
Pintu kamar Di Hua Long diketuk, yang membuat Di Hua Long mendengus kesal karena pasti itu berkaitan dengan tugasnya sebagai kaisar.
"Masuk! "
Pintu terbuka dan Di Hua Long melihat Luo, bawahan Jendral Shi, lebih tepatnya tangan kanan Jendral Shi sedang membungkuk hormat.
"Salam yang mulia. "
"Hm, ada apa Luo? " Tanya Di Hua Long dengan nada malas.
"Para bandit dari arah timur berulah yang mulia. Kali ini mereka menargetkan para anak - anak yang terlantar. " Lapor Luo dengan lengkap.
Di Hua Long menatap tajam kepada Luo dengan waktu lama, yang membuat Luo merinding dan berpikir jika laporannya ada yang salah.
"Panggil Jendral mu, suruh dia menghadap ke padaku. " Perintah Di Hua Long.
Luo diam - diam menghembuskan nafasnya lega. "Baik yang mulia. Saya pamit. "
Di Hua Long hanya mengangguk dua kali sebagai respon. Luo keluar dan menutup pintu dengan pelan, agar dia tidak di ceramahi Di Hua Long lagi.
Kenapa lagi? Karena dia pernah menutup pintu Di Hua Long dengan kencang dan berakhir Di Hua Long menyeretnya kembali ke dalam dan menceramahi dirinya hingga malam.
Luo meringis mengingat betapa malangnya dirinya dulu. Jendral Shi mengernyitkan dahinya melihat tangan kanannya yang tiba - tiba meringis.
"Luo, kau baik - baik saja? " Tanya Jendral Shi yang mengagetkan Luo.
Luo gelagapan, dia lupa jika masih berhadapan dengan Jendral Shi. "Saya tidak apa - apa, jendral. "
"Benarkah? " Tanya Jendral Shi tidak yakin.
"Benar jendral, saya tidak apa - apa. "
Jendral Shi mengangguk paham. "Jadi, ada apa kau kemari? "
"Para bandit dari arah timur berulah, dan yang mulia menyuruh anda untuk menghadap kepada yang mulia. " Jelas Luo dengan lengkap.
Jendral Shi menelan air liurnya, matanya menatap Luo yang sepertinya tidak mengetahui artinya.
"Kau tau arti perintah yang mulia? "
"Tidak jendral. " Jawab Luo dengan polosnya.
"Bodoh! itu artinya dia yang akan turun tangan!"
Luo mengangguk paham, sedetik kemudian dia melotot kaget. "HAH??! "
__ADS_1
Jendral Shi menghela nafasnya sambil memijat pelan pelipisnya. "Mengapa aku mempunyai tangan kanan yang bodoh? "
Luo kembali melotot. "Saya bukan orang bodoh jendral! "
"Bukan orang bodoh tapi tidak tau arti dari perintah yang mulia. " Cibir Jendral Shi.
Luo menggembungkan pipi nya, tapi tidak lama dia merubah wajahnya kembali seperti semula karena melihat mata Jendral Shi yang melotot ke arahnya.
"Haish, sudahlah. Cepat siapkan dua kuda, tidak tiga kuda. Kau ikut dengan ku. "
"Siap jendral! "
***
"Dimana? " Tanya Di Hua Long dengan wajah datar.
Luo yang paham langsung menunjukkan jalan kearah tenda para bandit. Di Hua Long menjalankan kuda nya menuju tenda para bandit, diikuti Jendral Shi dan Luo di belakang. Di Hua Long menghentikan kudanya tidak jauh dari tenda para bandit.
Luo ingin bertanya, tapi begitu melihat mata Jendral Shi yang melotot kearahnya membuat dia kembali menutup mulutnya rapat - rapat. Di Hua Long turun dari kuda, yang diikuti Jendral Shi dan Luo. Dia mengambil batu kecil dan melemparkannya ke salah satu bandit.
"Awh! " Teriak bandit itu sambil mengusap punggungnya.
Bandit itu berbalik dan melotot marah kearah Di Hua Long yang menatapnya datar. Bandit itu berdiri dan berlari kearah Di Hua Long yang menatapnya datar.
"Bajingan tengik, mati kau! "
"Lemah. " Gumam Di Hua Long sambil tersenyum miring.
Dengan sekali tebas, kepala bandit itu lepas dari tempatnya. Luo meringis ngeri melihat cara Di Hua Long membunuh para bandit yang menyerangnya karena tidak terima dengan kematian teman mereka.
"Jendral, apakah kita harus membantu yang mulia? "
Jendral Shi melirik Luo sekilas, "tidak perlu. Yang mulia bisa menangani ini sendiri"
Luo hampir berteriak begitu melihat kepala yang bergelinding menuju dirinya. Untung saja Jendral Shi dengan segera menutup mulut Luo, jika tidak mungkin telinga nya akan sakit mendengar teriakan Luo.
"Bisakah saya pergi saja, jendral? " Tanya Luo dengan wajah ketakutan.
Jendral Shi mendecih pelan, "kau mau aku cabut gelar tangan kanan jendralmu? "
Luo menggeleng cepat, dia tidak mau kehilangan gelar yang sudah dia dapat dengan susah payah.
"Kalau begitu diam dan lihat saja. " Ucap Jendral Shi dengan mata yang melihat Di Hua Long yang sedang menebas salah satu bandit.
Di Hua Long melirik waspada, dia dikepung dari seluruh arah. Tangannya memegang erat pedangnya, kemudian berlari kearah kiri dengan cepat. Dengan sekali tebasan, kepala bandit itu hilang dari tempatnya. Di Hua Long diam ditempat, matanya melirik kanan dan kiri.
__ADS_1
Begitu bandit itu ingin menikamnya dari samping, Di Hua Long dengan cepat menghindar sehingga bandit itu salah sasaran dan berakhir membunuh temannya sendiri. Di Hua Long tiba di belakang bandit yang sedang terdiam menatap teman yang baru saja dia bunuh.
Di Hua Long menusuk punggung bandit itu hingga pedangnya menembus ke depan, kemudian menarik pedangnya kasar. Di Hua Long menatap sekitar, dengan nafas yang terengah - engah. Tangannya mengambil kain dan membersihkan wajah cantiknya dan pedangnya dari darah.
"Ayo pergi. " Ucap Di Hua Long sambil naik ke kuda.
Jendral Shi dan Luo naik ke kuda mereka, kemudian mengikuti Di Hua Long. Sebelum menjauh, Luo menyempatkan dirinya untuk menengok ke belakang, tempat pertarungan tadi. Tapi dia melotot kaget begitu melihat tempat itu bersih, tidak ada apa pun disana. Seperti tidak ada pertarungan yang terjadi.
Kepalanya kembali menghadap depan dengan mata yang langsung tertuju pada punggung Di Hua Long. Jendral Shi melirik tangan kanannya diam - diam, dia tersenyum tipis begitu mengetahui arti dari tatapan Luo.
Aih... anak itu tentu saja tidak tau apa - apa. Dia masih perlu banyak belajar mengenai Di Hua Long dan sejarah kerajaan demon. Jendral Shi mengarahkan kudanya mendekat kepada Luo.
"Nanti ku beritahu. " Ucap Jendral Shi dengan nada berbisik.
Luo mengerjapkan matanya, kemudian mengangguk pelan. Dia mengerti maksud dari Jendral Shi. Dalam hatinya, dia bertanya - tanya. bagaimana Jendral Shi mengetahuinya?
Hei anak muda, tatapan matamu yang memberitahu Jendral Shi. Sangat mudah terbaca bagi seorang pria tua yang sudah hidup dan tinggal di sekitar kerajaan demon lebih dari seratus tahun.
***
Athena menatap datar Zeus dan Aphrodite yang sedang bermesraan. Dia berdecak pelan, kemudian makan dengan mata yang masih terus mengawasi Zeus dan Aphrodite.
Jujur saja, Aphrodite merasa ketakutan melihat mata tajam Athena yang terus melihat kearahnya. Tapi dia menutupinya dengan bertingkah mesra di depan Athena.
Athena menggebrak meja begitu melihat kepala Zeus yang semakin mendekat ke Aphrodite. Akibatnya, semua mata beralih kearahnya.
"Berhenti melakukan hal menjijikkan di depanku. Sangat mengganggu penglihatan " Sarkas Athena.
"Tidak usah dilihat jika mengganggu. " Balas Zeus.
"Aku punya mata yang berfungsi untuk melihat, Dewa Zeus. " Mata Athena menatap Zeus dengan sangat tajam.
Suasana hening, tidak ada yang berani membuka mulut untuk sekedar menghentikan adu mulut itu. Apalagi yang sedang adu mulut adalah dua orang yang sangat berpengaruh di Olympus.
Untung saja Niks sedang bertugas, jika tidak mungkin suasana akan menjadi tambah pans karena mulutnya yang terus mengeluarkan kata - kata sarkas yang mampu membuat siapa pun terdiam.
Zeus menghembuskan nafasnya pelan, dia tidak berani membalas kata sarkas Athena.
"Jika kau masih ingin bermesraan keluar dari sini. " Lanjut Athena sambil menunjuk pintu keluar.
Zeus berdiri dengan tangan yang menggenggam tangan Aphrodite. Dia keluar dari sana. Mata Athena menatap tajam semua dewa dan dewi.
"Apa yang kalian lihat? Makan! " Semua dewa dan dewi langsung kembali makan.
Lihat seberapa takutnya dewa dan dewi pada Athena? Bahkan Zeus yang merupakan penguasa tunduk padanya. Athena sendiri malah takut kepada Dewi Hera yang merupakan penguasa kedua di Olympus. Dewi Hera memang sangat baik, tapi disisi lain Dewi Hera licik dan cerdik.
__ADS_1
Athena benar - benar menghormati Dewi Hera.
Bersambung