Kebangkitan Kembali Sang Kaisar Demon

Kebangkitan Kembali Sang Kaisar Demon
Chapter 16


__ADS_3

Setelah sampai di depan gua, Di Hua Long sedikit terkejut melihat Ares yang sedang menatap tajam mereka berdua, lebih tepatnya Athena yang juga sedang menatap tajam Ares.


"Athena! Berani - beraninya kau melukai Aphrodite! " Bentak Ares sambil menunjuk Athena.


Athena kebingungan, tapi beberapa detik kemudian dia mencibir dan mengumpati Aphrodite dalam hati. Wanita penggoda itu pasti membuat rumor palsu. Dengan marah Athena menepis tangan Ares dan menatapnya tajam.


"Aku tidak pernah melukai wanita itu!! Bahkan aku tidak sudi menyentuhnya!! " Bentak balik Athena.


"ATHENA!! "


"APA??!!"


Athena dan Ares saling menatap tajam satu sama lain. Di Hua Long menguap dan kembali menatap datar mantan pasangan yang masih menatap tajam satu sama lain.


"Jika ingin bertengkar silahkan di dunia kalian sendiri" Ucapnya dengan mata yang masih menatap datar mantan pasangan itu.


"Kau tidak usah ikut campur!!" Bentak Ares sambil menunjuk Di Hua Long.


"JANGAN MENUNJUK ATAU MEMBENTAK ANAK SELENE!!" Bentak Athena sambil menepis kasar tangan Ares dengan marah.


Ares mengernyit bingung mendengar bentakan Athena yang menyertakan nama Selene, sang Dewi Bulan yang sudah lama menghilang. Di Hua Long sama bingungnya, tapi dia memilih diam dan menatap Athena seolah menuntut penjelasan. Yang ditatap malah tidak peduli, Athena masih menatap tajam serta marah pada Ares yang kebingungan.


"Apa maksudmu??"


"DIA ANAK SELENE! SELENE YANG SUDAH LAMA MENGHILANG!! " Bentak Athena dengan amarah yang tidak terkendali.


Ares menelan salivanya susah payah. Selene, orang yang paling ditakuti semua orang setelah Zeus dan Hera mempunyai anak??!! Bahkan tadi dia sudah membentak anak Selene.


"Siapa Selene? " Tanya Di Hua Long dengan dingin.


Athena menghela nafasnya sambil mengucapkan beribu maaf pada sahabatnya. Tapi dia merasa Di Hua Long harus mengetahui identitas Ama-nya yang sebenarnya.


"Selene, nama Ama mu di dunia atas. Dia adalah Dewi Bulan yang sangat ditakuti setelah Zeus dan Hera" Jelas Athena.


"Saking ditakuti hingga laki - laki di depanmu membuatnya di usir dari Olympus" Sambung Athena sambil menatap tajam Ares yang sudah berkeringat dingin.


Di Hua Long menatap tajam dan benci pada Ares yang tambah ketakutan. Tatapan itu, tatapan yang sama seperti Selene ketika dia berhasil membuat Dewi Bulan itu di usir dari Olympus. Di Hua Long mendekat kearah Ares dan menunjuk mulutnya.

__ADS_1


"Tutup mulutmu jika kau tidak ingin aku menghilangkannya dari wajahmu" Ucap Di Hua Long dengan menekan kata - katanya, tak lupa tatapan tajam yang menghunus kearah mata Ares.


Ares langsung menutup mulutnya dengan tangannya dan mengangguk kaku. Dia bertambah ketakutan ketika merasakan aura mencekam dari orang di depannya. Di Hua Long tersenyum miring dan menepuk pipi Ares dua kali, tidak peduli jika nanti dia di hukum karena tidak sopan kepada dewa. Lagipula dia yakin Ares akan tutup mulut.


"Aku mengawasimu. Jadi jangan coba - coba menyebarkan semuanya" Peringat Di Hua Long sambil menatap datar dan dingin kepada Ares.


Di Hua Long kemudian masuk ke dalam gua meninggalkan Athena dan Ares.


"Aku hanya bilang, anak Selene tidak main - main dengan ucapannya" Peringat Athena dengan tersenyum miring.


Athena kemudian menyusul Di Hua Long meninggalkan Ares yang masih terdiam dengan kedua tangan yang terkepal erat.


***


"Niks!! " Teriak Ares sambil membuka pintu.


Demeter dan Artemis yang kebetulan sedang berada di kediaman Niks menatap datar pada Ares. Mereka berdua di tambah Niks sudah tau dari Athena bahwa Ares mengetahui identitas Di Hua Long.


"Apa? " Tanya Niks yang baru saja datang.


"Kau tau kan jika Selene punya anak?? Kalian berdua juga tau kan???" Tanya Ares.


"Lalu kenapa? Kau mau menyingkirkannya? Tidak semudah itu Dewa Perang" Ucap Demeter sambil mengejek Ares di perkataan akhir.


"Bagaimana jika aku bisa menyingkirkannya? " Tantang Ares dengan tersenyum percaya diri.


Demeter, Artemis, dan Niks berpandangan kemudian tertawa. Ares mengernyit bingung sambil menatap ketiganya bergantian.


"Kau tidak akan bisa menyingkirkannya Ares" Ucap Artemis dengan nada mengejek.


Niks berdiri dan berjalan menghampiri Ares. Tangan telunjuknya mendorong bahu Ares keras hingga yang di dorong mundur satu langkah.


"Sebaliknya, kau yang akan di singkirkan dari Olympus, bersama para dewa bajingan lainnya" Ucap Niks dengan aura mencekam.


Niks menutup pintu dengan keras hingga membuat Ares terlonjak kaget.


"Apa yang kau lakukan di depan kediaman Niks, Dewa Perang? "

__ADS_1


Ares menoleh dan tersenyum kikuk melihat Hera menatapnya dengan tatapan tajam. Tanpa menjawab pertanyaan Hera, dia langsung pergi menuju kediamannya. Hera menatap lama punggung Ares, kemudian menyeringai kecil.


"Mau menyingkirkan anak Selene? Bermimpilah Ares" Ucapnya dengan sarkas.


Hera mendongak dan menatap bulan yang sedang bersinar terang dengan senyum tipis.


"Tenang saja Selene, aku akan melindungi anakmu, seperti kau melindungi diriku dulu" Ucap Hera dengan menatap bulan.


Bulan itu bertambah terang, seolah mengatakan bahwa dia percaya kepada Hera. Hera melirik pintu kediaman Niks dan pergi. Otaknya masih harus memikirkan rencana yang benar - benar matang sebelum melawan para Dewa bajingan itu, terutama suaminya, Zeus yang telah tergoda oleh Aphrodite.


***


Di Hua Long termenung sambil mengingat kembali perkataan Athena. Ama-nya dari dunia atas? Itu berarti Ama-nya adalah seorang dewi? Semakin memikirkannya, semakin pusing kepala Di Hua Long. Identitas Ama-nya terlalu mengejutkan dirinya, hingga tidak menyadari bahwa burung hantu miliknya menatapnya dengan heran.


Burung hantu itu mendekat dan mengetuk meja menggunakan kakinya. Di Hua Long mengerjapkan matanya dua kali dan menatap burung hantu miliknya.


"Sejak kapan kau disini? " Tanyanya dengan heran.


Burung hantu itu tidak menjawab, tapi malah terbang ke pangkuan Di Hua Long dan berbaring. Di Hua Long tersenyum geli dan mengelus bulu burung hantu miliknya.


"Ternyata kau bisa manja juga, burung pemalas"


Burung hantu itu mencibir pelan dan kembali terbang ke atas meja. Kakinya menendang - nendang gulungan kertas yang terikat dengan pita emas. Di Hua Long mengambil gulungan itu dan melepaskan pitanya.


"Sepertinya aku harus membuat rencana cadangan, burung pemalas" Ucapnya dengan senyum penuh arti.


Di Hua Long menatap langit malam sambil tersenyum.


"Yah... Dan sepertinya kita akan melawan para dewa setelah mendapatkan tahta ku kembali"


Burung hantu itu menatap Di Hua Long dengan tatapan terkejut. Apa tadi dia bilang? Melawan para dewa?! Rencana yang mengerikan!!


"Ingin menyingkirkanku?? Heh... Bermimpilah para dewa bajingan" Ucap Di Hua Long dengan nada meremehkan dan tersenyum sinis.


Burung hantu itu menelan air liurnya dengan susah payah. Mengingat Di Hua Long yang tidak melepaskan mangsanya, burung hantu itu seketika menjadi iba kepada dewa - dewa Olympus.


**Bersambung

__ADS_1


Note : Ini tidak ada hubungannya dengan sejarah asli Dewa Dewi Olympus. Hanya karangan saya, jadi jangan disamakan dengan sejarah aslinya.


Terimakasih**


__ADS_2