Kebangkitan Kembali Sang Kaisar Demon

Kebangkitan Kembali Sang Kaisar Demon
Chapter 25


__ADS_3

*Tok


Tok


Tok*


"Masuk! "


Jendral Shi masuk dengan wajah seriusnya. Di Hua Long menghembuskan nafasnya diam - diam. Pasti ada masalah lagi.


"Ada masalah apa? " Tanya Di Hua Long.


"Wilayah selatan sedang mengumpulkan prajurit untuk memberontak, yang mulia. "


Di Hua Long mengangkat sebelah alisnya. Wilayah selatan? Oh, wilayah yang mendukung dua orang bodoh itu?


"Pimpin prajurit kesana, musnahkan mereka. Dan pemimpin mereka harus dibawa kepadaku, dalam keadaan hidup-hidup. " Ucap Di Hua Long dengan nada dingin.


Jendral Shi mengangguk, kemudian undur diri dan bersiap - siap. Di Hua Long bangkit dari duduknya, kemudian berganti pakaian dan berjalan keluar kamar.


Prajurit yang menjaga singgasana langsung membungkuk hormat melihat Di Hua Long.


"Salam yang mulia. "


"Hm, buka pintunya. " Perintah Di Hua Long.


Prajurit itu membuka pintu singgasana. Di Hua Long tanpa banyak bicara langsung masuk dan duduk di kursinya dengan tenang, sambil menunggu Jendral Shi datang bersama pemimpin wilayah selatan.


Pintu terbuka, menampakkan para prajurit yang membawa meja berisi senjata milik Di Hua Long. Sebelum menuju singgasana, Di Hua Long terlebih dahulu pergi ke tempat senjata khusus miliknya. Dia menyuruh para prajurit untuk membawakan semua senjata dan meletakkannya di singgasana.


Para prajurit memberi salam, kemudian langsung menata meja dan segera undur diri. Setelah pintu tertutup rapat, Di Hua Long turun dan berjalan menuju meja - meja yang berisi senjata.


"Sshh, lama sekali mereka. "


"Biasanya sudah selesai. "


Baru saja Di Hua Long ingin membuka mulutnya untuk mengomel lagi, pintu dibuka oleh Jendral Shi yang sedang menyeret pemimpin wilayah selatan.


Jendral Shi melemparkannya ke dekat Di Hua Long, kemudian memberi salam.


"Salam yang mulia. "


"Hm. " Jawab Di Hua Long sambil menatap pemimpin wilayah selatan.


"Silahkan keluar, Jendral Shi. "


"Baik yang mulia. " Jawab Jendral Shi.


Begitu Jendral Shi keluar, Di Hua Long tersenyum lebar dengan mata yang masih menatap pemimpin wilayah selatan yang sudah gemetar ketakutan.


"Kau tau kan, aku paling benci dengan pengkhianat? "

__ADS_1


Long An, selaku pemimpin wilayah selatan tidak menjawab. Tubuhnya kembali bergemetar mendengar langkah Di Hua Long yang sepertinya berjalan ke arahnya.


Di Hua Long berjongkok, kemudian mengangkat dagu Long An yang sedari tadi menunduk.


"Ingin melakukan pemberontakan dan mengkhianati aku? Bermimpilah. " Ucap Di Hua Long sambil menepuk pipi Long An pelan.


"Sepertinya kau siap menerima hukuman dariku. " Lanjut Di Hua Long sambil tersenyum miring.


Di Hua Long mengeluarkan pisau kecil yang dia selipkan di jubahnya. Dia menyayat seluruh wajah Long An yang masih bergemetar.


Di Hua Long mendengus kesal. Kemudian menghentikan kegiatannya dan bangkit.


"Cih, penakut sekali kau. " Sinisnya.


Di Hua Long berjalan menuju meja dan mengambil pedang. Kemudian berjalan menuju Long An dan dengan sekali tebasan, dia membunuh Long An.


Di Hua Long mengeluarkan sebuah botol besar, kemudian dengan sihirnya dia mengumpulkan semua darah Long An dan memasukkannya ke dalam botol itu.


Di Hua Long menepuk tangannya dua kali.


"Ada perlu apa, yang mulia? " Tanya Jendral Shi sambil menunduk.


"Bawa mayatnya. " Jawab Di Hua Long singkat.


"Baik yang mulia. " Jendral Shi mengambil kepala Long An dan menyeret tubuh Long An keluar.


Tidak lama kemudian, Di Hua Long keluar.


Sesampainya di kamar, Di Hua Long membuka jubah kaisarnya dan mengambil botol besar yang berisi darah Long An.


Dia menjentikkan jarinya, kemudian muncul burung hantu miliknya.


"Untukmu. " Ucap Di Hua Long sambil menuangkan darah itu ke wadah.


Burung hantu miliknya dengan senang hati meminum darah itu. Lagipula, sudah lama dia tidak meminum darah. Terakhir kali 1000 tahun yang lalu, beberapa waktu sebelum perang antar keluarga itu terjadi.


"Lain kali aku akan membawakanmu beberapa botol darah. " Ucap Di Hua Long begitu melihat burung hantu miliknya minum dengan lahap.


"Harus. " Jawab burung hantu itu sebelum kembali meminum darah.


***


Di Hua Long menatap datar pertunjukan yang sedang terjadi. Tadi ada seorang wanita masuk dan berpura - pura menjadi adiknya saat dia beristirahat. Beruntung Luo memberitahukan kejadian itu, sehingga para prajurit segera menghukumnya.


Tentu saja atas perintah Di Hua Long.


*Ctar


Ctar


Ctar*

__ADS_1


Suara cambukan terus menerus terdengar di sertai teriakan wanita itu. Di Hua Long tidak peduli, dia melihat pertunjukan itu sambil meminum anggur kualitas tinggi.


"Hukuman 50 cambukan sudah di laksanakan, yang mulia. " Ucap salah satu prajurit dengan lantang.


"Tambahkan 100 cambukan lagi. " Ucap Di Hua Long sambil menuang anggur ke dalam gelas.


Prajurit itu mulai mencambuk tubuh wanita itu kembali. Wanita itu sudah lemas sekali, dia menatap Luo karena sejak dia bertemu dengan Luo dirinya jatuh cinta padanya.


Luo tidak menatap atau melirik wanita itu sedikit pun. Dia tidak tertarik menjalin hubungan dengan seorang penipu. Lagipula dia masih ingin menjadi tangan kanan Jendral Shi.


Di Hua Long tersenyum tipis. Dia paham betul tatapan wanita itu ke Luo. Di Hua Long mengangkat tangan kanannya, yang membuat prajurit itu berhenti mencambuk.


"Luo. " Panggil Di Hua Long.


"Saya disini, yang mulia. " Ucap Luo sambil membungkuk.


"Aku lihat wanita ini tertarik kepadamu, bagaimana denganmu? "


Luo melirik wanita itu yang sedang menatapnya dengan tatapan berharap. Kemudian kembali menatap Di Hua Long.


"Saya tidak sudi, yang mulia. " Jawab Luo dengan lantang.


Di Hua Long tersenyum puas, kemudian menepuk tangannya dua kali. Yang membuat prajurit itu kembali mencambuk wanita itu.


"Lapor yang mulia. Wanita ini sudah tidak bernafas. "


Di Hua Long menatap dingin mayat wanita itu. "Cih, lemah. "


"Bakar dia. " Perintah Di Hua Long dengan singkat.


Para prajurit mengumpulkan kayu, kemudian dijadikan satu. Salah satu prajurit mengambil dua batu, kemudian digosok - gosok hingga mengeluarkan api.


Bukan kah Di Hua Long bisa menggunakan sihirnya? Jawabannya tidak bisa. Dia tidak bisa sembarangan mengeluarkan sihirnya.


Para prajurit mengangkat wanita itu dan melemparkannya ke dalam api yang sudah menjadi semakin besar.


"Yang mulia, bagaimana dengan abu nya? " Tanya salah satu prajurit.


"Buang saja. " Jawab Di Hua Long dengan santai.


Begitu wanita itu sudah terbakar sempurna, para prajurit menyiramkan air dan mengumpulkan abu nya untuk di buang.


Prajurit itu mengumpulkannya dalam botol, kemudian di tutup rapat dan membuangnya layaknya sampah.


Di Hua Long menatap Luo yang masih berdiri tegak, tanpa mengubah raut wajahnya.


"Luo semakin hari semakin meningkat kemampuannya. Aku yakin dia akan menjadi seperti Jendral Shi. " Gumam Di Hua Long dengan nada kecil.


Di Hua Long bangkit, kemudian berjalan keluar setelah para prajurit serta Luo mengucapkan salam.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2