
"Ini yang mulia. "
Di Hua Long kembali menghembuskan nafasnya lelah begitu Jendral Shi meletakkan setumpuk kertas yang perlu dibaca dan di teliti lagi.
"Aku harus membacanya? "
Jendral Shi hanya mengangguk.
"Semuanya? " Tanya Di Hua Long sekali lagi.
Lagi-lagi, Jendral Shi menganggukkan kepalanya sebagai respon. Di Hua Long menghembuskan nafasnya–lagi–melihat betapa banyaknya kertas yang harus dia baca.
"Bukankah dulu yang mulia sudah terbiasa dengan ini? " Tanya Jendral Shi.
"Aku memang sudah terbiasa, tapi tidak sebanyak ini. " Jawab Di Hua Long sambil melihat tumpukan - tumpukan kertas itu.
Jendral Shi menelan air liurnya, "kalau begitu saya undur diri yang mulia. "
Mata Di Hua Long melotot, "Jendral Shi, tung–"
"–gu. " Terlambat, Jendral Shi sudah melarikan diri.
Di Hua Long mendengus kesal. Ingin rasanya dia merobek seluruh kertas - kertas ini dan bersantai di kamarnya. Tapi dia masih sadar jika isi kertas - kertas ini berkaitan dengan masa depan rakyat nya serta kerajaan demon.
Di Hua Long mengambil nafas banyak-banyak, kemudian membaca kertas - kertas itu satu persatu dengan keadaan hening.
Hari sudah malam, Di Hua Long masih tetap setia membaca kertas - kertas yang tersisa dengan bantuan lampu minyak. Bahkan dia tidak peduli dengan matanya yang sudah mengantuk berat, serta perutnya yang sudah keroncongan minta di isi.
"Selesai. " Di Hua Long merenggangkan tubuhnya sambil menguap.
"Sudah malam, tapi aku lapar. " Ucap Di Hua Long sambil mengusap perutnya.
Di Hua Long akhirnya berjalan keluar dan hampir saja menginjak kotak makanan. Di Hua Long berjongkok dan mengambil kotak itu, kemudian kembali ke kamarnya.
"Yang mulia sudah bekerja keras, terimakasih untuk semuanya yang mulia. " Gumam Jendral Shi yang melihatnya dari balik dinding.
Benar, Jendral Shi yang meletakkan kotak makanan itu. Dia tidak berani masuk ke kamar Di Hua Long karena takut akan mengganggu konsentrasi Di Hua Long.
Di Hua Long memakan makanan itu dengan lahap, seperti tidak makan beberapa hari saking laparnya. Tidak peduli dengan tata krama makan keluarga kerajaan demon. Menyusahkan saja jika dia makan dengan tata krama kerajaan.
"Uh, aku kenyang. " Ucapnya sambil mengusap perutnya yang sudah kenyang.
Di Hua Long menguap lebar, kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum akhirnya tertidur pulas di ranjangnya.
__ADS_1
***
Di Hua Long bangun, dengan keadaan kacau. Nafas tidak beraturan, keringat dingin bercucuran, serta rambutnya yang berantakan. Membuat martabatnya sebagai kaisar demon hilang seketika.
"Mimpi sialan. " Umpat Di Hua Long setelah selesai mengatur nafasnya.
"Bisa - bisanya aku takut di kejar hantu. " Ucap Di Hua Long sambil menghela nafasnya.
Tangan Di Hua Long mengambil air minum di nakas meja yang berada di sisi kanan ranjangnya. Di Hua Long meminum air itu hingga habis dan kembali berbaring. Matanya menatap langit - langit kamarnya sambil berusaha tidur kembali.
"Argh! " Di Hua Long mengerang kesal begitu dirinya tidak bisa tertidur.
"Mari kita coba menghitung domba. " Ucap Di Hua Long.
"......"
"Haish, tetap saja tidak bisa! " Ucap Di Hua Long dengan tangan yang menjambak pelan rambut panjangnya.
Padahal tadi dia sudah menghitung 1265 domba di otaknya. Dengan sifat Di Hua Long yang mudah emosi, akhirnya dia menyerah dan memilih pasrah saja.
Di Hua Long melamun sebentar, tiba-tiba suara musik terdengar. Dan entah kenapa, mata Di Hua Long mengantuk berat. Saking beratnya, dia akhirnya tertidur pulas.
Musik itu berhenti setelah Di Hua Long tertidur pulas. Dia memang di putar hanya untuk membuat Di Hua Long tertidur kembali. Dan yang pasti, orang yang memutar musik itu ada di sebelahnya.
***
Athena semakin marah, begitu Aphrodite duduk di tempat milik Dewi Hera, istri dari Zeus. Ingin sekali dia maju kesana dan menampar Aphrodite berkali - kali. Tapi dia tidak mungkin melakukan hal ceroboh seperti itu.
Niks, yang sudah sangat - sangat marah tidak bisa menahan aura Dewi malamnya. Semuanya langsung berlutut, kecuali Athena, Artemis, dan Demeter yang memang sudah terbiasa dengan aura Dewi malam milik Niks.
"Dewi Niks, cepat tarik aura mu! " Panik Apollo.
Niks tidak peduli dengan teriakan Apollo. Kakinya melangkah menuju ke depan, dan berhenti tepat di depan Aphrodite.
*Plak
Plak
Plak
Plak*
Tamparan empat kali berturut - turut dia hujamkan kepada Aphrodite. Zeus tidak terima, dia menatap kepada Athena, Artemis, dan Demeter untuk meminta tolong, tapi tidak dipedulikan. Bahkan kini senyum puas terbit di wajah cantik mereka.
__ADS_1
"Seorang jalang tidak pantas menjadi Dewi. "
"Dan seorang jalang tidak pantas menduduki kursi Dewi Hera. " Lanjut Niks dengan tatapan mematikan.
Aphrodite terisak, pipinya sakit dan perih sehabis di tampar oleh Niks. Tentu saja Niks memakai sedikit kekuatannya, jika dia memakai semua kekuatannya Aphrodite mungkin akan mati. Sekuat itu memang kekuatan sang Dewi malam.
Lagipula, dia sengaja tidak memakai semua kekuatannya. Dia tidak ingin Aphrodite mati dengan mudahnya, dia lebih suka menyiksa Aphrodite perlahan - lahan sebelum menuju kematian.
Cuih
Niks meludah pada wajah cantik Aphrodite, sebelum akhirnya dia keluar.
Semuanya kembali seperti semula. Zeus dengan tatapan khawatirnya memeluk tubuh Aphrodite yang sedang menangis keras.
Athena tertawa keras, "seorang Dewi di didik untuk menjadi orang yang tidak cengeng. "
Artemis tersenyum sinis, "seorang Dewi di didik untuk menjadi orang yang kuat, tidak lemah. "
Demeter melirik Aphrodite tajam, "dan seorang Dewi di didik untuk menjadi wanita yang memiliki martabat yang tinggi, bukan menjadi wanita murahan. "
Ketiga dewi itu tertawa, sebelum akhirnya meninggalkan ruangan dan menyusul Niks.
Ruangan masih hening, hingga akhirnya Gaia ikut keluar, di susul oleh dewi - dewi lainnya.
"Jangan dimasukkan ke hati, Aphrodie. " Ucap Zeus sambil menenangkan.
Aphrodite mengepalkan tangannya marah. Bagaimana bisa?!
Setelah ke empat dewi itu mengucapkan kata - kata yang menusuk hatinya, bagaimana bisa Zeus hanya menenangkannya?
"Apakah kau bisa menghukum mereka? " Tanya Aphrodite dengan mata yang penuh air mata.
Zeus terdiam, jika dia menghukum mereka yang ada mereka akan semakin marah dan mengamuk.
Aphrodite mengepalkan tangannya erat - erat melihat Zeus yang terdiam.
Batinnya berteriak tidak terima. Apa pun caranya, dia harus membuat perhitungan untuk mereka ber empat.
Aphrodite bodoh. Sampai kapan pun kau tidak akan pernah bisa menang dari keempat dewi itu.
Aphrodite terlalu bodoh, bahkan Dionysus harus mati - matian menahan tawanya. Dari semua dewa, mungkin hanya Dionysus dan Hades yang tidak terpikat pada Aphrodite.
Hades sudah mempunyai pasangan hidupnya, yaitu Dewi Persefone.
__ADS_1
Sedangkan Dionysus, tidak tertarik dengan wanita. Bukan, maksudnya belum.
Bersambung