
"Silahkan duduk, Dewi Perang"
Athena duduk dan meminum sedikit teh yang sudah di sediakan. Matanya melirik Hera yang menatapnya dengan tatapan tenang dan tidak bisa dia artikan.
"Ada apa memanggilku, Dewi Hera? "
"Aku akan membantu kalian diam - diam"
"Membantu apa? " Tanya Athena dengan bingung, walau tidak terlihat dari wajahnya yang datar.
"Memusnahkan para Dewa serta Aphrodite"
Athena terbelalak tidak percaya. Hera yang selama ini setia pada Zeus ingin memusnahkannya? Jangan bilang Aphrodite sialan itu sudah berhasil menggoda Zeus.
"Yang kau pikirkan benar. Aphrodite berhasil menggoda Zeus, jadi mungkin sebentar lagi Zeus akan membuatku turun dari tahta" Ucap Hera sambil menghela nafasnya kembali.
"Dan setelah itu terjadi aku akan menghilang dari Olympus" Sambungnya.
Hera sedikit terkekeh melihat wajah datar Athena berubah menjadi wajah terkejut.
"Tapi bukan berarti aku musnah, aku hanya menghilang. Dan aku akan membantu kalian diam - diam sambil mengumpulkan kekuatanku hingga pulih"
"Bagaimana dengan Olympus jika kau menghilang, Hera? "
"Itu urusan Zeus dan Aphrodite. Aku tidak akan ikut campur" Hera mengatakannya dengan santai sambil mengendikkan bahu nya.
"Tapi... "
"Tidak ada tapi - tapian Athena " Ucap Hera dengan tegas.
Hera mengambil tangan Athena kemudian digenggam.
"Rahasiakan ini dari siapa pun, tidak ada yang boleh mengetahui nya. Dan tolong, jaga Olympus diam - diam, aku percayakan semuanya kepada mu Athena"
Athena terdiam sambil menatap Hera yang sedang memberinya tugas penting. Tak lama dia mengangguk sambil tersenyum tipis dan memegang tangan Hera balik.
"Kau bisa percayakan kepada ku Hera" Yakinnya.
Hera tersenyum lega, tangannya mengambil sesuatu dalam laci dan memberikannya kepada Athena.
"Jaga ini, benda ini akan sangat berguna nanti nya"
Athena mengambil benda itu dengan tangan gemetar. Benda itu sama sekali tidak asing di pikirannya. Benda itu mirip dengan milik Selene yang selama ini selalu di incar oleh Aphrodite dan para Dewa.
"Ini memang milik Selene" Celetuk Hera seolah dia mengetahui isi kepala Athena.
__ADS_1
"Bagaimana bisa? "
"Dia memberikannya kepada diriku sebelum dia di usir dari Olympus" Ucapnya sambil tersenyum sendu.
Tiba - tiba wajah Hera menjadi datar dan matanya menatap dingin ke depan. Dia menjulurkan tangannya dan mencengkeram angin kemudian melemparkannya kearah dinding.
Bruk
Suara itu mengejutkan Athena yang kemudian langsung menyembunyikan benda itu. Matanya menyipit, berusaha mengenali seseorang yang baru saja di lempar oleh Hera.
"Ares?! "
Hera menatap dingin Ares yang pingsan.
"Dia sedari tadi menguping pembicaraan kita. Hapuskan ingatannya kemudian kembalikan dia Athena"
"Baik"
Athena berjalan mendekati Ares dan meletakkan tangannya di kepala Ares. Athena menutup matanya dan mulai membaca sihir penghilang ingatan. Setelah selesai, dia mengirim Ares ke kamarnya.
"Dewa itu benar - benar membuatku muak"
Athena mengangguk setuju, dia juga muak dengan Ares setelah dirinya mengetahui Ares telah berhasil di goda oleh Aphrodite.
Athena mengangguk singkat dan sedikit membungkuk, kemudian pergi dari ruangan Hera. Setelah Athena pergi, Hera membuka atap ruangannya dan memperhatikan bulan sambil tersenyum.
"Semoga Athena benar - benar bisa ku percaya, seperti katamu waktu itu Selene"
***
Di Hua Long mengerjapkan matanya, dia sedikit terkejut dengan kedatangan Hera yang tiba - tiba.
"Boleh kita bicara sebentar? "
Di Hua Long mengangguk canggung dan mempersilahkan Hera duduk. Suasana menjadi canggung, bagi Di Hua Long. Karena setelah dia melirik Hera, Dewi itu tampak tenang dan tidak terlihat canggung dengannya.
"Ehem, jadi apa yang perlu dibicarakan Dewi Hera? " Tanya Di Hua Long setelah berdehem.
Hera tidak langsung menjawab, dia memakan kue dan meminum teh sedikit.
"Selene, maksud ku Di Hua Ling menitipkan ini kepadaku" Ucapnya sambil memberikan sebuah kotak kecil yang familiar di mata Di Hua Long.
"Aku harus memberikan ini sebelum diri ku menghilang" Sambungnya sambil tersenyum tipis.
"Menghilang? "
__ADS_1
"Iya, menghilang dari kalian semua"
"Mengapa? "
"Untuk alasannya kau bisa tanya kan sendiri ke Athena" Hera tersenyum kepada Di Hua Long, lebih tepatnya senyum sendu dan kecewa.
Di Hua Long hanya menatapnya dalam diam begitu melihat senyum sendu bercampur kecewa itu. Sepertinya alasan Hera menyangkut privasi dirinya dan Olympus, pikirnya.
Masih dengan senyumanya, Hera menepuk kepala Di Hua Long dua kali dan kembali ke Olympus setelah pamit. Di Hua Long menatap kotak kecil itu lama sambil berpikir dimana dia pernah melihat kotak kecil itu. Tidak lama kemudian dia tersentak kecil begitu mengingat kotak kecil itu.
Kotak kecil itu sama persis seperti kotak yang dia lihat di kamar orang tua nya. Di Hua Long membuka kotak kecil itu dan menelan saliva nya.
"I-ini... Bu-bukannya kalung darah?? " Tanyanya dengan sedikit gemetar.
Tangannya mengambil kalung darah dengan gemetar. Kalung darah merupakan benda peninggalan Selena yang sangat dicari oleh para manusia mau pun para dewa. Ama nya pernah menceritakan kalung itu sambil tersenyum sendu.
Dulu, dia tidak mengerti mengapa Ama nya tersenyum sendu. Tapi sekarang dia mengerti mengapa setiap kali Ama nya menceritakan tentang kalung itu dia selalu tersenyum sendu,karena kalung itu menyebabkan dirinya keluar dari Olympus karena para dewa yang serakah. Kalung itu punya dua sisi, yang satu bernama kalung darah, satu lagi bernama kalung biru, yang sekarang berada di tangan Athena.
Jika kalung itu di gabungkan, maka kekuatannya sangat besar, melebihi kekuatan Zeus.
Di Hua Long kembali menyimpan kalung itu dan mengunci nya dengan sihir yang kuat, agar tidak ada yang bisa membukanya selain dirinya.
"Pasti kalung satunya berada di tangan Athena" Tebak Di Hua Long.
Ya memang mau siapa lagi? Athena adalah sahabat Ama nya yang paling di percaya dan paling dekat dengan Ama nya. Dan Di Hua Long tidak mempermasalahkan itu, karena dia sendiri juga sangat mempercayai Athena.
"Semoga kalung biru benar - benar aman di tangan Athena" Ucapnya sambil menatap langit.
Di Hua Long menyangga dagu nya dengan matanya yang masih menatap langit yang mendung.
"Ck, pasti hanya mendung" Decaknya kesal.
Setelah terdiam lama, senyum jahil terbit di wajahnya. Tangan telunjuknya dia arahkan ke langit dan kilat - kilat mulai berumunculan. Disusuk dengan suara petir yang saling bersautan dengan suara yang sangat keras.
Tawa Di Hua Long terdengar begitu dia melihat Di Fu Lin menutup telinga nya sambil berjongkok dengan wajah ketakutan dari wadah yang di isi air khusus. Menurutnya, ketakutan Di Fu Lin sangat menyenangkan untuk dia lihat.
"Suara petir saja langsung takut, dasar penakut" Ejek Di Hua Long sambil menatap wadah yang memperlihatkan Di Fu Lin.
Di Hua Long menghentikan sihir nya dan suara petir serta kilat langsung menghilang di gantikan dengan cuaca cerah. Sebenarnya dia masih tidak puas, tapi sihir yang dia gunakan terlalu banyak hingga membuat energi nya hampir habis.
Dengan nyaman, Di Hua Long berbaring dan tertidur pulas setelah menutup jendela.
**Bersambung
Btw, untuk visual kalungnya, kalian bisa bayangin sendiri**
__ADS_1