
Di Hua Long terdiam di balkon kamar dengan pandangan keatas, menikmati langit malam yang damai sambil menutup matanya. Dia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya pelan, kemudian membuka matanya.
"Malam yang tenang. " Gumamnya dengan mata yang menatap ke depan.
Suara ketukan pintu membuat Di Hua Long kembali ke dalam dan duduk di kursi.
"Masuk! "
Jendral Shi masuk dan membungkuk hormat. "Salam yang mulia. "
"Hm, bagaimana? "
"Sesuai perintah yang mulia, saya mengerahkan prajurit untuk berpatroli. "
"Lanjutkan. "
"Saya menemukan sebuah tempat. Tempat itu di huni oleh anak - anak yang di telantarkan orang tua mereka dan Di Yhu Tang. "
"Apakah banyak? "
"Banyak yang mulia. "
Di Hua Long mendesis, "Orang bodoh itu benar - benar... "
Di Hua Long berdehem pelan, "Bagaimana dengan persediaan makanan di gubuk? "
"Sangat penuh yang mulia, mungkin kita perlu membuat gubuk lagi. "
"Buatlah, dan juga, bagikan beberapa persediaan makanan kepada anak - anak itu. Kalau perlu buatkan makanan kepada mereka. "
"Baik yang mulia. "
"Kalau begitu, saya pamit. " Ucap Jendral Shi sambil membungkuk hormat.
Di Hua Long memangku dagunya dengan tangan kanan, dia mengetuk meja dengan jari telunjuk tangan kiri. Dia menghela nafasnya panjang kemudian menoleh ke arah luar kamar.
"Berantakan, semuanya berantakan. " Gumamnya.
Di Hua Long berdiri dan berjalan ke tempat tidurnya. Dia tertidur dengan tenang. Tapi tidak lama kemudian, keningnya mengerut, matanya bergerak gelisah, keringat dingin bercucuran hingga membasahi wajah Di Hua Long.
Hingga sebuah tangan mengusap wajah Di Hua Long dengan pelan menggunakan kain, sengaja pelan agar Di Hua Long tidak terbangun. Wanita itu meletakkan kain dengan sangat pelan, kemudian mengusap kerutan - kerutan di kening Di Hua Long hingga dia menjadi tenang kembali.
Wanita itu menghela nafasnya pelan, tangannya beralih mengusap rambut hitam Di Hua Long dengan lembut.
"Gadis yang malang. Kau harus menghadapi jahatnya dunia sendirian. " Bisiknya pelan.
"Selamat tidur Di Hua Long, dan sampai jumpa. " Wanita itu mengecup kening Di Hua Long, kemudian menghilang.
__ADS_1
Di Hua Long membuka matanya perlahan. Tadi saat wanita itu meletakkan kain, tidak sengaja terkena tangan Di Hua Long. Dia langsung sadar dan waspada jika wanita itu akan menyerangnya, tapi ternyata dia salah. Dia baru sadar bahwa dia mengenal wanita itu disaat wanita itu sudah pergi.
Di Hua Long menghela nafasnya pelan, kemudian menoleh kearah pintu balkon kamar yang sudah tertutup rapat.
"Sampai jumpa juga, Dewi Hera. " Lirihnya.
Di Hua Long menutup matanya, berusaha tidur kembali karena besok adalah dia harus melakukan banyak hal.
***
Athena mengepalkan tangannya kuat - kuat disamping, matanya menatap tajam ke depan, lebih tepatnya kepada dua orang yang sedang duduk sambil bermesra - mesraan. Bukan hanya Athena saja yang seperti itu, tapi seluruh Dewi melakukan hal yang sama.
"Bajingan itu benar - benar minta dibunuh. " Desis Niks pelan.
Artemis melirik Niks melalui sudut mata, "Keluarkan sedikit aura gelapmu khusus untuknya, dia akan merasa terancam dan berhenti sebentar. "
Niks mengangguk pelan, dia menutup matanya sebentar kemudian kembali membuka mata dengan tatapan tajam yang dia arahkan kepada Aphrodite. Di depan, Aphrodite tiba - tiba merinding. Dia melirik ke sana kemari dengan perasaan gelisah dan takut.
"Ada apa sayang? " Tanya Zeus sambil mengecup punggung tangan Aphrodite.
"Tidak ada, aku hanya merenggangkan kepala ku agar tidak kram. " Jawab Aphrodite sambil tersenyum.
Demeter, Athena, Artemis, dan Niks mendecih pelan melihat sikap Aphrodite yang sok manis itu.
"Sok manis, padahal kayak iblis. " Sinis Niks pelan.
Demeter tersenyum diam - diam, "Tapi dia lebih iblis di banding Aphrodite bajingan itu. "
"Tapi kalau dipikir - pikir, kita lebih iblis di banding Aphrodite. Dan tentu saja dia yang nomor satu. " Ucap Artemis pelan.
Athena terkekeh pelan, "Kau benar, kita lebih iblis dari Aphrodite. "
Niks melipat bibirnya dalam - dalam. Tawa nya hampir keluar begitu melihat Aphrodite terpeleset dan terjatuh dengan tidak elit nya. Dan tentu saja itu ulahnya yang sudah muak melihat Aphrodite yang bersikap sok manis.
Athena menyenggol Niks pelan dengan senyum kecil, "Kau yang terbaik Niks. "
Niks menunduk dalam, dia tersenyum bangga sambil melirik Athena yang ada di sebelahnya.
"Tentu saja, aku memang terbaik. " Ucapnya bangga.
Demeter menyenggol tangan Artemis dengan dagu yang menunjuk Aphrodite yang menangis.
"Cengeng sekali dia. " Ejeknya pelan.
Artemis terkekeh pelan, "Kalau tidak cengeng, bukan Aphrodite namanya. "
Niks, Athena, dan Demeter mati - matian menahan tawa mendengar ucapan Artemis. Yang mengucapkan hanya tersenyum tidak bersalah, padahal dalam hatinya dia juga tertawa keras.
__ADS_1
Niks memijat pelan kaki nya yang mulai pegal. "Sampai kapan kita akan berdiri? "
Athena mendengus, dia juga sudah mulai pegal.
"Sampai kapan kita semua akan berdiri, Dewa Zeus? " Tanya nya dengan lantang.
Zeus menatap Athena yang menatapnya dingin, kemudian menatap semuanya yang sedang memijat kaki mereka.
"Silahkan duduk. " Ucap Zeus.
Para Dewa dan Dewi akhirnya menghela nafas mereka lega. Niks mengutuk Aphrodite dalam hati. Jika bukan karena Aphrodite yang masih terus menangis, mungkin dia sudah duduk dari tadi.
"Sayang, apakah masih sakit? "
"Masih... hiks. " Jawab Aphrodite sambil menangis.
Niks mendelik, "Hey, jika masih sakit pergi dari sini dan kembali ke kamarmu. Jangan membuang - buang waktuku. "
Athena, Artemis, dan Demeter menahan senyum mereka. Ini yang mereka tunggu - tunggu dari Niks.
"Dewi Niks, Aphrodite sedang sakit. Mohon pengertiannya. " Bela Apollo.
Artemis mendecih, "Pengertian apa lagi? Kita disini di kumpulkan untuk membahas sesuatu, tapi dia membuat kita menunggu dan membuat kaki ku pegal - pegal. Apakah itu tidak cukup Dewa Apollo? "
Apollo terdiam, dia tidak berani membalas ucapan pedas Artemis. Lagi pula perkataan Artemus ada benarnya, mereka di sini di kumpulkan untuk membahas sesuatu, tapi malah tertunda akibat Aphrodite yang menangis.
Athena berdiri, "Jika tidak ada yang ingin dikatakan, aku pergi. Buang - buang waktu saja. "
Athena berjalan keluar diikuti Artemis, Demeter, dan Niks. Dewi malam, Niks berbalik dan menatap Zeus yang masih terdiam.
"Kau penguasa disini, jangan lupakan kewajibanmu. Ingat itu Dewa Zeus. "
Niks berbalik dan kembali berjalan, menyusul Athena, Artemis, dan Demeter.
Zeus menghela nafasnya, dia memijat pelipis nya pelan. "Bawa Aphrodite ke kamarnya. "
Aphrodite terbelalak, dia menatap Zeus dengan kening yang mengerut. "Kau mengusirku? "
"Tidak, aku tidak mengusirmu. Aku hanya khawatir luka mu bertambah sakit jika tidak di tangani secepatnya. " Ucap Zeus.
Kedua tangan Aphrodite terkepal kuat di belakang, tapi dia tersenyum lembut di depan Zeus dan Dewa lainnya.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. " Pamit Aphrodite.
Zeus menatap Dewa - Dewa yang masih terdiam begitu pintu tertutup rapat. "Apakah aku salah? "
"Aku tidak tahu. " Jawab Ares ragu.
__ADS_1
Zeus menghela nafasnya lagi. Dia juga tidak mengerti dimana salahnya. Kalau Athena masih disini, mungkin Zeus sudah dia pukul kepalanya agar sadar dimana kesalahannya.
Bersambung