
"SALAM KEPADA KAISAR DEMON" Tunduk mereka semua.
Di Hua Long mengangkat dagunya angkuh sambil menatap dingin para prajurit setianya yang sedang membungkuk penuh hormat.
"Hm. Senang bertemu kalian semua" Ucapnya sambil tersenyum tipis.
Para prajurit kegirangan dalam hati karena melihat senyum kaisar mereka walau hanya senyum tipis.
"Tidak yang mulia. Kami yang senang bertemu dengan anda lagi"
Di Hua Long tertawa kecil mendengar nada senang para prajurit setianya. Para prajurit hanya bisa menahan senyum mereka melihat Di Hua Long tertawa kecil.
Ingat, Di Hua Long hanya berhati hangat kepada orang yang dia sayangi. Makanya dia tidak segan tertawa di hadapan para prajurit setianya yang sudah menunggunya selama 1000 tahun lamanya. Klan demon memang memiliki umur yang sangat panjang, jadi jangan kaget jika ada yang berumur 100 tahun lebih.
Tapi walau umur sudah tua, kekuatan mereka bisa di bandingkan dengan orang remaja. Bahkan wajah mereka masih terlihat muda.
"Bagaimana kabar kalian? "
"BAIK YANG MULIA"
Di Hua Long tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Merasa sudah cukup untuk berbasa basi, wajahnya berubah menjadi serius. Yang membuat para prajurit dan mereka ikut menjadi serius.
"Kalian tau apa yang harus kalian lakukan bukan? " Tanya Di Hua Long dengan serius.
"Tau Yang Mulia"
"Kerjakan sekarang! " Perintah Di Hua Long dengan tegas.
Para prajurit membungkuk hormat dan pergi ke tempat mereka. Di Hua Long menatap mereka untuk mendekat kearahnya.
"Kerja bagus" Ucapnya sambil tersenyum.
Mereka kegirangan dan langsung bermanja - manja dengan Di Hua Long. Di Hua Long hanya tertawa dan mengelus mereka bergantian.
"Kalian lapar? " Tanya Di Hua Long dengan tiba - tiba.
Mereka mengangguk dengan mata berbinar. Di Hua Long menunjuk ke belakang dan mereka langsung berlari kearah gunung daging mentah.
"Enak? "
Mereka hanya mengangguk dengan mulut yang terus mengunyah daging itu. Di Hua Long tersenyum tipis.
"Tidak sia - sia aku membunuh manusia" Gumamnya.
Di Hua Long pergi ke sebuah batu besar dan mengetuknya tiga kali. Batu itu dengan sendirinya bergeser dan menampilkan sebuah ruangan. Dia masuk dan batu kembali bergeser dan menutupi ruangan yang baru saja di masuki Di Hua Long.
"Manisku~ Ayo keluar~"
Seekor burung hantu terbang kearah Di Hua Long dan mendarat di depannya. Di Hua Long mengelus bulunya dengan lembut dan meletakkan sebuah kertas yang sudah digulung.
"Ayo kita buat orang - orang bodoh itu ketakutan" Ucapnya dengan tersenyum miring.
__ADS_1
Burung hantu itu membawa kertas yang di gulung itu menggunakan kakinya dan terbang keluar. Di Hua Long keluar dari ruangan dan melihat gunung - gunung tulang.
"Selesai? Kalau begitu lakukan tugas kalian" Perintah Di Hua Long.
Mereka langsung memasang wajah memelas. Untung saja Di Hua Long bukan orang yang gampang luluh hanya dengan wajah memelas. Mereka langsung melakukan tugas begitu Di Hua Long menatap tajam mereka.
Setelah mereka pergi, Di Hua Long duduk di kursi emasnya. Matanya menatap datar kearah depan dengan aura tegas yang membuat siapa saja dapat bertekuk lutut. Tidak lama kemudian, Di Hua Long tersenyum tipis begitu melihat burung hantunya kembali dan mendarat di bahunya.
"Kau melihat reaksi mereka? " Tanya Di Hua Long.
Burung hantu itu mengangguk dua kali dan wajahnya menjadi ketakutan dan kaget, persis sama dengan reaksi wajah para klan demon yang memihak dua orang bodoh itu. Di Hua Long tertawa kecil, pasti akan sangat menyenangkan melihat wajah takut dua orang bodoh serta pengikutnya itu.
"Bagimana dengan Jendral Shiu? "
"Dia berpura - pura terkejut Yang Mulia" Ucap burung hantu itu.
Burung hantu miliknya memang tidak suka berbicara, bahkan dalam satu minggu penuh dia bisa tidak berbicara. Dia termasuk hewan termalas yang pernah Di Hua Long temui. Bahkan Di Hua Long pernah hampir membunuhnya karena terlalu kesal dengan hewan super malas ini.
"Banyak - banyak berbicara, burung pemalas" Ejek Di Hua Long.
Burung hantu itu malah memutar kepalanya ke belakang seakan enggan melihat wajah menyebalkan Di Hua Long.
"Ck, dasar burung pemalas" Gumam Di Hua Long sambil berdecak kesal.
Burung hantu itu malah terbang dan sengaja mencakar pipi Di Hua Long.
"Argh, awas saja kau burung pemalas! " Teriaknya sambil berdiri dan menahan marah.
Di Hua Long mendengus dan menyembuhkan bekas cakaran itu dengan sihirnya. Di Hua Long kembali duduk dan termenung. Tidak lama kemudian, dia tertawa keras.
***
Di Hua Long menatap malas pada orang di depannya yang sedang meminum teh dengan santainya.
"Apa maumu? " Tanyanya dengan dingin.
Orang yang di depannya terkekeh kecil dan meletakkan cangkir dengan pelan.
"Kau sama sekali tidak berubah" Ucap orang itu.
Di Hua Long memutar bola matanya dan mendengus. Dia tau orang di depannya menginginkan sesuatu.
"Apa maumu Athena? "
Athena tersenyum, Di Hua Long pasti sudah tau bahwa dia menginginkan sesuatu.
"Aku ingin ikut rencanamu" Jawabnya dengan tenang.
Di Hua Long tersenyum sinis. Tapi dalam hatinya sedikit terkejut dengan perkataan Dewi Perang itu.
"Mengapa? " Tanya Di Hua Long.
__ADS_1
Athena kembali tersenyum, dengan anggun meletakkan cangkir teh itu dan menatap Di Hua Long.
"Aku sudah berjanji pada Di Hua Ling, lagipula aku juga mau balas dendam. Beraninya manusia biadab itu membunuh sahabatku "
Di Hua Long mengangguk pelan. Dia memang tau jika Ama dan Dewi Perang ini bersahabat baik. Bahkan dulu Athena sering sekali berkunjung ke klan demon dan berakhir pipinya memerah akibat dicubit dengan sangat keras.
"Jadi bagaimana? " Tanya Athena dengan mengangkat satu alisnya.
Di Hua Long mendengus dan mengangguk malas. Athena memekik tertahan dan menguyel - uyel pipi Di Hua Long, kebiasaannya dari dulu. Di Hua Long memasang wajah tidak suka dan menepis tangan Athena yang sama sekali tidak tersinggung.
"Jangan mencubit pipiku! " Ucap Di Hua Long sambil mengusap pipinya.
"Siapa suruh kau menggemaskan" Ucap Athena sambil mengendikkan bahunya santai.
Mereka dan burung hantu miliknya hanya bisa tersenyum masam. Menggemaskan dari sisi mananya? Yang ada mengerikan dan kejam dari sisi manapun.
Di Hua Long mencibir. Athena kembali terkekeh kecil dan bersandar.
"Bagaimana dengan para prajuritmu, Athena? " Tanya Di Hua Long dengan sedikit penasaran.
"Tentu saja siap kapan saja" Balas Athena sambil mengedipkan mata kanannya.
Di Hua Long tersenyum tipis, dia sedikit tidak menyangka Athena yang merupakan Dewi Perang dan sahabat Ama-nya akan ikut rencananya. Athena sudah dia anggap bibinya sendiri, walau pun dia dan Athena sering bertengkar.
"Bagaimana hubunganmu dengan Ares? " Tanya Di Hua Long acak.
Wajah Athena menjadi datar. Mendengar nama itu membuatnya sangat muak.
"Jangan sebut nama bajingan itu, Hua Long! " Jawabnya dengan benci.
Di Hua Long sedikit mengangkat sudut bibirnya. Dia penasaran mengapa Athena tiba - tiba benci dengan Dewa Perang itu. Padahal dulu yang dia tau mereka berdua selalu bersama.
"Memangnya kenapa? "
"Bajingan itu berselingkuh dengan Aphrodite, sangat menjijikkan! " Cibir Athena.
Di Hua Long mengangkat sebelah sudut bibirnya. Siapa yang tidak kenal Aphrodite? Dewi itu sangat cantik, tapi selalu membuat Dewi - Dewi yang lain membencinya karena merebut pasangan mereka. Kecantikan yang disayangkan, menurut Di Hua Long.
Aphrodite sangat berbeda dengan Athena. Jika Aphrodite lebih sering melakukan hal - hal yang feminin, Athena lebih suka berperang dan membunuh. Sangat berbeda bukan?
"Sudahlah, jangan bahas bajingan itu. Oh iya, aku pergi dulu. Ada sesuatu yang harus aku urus" Pamit Athena.
Di Hua Long mengangguk dan memutar bola matanya begitu Athena mencubit kedua pipinya.
"Selamat tinggal adik kecil! " Pamit Athena sambil melambaikan tangannya dan tersenyum.
Di Hua Long berdecak, tapi tangannya membalas lambaian tangan Athena. Bahkan senyum tipis sekarang terbit di wajahnya.
Sepertinya Di Hua Long harus berterimakasih pada Athena karena telah menjaganya selama dia hidup.
Bersambung
__ADS_1
Note : Ini tidak ada hubungannya dengan sejarah asli Dewa Dewi Olympus. Hanya karangan saya, jadi jangan disamakan dengan sejarah aslinya.
Terimakasih