
Di Hua Long menjentikkan jari nya dan muncul sebuah portal. Dia masuk kesana diikuti Jendral Shiu dan prajurit lainnya. Portal itu membawa mereka ke dunia demon klan, dunia yang selama ini selalu menyembunyikan keberadaan mereka dari dunia lain.
Portal itu langsung tertutup kembali setelah Di Hua Long menjentikkan jari nya. Dia kembali membuat pelindung, agar dunia lain tidak terganggu dengan perang yang akan terjadi di dunia demon klan.
Di Hua Long berbalik, menatap dingin serta tegas kepada semuanya.
"Jangan sampai lengah, ingat. Sesuai rencana. "
Semuanya mengangguk dalam diam. Di Hua Long kembali menghadap ke depan dan memimpin para prajurit menuju kerajaan bersama Jendral Shiu yang ada di sebelah kanannya.
Di Hua Long berhenti tepat di depan gerbang kerajaan, tangan kanannya dia angkat dan kepalkan, kemudian para prajurit membelah menjadi tiga formasi. Jendral Shiu menggenggam pedangnya erat begitu Di Hua Long melepaskan kepalan tangannya.
"SERANG!! " Teriak Jendral Shiu.
Para prajurit langsung menyerang kerajaan, masuk dengan bantuan Di Hua Long yang sudah menghilang dari pandangan mereka.
Di dalam, Di Yhu Tang dan Di Fu Lin panik. Mendengar teriakan kata serang, Di Yhu Tang segera mengerahkan para prajurit untuk melawan pihak musuh.
Para prajurit Di Hua Long menyerang pihak musuh dengan ganas dan tidak ada ampun. Di Hua Long bersekap dada sambil melihat mereka dari balkon atas, alias kamarnya dulu.
Di Hua Long menyeringai begitu melihat Di Yhu Tang memimpin pasukannya. Dia merenggangkan tangannya dan berjalan dengan santai menelusuri kerajaan. Di Hua Long berhenti di depan pintu, kemudian membuka pintu itu tanpa suara. Dilihatnya Di Fu Lin yang sedang menatap ke bawah, memperhatikan perang yang sedang terjadi.
Di Hua Long berjalan dengan santai kearah Di Fu Lin yang masih belum menyadari keberadaannya. Dengan cepat membalik tubuh Di Fu Lin dan melemparkannya ke dinding. Di Fu Lin terbatuk, matanya menatap kaget Di Hua Long.
"K-kau, uhuk! "
Di Hua Long kembali berjalan menuju Di Fu Lin. Dia membelai wajah kakak tirinya dengan seringai yang membuat Di Fu Lin ketakutan.
"Kakak, apa aku membuatmu takut? " Tanya Di Hua Long dengan tangan yang membelai pipi Di Fu Lin.
"Jawab pertanyaan dariku! " Bentak Di Hua Long sambil mencekik leher Di Fu Lin.
"Ja-jangan keterla-luan Di Hua Long! " Di Fu Lin menepuk tangan Di Hua Long karena cekikan di lehernya bertambah kencang.
Di Hua Long berdiri, dia kembali melempar Di Fu Lin hingga dia terbatuk darah. Di Hua Long mengambil pisau di balik jubah nya, dia berjalan kearah Di Fu Lin sambil memainkan pisau itu.
Di Fu Lin bergetar ketakutan, "A-apa yang akan kau lakukan?! "
Di Hua Long tersenyum, dengan sihirnya dia melempar Di Fu Lin ke ranjang dan mengikat tangan serta kakinya.
"Lepaskan aku bajingan!! " Teriak Di Fu Lin sambil memberontak.
Di Hua Long terkekeh geli, dia menepuk tangannya dua kali dan muncul seorang pria dengan badan besar.
"Perkosa dia. " Perintah Di Hua Long.
Pria itu menunduk hormat, "Sesuai perintah anda, yang mulia. "
Pria itu merobek paksa pakaian Di Fu Lin, yang membuat Di Fu Lin melotot. Di Fu Lin semakin memberontak, bahkan sampai berteriak seperti orang kesurupan, tapi Di Hua Long dan pria itu tidak peduli.
Lama kelamaan, Di Fu Lin tidak lagi memberontak. Di Hua Long menjentikkan jari nya dan ikatan tangan Di Fu Lin terlepas. Dia sengaja melepasnya setelah melihat Di Fu Lin yang menikmati permainan itu.
Di Fu Lin langsung bergerak liar begitu kedua tangannya di lepas, persetan dengan perang di bawah, saat ini dia sedang ingin mendapatkan kenikmatan dari tubuh pria yang ada diatasnya.
Di Hua Long menggerakkan tangannya, dia mengontrol pria itu agar berhenti bermain dan membiarkan Di Fu Lin bergerak semakin liar. Sesuai dugaan, Di Fu Lin mengerang tidak puas. Dia menerjang pria itu dan memimpin permainan.
Di Hua Long mengernyit jijik, saat ini Di Fu Lin seperti jalang yang biasa dia temui di dunia manusia.
"Ugh, menjijikkan. " Desis Di Hua Long.
Di Hua Long mengintip ke bawah. "Lemah sekali Di Yhu Tang. "
__ADS_1
Di Hua Long menghembuskan nafasnya, kemudian berdiri dan merenggangkan tubuhnya.
"Selesaikan dan pergi. "
Pria itu mendorong Di Fu Lin dan kembali memakai pakaiannya, kemudian membungkuk kepada Di Hua Long yang tidak peduli. Dia hanya fokus ke Di Fu Lin yang sudah marah - marah karena masih ingin menikmati tubuh pria itu.
"Ck, dasar jalang. " Desis Di Hua Long pelan.
Dia kemudian menggerakkan tangannya, yang membuat Di Fu Lin terduduk dengan tangan dan kaki yang diikat.
"Lepaskan aku!! " Berontak Di Fu Lin.
Di Hua Long menyeringai, dia mendekati Di Fu Lin dan menggores pipi Di Fu Lin menggunakan pisau.
"AKKH!!" Teriak Di Fu Lin kesakitan.
Di Hua Long berdecak kesal, dia mengusap telinga nya sambil menatap sinis Di Fu Lin.
"Telinga ku sakit sekali mendengar suaramu, harus aku apakan mulutmu? "
Wajah Di Fu Lin berubah menjadi pucat, mulutnya bergetar hebat begitu melihat ujung pisau itu berada di bibir bawahnya.
Di Hua Long terkekeh kecil, kemudian menggores bibir bawah Di Fu Lin yang sudah mengeluarkan air mata.
"Ututututu, jangan menangis kakakku tersayang. " Ucap Di Hua Long sambil mengelap air mata Di Fu Lin.
"Le-lepaskan aku, Di Hua Long. "
Di Hua Long tersenyum, kemudian mengambil pedang dan meletakkannya di leher kanan Di Fu Lin.
"Kata - kata terakhir? "
"Terimakasih atas pujiannya, dan ucapkan selamat tinggal pada dunia. "
Di Hua Long menebas kepala Di Fu Lin dengan wajah yang sudah kembali datar. Dia berdecak dan mengambil kepala serta tubuh Di Fu Lin, kemudian membuangnya dari balkon.
"MEIMEI!! " Di Yhu Tang melempar pedangnya dan berlari menghampiri mayat Di Fu Lin.
Dan itu menjadi kesempatan bagi Di Hua Long. Dia menghilang dan muncul di belakang Di Yhu Tang yang menangis histeris.
"Halo Di Yhu Tang. " Sapa Di Hua Long sambil menepuk bahu Di Yhu Tang.
"Sia–KAU!! "
Di Yhu Tang membelalakkan matanya begitu pedang Di Hua Long menusuk dadanya hingga tembus ke belakang. Di Yhu Tang terbatuk darah, kemudian ambruk di sebelah mayat Di Fu Lin.
Matanya masih menatap benci Di Hua Long, yang kembali menusuk tubuhnya dengan wajah penuh dendam.
"Di Hua Long bajingan. " Ucapnya dengan lirih, kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.
Di Hua Long mencabut pedangnya dan menatap sekitar yang sudah dipenuhi mayat dan darah. Dia mengangkat pedangnya dan berseru dengan suara yang lantang.
"KITA MENANG!!! "
Para prajurit berteriak senang dengan pedang yang juga mereka angkat. Di Hua Long menurunkan pedangnya dan membiarkan para prajurit bersenang - senang di luar, sedangkan dirinya masuk ke dalam kerajaan dan berjalan menuju singgasana.
Di Hua Long menduduki kursi yang sudah lama tidak dia duduki.
"Ama, Baba, Didi, lihatlah. Aku berhasil merebut kembali kekuasaanku. " Ucapnya sambil mendongak keatas.
Di Hua Long tersenyum, tapi matanya mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Baba, lihatlah. Aku berhasil membunuh kedua orang bodoh itu. "
"Aku berhasil... " Ucapnya dengan lirih.
Di Hua Long mengusap air matanya, kemudian mengambil nafas banyak - banyak.
"Terimakasih sudah mendukungku dari atas. "
"Sampai jumpa lagi, Dewi Hera. "
***
Aphrodite mengepalkan tanganya begitu melihat kekalahan pihak Di Yhu Tang. Dia membanting benda yang berada di dekatnya dengan marah.
"ARGH, INI SEMUA KARENA DEWI - DEWI SIALAN ITU!! "
Flashback on
"Kau mau kemana? " Tanya Artemis sambil menghadang Aphrodite.
Aphrodite tersenyum paksa, "Aku ingin mengunjungi sahabatku, Dewi Artemis. "
"Tidak boleh. "
Aphrodite mengernyitkan keningnya tidak suka, tapi masih tetap tersenyum walau sangat terpaksa.
"Kalau boleh tau, mengapa aku tidak boleh menemui sahabatku? "
"Hanya ingin. " Jawab Artemis sambil mengendikkan kedua bahunya acuh.
Aphrodite mengepalkan tangannya diam - diam, tapi Athena dan Niks melihatnya karena mereka berdua persis di belakang Aphrodite.
Niks tersenyum dan merangkul bahu Aphrodite dari belakang. "Aphrodite, ayo ikut kami! "
"Maaf Dewi Niks, tapi aku harus segera bertemu sahabatku. " Tolak Aphrodite dengan senyum paksa yang masih terbit di bibirnya.
Athena menarik tangan Aphrodite, "Itu bisa nanti, ayo ikut dengan kami! "
Aphrodite mendatarkan wajahnya, kemudian kembali tersenyum dengan tangan kiri yang mengepal kuat.
"Tolong jangan lama - lama, Dewi Athena. "
Athena mengangguk malas, kemudian menarik tangan Aphrodite hingga menjauh.
"Cih, sok sopan. " Sinis Niks.
Artemis tertawa kecil, setelah itu merangkul bahu Niks.
"Biarkan, yang penting kita sudah menghalanginya untuk turun."
"Ya, tapi tetap saja aku tidak suka. "
"Sudahlah, ayo susul Athena. "
"Hey, tunggu aku! "
Flashback off
•
Bersambung
__ADS_1