
Di Hua Long terbangun begitu mendengar suara berisik berasal dari luar ruangan. Dengan kesal, dia berjalan keluar setelah mandi.
"Apa yang kalian lakukan?? " Tanya Di Hua Long dengan kesal.
Mereka lantas terdiam dan menunduk, saling mendorong dan menyalahkan satu sama lain. Di Hua Long berdecak kesal dan menatap sekeliling.
"Kalian dapat daging darimana? " Tanya Di Hua Long dengan heran.
"Dari Dewi Artemis, yang mulia"
"Artemis? Dia memberi kalian? Atas dasar apa?"
"Dewi bilang untuk menghargai kerja keras kita semua, Dewi Artemis memberi kita empat tumpuk daging"
Di Hua Long mengangguk singkat dan menatap tulang - tulang yang berceceran.
"Bersihkan tulang - tulang itu atau tidak kalian tidak akan makan selama seminggu "
"Baik!! " Ucap mereka sambil mengangguk patuh.
Di Hua Long mengangguk pelan dan menatap burung hantu miliknya yang sedang menatap tumpukan daging itu dengan mata berbinar.
"Oh ya, bisakah kalian membagikannya dengan burung pemalas ini? Dia sedari tadi terus menatap daging - daging itu"
Mereka saling melirik satu sama lain, setelah itu mempersilahkan burung hantu itu untuk bergabung bersama mereka. Burung hantu itu dengan senang hati terbang dan mendarat di atas tumpukan daging.
Di Hua Long tersenyum kecil dan pergi kembali ke dalam ruangan. Tangannya menarik laci atas yang berada di kanan ranjangnya dan mengambil kotak kecil peninggalan Ama nya. Di Hua Long membukanya dan menyalakan musik yang ada di kotak kecil itu.
"Aku kangen Ama, Baba, dan adik" Gumam Di Hua Long sambil menutup matanya.
Tuk
Di Hua Long kembali membuka matanya perlahan dan tersenyum, kepalanya menengok kearah samping kanan.
"Sudah kembali" Ucapnya sambil tersenyum tipis.
Di Hua Long mengganti pakaiannya dan memakai mahkota di kepalanya. Dengan tegas melangkah ke luar ruanganya dan duduk di singgasana sambil menunggu.
Bruk
"SALAM KEPADA YANG MULIA"
"Berdiri" Perintah Di Hua Long.
Mata Di Hua Long menatap seluruh pasukannya dengan senyum tipis. Kedua tangannya dia rentangkan dengan mata yang menatap bangga seluruh pasukannya.
"Selamat datang kembali, para prajuritku"
"Terima kasih, yang mulia" Ucap mereka sambil membungkuk hormat.
__ADS_1
"Bagaimana kalian disana? " Tanya Di Hua Long sambil memangku dagu nya dengan tangan kanan.
"Kami baik, yang mulia" Ucap salah satu prajurit sambil menunduk.
Di Hua Long tersenyum tipis, matanya memandang para prajuritnya dengan lega, karena tidak menemukan luka - luka di wajah mereka.
"Bagus lah jika begitu" Balas Di Hua Long sambil menganggukkan kepalanya kecil.
Di Hua Long berdiri sambil menghembuskan nafasnya pelan, "Kalian siap dengan hari besok? "
Semuanya prajurit mengernyitkan dahi mereka bingung, tidak mengerti dengan pertanyaan Di Hua Long.
"Apa maksudnya yang mulia? " Tanya salah satu prajurit, mewakilkan yang lainnya.
Di Hua Long merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum.
"Untuk perang melawan para demon bodoh itu" Jawabnya.
Para prajurit langsung saling berbisik - bisik, walau masih terdengar di telinga Di Hua Long. Dia hanya tersenyum maklum, kemudian kembali serius dan bertepuk tangan dua kali yang membuat suasana kembali hening.
"Formasi sesuai latihan kalian, hanya saja formasi ketiga akan di gabungkan dengan para anak buah Jendral Shi" Jelas Di Hua Long sambil menunjuk Jendral Shi yang baru saja datang dengan anak buah nya.
"Jendral Shi, saya percayakan formasi ketiga kepada anda" Ucap Di Hua Long.
Jendral Shi tersenyum simpul dan membungkuk hormat, "Anda bisa percayakan kepada saya, yang mulia"
Para prajurit Jendral Shi membungkuk hormat, "Baik, yang mulia"
Di Hua Long tersenyum tipis dan membubarkan semuanya setelah kata - kata terakhir yang ingin dia sampaikan tadi. Jendral Shi berjalan kearah Di Hua Long dan membungkuk hormat sekali lagi.
"Terima kasih karena sudah percaya kepada saya, yang mulia"
Di Hua Long tertawa kecil, kemudian tangannya menepuk bahu kanan Jendral Shi dua kali.
"Karena saya percaya kepada anda, tolong buktikan jika saya layak percaya kepada anda, Jendral Shi"
"Saya akan buktikan, yang mulia"
Jendral Shi kemudian pamit dan meninggalkan Di Hua Long yang masih berdiam diri di singgasana.
"Hey, burung pemalas" Panggil Di Hua Long.
Burung hantu itu terbang dan hinggap di kursi nya. Di Hua Long mengambil kertas dan alat tulis, serta tinta.
"Berikan ini kepada sekumpulan demon bodoh itu " Ucapnya sambil memberikan kertas yang sudah di gulung dan di ikat dengan pita berwarna emas.
Burung hantu itu hanya mengangguk malas dan terbang keluar gua. Di Hua Long kembali ke dalam ruangan dan membersihkan badannya.
"Ama, Baba, Jun Rong, tolong doa kan aku dari atas sana untuk besok" Ucap Di Hua Long dengan mata tertutup dan kedua tangan yang ditangkup.
__ADS_1
Di Hua Long kembali membuka matanya dan beranjak ke ranjang nya. Dia perlu tidur nyanyak untuk hari besok yang akan panjang serta melelahkan.
***
Di Yhu Tang mengambil surat itu dengan dahi mengernyit bingung.
"Siapa yang mengirimnya? " Tanya nya sambil melirik kanan kiri.
Di Yhu Tang kemudian membuka pita emas itu dan membaca isi suratnya. Dia terbelalak dan segera berlari menuju tempat prajurit dengan panik.
"UNTUK SEMUA PRAJURIT, DI MOHON UNTUK BERKUMPUL!! " Teriaknya.
Para prajurit langsung berkumpul dengan muka bantal, ada yang masih merem melek, ada yang masih tidak sadar. Di Yhu Tang menggeram marah kemudian memukul gong yang membuat semuanya tersentak kaget.
"KALIAN, CEPAT BERLATIH LAGI. PIHAK MUSUH SUDAH MENGIBARKAN BENDERA PERANG LEWAT SURAT!! " Teriak Di Yhu Tang, kemudian dia memukul gong sekali lagi.
Para prajurit dengan cepat bersiap - siap. Mereka sedikit tidak rela jika waktu tidur mereka berkurang, tapi mau bagaimana lagi. Bisa - bisa mereka kena hukuman jika tidak mematuhi perintah Di Yhu Tang.
Di Yhu Tang terduduk lega, panik dalam dirinya sedikit berkurang begitu melihat para prajurit miliknya kembali berlatih. Matanya ingin terpejam, tapi bayang - bayangan Di Hua Long yang sedang tersenyum menyeramkan selalu muncul di pikirannya.
Dia berjalan menuju ruang rapat dan duduk di samping Di Fu Lin yang sedang menggigit jarinya panik.
"Ge, apakah dia benar - benar mengibarkan bendera perang? "
Di Yhu Tang mengangguk sambil memberikan surat yang dia dapat. Di Fu Lin merebut surat itu dan membacanya dengan jantung yang berdetak sangat kencang.
Dia kemudian jatuh terduduk lemas.
"Gege, bagaimana ini? Aku takut sekali "
"Tenang meimei, kita pasti akan menang. Lagipula Di Hua Long pasti hanya mempunyai sedikit prajurit" Ucap Di Yhu Tang meremehkan.
"Tapi gege, kekuatan Di Hua Long sangat kuat. Mungkin aku tidak bisa melawannya sendirian"
"Tenang meimei, gege akan membantu mu melawan jalang kecil itu" Balas Di Yhu Tang sambil mengelus bahu Di Fu Lin.
"Sekarang, bagaimana jika kita bermain dulu? " Tanya Di Yhu Tang dengan senyum miring.
"Bermain apa? " Tanya Di Fu Lin bingung.
Di Yhu Tang tanpa aba - aba langsung mencium bibir adiknya ganas. Dia sedari tadi menahan nafsu nya melihat pakaian Di Fu Lin yang tipis dan ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Di Fu Lin menelan air liur nya begitu Di Yhu Tang membuka pakaiannya. Tangannya membelai perut Di Yhu Tang, yang membuatnya mendesah.
Di Yhu Tang yang sudah tidak sabar langsung merobek pakaian Di Fu Lin dan melepas paksa dalaman adiknya. Dia kembali mencium bibir adiknya ganas, dengan tangan yang membuka celana nya, yang tentu saja di bantu oleh Di Fu Lin.
Mereka sudah biasa melakukan hal itu. Bahkan ada beberapa para menteri yang mengetahui hal itu, hanya saja mereka diam. Tidak berani menengur kakak beradik itu.
Bersambung
__ADS_1