
Seringai Di Hua Long terbit ketika dia melihat ketakutan Di Fu Lin. Aura dingin keluar dari tubuhnya yang membuat Di Fu Lin berkeringat dingin dan bergemetar takut. Di Fu Lin menampar dirinya sendiri agar dia bisa terbangun dari mimpinya, tapi tidak mempan.
"Di Fu Lin, bersenang - senanglah dahulu. Karena setelah itu aku akan menghancurkan kalian semua" Ucapnya dengan nada dingin.
Di Fu Lin terbangun dengan keringat dingin membasahi wajahnya. Itu hanya mimpi, tapi seolah - olah Di Hua Long datang menemuinya secara langsung. Bahkan dia masih bisa merasakan aura dingin yang keluar dari tubuh Di Hua Long.
"Itu hanya mimpi, Fu Lin. Hanya mimpi" Ucapnya sambil menenangkan dirinya.
Di Fu Lin menarik nafas dan menghembuskannya. Matanya kembali terpejam, tapi bayang - bayang Di Hua Long masih berputar - putar di pikirannya. Di Fu Lin kembali membuka matanya dan menghela nafasnya.
"Pergi dari pikiranku sialan! " Pekiknya sambil meremat rambutnya.
Di Fu Lin berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
"Di Hua Long sialan, pergi dari pikiranku! "
"Kalau tidak mau? "
Di Fu Lin membeku. Dengan takut - takut dia menatap cermin dan berteriak ketakutan. Di cermin, terdapat bayangan Di Hua Long yang sedang tersenyum menyeramkan kepadanya. Tangan Di Fu Lin menutup kedua telinganya dan jatuh terduduk.
"Ternyata kau masih lemah"
"Pergi dari hadapanku, PERGI!! " Teriak Di Fu Lin sambil histeris.
Dengan gemetar, Di Fu Lin mengambil sebuah tongkat dan memukul cermin itu berkali - kali.
"Pergi, pergi, pergi, pergi... "
"PERGI DARI HADAPANKU SIALAN!! " Teriak Di Fu Lin sambil memukul cermin itu brutal.
"BERHENTI DI FU LIN"
Di Fu Lin berhenti dan menjatuhkan tongkatnya. Dia segera memeluk Di Yhu Tang dan menangis.
"G-gege, sialan itu ada di cermin, aku takut"
Di Yhu Tang melihat ke cermin dan mengernyit. Tidak ada siapa - siapa disana, hanya pecahan - pacahan kaca yang bertebaran dimana - mana.
"Pasti kau berhalusinasi meimie. Tidak ada siapa - siapa disana"
Di Fu Lin berhenti menangis dan menghadap ke cermin. Dia menggeleng berkali - kali dan menunjuk bagian kaca yang dia pukul berkali - kali.
"Tidak gege, aku yakin sialan itu ada di cermin itu! "
__ADS_1
"Sepertinya kau hanya berhalusinasi karena kekurangan tidur. Sekarang tidurlah" Ucap Di Yhu Tang sambil berjalan keluar kamar.
Di Fu Lin masih terdiam sambil menatap cermin itu. Tidak, dia tidak berhalusinasi. Tadi dia benar - benar melihat Di Hua Long muncul di cerminnya. Di Fu Lin kembali ke kamarnya, meninggalkan bayangan Di Hua Long yang menatapnya.
***
Di Hua Long terkekeh senang setelah melihat wajah ketakutan Di Fu Lin dari sebuah wadah yang berisi air khusus. Dia hanya mengirimkan bayangannya saja Di Fu Lin sudah ketakutan, bagaimana jika bertemu dengan dirinya?
Burung hantu itu menatapnya dengan malas dan menguap lebar. Di Hua Long melirik dan memasukkan daging ke dalam mulut burung hantu miliknya. Burung hantu menatapnya kesal dengan mulut yang sedang mengunyah daging.
"Apa lihat - lihat? " Sentak Di Hua Long dengan mata melotot.
Burung hantu itu memutar bola matanya dan kembali mengunyah daging yang baru saja di berikan Di Hua Long.
"Bagaimana dengan para prajurit? "
"Baik - baik saja" Jawab burung hantu itu setelah menelan dagingnya.
Di Hua Long menganggukkan kepalanya dan bersandar. Matanya menatap mereka yang masih memakan setumpuk daging dengan lahap. Di Hua Long mendengus kasar begitu melihat dua dari mereka berebutan daging. Padahal di depan mereka masih banyak setumpuk daging yang menunggu untuk di makan.
"Bisakah kalian berhenti berebut? Di depan kalian masih ada setumpuk" Ucap Di Hua Long dengan malas.
Mereka berdua berhenti berebut, tapi mata mereka masih menatap sinis satu sama saling. Di Hua Long menggeleng dan menghela nafasnya melihat kelakuan mereka berdua.
"Sepertinya tidak bisa"
Di Hua Long terbelalak kaget dan menoleh ke belakang. Tangannya hampir saja memukul kepala Niks jika tidak di tahan oleh Niks sendiri.
"Ada apa kau kemari? " Tanya Di Hua Long dengan sinis.
"Tidak ada apa - apa. Hanya bosan" Jawab Niks santai.
"Ck, pasti ada yang kau mau kan? "
Niks berdehem canggung dan tersenyum.
"Biarkan aku ikut melawan dua orang bodoh itu. Bukankah kau berkata jika aku boleh ikut? "
Pagi sekali Niks dan lainnya mendapat surat dari Di Hua Long jika mereka tidak boleh mengikuti perang melawan dua orang bodoh itu.
"Aku berubah pikiran. Kalian semua tidak boleh ikut" Balas Di Hua Long dengan memakan kue.
"Aaaaa~ Kenapa tidak boleh ikut?? "
__ADS_1
"Kalian boleh ikut, tapi bukan perang melawan dua orang bodoh itu" Jelas Di Hua Long.
Niks mengernyit heran dan menatap Di Hua Long dengan bertanya - tanya. Di Hua Long hanya tersenyum tipis dan meminum teh.
"Kalian akan ikut di perang selanjutnya"
"Bagaimana jika Aphrodite sialan itu ikut turun?"
"Kalau begitu aku meminta bantuan kalian agar Aphrodite tidak turun. Gampang bukan? "
Niks tersenyum senang dengan otak yang mulai merancang rencana.
"Itu sangat gampang. Percaya kan padaku dan lainnya" Ucap Niks sambil menepuk dada nya bangga.
Di Hua Long hanya tersenyum tipis, tapi dalam hatinya dia percaya sepenuhnya kepada Niks dan yang lainnya.
"Yasudah, kalau begitu aku harus kembali agar tidak berurusan dengan Hera"
"SAMPAI JUMPA!!! "
"SIALAN KAU!!!! "
Di Hua Long mengusap telinganya yang masih berdengung akibat Niks yang teriak di samping telinganya. Di Hua Long yang masih kesal mengumpati Niks sambil menatap kesal kepergian Dewi Malam itu.
Burung hantu miliknya meringis pelan mendengar teriakan Di Hua Long yang tidak kalah keras dari teriakan Niks, sang Dewi Malam.
Di Hua Long melirik tajam kearah mereka karena mendengar suara tawa kecil. Mereka berhenti tertawa dan kembali memakan daging setelah mendapat lirikan tajam dari Di Hua Long.
"Ck, menyebalkan" Gumamnya dengan nada pelan.
Di Hua Long memdengus dan bangkit dari kursi.
"Burung pemalas, ikut aku" Perintah Di Hua Long.
Burung hantu itu terbang dan mengikuti Di Hua Long dari belakang. Mereka menghela nafas lega begitu Di Hua Long pergi tanpa mengatakan apa - apa kepada mereka. Biasanya Di Hua Long akan mengurangi jatah makan mereka menjadi setengah tumpukan.
"Cepat berikan ini kepada para prajurit ku" Perintah Di Hua Long.
Burung hantu miliknya hanya mengangguk dan terbang dengan surat yang dia cengkeram dengan kaki nya. Sebenarnya dia malas, tapi melihat Di Hua Long yang sedang dalam mood buruk dia tidak berani menolak. Bisa - bisa dia di suruh terbang keliling gua dengan batang kayu di kakinya.
Uh... Dia tidak mau mengulangi kesalahan itu lagi. Terlalu mengerikan.
Bersambung
__ADS_1