
Di Hua Long turun dari kudanya begitu sampai di kerajaan. Salah satu prajurit mengambil tali yang ada di kuda dan membawanya ke kandang. Jendral Shi dan Luo juga segera menyusul Di Hua Long yang masih memakai jubah.
"Aku akan ke kamar, kalian kembalilah. " Ucap Di Hua Long tanpa menengok ke belakang, tempat Jendral Shi dan Luo berdiri.
"Baik yang mulia. " Balas Jendral Shi dan Luo sambil membungkuk hormat.
Di Hua Long naik ke atas dan memasuki kamarnya. Dia membuka jubah yang kotor karena terciprat darah kemudian membakarnya di balkon.
"Hari yang melelahkan. " Gumamnya sambil duduk.
Matanya menatap kearah luar, dimana dia bisa melihat para rakyat demon melakukan kegiatan mereka.
"Aku berharap tidak ada peperangan setelah ini." Ucapnya sambil memejamkan matanya.
"Tentu saja itu tidak mungkin. "
Di Hua Long membuka matanya dan mendapati Athena duduk di depannya.
"Kapan kau datang? " Tanya Di Hua Long dengan menaikkan satu alisnya.
"Barusan. "
Di Hua Long mengganggukkan kepalanya. Athena terdiam sebentar, kemudian dia mengambil sesuatu dari tas nya dan meletakkannya di meja. Di Hua Long menatap kotak kecil yang baru saja di keluarkan oleh Athena.
"Apa itu? "
"Buka saja. "
Di Hua Long menatap Athena sekilas, setelah itu membuka kotak kecil itu. Wajah Di Hua Long berubah menjadi kaget, matanya langsung menatap Athena meminta penjelasan.
"Aku mendapatkannya dari Dewi Hera. Dia bilang aku harus menjaganya. "
"Yasudah, jaga saja. "
Athena menggeleng, "tidak bisa. Dunia atas dipenuhi orang rakus, tidak aman jika aku menyimpannya. "
"Lalu kau memintaku untuk menyimpannya, benar bukan? "
"Yap. Benar sekali, kau mau kan? "
Di Hua Long menghembuskan nafasnya pelan, kemudian mengangguk dan mengambil kotak kecil itu. Athena tersenyum lega, akhirnya benda itu bisa aman dari jangkauan orang-orang rakus.
"Apa kau tidak menyediakan teh atau pun kue? " Tanya Athena sedikit menyindir.
"Tidak. "
"Hey, aku ini tamu. "
"Memangnya aku peduli? "
__ADS_1
Athena berdecak kesal, "menyebalkan sekali kau. "
Di Hua Long tidak mempedulikan ucapan Athena. Dia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju laci meja. Tangan kanannya mengambil kotak kecil dan meletakkan isi dari kotak yang diberikan Athena ke dalam situ.
"Apa isinya? " Tanya Athena yang sedari tadi melihat pergerakan Di Hua Long.
"Rahasia. " Jawab Di Hua Long tersenyum menyebalkan.
Athena berdecak kesal melihat senyum menyebalkan Di Hua Long. Dia melihat ke arah langit dan langsung bangkit dari duduknya.
"Hari sudah mau malam, kalau begitu aku pulang dulu. "
"Ya, cepatlah pergi. "
"Dasar menyebalkan. " Ucap Athena sebelum menghilang.
Di Hua Long menutup pintu balkonnya dan masuk kamar. Dia kembali membuka laci tersebut dan mengambil kotak kecil itu.
"Kalung darah dan kalung biru, jika digabung akan bernama kalung darah biru. "
"Hoho, aku pintar sekali. " Sombongnya.
Di Hua Long mengusap kedua kalung itu dengan lembut, kemudian kembali meletakkannya pada tempatnya dan menutup laci tersebut.
"Sudah mau malam, lebih baik aku mandi. "
***
Athena menoleh dengan tatapan dingin, "itu bukan urusanmu. " Ketusnya.
"Bertemu dengan anak Selene lagi? "
"Bagaimana jika aku membunuhnya? Sepertinya menyenangkan. " Ucap Ares sambil tersenyum miring.
Athena mendekati Ares, tidak terlalu dekat karena dia jijik berdekatan dengan Ares.
"Sebelum kau membunuhnya, dia yang akan membunuhmu duluan, Ares. " Ucap Athena.
"Cih, hanya anak kecil saja. Gampang. " Balas Ares meremehkan.
Athena tertawa kecil, "kau terlalu meremehkan dia. Anak Selene lebih kuat dari yang kau kira, hati-hati lah. "
Athena menabrak bahu Ares keras hingga dia mundur satu langkah. Ares tidak terima dan menatap marah punggung Athena. Baru saja dia ingin melangkah, suara orang yang paling dia takuti muncul.
"Apa yang mau kau lakukan pada Athena?" Tanya Niks dengan nada dingin.
"Tidak ada. " Jawab Ares.
Niks berjalan mendekati Ares, tangannya membersihkan bahu kanan Ares sebelum mendorongnya keras.
__ADS_1
"Jika kau berani melawan Athena dan anak Selene, lewati mayatku dulu. Ingat itu. " Peringat Niks sebelum pergi dari situ.
Ares mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Sebenarnya apa yang di berikan anak Selene hingga mereka melindunginya?! Bahkan berani menantang Zeus. Dia harus memikirkan banyak cara agar anak Selene itu menghilang dari dunia ini.
***
"Kau penasaran kan Luo? "
Luo mengangguk semangat. Dia sudah memasang telinga untuk sekedar mendengarkan cerita Jendral Shi.
"Yang mulia itu orang yang sangat kuat, bahkan melebihi Baba nya dulu. Yang mulia mempunyai sihir, yang merupakan kekuatan yang sangat langka di dunia ini. Sihir ini merupakan keturunan dari Ama nya, yang identitas nya tidak di ketahui sama sekali. "
Luo mengernyitkan keningnya, "jadi yang mulia permaisuri tidak diketahui identitasnya? "
"Benar, yang mulia permaisuri tidak diketahui identitas serta asal usulnya. Beliau hanya menyebutkan namanya, yaitu Hua Ling. "
Luo masih terus mendengarkan fakta-fakta kerajaan demon dari mulut Jendral Shi.
"Yang mulia mempunyai banyak hewan kontrak. Kau tau kejadian yang ada di langit itu kan? "
Luo mengangguk.
"Itu ulah yang mulia. Dia membuka segel kuno yang ada di dalam goa. "
"Kenapa yang mulia tidak menggunakan hewan kontraknya saat perang?" Tanya Luo yang masih sangat penasaran.
Jendral Shi mengendikkan bahunya pertanda tidak tahu. Dia sendiri juga bingung serta penasaran mengapa Di Hua Long tidak menggunakan hewan kontraknya saat perang melawan orang - orang bodoh itu.
"Sudah selesai, ada yang mau kau tanyakan? "
"Tidak ada. Terimakasih Jendral Shi. " Ucap Luo.
Jendral Shi tersenyum, "tidak masalah. "
Luo berdiri, "kalau begitu aku pamit dulu. "
"Salam Jendral Shi. " Ucapnya sambil membungkuk hormat.
Setelah itu Luo keluar dan menutup pintu dengan pelan.
"Anak itu masih belum tau semuanya. Maafkan aku Luo. " Gumam Jendral Shi.
Jendral Shi memang sengaja tidak memberitahu semua fakta kepada Luo yang termasuk masih baru di kerajaan demon. Ketika Luo sudah mulai dewasa, dia akan memberitahukannya semua fakta kerajaan demon.
Bersambung
**Untuk semuanya, maaf saya jarang update. Saya sedikit lupa alurnya karena terlalu lama update nya. Saya minta maaf kepada semuanya.
Saya berharap kalian masih menunggu chapter - chapter selanjutnya**.
__ADS_1