Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu

Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu
PROLOG


__ADS_3

“Jadi, apa kau sudah tahu... siapa dirimu yang sebenarnya?” pria berjas lab putih itu mulai membuka pembicaraan.


Sejenak ia terdiam, lalu kembali melanjutkan..


“Apa kau juga sudah tahu alasan mengapa kau ada disini?” pria dokter tadi—mari sebut saja begitu—menyipitkan matanya.


Berusaha melihat dengan teliti dalam ruang gelap itu. Ia mengeratkan genggamannya pada pistol yang ada di belakang punggungnya. Bersiap menembak kapan saja jika kelinci percobaan yang ada di depannya itu menyerangnya tiba-tiba.


Kelinci percobaan yang merupakan seorang remaja laki-laki itu hanya tertunduk lemah. Terdiam mencerna kalimat yang diucapkan orang di depannya. Kedua tangan dan kakinya yang diborgol membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Sengaja, agar anak itu tak langsung menyerang nantinya.


Sekilas pria dokter itu melihat anak tadi membuka mulutnya.


“Ya...” desisnya singkat, “…aku sudah tahu semuanya,” katanya sangat lirih yang bahkan hampir tidak bisa didengar jika dokter tadi tak memasang pendengarnya dengan baik.


“Siapa diriku yang sebenarnya... serta alasan mengapa aku ada disini, semuanya sudah jelas,” anak itu memperjelas jawabannya, dengan kepala tergolek lemah. Mata matinya menerawang pijakannya nanar. Tanpa ekspresi.


Tak berselang lama, anak itu tampak tersenyum geli. Dengus tawa bahkanterdengar ikut mengiringinya. Membuat pria tadi terkejut dan mencoba mundur selangkah menjauhi objek yang ada di depannya.


“Tak kusangka, ternyata aku memiliki kekuatan yang melebihi manusia biasa karena darah makhluk itu mengalir di dalam tubuhku saat ini. Tapi kau justru menyembunyikanya. Memilih untuk terus mengurung dan menelitiku yang merupakan salah satu kelinci percobaan milikmu agar kau bisa tahu apa aku bisa hidup atau akan mati sia-sia jika ‘benda itu’ masuk dalam tubuhku.”


“Jujur setelah tahu semuanya, itu membuatku kesal. Kau tega sekali membiarkanku menderita dan membuatku hampir mati hanya karena penelitian bodohmu itu. Tapi beruntungnya aku, nasib berkata lain. Bukannya mati karena ‘benda bodoh’ itu, aku justru bisa menguasainya. Bahkan menggunakannya dan menjadikannya milikku untuk selamanya. Aku sudah cukup muak dengan ‘permainan’ yang kau mainkan padaku. Tapi untuk sekarang...” anak itu menggantung kalimatnya.


Ia tersenyum licik, lalu berkata...

__ADS_1


“...mari kita coba permainan yang sebaliknya. Yang di dalam permainan ini, pertanyaannya adalah: apa kau masih bisa bertahan hidup jika lawanmu mulai menyerang?” kata-kata itu membuat pria tadi menelan ludah.


Keringat dingin tampak menetes turun dari keningnya, dan hal itu membuat anak itu meringis senang. Bulan purnama yang tadi tertutup awan tebal kini mulai menampakkan cahayanya dan membuat ruangan tadi sedikit lebih terang. Membuat senyuman misterius di wajah anak itu tampak sangat jelas hingga menyebabkan ketakutan pria itu semakin menjadi-jadi.


Cahaya bulan yang menyentuh kulitnya, membuat anak laki-laki itu merasa segar. Ia menghirup dalam udara malam, dan menghembuskannya dengan rasa senang. Perlahan anak itu mencoba berdiri, meskipun rantai yang mengikat kedua kakinya dan tangannya itu mengganggunya, tapi apa pedulinya? Ia yang masih terus menunduk itu terdiam sejenak. Lalu kembali melanjutkan perkataannya.


“Jadi, mari kita mulai saja permainan ini. Kau adalah pemain utama yang merupakan orang baik dan aku adalah lawanmu yang merupakan orang jahat. Biasanya, di dalam permainan, orang baik selalu menang, kan? Tapi kali ini, aku akan mengubah teori itu, dimana orang jahatlah yang akan membunuh pemain utama dan menjadi seorang pemenang.” Senyum bengis tak pernah memudar dari mukanya, bahkan malah makin melebar. Dia lagi-lagi tertawa. “Aku berani berkata seperti itu karena kuyakin aku pasti akan menang melawan orang lemah sepertimu. Dan…kau pasti sudah tahu apa alasannya, bukan?” anak itu kembali menakut-nakuti pria di depannya.


Tapi karena ia tak mau lama-lama menunggu, ia pun melanjutkan...


“Hanya ada satu alasan yang bisa menjawab pertanyaan tadi, mengapa aku yakin bisa menang melawanmu. Dan alasan itu, karena...” kembali, anak itu menggantung kalimatnya.


Ia mulai mengangkat kepalanya setelah sekian lama menunduk dan itu membuat wajahnya perlahan mulai terlihat. Pria dewasa yang sudah mulai merasa terancam itu pun langsung mengeluarkan pistolnya dan menodongnya tepat di depan anak itu, tapi hal itu malah membuat anak itu makin ingin tertawa.


“...aku...” Wajah anak itu sudah tampak sangat jelas.


menyipit saat sinar bulan menyinarinya.


“...adalah...”


To be continue...


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


|| Just info ||


Judul Indonesia: Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun yang Lalu


Judul Jepang: 13億年前の生活 (13 Oku-nen mae no seikatsu)


Written by Augusth Leah


On Tuesday, 12 September 2017


*konsep cerita ini sebenarnya sudah tertimbun selama hampir 3 tahun, setelah author tamat Sekolah Menengah Atas.


Note:

__ADS_1


Isi cerita dan penokohan adalah murni ide dari author sendiri. Jika ada kesalahan penulisan atau penggunaan tanda baca, mohon dimaafkan:")


Terimakasih sudah membaca!


__ADS_2