu itu.
"Pikirkan itu nanti. Ayo pergi" Ucapnya sambil menggandeng Fu Di Fua yang masih menangis.
Fu Li Guan melirik sedikit ke dalam kamar Fu Hau Jian dan menutupnya dengan pelan. Dia kemudian menyusul Fu Jia Lin dan Fu Di Fua dengan tanda tanya besar di otaknya.
__ADS_1
**Bersambung
Sksksksksks, terlalu kejam. Tapi biarlah** :)